29/03/11

Hokkian, Hokchia, Hinghua, Hakka

Hokkian

Kebanyakan imigran Tionghoa di
Asia Tenggara – dan karena itu di Indonesia – berasal dari dua propinsi di Tiongkok bagian
selatan: Kanton (Mandarin: Guangdong) dan Hokkian (Mandarin: Fujian).


Di Indonesia pada khususnya, lebih banyak yang berasal dari propinsi Hokkian dibandingkan dari Kanton. Maka di jaman Hindia Belanda bahasa yang digunakan sebagai lingua franca di antara orang Tionghoa ialah bahasa
Hokkian.
Belakangan setelah gerakan nasionalis tumbuh di Asia, dan gelombang imigrasi baru dari Tiongkok datang di tahun 1930-an ke Asia Tenggara barulah bahasa Mandarin diajarkan di sekolah-sekolah Tionghoa. Sebenarnya yang disebut bahasa Hokkian itu dituturkan hanya oleh mereka yang tinggal di bagian selatan
propinsi Hokkian, karena itu dalam sebutan standar bahasa tersebut disebut bahasa Minnan (Min = bangsa Hokkian, nan = selatan).

Bahasa Minnan ini banyak juga variasinya, yang dituturkan di Medan, Penang, Taiwan,
Amoy (Xiamen), Tiochiu (Chaozhou), dll. tetapi garis besarnya sama. Kalau seseorang dari Medan bicara bahasa Hokkian menurut dialeknya, orang Taiwan kurang lebih masih bisa mengerti, dan sebaliknya.
Kebanyakan imigran Tionghoa berasal dari dua propinsi di pantai tenggara: Fujian (Hokkian) dan Guangdong
(Kanton). Akan tetapi di dua propinsi ini pun orang dan bahasanya tidak seragam. Yang tidak banyak diketahui orang ialah perkecualiannya. Banyak orang Tionghoa di Indonesia yang berasal dari
propinsi Hokkian juga, tapi bagian utara.
Mereka ini bahasanya lain, yaitu bahasa Minbei (bei = utara). Penutur bahasa ini yang paling banyak tinggal di kota Fuzhou (baca: fu-chow, atau Hokchiu dalam bahasa Minnan) dan Fuqing (baca: fu-ching, atau Hokchia dalam bahasa Minnan).

Di Indonesia, lebih banyak orang
Hokchia daripada Hokchiu. Sedangkan di
Malaysia, terutama di Serawak, lebih
banyak orang Hokchiu. Dialek Hokchia
dan dialek Hokchiu hampir sama, hanya
lagu/intonasinya yang berbeda. Karena kota Fuzhou lebih besar, yang lebih
diakui lebih standar ialah dialek Hokchiu. Bahasa Hokchia ini banyak
menggunakan bunyi sengau. Misalnya,
almarhum kakek saya (lahir sekitar
1910, datang ke Indonesian sekitar
tahun 1930) dulu kalau berpura-pura
marah suka memanggil saya ngong- ngiang (ngong = bodoh, ngiang = bocah),
yang dalam bahasa Minnan/Hokkian
kata padanannya mungkin ialah khong
kia. Orang Minnan kalau mau makan bilang
cia-peng, orang Minbei bilang sia-mang.
Kalau mau pamitan bilang gua seng kia,
orang Minbei bilang ngua sieng kiang,
yang berarti saya jalan dulu, ya. Dari
bunyinya yang mirip-mirip ini kitorang tahu bahasa-bahasa tersebut masih
basudara. Sampai sekarang pun, orang-orang dari
sekitar Hokchiu/Hokchia ini masih
berdatangan ke mana-mana, sah atau
gelap: Jepang, Amerika Serikat, bahkan
sampai ke kepulauan kecil di Pasifik
yang bernama Mariana Islands. Pernah saya ajak papa saya jalan-jalan ke
gunung di dekat taman nasional
Yosemite di California, untuk melihat
pemandangan salju. Kita mampir di kota kecil di kaki gunung
yang namanya Sonora. Di sana kita
mampir makan di dua restoran Chinese
pada hari yang berlainan. Yang satu,
Great Wall, milik orang Hokchiu. Yang
lain, Wok and Sushi, milik orang Hokchia. Papa saya yang lahir dan besar di
Surabaya sampai terkaget-kaget, di kaki
gunung terpencil pun, orang Hokchia/
Hokchiu bisa sampai ke sana dan jadi
pemilik restoran! Karena papa saya
(usia di tahun 2009 = 70 tahun) lancar berbahasa Minbei, dia mengajak
pelayan restoran Great Wall untuk
ngobrol dalam bahasa ibu. Dia tanya, bisa pesan makanan Hokchiu
nggak? Dijawab, nggak bisa, karena di
sini mereka masak untuk pelanggan
yang kebanyakan orang “hua- ngiang” (dalam bahasa Hokkian “huana”, artinya orang asli), jadi menunya yang umum-umum saja. Papa
saya termenung sejenak, lho, kok di
Sonora terpencil ini banyak orang Jawa?
Akhirnya dia tersenyum sendiri, karena
sadar yang disebut oleh pelayan
tersebut sebagai orang asli ialah orang kulit putih, bukan orang pribumi dari
Jawa!


Hokchia

Di Indonesia, banyak orang
Hokchia yang sukses menjadi
pengusaha, misalnya Liem Sioe
Liong (Sudono Salim), Tjoa Ing Hwie
(pendiri perusahaan rokok Gudang
Garam di Kediri dan Rumah Sakit Adi Husada di Surabaya), dan Alim
Markus (bos Maspion), semuanya
orang Hokchia. Ada juga yang jadi olahragawan, seperti
bekas pemain dan pelatih bulutangkis
nasional Thing Hian Houw (Tang Xianhu),
yang karena PP 10/1959 pergi ke
Tiongkok. Entah kenapa, para pedagang
kain di Surabaya pun semua orang keturunan Hokchia. Orang Hokchia tentu membawa
makanannya ke Indonesia. Misalnya roti
bundar keras seukuran hamburger yang
disebut kompiang (dalam bahasa
Mandarin: guang bing. Ada kompiang
kosong, dan ada kompiang isi (biasanya daging masak rumput laut). Kompiang kosong lebih keras, dan
paling bagus dimakan kalau masih
hangat. Biasanya kompiang ini ditaburi
biji wijen, dimakan hangat-hangat,
bunyinya kriuk-kriuk, wah … Di Amerika Serikat yang paling dekat dengan
kompiang ialah sejenis roti yang dibawa
oleh orang Yahudi, yang disebut bagel. Makanan lain yang disukai oleh orang
Hokchia ialah Ote-Ote. Jaman saya
masih kecil dulu (tahun 70-an), sebelum
ada jalan tol Surabaya-Porong, ada
restoran di pinggir jalan raya Porong
yang menjual ote-ote yang sangat gurih dan terkenal. Namanya, ya Restoran
Porong. Yang suka makan, orang Tionghoa
Surabaya yang dalam perjalanan ke
Malang atau Batu untuk berekreasi.
Gara-gara jalan tol, restoran tersebut
jadi sepi, dan akhirnya dipindahkan ke
kota Surabaya. Mungkin ada untungnya juga mereka pindah dari dulu-dulu,
kalau tidak sekarang terkena bencana
lumpur Lapindo. Di keluarga saya, ada kombinasi favorit,
yaitu kompiang keras, isinya yang lunak
dikerok, kemudian dipanggang sampai
hangat. Sudah begitu, dalamnya diisi
ote-ote tiram goreng … mak nyuss katanya Bondan Winarno. Makanan Hokchia favorit yang lain ialah
bola-bola ikan (hie-wan). Tapi yang
istimewa ialah hie-wan yang diisi
daging. Bagian luarnya dari ikan terasa
padat, bagian dalamnya daging cacah
yang lembut, dan begitu digigit ada sedikit kaldu daging yang bocor dan
terasa hangat di mulut. Dimakan dengan
kuah yang ditaburi bawang hijau iris dan
bawang goreng. Wah, sedap.


Hinghua

Selain orang Hokchia, orang
Tionghoa dari propinsi Hokkian
yang datang ke Indonesia ada juga
yang berasal dari sekitar kota
Putian, yang memanggil dirinya
orang Hinghua (Mandarin: Xinghua). Bahasanya masih
termasuk kelompok bahasa Min,
tapi lain lagi dari bahasa Minbei/
Hokchia dan bahasa Minnan/
Hokkian, karena kota Putian ini ada
di tengah-tengah propinsi antara Xiamen (pusat Hokkian selatan)
dan Fuzhou (pusat Hokkian utara). Menurut sahibul hikayat, orang Hinghua
ini pada waktu datang di Malaysia dan
Indonesia pertama kali menjadi penarik
becak / rickshaw. Dari situ mereka
berkembang menjadi pemilik bengkel
sepeda, lalu mempelajari pembuatan onderdil becak dan sepeda, sampai
akhirnya menjadi pemilik toko dan
pabrik sepeda, hehehe. Tidak percaya?
Coba ke jalan Bongkaran di Surabaya,
tanyailah pemilik toko sepeda, pasti
orang Henghua. Tanya orang Tionghoa pemilik pabrik sepeda, kebanyakan
pasti orang Hinghua. Selama 18 tahun tinggal di Surabaya,
jarang sekali saya bertemu dengan
orang Kanton yang berbahasa Kanton,
hanya ada satu-dua keluarga yang saya
tahu. Pendatang dari propinsi Kanton
yang paling banyak di Indonesia justru perkecualiannya, yaitu orang Hakka
(Mandarin: Kejia). Orang Khek ini menurut sejarahnya
berasal dari Tiongkok utara (Tiongkok
secara budaya dan geografis dibagi
menjadi utara dan selatan oleh sungai
Yang-tze). Kemudian karena perang
atau bencana alam berangsur-angsur orang Hakka ini menetap di propinsi
Kanton di perbatasan propinsi Hokkian. Maka itu oleh orang Hokkian dan Kanton
asli mereka disebut Khek, artinya tamu
atau pendatang. Sudah begitu,
keturunannya masih berimigrasi lagi ke
Asia Tenggara. Kalau imigran pada
umumnya punya reputasi sebagai pengambil risiko yang ulet bekerja,
orang Hakka ini imigran kuadrat. Di
kalangan orang Tionghoa, mereka
mempunyai reputasi bagus sebagai
kaum yang sangat menanamkan
pentingnya keuletan, pengetahuan, dan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya.
Perdana Menteri Singapura yang
pertama Lee Kuan Yew ialah orang
Hakka. Karena dulu kebanyakan orang Khek
lebih tinggi pendidikan dan ekonominya
daripada orang Hokkian kebanyakan,
ada prasangka buruk yang berkembang
di antara orang Hokkian di Jawa, karena
iri hati. Olok-oloknya antara lain: khek- lang, habis nyekek, hilang. Artinya,
kalau tidak ada kepentingan
ekonomisnya, orang Khek dianggap
tidak mau solider dengan orang
Tionghoa lain. Mirip dengan stereotype orang Tionghoa
pada umumnya di mata sebagian
kalangan orang Indonesia pribumi.
Mudah-mudahan sekarang sudah tidak
ada lagi prasangka buruk dan salah ini.
Karena toh semuanya sudah tidak lancar berbahasa Tionghoa. Mandarin
saja sepatah-patah dan amburadul,
apalagi Hokkian, Hokchia, Khek,
Henghua … forget about it! Hampir semua keturunan Tionghoa di
Jawa mengambil identitas utama
sebagai orang Indonesia, dan identitas
ke-2 sebagai orang Tionghoa, titik. Ini
bagus. Kalau mau belajar bahasa
Tionghoa, ya belajar Mandarin saja, yang standar dan dimengerti orang semilyar.
Hokkian, Hokchia, dll. Hanya sekedar
tahu sajalah, untuk cerita ke anak cucu.



0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates