08/04/12

Serial Detektif Koko (4): Jaga Janda Anda

Serial Detektif Koko

Riwayat lahirnya serial Detektif Koko:

Berawal dari dibentuknya BBM HSG, semakin hari semakin banyak yang bergabung ke dalamnya. Tiada hari tanpa keramaian di BBM HSG. Dari pagi bangun tidur hingga malam menjelang tidur. Mungkin bisa dibilang itu Grup BBM paling ramai yang pernah ada. Canda tawa, hingga info dan motivasi. Benar-benar seperti HSG yang sebenarnya, dimana rasa kekeluargaan sangat erat sekali terasa.

Hingga pada suatu hari, salah satu member HSG berulang tahun. Kaz yang admin mengucapkannya melalui BBM. Tapi karena Kaz mengucapkannya bukan pada saat yang senggang, maka ada kesalahan pengetikan, dimana BBM ultah itu sebenarnya Kaz ambil dari BBM seorang teman yang bernama Linda yang dicopas dan dikirim kepada member yang berulang tahun itu. Dari sanalah muncul karakter Linda pada member kita ini.

Beberapa hari kemudian, member lain diberi nama Vera karena dipelesetkan dari nama sebenarnya.

Akibat dari guyonan Linda yang semakin lama semakin menghangat. Plus canda tawa yang semakin banyak, hingga akhirnya Kaz mendapat inspirasi untuk menuangkannya ke dalam sebuah serial pelesatan dari serial Lina & Viska, yaitu Linda & Vera.

Berikutnya giliran 2 member yang berulang tahun berlainan hari dan keduanya berinisial HY. Disanalah kisah ini semakin berkembang. Plus Kaz sendiri mendapat imbas dari keisengannya menjodohkan sejoli HY dan pemunuculan karakter Linda & Vera. Oleh salah seorang dari mereka Kaz dipanggil Ko Koz.

Detektif Koko sendiri muncul dari kata Konyol dan Kocak. Dimana 2 episode perdana yang akan tayang ini tak lepas dari kekonyolan dan kekocakan dua detektif wanita Linda dan Vera, yang aslinya adalah laki-laki (member HSG sendiri).

Disanalah serial ini dimulai. Serial Detektif Koko: Linda & Vera, yang mengambil setting di Kampung HSG (Hunian Serba Gaduh) - HSG banget ya, yang selalu hyperaktif dalam eksistensinya - sebuah kampung yang dipimpin oleh Akoh Koz, juragan sesepuh kampung.

Para pemeran di Serial Detektif Koko (tokoh diambil dari member HSG yang dipelesetkan nama dan diberikan karakter khusus khas rekaan Kaz):

1. Kaz Felinus Li sebagai Akoh Koz, juragan sesepuh dan dedengkot kampung HSG.

2. Aan Gow sebagai Aan alias Ana Linda.

3. V-Ry Ng sebagai Very alias Vera.

4. Han Yo (sejoli HY)

5. Heni Yanz (sejoli HY)

6. Hayati Ling / Uchi Naru sebagai Mpok Yati, janda beranjing galak.

7. Mei Devin / Xiao Mei Mei sebagai Jeng Memei, si penjual kue keliling, pacar Very.

8. Hui Jenny sebagai Jennifer Collins alias J-Co, si cewek tajir, pacar Aan.

9. Kho Ling Hong, sebagai Honggo, si tukang ojek.

10. Henni Silviana , sebagai Henny, si sekretaris seksi.

11. Wenty Anggraeni, sebagai Reny, istri Hong.

12. David Lee, sebagai Dave, si kutu buku dan laptop berjalan.

13. Lynzz, si nenek cilik.

14. Jun Piau jadi Yen Biao, bodyguard Henny.

Dan karakter-karakter lainnya masih akan menyusul.

Serial Detektif Koko: Linda & Vera, disajikan dalam gaya bahasa yang luwes dan menarik. Semoga terhibur.

Salam HSG

**************************

Serial Detektif Koko (4): Jaga Janda Anda

BAGIAN 1

JANDA BERANJING GALAK

Kampung HSG, Hunian Serba Gaduh...

Jam 8 pagi...

Motor Kawasan Ninja, yang dikendarai oleh seorang pemuda berambut gondrong dan bertampang lumayan keren, berhenti tepat di depan sebuah rumah yang masih kosong. Begitu motornya berhenti, penumpang di belakangnya pun segera turun dari duduknya.

"Selamat datang di Kampung HSG!" Ujar lelaki yang bukan lain adalah Hong Sule, ojek yang terkenal senang dengan wanita yang masih muda itu.

Si penumpang tidak menjawab sapaan Hong, membuat pemuda itu menggerutu kesal sambil menggaruk kepalanya. "Sariawan ya? Dari tadi nggak ngomong sama sekali..."

Lagi-lagi tidak memperdulikan ucapan Hong, si penumpang membuka keranjang besar yang ditentengnya sepanjang jalan. Dibukanya tutup keranjang itu dan sebuah kepala tampak nongol keluar dari dalamnya. Begitu menghirup udara bebas, pemilik kepala itu segera bersuara. "Guukkk!! Gukkk!!!"

"Bujug buneng! Apa nggak ada yang lebih jelek dari ini?" Spontan Hong berkomentar saat melihat anjing yang ternyata disimpan di dalam kerangjang oleh majikannya itu.

"Apa katamu?! Anjing saya jelek?!!" Si penumpang segera memaki Hong atas perkataannya itu. Tak ketinggalan, seperti mengerti bahasa manusia, si anjing menggonggong ricuh.

"Heh, ma... Maaf... Maksud... Maksudku..." Jantung Hong berdegup kencang saat menyadari suara si penumpang yang adalah seorang wanita itu terdengar nyaring.

"Jelek kan? Begitu kan?!" Celetuk wanita itu. Anjingnya lagi-lagi tak mau ketinggalan, ikut menggonggong.

"Memang jelek..." Ujar Hong begitu dapat menguasai dirinya.

"Hah!!" Si wanita terbelalak mendengar pengakuan Hong itu.

"Tapi masih ada yang lebih jelek lagi dari ini. Maksudnya dia..." Hong menunjuk ke arah si anjing. "... masih lebih baik daripada jelek banget..."

"Oh, begitu..." Si wanita manggut-manggut dan menatap tajam Hong. "Tapi bukan jelek kan?"

"Oh, nggak. Nggak jelek." Hong menggoyangkan tangannya. "Masih cantikan kok dibanding yang jelek banget..."

"Iya kan?" Hong menjulurkan tangannya bermaksud mengajak si anjing bermain. Namun gonggongannya yang keras membuat Hong menarik tangannya lagi.

"Haiya! Itu bukan sosis! Diam!" Si wanita berseru untuk menenangkan anjing yang digendongnya.

"Sosis? Jariku disamain dengan sosis?" Gumam Hong. "Yang bener aja, Bu..."

"Saya bukan ibumu!" Bentak wanita itu. "Kenal aja nggak, jangan sok panggil ibu!"

"Hah?!" Hong terkejut. "Yang bilang situ ibuku siapa? Lagipula aku juga nggak mau punya ibu macam gitu..."

"Apa katamu?" Wanita itu bertanya dengan suara nyaringnya. Suara yang dapat mengalahkan suara motor Kawasan Ninja milik Hong Sule.

"Maksudku..." Hong mulai mendengus kesal saat itu. "Situ ibuku bukan?

"Ya bukan..." Jawab wanita itu.

"Iya atau bukan?" Tanya Hong lagi.

"Iya atau bukan?" Wanita itu tampak kebingungan sesaat. "Saya ibumu kan maksudnya?"

Hong mengangguk. "Iya bukan?"

"Ya bukan..." Jawab wanita itu lagi.

"Gimana sih?" Hong menggerutu. "Iya atau bukan? Kok ini ya bukan, ya bukan..."

"Ya bukan..." Tegas wanita itu.

"Aduhhh..." Ojek Hong menepuk jidatnya. "Ya bukan lagi..."

"Terus?" Si wanita itu bertanya balik.

"Nih ya, kalau aku tanya iya atau bukan, jawabnya iya iya atau bukan bukan. Nggak ada iya bukan, iya bukan." Ojek Hong menghela nafas. "Nah, aku ulang. Situ merasa jadi ibuku, nggak berasa kan? Iya bukan?"

"Ya bukan..." Jawab wanita itu.

"Ini yang bego siapa ya?" Hong menggaruk kepalanya. "Nih dengar ya. Situ bukan ibuku, bukan?"

Wanita itu terdiam sesaat. "Ya bukan..."

"Kok ya bukan lagi sih?" Hong semakin menggaruk kepalanya. Akibatnya rambutnya yang tak berjambul kini muncul jambul kaget. "Gimana ngomongnya ya?"

"Ngomong apa?" Tanya wanita itu. "Bukannya kita lagi ngomong?"

"Ngomong-ngomong situ belum bayar aku kan?" Hong mendapat angin untuk mengalihkan pembicaraan mereka.

"Emangnya saya pelupa?" Bentak si janda. Dia membuka tasnya dan merogoh isi di dalamnya. Lalu mengeluarkan beberapa selembar uang yang diserahkan kepada Ojek Hong. "Nih! Sembilan belas ribu kan? Kembali seribu."

"Hah?! Kembali?" Hong terbelalak mendengar perkataan si janda.

"Iya dong. Dikira cari duit gampang!" Tukas si janda. "Sini kembaliin. Seribu juga duit."

"Parah, seribu aja minta kembali..." Gumam Hong bingung. Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kain di dalamnya.

"Mana? Aku nggak ada seribu. Lihat nih aku nggak ada uang kecil..." Ujar Hong.

"Dompet?" Tanya si janda.

"Buset deh..." Hong mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan isinya yang kosong. Hanya beberapa foto cewek seksi yang terselip di dalamnya. "Nih, belum ada pemasukan sama sekali hari ini..."

"Dasar ojek kere! Seribu aja nggak ada!" Si janda memaki kesal, sambil memelototi Ojek Hong.

"Dasar pelit! Seribu aja nggak rela!" Hong nggak kalah sengitnya. Dia menggeber gasnya.

"Cari kembaliannya sampai dapat!!" Dengan ketus si janda berkata.

"Hah?!" Sepasang mata Ojek Hong semakin membelalak mendengarnya. "Seribu aja dicari..."

"Cepat!!!" Si janda menghentakkan sebelah kakinya. "Cari kembaliannya sampai dapat!"

"Oke!!!" Ojek Hong yang sudah kesal menanggapi. Dia menggas motornya meninggalkan tempat itu. "Tunggu disini!"

Setelah pergi meninggalkan si janda, Ojek Hong mengendarai motornya kencang. Tentunya sambil memaki sepanjang jalan. "Syukurin lu! Nunggu deh lu sono. Sampai botak juga gue nggak akan kembali. Makan tuh seribu!!"

BAGIAN 2

TUGAS DARI AKOH KOZ

"Hah?! Janda??" Tampak dua pasang mata terbelalak dan saling menatap satu sama lain.

"Pasti cantik..." Kata salah seorang di antara mereka sambil menyengir kuda.

"Pasti seksi..." Sambung temannya, yang juga tak kalah menyengir, memperlihatkan pergigian baris-berbaris.

"Putih mulus tuh..." Kembali yang satu berkomentar, cengirannya semakin mirip kuda menyengir.

"Dada montok..." Sang teman tak mau ketinggalan berkomentar dan menyeringai semakin lebar.

"Yahh," Seorang lelaki berbadan tinggi besar yang duduk di depan mereka menghela nafas. "Kalian lihat saja nanti ya..."

"Maksudnya Koh?"Seringai di mulut si pemuda menghilang. Pandangannya dialihkan ke lelaki tinggi besar itu.

"Iya, maksudnya apa?" Timpal temannya, cengiran kudanya juga telah menghilang. "Bukannya kami memang diminta Akoh Koz untuk berburu janda..."

"Bukan berburu janda!!" Lelaki yang duduk di sebelahnya menggeram sambil menepuk kepala temannya. "Ana Linda maniak!"

"Lah, lu sendiri gimana?" Pemuda yang ternyata adalah Aan, si Detektif Koko itu mendelik menatap temannya, yang bukan lain adalah Very itu. "Berburu dada juga kan?"

Aan meletakkan tangannya di depan dadanya yang rata dan menggoyangkannya ke atas. "Dada montok."

Tingkah polah sepasang detektif konyol dan kocak itu tak urung mengundang tawa Akoh Koz, si sesepuh dan dedengkot Kampung HSG. Siang itu dia meminta sepasang Detektif Koko mengunjunginya untuk diberikan tugas baru di Kampung HSG, seperti yang biasa dilakukannya kepada mereka.

"Tapi bener kan, Koh, kalau janda ini cantik, seksi, mulus dan montok?" Senyum Very kembali mengembang saat dia menatap Akoh Koz tanpa berkedip.

"Pensil..." Ujar Akoh Koz singkat.

"Hah?!" Sepasang detektif Koko saling berpandangan satu sama lain. "Pensil?"

Akoh Koz mengangguk. "Iya, pensil. Pendek silau."

"Hah! Pendek silau?" Aan menggaruk kepalanya. "Emangnya keran air pendek silau..."

"Wah, jadi pendek ya?" Suara Very terdengar bergetar. Dia terdiam sesaat.

"Kenapa?" Aan menatapnya dan mencibir. "Orang pendek susunya jelek, gitu?"

Very melambaikan tangannya. "Ahh... Nggak apa-apa. Yang penting masih ada pabriknya..."

BLETAK!!

Aan tertawa puas berhasil membalas tepakan di kepala sahabatnya. "Lu kira Indomilk. Pabrik susu..."

"Tapi kenapa janda?" Tanya Very tiba-tiba, sambil mengusap kepalanya yang ditepuk sahabatnya itu.

"Iya, kenapa janda?" Aan menimpali sambil mengangguk kecil.

"Yang namanya janda itu..." Sebuah suara lembut yang berasal dari dalam ruangan terdengar. Si pemilik suara itupun meletakkan tiga gelas teh hangat di atas meja sebelum dia duduk di samping Akoh Koz. "... ya sudah pasti ditinggal suaminya dong..."

"Nenekku juga tau kalau janda itu wanita yang ditinggal suaminya, Ce Milla" Ujar Very. "Kalau suami ditinggal istrinya itu namanya duda..."

"Nah kalau anak gadis yang udah diperawanin dan ditinggal pacarnya?" Milla, kekasih Akoh Koz, tak kalah gesit dengan celetukan Very.

"Itu sih nggak bertanggung jawab namanya, Ce..." Jawab Very.

"Bukan." Milla menggeleng. "Salah tuh jawabannya."

"Habis apa dong?" Very mengernyitkan keningnya.

"Itu namanya Marshanda." Jawaban Milla membuat tiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak.

"Janda, duda, Marshanda..." Komentar Akoh Koz. "Nah, kalau anak yang ditinggal orang tuanya?"

"Itu mah yatim piatu, Koh. Anak SD juga bisa jawab." Ujar Aan.

"Bukan." Akoh Koz menggeleng. "Salah tuh jawabannya."

"Terus, apa dong?" Gantian Aan yang mengernyitkan keningnya."

"Yang benar itu Kungfu Panda." Ucapan Akoh Koz kembali mengundang ledakan tawa di ruangan itu.

"Sudah ah, dari tadi dada-dada terus..." Adalah Akoh Koz yang terlebih dulu bersuara di antara gelak tawa tersebut. "Janda, duda, Marshanda, Kungfu Panda. Dada-dada semua..."

"Nih Koh, dada melulu dari tadi..." Aan mendelik menatap Very yang membalas pelototannya.

"Ya, kembali ke pokok permasalahan kita..." Akoh Koz berdehem. Tampaknya dia mulai serius kembali. Ditatapnya kekasihnya yang duduk di sampingnya. "Fotonya ada?"

Milla mengangguk dan menyerahkan selembar foto berukuran 4x6 kepada Akoh Koz yang langsung meletakkannya ke atas meja.

"Namanya Mpok Yati." Kata Akoh Koz. "Janda beranjing galak."

"Hah!!" Sepasang Detektif Koko terkejut.

"Koh," Aan mengambil foto yang disodorkan sambil menatap Very. "Apa Mpok Yati ini ada hubungannya dengan Mpok Ati?"

"Mpok Ati, si pelawak bermulut ember itu?" Tanya Milla sambil tersenyum.

"Iya, siapa lagi." Ujar Aan. "Mulut dan suara macam persis ember pecah..."

Komentarnya membuat Milla terkikik mendengarnya, sedang Akoh Koz tersenyum simpul.

"Jangan-jangan kembarannya." Celetuk Very. "Coba kulihat fotonya!"

Very melihat foto yang diambilnya dari Aan dan terdiam beberapa saat. "Kalau disini sih lumayan ya..."

"Lumayan apa?" Tanya Aan. "Hancur juga bisa lumayan hancur..."

"Memang ada satu hal yang sama darinya dengan Mpok Ati." Akoh Koz menerangkan.

"Apa itu, Koh?" Very mengangkat kepalanya dan menatap Akoh Koz.

"Suaranya yang bagai ember pecah itu..."

"Waduh!!" Very menepuk pundaknya mendengar jawaban Akoh Koz.

"Terus kenapa dia bisa janda, Koh?" Tanya Aan. "Suaminya mati atau cerai?"

"Iya tuh..." Very kembali berceloteh. "Atau suaminya masuk penjara?"

"Mungkin suaminya dibunuh?" Sambung Aan. "Atau mati digigit anjing piaraannya?"

"Nah, itulah yang harus kalian cari tahu." Akoh Koz menatap tegas ke arah keduanya. "Bila mana perlu, pastikan dia tidak menambah gaduh lagi Kampung HSG yang sudah gaduh ini."

"Satu lagi." Tambah Akoh Koz. "Anjingnya galak. Tidak sesuai dengan rasnya yang jinak, tapi sesuai dengan majikannya yang galak."

"Jadi yang akan kalian hadapi kali ini bukan satu. Tapi dua." Akoh Koz menutup pembicaraan.

BAGIAN 3

MPOK YATI VS JENG MEMEI

Kampung HSG, Hunian Serba Gaduh...

Jam 6:15 pagi...

"Kue-kue..." Seorang gadis bertampang ayu dengan pakaian kebaya dan sarung tampak melintasi perkampungan HSG. Di atas kepalanya tampak sebuah tampi berisi kue-kue yang dijajakannya. "Kuenya... Masih hangat. Fresh from the oven..."

Gadis yang bukan lain adalah Jeng Memei, tukang kue keliling kampung HSG, berjalan menawarkan kue dagangannya dengan melewati depan rumah yang satu ke rumah yang lain.

Ketika tiba di sebuah rumah yang baru saja didatangi penghuninya, suara Jeng Memei menjajakan kuenya mendapat sambutan dari dalam rumah yang dilewatinya.

"Huk.... Hukkkk.... Haauuuullllll..."

Jeng Memei menghentikan langkahnya, tepat di depan rumah itu. "Apaan tuh?"

"Gukk... Gukkkk...."

Suara itu kembali terdengar, membuat Jeng Memei berpaling. "Anjingnya siapa sih?"

Suara si anjing masih terus menggonggong saat Jeng Memei tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Malah dengan rasa penasaran, Jeng Memei mencoba mendekati pagar rumah tersebut.

"Hummppphhhh!!" Tiba-tiba pintu rumah membuka dan tampak sesosok anjing berbadan besar melesat keluar dan tampak garang menggonggongi Jeng Memei yang melompat terkejut itu.

"Eh andog.... eh andog... Ehhhh salah...bulldog... Anjing eh iya anjing... Bulldog... Anjing eh Bulldog eh iya... anjing... Anjing bulldog..." Saking kagetnya Jeng Memei menjadi latah dibuatnya. Tampi yang dibawanya bergoyang sesaat waktu dia melompat dalam keterkejutannya. Beberapa kue yang dijajakannya tampak terjun bebas dari tampi menuju aspal.

"Bulldog eh bullset eh buset dah tuh anjing. Bikin kaget aja pagi-pagi begini" Jeng Memei menggerutu kesal sambil menurunkan tampinya dari atas kepalanya dan meletakkannya di atas jalanan. Sementara anjing tersebut masih sibuk menggonggongi Jeng Memei.

"HAIYA!!" Dari dalam rumah terdengar sebuah suara teriakan keras. "DIAMM!!"

Suara yang terdengar itu sangat kencang. Untuk kedua kalinya, Jeng Memei yang sedang dalam posisi berjongkok saat meletakkan tampi ke atas jalanan, kembali dibuat terlompat karena terkejut dan akibatnya gadis itupun duduk terjengkang di atas aspal di pagi itu.

Bila Jeng Memei saja sampai terkejut dibuatnya, tak heran bila anjing Bulldog tersebut tidak lagi menggonggong, melainkan berdiri terdiam sambil memasang tampang dungu.

"Astaga!!" Jeng Memei mencoba bangun dari terduduknya. Ditatapnya anjing Bulldog yang terdiam itu. "Hanya haiya dan langsung diam."

"Haiya..." Jeng Memei menghela nafasnya. "Koh Abun juga sering bilang haiya... Haiya... Hai..."

Koh Abun adalah langganan tetap Jeng Memei, seorang keturunan Tionghoa yang masih kental logat Mandarinnya.

"GUKKK!! GUKKKK!!"

"Ealah haiya... haiya.... Eh haiya..." Kembali Jeng Memei terlompat mendengar gonggongan Bulldog tersebut. Akibatnya Jeng Memei terjengkang karena posisi bangunnya belum sampai posisi berdiri, namun masih dalam posisi berjongkok dan sudah digonggong si bulldog.

"Bener-bener nih anjing..." Jeng Memei mencoba berdiri kembali. Sementara gonggongan anjing itu semakin lama semakin menjadi.

"HAIYA!!" Suara yang tadi terdengar kini muncul lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Sekilas mata Jeng Memei yang melirik si anjing menangkap bayangan sesuatu yang melayang ke arah anjing tersebut. Berputar dan melayang. Tahu-tahu...

BOING!!!

PLUK!!

Sebatang tulang yang tampaknya masih basah melayang tepat ke arah kepala si bulldog, membuatnya terdiam dari gonggongannya dan begitu tulang tersebut jatuh ke lantai, anjing itupun segera menjilatinya.

"Siapa sih pagi-pagi begini bikin ribut?" Suara bernada pecah itu kembali terdengar. Tak berapa lama kemudian tampak pintu kawat nyamuk di rumah tersebut membuka.

Beberapa detik kemudian, tampak di depan Jeng Memei berdiri seorang wanita serba pendek. Berbadan pendek, berambut pendek, berdahi pendek, berhidung pendek alias pesek, berleher pendek, berbetis pendek dan masih ada pendek-pendek lainnya. Sepertinya sukar untuk mencari yang tidak pendek di badannya, kecuali suaranya yang melengking panjang. "Jadi babu ini yang bikin ribut pagi-pagi begini?"

"Eh apa? Babu? Aku dibilang babu?" Jeng Memei bergumam terkejut. "Sendirinya juga macam babi, ngatain aku babu. Masih kerenan babu dimana-mana daripada babi..."

"Siapa kamu? Mau apa disini?" Suaranya yang melengking kembali terdengar. "Mau nyolong? Nggak bisa!" Matanya melirik sekilas ke anjingnya. "Ya kan, Haiya?"

Seperti mengerti pertanyaan majikannya, Haiya tidak menjawab, hanya menggoyangkan ekornya, yang juga pendek itu.

"Astaga! Sudah babu, sekarang nyolong pula?! Ini orang bener-bener..." Jeng Memei kembali bergumam, dirinya sudah mulai kesal dikata-katai seperti itu, namun dia menahannya.

Sambil berdehem dan menelan ludahnya, Jeng Memei berkata dengan lembut. "Aduh, maaf ya kalau pagi-pagi sudah ribut. Sepertinya mbak ini penghuni baru ya disini?"

Jeng Memei menjulurkan lengannya. "Kenalkan, namaku Memei. Aku penjual kue keliling di kampung ini. Mbak siapa ya?"

"Mpok, bukan Mbak!" Si wanita yang bukan lain adalah Mpok Yati itu menjawab dengan nada ketus.

"Eh iya... Mbok, eh Mpok..." Jeng Memei menggangguk sambil tersenyum. "Suara udah macam Mpok Ati aja..."

"Darimana bisa tahu nama saya hah?!" Suara Mpok Yati yang keras kembali terdengar.

"Buset dah..." Gumam Jeng Memei. "Kaleng aja pecah dengar suara si Mpok..."

"Aku... Jadi benar namanya Mpok Ati?" Tanya Jeng Memei sambil tersenyum.

"Dengerin ni ya. Nama saya Mpok Yati. Y-A-T-I. Yati. Bukan Mpok Ati. Dia A-T-I, saya Y-A-T-I. Yati. Udah denger?"

"Buseeeeet. Nggak perlu dieja kaleeee, Mbok eh Mpok..." Jawab Jeng Memei. "Emangnya aku anak TK?"

"Kamu lulus TK? Pantas jadi tukang kue!" Mpok Yati melirik Jeng Memei dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Buseeeet. Siapa yang bilang aku lulus TK, Mpok." Jeng Memei berkata. Dia masih mencoba menahan kesabarannya. "Aku cuma bilang aku ini bukan anak TK..."

"Bukan anak TK? Memangnya tukang kue itu bukan TK apa? SD?" Mpok Yati menjawab balik.

"Hah?!" Gumam Jeng Memei mulai menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. "Aku yang oneng, apa dia yang neng nong ya?"

"Aku bukan TK, Mpok." Jeng Memei mencoba berkata. "Aku ini lulusan..."

"TK! Kamu tukang kue kan?"

"I... Iya..." Jeng Memei mengangguk.

"Nah, berarti kamu TK." Dengan jumawa, Mpok Yati kembali berkata.

"Ooooo, TK itu maksudnya Tukang Kue..." Memei mulai menangkap maksudnya. "Ya, ya, ya, tau deh..."

"Nah!" Memei menatap Mpok Yati tiba-tiba. "Kalau begitu Tukang Kolor juga TK dong?"

"Sama kayak Tukang Koran, Tukang Kebun, Tukang..." Memei tampak berpikir keras.

"Kamu jualan kolor juga?" Tahu-tahu pertanyaan itu meluncur saja dari mulut Mpok Yati.

"Hah?! Jualan kolor?" Jeng Memei mulai menghela nafasnya. "Ya nggak lah, aku jualan kue, masa jualan kolor."

"Tadi katamu TK, jadi jualan kolor juga dong?"

"Capek deh!" Jeng Memei menepuk jidatnya. "Neng nong juga nih orang ternyata yee..."

"Oh, jadi kamu aslinya tukang lenong?" Mpok Yati menatap Jeng Memei. "Kok bisa jadi tukang kue dan jualan kolor? Pekerjaan sambilan gitu ya?"

"Hah?!" Sepasang mata Memei terbelalak. "Tukang lenong?"

"Kan kamu yang bilang sendiri tadi. Lenong." Mpok Yati memegang telinganya. "Telinga saya belum tuli ya, emang dikira saya nggak dengar kamu bilang apa?!"

"Situ kali yang muka lenong..." Memei bergumam kesal. "Udah otaknya neng nong, jidat jenong, tampang lenong. Pantes dateng aja main selonong..."

"Neh juga anjing, udah monyong, main gonggong... Gigi lu tuh bau jigong..." Memei rupanya sudah semakin kesal saat itu. Dia membereskan tampinya dan siap menaikkannya lagi ke atas kepalanya.

"Jual kue apa aja, nong?" Tanya Mpok Yati, juga dengan tiba-tiba dan suara geledeknya.

Memei memelototi si janda itu. Nafasnya mendengus. "Namaku Memei. M-E-M-E-I, dibaca Memei. Bukan nang neng nong yang mbok bilang..."

"Mpok, bukan mbok! Mpok Yati." Si janda juga tak mau kalah sengitnya.

"Aku bilang mpok kok, bukan mbok." Jawab Jeng Memei. "Makanya punya telinga panjangan dikit."

"Eh, kurang ajar berani ngatain telinga saya pajangan?" Mpok Yati menggerutu. Kedua tangannya bertolak pinggang.

"Pajangan?" Jeng Memei melihat si janda dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Tahu-tahu tertawanya meledak.

"Hahahahahaha... Pajangan?" Jeng Memei berhenti sesaat. Menatap si janda, lalu tertawa terpingkal-pingkal lagi.

Ditertawakan seperti itu, membuat Mpok Yati memelototi Memei dengan bingung dan gusar. "Kenapa ketawa? Apa yang lucu?"

"Kalau model begini jadi pajangan," Memei masih tertawa. "Bukannya malah merusak pemandangan?"

"Apa sih yang lucu?!" Mpok Yati mengomel kesal melihat tertawa Jeng Memei yang semakin menjadi itu.

Tahu-tahu...

CPRUTT!!!

"Apaan nih?" Mpok Yati yang sedang berdiri kebingungan terkejut saat wajahnya mendapati titipan yang melayang keluar dari mulut Jeng Memei saat terpingkal-pingkal itu. Diusapkannya tangannya ke wajahnya, menyeka dan mendekatkan telapak tangannya ke hidungnya.

"AAAAAAAAAAAHHHH!!!" Tiba-tiba janda itu melengking tinggi saat menyadari titipan itu yang bukan lain adalah semprotan air ludah Jeng Memei. Kebiasaannya yang akan muncul bila tertawa terpingkal-pingkal.

"TIDAAAAKKKKK!!!!" Semakin melengking suaranya Mpok Yati. Dibalikkannya badannya dan berlari ke dalam rumah, meninggalkan Jeng Memei yang berdiri dengan tawa yang masih tersisa.

BAGIAN 4

MPOK YATI VS J-CO

Sebuah mobil sedan melintasi Kampung HSG pagi itu. Irama musik yang distel di dalamnya terdengar berdentam dari luar. Pengemudinya seorang gadis berambut pirang dan berkacamata hitam.

Sambil menggoyangkan kepala mengikuti irama lagu dan bibir mengunyah sesuatu, gadis itu mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang. Semestinya mobil yang dibawanya tersebut tidaklah berbahaya, namun pada saat itu dia terpaksa melakukannya...

CKIITTT!!!

"Adiiiuuhhhh... Apa tuch?!" Gadis itu menginjak rem sampai habis sampai dirinya sendiri terdorong ke depan. Melepaskan safety belt dan kemudian dia membuka pintu dan melangkah keluar. Pintu mobil dibiarkannya terbuka begitu saja.

"Apa tuch?" Gadis itu membungkuk dan melihat sesuatu yang membuatnya menginjak rem. Sesuatu yang seperti berlari melintas di depan mobilnya.

Matanya terpaku pada sesosok badan pendek gempal di depan roda mobilnya, dengan lidah menjulur dan siap menyalak.

"Gukkk!! Gukkkk!!!"

"Owh, ada doggie..." Segera gadis pirang yang bukan lain adalah Jeniffer Collins alias J-Co itu berlutut dan menjulurkan tangan ke arah si anjing.

"Gukkk!!" Anjing itu menyalak sesaat dan beringsut ke belakang beberapa kaki melihat kedatangan J-Co.

"Jangan takiut, doggie... Aqiu tidak macham-macham..." J-Co berjongkok dan tangannya masih terjulur mencoba menggendong si anjing. "Sini..."

"Eeeeeeeeeeeiiitttttt..." Sebuah suara melengking membuat J-Co mengurungkan niatnya dan memalingkan badannya.

"Mau apa kamu sentuh-sentuh anjing saya?" Suara melengking itu kembali terdengar membuat J-Co bergidik.

"Adiiiiiiiiuuuuuuhhhhhhh..." J-Co tak kalah memekiknya sambil menutup sepasang telinganya dengan tangannya. Tepat pada saat itu si pemilik suara melengking, yang ternyata adalah Mpok Yati itu telah mendekati dan memelototinya.

"Syuaramiu ituuu..." J-Co menurunkan tangan yang dipakai menutupi telinganya. Melihat di depannya telah berdiri seorang wanita berbadan pendek melotot ke arahnya, J-Co juga berkacak pinggang dan memelototinya.

"Apa melotot-melotot? Mau maling anjing ya?" Wanita bertubuh pendek itu berseru. "Ya, kan, Haiya? Dia mau ambil kamu kan?"

"Adiiiiiiiuuuuuhhhhhhhhhhhh....." Lagi-lagi J-Co menutup kedua telinganya. "Syuaramiu ituuu....."

"Kenapa? Terganggu dengan suara saya?" Mpok Yati tersenyum sinis. "Tak ada ampun untuk orang yang mau maling anjing!"

"Apa katamiu? Aqiu maling doggie? Isssshhhhhhh....." J-Co berdesis. Gadis itu tampaknya tak begitu lagi memperhatikan suara pecah si janda.

"Ya, maling anjing." Wanita yang bukan lain adalah Mpok Yati, si janda beranjing galak itu. "Sudah jelas-jelas mau ambil anjing saya barusan..."

"Issshhhhhhhh... Lihat-lihat dunks kalo bicara..." Ujar J-Co sengit. "Doggie elek gitiu, syapa yang mau?"

"Jelek katamu?!" Sepasang mata Mpok Yati semakin terbelalak. "Berani bilang Haiya jelek?"

Mpok Yati mengangkat anjing Bulldog piaraannya dan membelainya. "Ya, Haiya ya? Haiya kan tampan ya? Masa dibilang jelek ya?"

"Emberrrr..." J-Co melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Apa nggak syalah ngomong tuch?"

"Bule-bule jualan ember... Miskin amat?" Mpok Yati berkata sambil membelai kepala anjingnya. "Semiskin-miskinnya saya juga nggak sampai jualan ember."

"Isshhhhhh... Ma'am, ihhh... jijay dipanggil Ma'am..." J-Co berkata dengan kacamata hitam masih menempel di wajahnya. "Yang namanya Ma'am tuch yach..."

"Cantik..." J-Co menepuk sepasang pipinya dan mengerdipkan matanya berulang-ulang.

"Sekseh..." J-Co menggerakkan tangannya mengelus pinggulnya.

"Elegen..." Sesaat dibukanya kacamatanya dan dipakainya lagi.

"Beruang..." Digoyangkannya jari-jarinya di depan wajahnya seperti sedang menggenggam uang lembaran.

"Kurang ajar! Sudah bilang jelek, sekarang panggil saya beruang?" Wajah Mpok Yati kian memerah saat itu. "Kamu lihat saya seperti panda ya?!"

"Owh, beruang... Bear yach? Ahihihi..." J-Co tertawa lepas. Ditatapnya Mpok Yati dari atas kepala hingga bawah kaki. "No matching, no matching..."

"Siapa yang kencing?!" Hardik Mpok Yati sambil melotot. "Mata udah kayak tukang pijat buta! Orang berdiri dibilang kencing."

"Issshhhhhhh..." J-Co menggulirkan kacamata hitamnya ke atas kepala dan menjadikannya sebagaimana layaknya sebuah bando. "Ses, gaul dunks yach. Gauuuullls..."

"Disatukannya ibu jari dengan jari tengahnya dan ditunjukkannya di depan Mpok Yati. "Dikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiits aja...."

"Kurang ajar nih cewe bule, anggap enteng gue..." Bukannya mengerti, ternyata Mpok Yati menanggapi salah arti bahasa tubuh J-Co saat itu. "Belum tahu dia siapa saya!"

"Enteng?" J-Co kembali tertawa lepas. "Nggak syalah ngomong lagi tyuh?"

"Jangan banyak ngomong ya!" Si janda mulai geram melihat tingkah laku J-Co yang menurutnya menyebalkan itu. "Saya suruh Haiya menggigitmu nanti!"

Tawa J-Co semakin kencang saat itu, membuat Mpok Yati semakin gerah melihatnya. "Apa yang lucu?"

"Jadi namanya Hey ya yach?" J-Co menunjuk si janda.

"Itu nama anjing saya..." Hardik si janda sambil terus mengelus kepala si Bulldog. "Bukan saya..."

"Owh... I see... I see..." J-Co menunjuk si anjing Bulldog. "Terus ini namanya syapa?"

Mpok Yati menelan ludah sebelum menjawab. "Haiya. Sudah dibilangin namanya Haiya..."

"Icchhh... Bukan... Bukan itu..." J-Co menggelengkan kepalanya. "Itu aqiu sudah tau..."

Mpok Yati menghela nafas. Tampak dia sudah mulai gondok melihat tingkah J-Co. "Apa maksudmu?"

"What's the meaning of mai kamsud?" J-Co tersenyum.

"Bisa nggak bicara bahasa yang benar?" Mpok Yati berkata dengan suara ketus. "Pusing saya mendengar ocehanmu..."

"Owh... Aqiu lebih puciiiink..." J-Co memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan menggoyangkan badannya. "Dunia aqiu pagi ini... kacaaauuuuuuuuuu........" Dimonyongkannya mulutnya saat mengucapkan kata 'kacau' itu.

"Sendiri juga kacau..." Si janda menggerutu kesal. "Iya kan, Haiya? Dia kacau kan? Lebih kacau dari kita kan?"

"Guukk!!" Haiya menyalak seperti mengiyakan.

"Nah, dengar kan? Anjing saya saja mengiyakan." Mpok Yati tertawa.

"Ses Hey ya... Aqiu tidak syuka gaya bicara kamiu..." J-Co berkata.

"Heh! Saya bukan Haiya, ini yang Haiya, anjing saya..." Si janda berkomentar mendengar perkataan J-Co.

"Sama... Bagi aqiu kalian sama..." J-Co menggerakkan jarinya menunjuk Mpok Yati dan Haiya bergantian. "Ini Hey ya, itu juga Hey ya..."

"Haiya, bukan Heiya!" Si janda semakin kesal tampaknya.

"Syuka-syuka aqiu dunks, Ses." Celetuk J-Co. "Ne khan bibir aqiu, bukan bibir kamiu. Jadi aqiu syuka-syuk dunks mau bilang apa..."

"Gauuuuuuuuls, Ses, gauls..." J-Co menurunkan kacamatanya dan melirik arloji di lengannya.

"Owhhhh, aqiu telat meni-pedi..." Tanpa memperdulikan si janda lagi, J-Co langsung berbalik dan...

JDUK!!

"Aaaooowwwwhhhhh..."

J-Co meringis kesakitan saat badannya tanpa sengaja menghantam pintu mobil yang sempat dibukanya namun lupa ditutupnya. Akibatnya lengan dan sebagian jari tangannya tertabrak pintu.

"Aaooowwwhhhh.... Atiiittttt...." J-Co mengelus jari-jarinya lentiknya. "Owhhhh noooo... kukyu-kukyu aqiu..." Kuku-kuku tangannya yang tertutup cat kuku mahal itu tampak tergores waktu tertabrak itu.

Kejadian singkat itu membuat si janda tertawa terbahak-bahak melihatnya. Seperti tak mau ketinggalan, si Bulldoh Haiya juga menyalak kencang. "Syukurin! Emangnya enak ditabrak pintu?"

"Majikan miusyium langka, nih lagi anjing kebo!" J-Co mengumpat kesal dan menggeber gas kencang-kencang sebelum meninggalkan tempat itu.

BAGIAN 5

AKSI DETEKTIF KOKO

"Ada kasus? Serahkan kepada kami, Koko Detektif!"

Layaknya seorang peragawati berjalan di catwalk, Aan meletakkan kedua tangannya di pinggang, wajahnya berpaling ke samping, dikedipkannya kedua matanya sambil berkata, "Linda."

Linda dengan wig pirang sepunggung, sepasang anting imitasi di telinganya, make-up ringan dengan eye-liner dan blush on. Dengan busana kemben hitam yang dipadu baju lengan panjang berwarna putih. Strapless bra berbusa cukup tebal menjadikan lekuk dadanya menjadi indah. Rok mini hitam menjadi pilihan paduan atasannya menampakkan sepasang kakinya yang berbulu yang diakhiri dengan sepatu hak tinggi berwarna merah. Tas tangan kecil tersampir di lengannya.

Di saat yang tak berselang lama, Very meletakkan lengan kirinya di pinggang dan lengan kanan membelai rambut palsunya yang berwarna hitam. Celana pendek jeans menjadi pilihannya dengan kaos ketat full press body berwarna ungu. Sepasang bra berbusa membuat dadanya keliatan membusung. Gelang karet dan arloji menghiasi masing-masing pergelangannya. Sepatu kets model terbaru yang mempercepat larinya dan senjata ketapelnya tampak terselip di pinggang sebelah kanannya. Punggungnya ditempelkan ke punggung Linda sambil berucap, "Vera."

Dalam waktu yang bersamaan keduanya berkata, "Detektif Koko."

Keduanya membalikkan badan, bertatapan satu sama lain dan menempelkan pipi masing-masing, cipika cipiki dan kemudian mengangguk. Dengan langkah yakin keduanya berjalan menuju pintu. Setelah beberapa langkah, Linda dan Vera saling berpelukan.

"Semoga berhasil!" Vera menepuk pantat sahabatnya.

"Lu juga harus berhasil!" Linda tak mau ketinggalan. Tidak saja tangannya menepuk pantat Vera saat pelukan itu, tapi juga meremasnya.

"Porno lu! Kok pake adegan remas segala?" Vera tampak memprotes perlakuan Linda. Dia melepaskan pelukannya. "Perasaan gue nggak sampai ke adegan remas deh..."

"Spontan..." Jawab Linda sambil tersenyum saat pelukan keduanya terlepas.

"Jangan-jangan lu gitu juga kali ye waktu ketemu cewe lu?" Celetuk Vera.

"Kalo itu gue remasnya udah yang lain..." Ujar Linda sekenanya. "Tapi maaf, nggak bisa dipublikasi. Malu sama yang baca serial ini..."

"Oh iya, bener juga..." Vera menatap ke pembaca yang sedang membaca kalimat ini. Tangannya didekatkan ke mulutnya. "Maaf yah. Top secret..."

"Nah, itu tau..." Linda tersenyum. "Udah ya. Gue duluan..."

Dengan langkah gemulai, Linda mendahului Vera berjalan. Menuju ke suatu tujuan, yaitu...

"Itu dia rumahnya..." Linda menghentikan langkahnya di pertengahan jalan. Deretan rumah di sebelah kanannya sudah tak jauh di depannya. "Si janda keran air kata Akoh Koz. Pendek silau..."

"Bagus pendek silau..." Gumam Linda sambil menarik rok mininya menutupi pahanya yang memang tidak mulus itu. "Kalau pendek gosong, musti siapin Bayclin dulu nih."

Linda menarik nafas beberapa kali sebelum meneruskan jalannya. "Harusnya Akoh Koz menyewakan papan pemberitahuan, 'Awas, anjing galak!'. Kalau kayak begini mah..."

Terdiam sesaat, lalu Linda menghembuskan nafasnya yang tertahan di mulutnya."... Fiuhhh... Mudah-mudahan deh, segalak-galaknya anjing galak, masih lebih galakan calon mertua gue..."

Kembali Linda melangkah menuju rumah yang dimaksud. Perlahan langkahnya membawanya ke depan rumah.

"Sepi." Ujarnya setelah mengintip ke dalam. "Beda banget sama yang diinfo Akoh Koz."

Tangannya bergerak membuka pintu pagar yang kebetulan memang tidak dikunci itu. "Nggak dikunci..." Gumamnya sambil mendorong pagar ke dalam secara perlahan.

Di saat Linda masih terbengong di depan pintu pagar, sebuah suara melolong panjang seketika terdengar. Suara tersebut diikuti oleh sekelebatan bayangan yang tahu-tahu sudah muncul di depan pintu pagar, tepat di depan Linda.

"Gukkkk! Gukkk!!" Suara gonggongan keras terdengar membuat Linda terloncat dari pintu pagar. Seketika saja Linda berlompat mundur sambil menarik pintu pagar yang telah dibukanya dan mencoba menutupnya.

"Astaga!!" Linda yang terkejut tampak pucat wajahnya. Tangannya menepuk-nepuk dadanya yang turun naik karena kaget. Rasa kaget itu membuatnya lupa kalau pintu pagar sebenarnya belum sempat dia tutup rapat.

"Buldozer eh Bulldog..." Gumam Linda. "Tapi kok galak gini. Setau gue Bulldog itu bukan anjing pemburu..."

"Gukkk!! Gukkk!! Gukkk!!!" Si bulldog yang bernama Haiya itu menggonggong keras. Melihat pintu pagar yang masih terbuka, anjing itu mencoba mendorong dengan lengan depannya. Setelah berhasil mendapatkan celah yang cukup untuk badannya, Haiya melompat ke luar.

"Aii.. Aiii... Gila!!" Semua tindakan Haiya tak luput dari perhatian Linda. Saat itu dia menyadari kalau dirinya sudah berada dalam bahaya.

"Haaaaooooooollll." Setelah mengambil ancang-ancang, dengan sekali lompatan Haiya menerjang ke depan, ke arah Linda.

"Gillllaaaaa!!" Linda tersentak dan membalikkan badannya. "Ada anjing gilaaaaaaa!!"

Tanpa menengok lagi ke belakang, Linda berlari sekencangnya meninggalkan tempat itu. Dia yakin di belakangnya, berlari si anjing Bulldog mengejarnya.

Lari tunggang langgang Linda meninggalkan rumah tersebut, mencari keselamatan untuk dirinya sendiri. Sehingga dia tidak lagi menyadari dari dalam rumah tersebut, sebuah suara melengking terdengar. "HAIYAAA!!! DIAM!!!"

Selang dua menit kemudian, seorang wanita datang dari arah yang berlawanan, berjalan menuju ke rumah janda beranjing galak tersebut.

BAGIAN 6

WANITA KUCING DAN BULLDOG ANJING

Linda berlari bagaikan maling dikejar segerombolan massa, sambil sesekali dia menengok ke belakang, sekedar untuk memastikan kalau anjing yang mengejarnya telah berhenti berlari.

"Hosh.... Gila tuh anjing... Hosh... Hoshhh...." Linda mengeluh dalam larinya. Tas tangan kecil yang dibawanya berada dalam genggaman tangan kiri, sedangkan genggaman tangan kanannya tampak sepasang sepatu merah hak tinggi yang dikenakannya. "Brenti dong ngejar gue..."

Saat itu dirinya telah berada di sebuah pertigaan. "Kemana nih sekarang? Kiri atau kanan?" Melirik ke belakang, si anjing hanya berjarak beberapa meter dengannya.

"Bagus tuh anjing gendut. Hosh... Hosh... Kalo nggak, hosh.... hosh.... Gue udah nggak tau deh gimana..." Melihat si anjing yang kian mendekat, Linda memutuskan untuk mengambil ke arah kiri jalan. Pelariannya berlanjut. Dan ternyata Haiya pun tak mau berhenti mengejar sampai disitu. Dia terus mengikuti Linda berbelok ke arah kiri jalan di pertigaan tersebut.

"Ehh... Bener gila nih anjing... Gue bisa diajak keliling kampung kalo begini caranya..." Dengan nafasnya yang terengah-engah dalam pelariannya, Linda melihat sebatang pohon yang cukup tinggi menjulang tak jauh di sebelah depan kirinya.

"Pohon... Hosh... Anjing kan... Hosh... Nggak bisa manjat pohon..." Berhenti tepat di depan pohon itu, Linda memasang kembali sepatu hak tingginya dan bersiap untuk memanjati pohon di depannya.

Adegan selanjutnya adalah sosok seorang wanita dengan rok mini dan baju yang seksi tampak mengangkangkan kakinya lebar-lebar untuk memanjat pohon. Tampak pantat yang bergoyang-goyang seiring gerakan memanjatnya yang lincah.

Begitu tiba di sebuah dahan pohon yang cukup kuat, Linda pun menyambarnya untuk kemudian merebahkan dirinya bergantung di dahan itu. Sementara di bawahnya tampak Haiya yang baru tiba di tempat itu dan menggonggong ke arahnya.

"Sukurin lu!" Linda menyeringai. Rok mini yang dipakainya terpentang lebar saat kedua pahanya mengepit dahan pohon di hadapannya. Sementara sepatu hak tinggi masih dikenakannya. "Bulldog gila!!"

"Gukkkk!! Gukkk!!" Karena badan yang gemuk, cukup sulit bagi Haiya untuk mendongakkan kepalanya ke atas. Yang bisa dilakukannya hanyalah menggaruk pohon tempat Linda bergantungan disana sambil terus menggonggong.

"Garuk aje! Sampai lu jenggotan juga, nggak bakal bisa naik!" Linda mengomel antara senang dan kesal melihat ulah Haiya yang masih belum puas itu.

Setelah beberapa saat lamanya menggaruk-garuk pohon tanpa hasil, seperti telah lelah menggonggong, Haiya menjulurkan lidahnya dan berjalan mondar-mandir di bawah pohon.

"Wah, bener gila nih anjing. Dia malah nungguin gue di bawah. Hush! Hush!! Pulang sana!!" Walaupun menyadari Haiya tak bisa memanjat pohon, namun Linda berharap anjing Bulldog tersebut bisa meninggalkan tempat itu.

Lima menit berlalu. Linda tampak kesal melihat Haiya yang menunggunya di bawah pohon, sambil sesekali menggonggonginya. "Bisa nggak turun gue kalau begini caranya!"

Melihat ke depan dia menyadari tangannya saat itu masih memegang tas tangan kecil. Tampaknya sebuah ide terlintas di pikirannya saat itu.

Diambilnya tas tangannya itu dan dari atas pohon tempatnya bersembunyi, Linda membidik kepala Haiya. Agak sulit juga mencari sasaran yang tepat karena si anjing yang diincarnya berjalan mondar-mandir tak tentu arah dengan ekor dikibas-kibaskan.

"Diem, anjing gila!" Gerutu Linda. "Mau nembak aja, susah banget..."

Namun, kesabaran Linda berbuah hasil. Beberapa detik kemudian, dia melemparkan tas tangan itu. "Pergi lu sono!"

PLUK!!

"Gukkk!! Gukkkk!!" Haiya yang kepalanya terkena lemparan tas tangan itu menggonggong sesaat sebelum akhirnya dia kembali berjalan mondar-mandir di bawah pohon tersebut. Untuk badannya yang besar, tas tangan kecil itu dirasakan bagaikan batu kerikil yang membelai kepalanya.

Namun Linda kembali harus gigit jari. Setelah sekitar sepuluh menit, tak ada tanda-tanda Haiya ingin beringsut juga dari tempat itu. Sementara Linda sudah mulai gusar.

"Dia mau nungguin gue sampai kapan?" Gumamnya. "Ini sih nggak banget deh buat gue."

Dua puluh menit...

"Kalau begini bisa nggak pulang-pulang nih gue..." Kakinya yang mengepit dahan pohon bergoyang-goyang dalam keputusasaan. "Oh iya..."

Dengan tangan kiri mencoba memeluk dahan pohon agar tidak terjatuh ke bawah, lengan kanannya melepaskan sepatu yang dikenakannya. Lalu dipegangnya sepatunya di tangan kanannya dan siap dilemparkan.

"Hihhhhh!!" Linda berseru sambil melemparkan sepatu hak tinggi ke incarannya, yaitu kepala Haiya. Sepatu melayang dan berputar, sepertinya akan mendarat tepat di atas kepala Haiya.

PROKK!!

Sepatu yang dilempar oleh Linda meleset dan jatuh agak jauh di badan Haiya. Anjing itu seperti menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang jelek.

"Jiaahhhh!! Meleset!!" Ujar Linda. "Gawat nih!"

"Kucoba sekali lagi!" Linda yang masih kesal dan penasaran itu kembali melepaskan sebelah sepatunya. Dengan tangan kanannya, dia siap membidik.

Tepat pada saat dia hendak melempar, sebuah mobil berhenti tepat di samping pohon. Membuat Linda terbelalak melihatnya.

"Lho, itu bukannya..." Suaranya terhenti saat mengetahui dugaannya benar. Sepasang matanya semakin terbelalak saat melihat sosok itu keluar dari dalam mobil. Sosok yang bukan lain adalah kekasihnya itu.

"J-Co? Mau ngapain dia kemari?" Linda bergumam pada dirinya sendiri. Pikirannya campur aduk.

"Waduhhh! Kacau!! Jangan-jangan dia tau aku lagi di atas nih..." Rasa kaget, takut, malu, gusar dan kesal bercampur menjadi satu pada dirinya.

Dengan pakaian yang masih tersisa di badannya, Linda hanya bisa pasrah sambil memeluk dahan pohon dan meringkuk disana, berharap pacarnya tidak menengok ke atas dan melihatnya.

"Hey ya, ada disini kamiu..." J-Co berjongkok dan membelai kepala si Bulldog Haiya. Dibelai seperti itu, Haiya bukannya menggonggong, namun justru memejamkan matanya menikmati belaian J-Co dengan lidah terjulur.

"Anjing galak itu jinak di depan J-Co?" Gumam Linda. "Tak bisa kupercaya..."

"Wait!" J-Co berdiri dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Ada kamiu berarti ada majikanmiu yang...."

J-Co merangkupkan tangannya di kedua telinganya dan menjerit. "Aaaaaaaa...." Sambil menengok ke kiri dan ke kanan. "Miusyium langka..."

"Where? Kemana? Kemana?" J-Co melirik ke sekelilingnya mencari kehadiran majikan si bulldog.

Melihat tingkah J-Co, jantung Linda makin berdetak kencang. "Jangan... Jangan nengok kemari... Disini nggak ada siapa-siapa..."

"No..." Matanya melirik ke kiri.

"No..." Matanya menengok ke kanan.

"No..." Ke belakang.

"Jangannn... Jangan ke atas...." Linda sudah mulai gemetaran saat itu. "Tidak disaat aku sedang menyaru begini..."

"Hey ya... Kenapa tak ada majikanmiu disini?" J-Co membelai Haiya lagi. "Aqiu curigation..."

"Curiga aja pake curigation..." Linda mengomel dari atas pohon.

"Tidak ada?" J-Co menatap si Bulldog Haiya dengan pandangan tak percaya. "Weird. Aneh. Majikanmiu gone, kamiu alone..."

Tiba-tiba mata J-Co tertumbuk pada sesuatu yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Bule sesat itu membungkuk dan mengambilnya.

"Nich..." J-Co memperhatikan benda yang baru saja diambilnya. "Tas siapa yach?"

"Hah!!" Tersentak Linda dari atas pohon saat menyadari tas tangan yang dilemparnya kini diambil J-Co.

"No money!!" J-Co melempar tas itu begitu saja ke belakangnya. "Tak syudi aqiu..."

Baru saja melepaskan tas yang dilemparnya, kembali matanya tertuju pada sesuatu di dekat kakinya.

"Loh, shius nich mirip shius aqiu..." J-Co yang baru saja mengambil sebelah sepatu hak tinggi berwarna merah itu tampak serius memperhatikan model sepatu tersebut.

"Gawat!!" Linda mulai keluar keringat dingin melihat J-Co memeriksa sepatu itu.

"Nich..." J-Co memperhatikan sesuatu di sol sepatu itu. Sebuah tulisan. "J-Co. Nich shius aqiu! Nich shius aqiu!!"

"Sepatiu aqiu kenapa bisa disini?!" J-Co memutar badannya dan melihat ke sekeliling. "Maling... Maling shius..."

Tiba-tiba tatapannya tertuju pada Haiya. "Hey ya! Kamiu yang maling shius nich yach?"

"Hukk!!" Haiya menggonggong pelan. Ekornya disembunyikan di bawah sepasang kaki belakangnya.

"No?!" J-Co terperangah. "No tapi mai sepatiu bisa disini?"

"Owh yach, Hey ya tuch khan don no mai hom swit hom yach?" J-Co menggaruk kepalanya. "Jadi dia no maling shius..."

"Jangan dateng ke rumah deh..." Gumam Linda dari atas pohon. "Ini aja gue belum tau kapan bisa turunnya..."

Saat itu entah datang dari mana, seekor burung tampak hinggap di atas kepala Linda yang sedang mengenakan wig pirang itu.

"Apaan nih?" Linda terperanjat. "Kok kayak ada yang mampir ke kepala gue?"

Jawabannya segera didapatkannya. Burung yang sedang bertengger di rambut palsunya itu berkicau.

"Burung?!" Semakin terperanjat Linda saat itu. "Kenapa pada saat begini justru ada burung mampir?"

Kesal dengan kehadiran sang burung dan lupa dengan sepatu yang masih ada di genggamannya, Linda gerakkan tangannya bermaksud untuk mengusir si burung dengan hantaman sepatu.

TAKKK!!

"Aaiiiddduuuiiiiii!!" Linda menjerit saat kepalanya sendiri yang terpukul oleh sol sepatu. Sementara si burung sudah terlebih dulu terbang pergi sebelum pukulan itu datang. Bukannya si burung yang terpukul, justru kepalanya sendiri yang terhantam sepatu.

"Apa tuch?!" J-Co yang mendengar suara jeritan itu terkejut. Gadis itu memandang ke sekeliling.

"Hiiii... Tempat nich...." Mendadak J-Co memeluk badannya dengan kedua tangannya. "Syeraaammmmm...."

"Sial banget tuh burung... Adduuuhhhh... Sakiiiitttt..." Linda memiringkan kepalanya yang terpukul itu ke samping dengan maksud untuk mengusapnya dengan tangannya yang sedang memeluk dahan pohon itu. Tangannya yang satu lagi tidak mungkin melakukannya karena sedang memegang sepatu.

"Gara-gara anjing bego sih nih..." Linda mengumpat sambil menggosok kepalanya. "Benjol dah kepala gue..."

Saking sakitnya kepalanya, Linda melepaskan wignya dan menggosok kepalanya yang benjol itu. Disampirkannya rambut palsu itu di atas dahan pohon dan dia meneruskan menggosok benjolnya.

"Aaaddduhhhhhhh.... Mana gede lagi benjolnya..." Keasikan mengusap kepalanya, Linda tidak menyadari kalau dahan pohon yang bulat itu tidak bisa lama disampiri rambut palsunya. Perlahan rambut palsu itu bergeser semakin ke bawah, ke bawah, ke bawah dan...

WUSSHHH!!!

"Eeeee... Eehhhh...." Linda hanya bisa terperangah saat rambut palsunya meluncur turun dari dahan pohon dan tepat mendarat di atas kepala J-Co.

"Upppss!! Whaattt.... Apa sich...." Tampak gelagapan J-Co mencoba mengatasi pandangannya yang tertutup mendadak oleh rambut palsu yang jatuh mendadak itu.

Begitu bisa melihat kembali, J-Co baru melihat benda yang menutupi penglihatannya barusan.

"Wig?"

Untuk sesaat tampak J-Co membolak-balik wig itu.

"Ichhh... Icchhhh, nich khan wig aqiu... Kok bisa ada disini?" Perasaan ketakutan yang sempat membuatnya merinding, coba diusirnya.

"Wait! Nich bukan rambyut hantiu kan?" Diputar-putarnya rambut palsu itu. "Yach, nich rambiut aqiu... Kok bisa ada disini yach?"

Merasa curiga dengan keadaan sekitarnya, J-Co mulai memandang ke atas, ke arah tempat jatuhnya wig itu.

"Mati deh!" Linda semakin meringkuk dan menyatukan badannya dengan dahan pohon. Namun sebelum sempat J-Co menengokkan kepalanya ke atas, dalam gerakan cepat, Linda membuka baju lengan panjangnya yang berwarna putih yang diremasnya di tangannya. Kini dengan kemben dan rok mini hitam, paling tidak akan sedikit lebih mudah baginya untuk menyembunyikan dirinya.

"Hello... Syapa disitiu?" Terdengar suara J-Co memanggil. Matanya tampak curiga memandang sesuatu.

"Meooonggg..." Dalam keadaan terpojok, Linda terpaksa menirukan suara kucing mengeong.

"Owh, ada meong..." J-Co menurunkan pandangannya dari pohon. "Aqiu pikir tadi ada orang. Canggih juga kyuching bisa pakai wig."

Baru saja J-Co berpikir ke sana, mendadak, dia seperti disadarkan sesuatu saat pandangannya teralih ke rambut palsu pirang yang masih dipegangnya. "Maling shius?"

"Kyuching tuch maling shius aqiu." J-Co tampak histeris. "Kyuching tuch maling sepatiu aqiu. Maling wig aqiu..."

"Gawat nih!" Sepasang mata Linda terbelalak. "Ketahuan deh!"

Saat itu, J-Co kembali mendongakkan kepalanya ke atas. "Kyuching... Maling shius..."

Setelah itu semuanya terjadi secara cepat. Dengan sebelah sepatu yang masih dipegangnya, Linda melemparkannya ke arah pacarnya yang terkejut dan mencoba menangkapnya.

"Sepatiu lagi?!" Terbelalak J-Co menyadari benda yang ditangkapnya itu. Kesempatan itu sudah cukup dipakai oleh Linda untuk memanjat turun dari pohon dan ketika baru setengahnya, dia langsung melompat dan lari dari tempat itu.

"Wait! Stop!!" J-Co masih menjulurkan lengannya bermaksud mencegah sosok misterius yang dianggapnya kucing itu. Sekilas matanya seperti menyadari sesuatu. "Tuch kan..."

Linda kembali lari menyelamatkan dirinya, lari secepat yang dia bisa, meninggalkan J-Co yang berdiri dalam kebingungan.

Haiya yang sedari tadi menunggu buruannya turun dari atas pohon, begitu melihat Linda melompat turun segera berlari ke depan mengejarnya.

Namun keburu dicegah oleh J-Co. "Hey ya!! Biarkan dia pergi!"

BAGIAN 7

BEDA SUAMI DENGAN ANJING

"HAIYAAA..." Sebuah suara melengking terdengar dari dalam rumah saat si wanita tiba di depan rumah tersebut. Sesaat dia melongok ke dalam.

"Kenceng banget suaranya," Gumam wanita itu sambil memegang telinganya. "Kalo ini telinga nggak nempel erat, pasti udah copot dengar suaranya."

"HAIYAA! DIAM!!!" Suara itu terdengar kembali. Kali ini terdengar lebih dekat dari sebelumnya dan pintu nampak membuka.

Seseorang tampak melangkah keluar dari dalam ruangannya. Langkahnya terpaku saat menyadari ada kehadiran seorang wanita di depan rumahnya. Begitu pula dengan wanita yang baru datang itu, tampak tercekat oleh kemunculan si tuan rumah.

"Pensil..." Begitu kata pertama si wanita saat melihat kemunculan si tuan rumah.

"Pensil apa? Disini nggak ada jual pensil. Emangnya ini toko buku?" Dengan ketus orang yang bukan lain adalah Mpok Yati, si janda galak itu berkata.

"Buset, galak amat deh, Mpok..." Desis si wanita mengomentari. "Jangan galak-galak dong... Jauh jodoh..."

"Jauh jodoh apa? Siapa Anda?!" Bentak Mpok Yati.

"Eh, iya, maaf. Spada, permisi. Namaku Vera, dari tabloid Hati Jablai?" Wanita itu memperkenalkan dirinya.

"Hah? Hati Jablai?" Si janda memperhatikan sosok yang bukan lain adalah Vera itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Apa itu? Saya belum pernah mendengarnya."

"Iya, bukannya barusan udah denger?" Jawab Vera. "Hati Jablai, Hasrat Tinggi Janda Butuh Dibelai. Itu tabloid populer khusus para janda."

"Aku wartawan yang diutus untuk mewawancarai Anda dalam rubrik Janda Elit, Janda Ekonomi Pelit..."Sambungnya.

"Pelit??" Sepasang mata Mpok Yati membelalak besar, seperti ingin jatuh dari tempatnya. "Memangnya saya pelit?"

Si tamu yang ternyata adalah Vera, tersenyum. "Begitulah menurut survei yang kami dapat."

"Survei apa?" Mpok Yati tampak kebingungan menatap Vera. "Wartawan kok pake celana pendek begini?"

Vera tersenyum lagi. "Iya, Mpok. Ini dandanan gaya wartawan gaul. Ini Mpok Yati kan? Benar ya?"

"Iya, saya Mpok Yati..." Si janda mengangguk. Pembawaan Vera yang lembut membuat suaranya menurun dan tidak meradang seperti tadi.

"Boleh aku masuk dan wawancara sebentar, Mpok?" Dengan senyum ramahnya, Vera menatap si janda berkulit putih itu.

'Nggak heran Akoh Koz menjulukinya pensil, pendek silau.' Gumam Vera dalam hatinya. 'Kulit sih putih kayak kafan pocong, tapi badan pendek kayak tuyul...'

"Apa yang ingin Anda wawancarai tentang saya?" Mpok Yati berdiri di ruangan tamu rumah barunya, tidak mempersilakan Vera untuk duduk. Tangannya membelai rambutnya seperti ingin merapikannya.

"Eh iya, janda pensil... Eh salah, Mpok Yati..." Karena dikejutkan oleh ketiba-tibaan itu, Vera keceplosan dan apa yang dipikirkannya diketahui oleh si janda.

"Apa katamu? Janda pensil?" Mpok Yati berkacak pinggang.. "Emangnya saya kurus dibilang pensil seperti itu?!"

Vera menghembuskan nafasnya. 'Untung. Dia nggak tau arti pensil yang sebenarnya.' Gumamnya dalam hati. "Maaf. Tampang Mpok mengingatkanku kepada klien yang pernah aku wawancara, dia dijuluki janda pensil."

"Hmm..." Si janda menatap Vera tanpa suara.

"Iya," Vera menggosokkan telapak tangannya. "Pensil disini berarti pernah disentil. Mpok udah pernah disentil belum ya?"

"Disentil? Apa maksudnya?" Si janda kembali menatap Vera dengan tatapan bingung.

"Itu..." Vera memonyongkan bibirnya ke depan. "Ituuuuuuu..."

"Itu apa?" Si janda menengok ke belakang melihat ke arah yang ditunjuk bibir Vera.

"Bukan itu..." Vera melambaikan tangannya, sehingga tatapan si janda kembali ke arahnya.

"Terus?" Si janda semakin penasaran dibuatnya. "Dicolek?"

"Bukaaaan..." Kata Vera.

"Apaan?!" Kata si janda. "Yang jelas dong kalo ngomong. Wartawan ngomong nggak jelas."

"Susah ngomongnya..." Ujar Vera. Namun otaknya tak kehilangan akal.

"Itu lho..." Vera meletakkan tangannya di pinggangnya dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Ke depan. "Sodok."

Ke belakang. "Cabut."

Ke depan lagi. "Sodok lagi."

Ke belakang lagi. "Cabut lagi."

Sekali lagi pinggulnya goyang ke depan. "Sodok terus."

Dan ke belakang. "Cabut."

"Udah tau?" Vera melihat janda yang menatapnya dengan mulut melongo dan mata tak berkedip. Sampai beberapa detik si janda tak ada reaksi sedikitpun.

"Hallloooo... Mpok..." Vera menggoyangkan tangannya di depan si janda, barulah Mpok Yati tersadar dari lamunannya.

"Eh, iya... Kenapa?" Dengan suara bergetar, si janda menatap terpaku ke arah Vera.

"Udah tau kan disentil itu apa?" Tanya Vera.

"Oh, udah, udaaaahhhhh..." Nada suara Mpok Yati terdengar begitu meyakinkan.

"Sudah kuduga. Mpok pasti tau..." Vera tersenyum. "Soalnya Mpok kan janda, jadi pasti tau..."

"Tau dong kalau soal itu mah..." Jawab Mpok Yati.

"Bagus deh..." Vera menunduk mengambil buku notes kecil yang sengaja dibawanya di kantong celana pendeknya dan mencabut sebatang pen dari kantong belakang.

"Sodomi kan?" Mpok Yati bertanya saat Vera sedang menunduk itu.

"Hah?!!" Vera mengangkat kepalanya dan menatap Mpok Yati dengan pandangan tak percaya. Timbul niat untuk menjelaskannya lagi, namun dia urung melakukannya saat melihat raut wajah si janda berubah.

"Aku... Aku takkan melupakan kejadian itu..." Suara Mpok Yati terdengar pelan, tidak seperti biasanya.

"Kejadian apa ya?" Tanya Vera. Penasaran menghinggapi dirinya.

"Sodomi..." Jawab Mpok Yati. "Karena sodomi, aku jadi begini?"

"Hahhh!!" Sepasang mata Vera semakin terbelalak. "Karena sodomi, Mpok jadi pendek dan jelek begini?"

"Jadi awalnya Mpok itu tinggi dan cantik ya?" Sambung Vera. "Karena soto mie eh maksudku, sodomi, jadi Mpok seperti ini begini?"

Digaruknya kepalanya yang mendadak terasa gatal. "Bukannya sodomi itu untuk sesama pria? Atau jangan-jangan Mpok ini..."

"Aku wanita asli..." Jawab Mpok Yati. Kalau saja dia tidak bersedih, perkataan Vera sudah ditukasnya dengan ketus.

"Lalu? Kenapa bisa jadi ancur begini?" Celetuk Vera tanpa memperdulikan lawan bicaranya.

"Suamiku..." Ujar Vera. "Dia sodomi anak tetangga kami di kampung seberang. Dia ditangkap warga, diserahkan ke polisi dan dimasukkan penjara."

"Ouhhh... Mengerikan...: Vera terbelalak. Tangannya menutupi mulutnya sambil lanjut berkata. "Maho dong suami Mpok itu?"

Mpok Yati tidak menjawab. Sepasang matanya tampak berair.

"Berapa tahun suami Mpok dihukum?"

"Lima belas tahun dipotong masa kurungan satu hari dua jam lima menit delapan detik..."

"Hah?! Lama amat?" Vera masih tak percaya pada pendengarannya. "Masa hanya sodomi jadi dipenjara selama itu?"

"Dia sodomi sepuluh anak di kampung."

"Hahhhh!!!" Vera sampai terloncat mendengarnya. "Kenapa nggak satu lagi, biar jadi kesebelasan sepakbola?"

"Aku stress dengannya karena selingkuh." Mpok Yati melanjutkan penjelasannya. "Jadi aku mencari Haiya, anjing Bulldog, karena wajah suamiku sama persis dengan wajah anjing Bulldog."

"Lalu..." Mpok Yati menyambung. "Kunikahi dia dan kujadikan dia suamiku..."

"Hahhhhh!!!!" Sekali lagi Vera terloncat mendengar penjelasan Mpok Yati. "Masa anjing dianggap suami?"

Mpok Yati mengangguk. "Manusia masih kalah sama anjing. Anjing itu setia, tapi manusia banyak yang selingkuh."

"Selingkuh? Itu kan selingan indah keluarha utuh?" Vera menyeringai. 'Daripada gue dibikin loncat lagi, mendingan lu gue tanggapin aja deh...'

"Suamiku..." Mendadak Mpok Yati seperti tersadar dari tidurnya. "SUAMIKU. HAIYAAAA..."

Janda itu menatap ke depan, belakang, samping kiri kanan, dan mencari di sekeliling ruangan sambil memanggil anjingnya dengan suaranya yang lantang itu. Kembali suaranya membuat Vera terloncat kaget.

"Kemana Haiya? Kemana suamiku?" Dengan histeris, Mpok Yati berlari keluar rumah dan berteriak. "HAIYAAAAAA!!!"

"Astagaaaaaaaaaa!" Vera menutup sepasang telinganya, tak tahan mendengar teriakan Mpok Yati, yang dapat membangunkan penduduk sekampung HSG, bahkan kampung tetangga sekalipun,

Kesal dengan tindakan Mpok Yati dan juga dianggap mengganggu ketentraman umum, Vera mengeluarkan ketapelnya dan mengambil sebuah batu kerikil kecil yang didapatnya di atas jalanan itu. Dia membidik.

Karena sedang berkonsentrasi memanggil anjingnya, Mpok Yati tak menyadari saat batu kerikil yang dilontarkan Vera dengan derasnya terbang menuju ke arah kepalanya.

CTARRR!!

"HAIIKKKKK!!" Kepalanya yang terhantam batu itu sudah cukup untuk membuat suaranya terhenti dan tubuhnya melemah. Vera segera mendekati dan memapahnya saat tubuh pendek itu jatuh lemas dengan kesadaran memudar.

BAGIAN 8

JAGA JANDA ANDA

"Nah, tugas terakhir." Vera menepuk pundak sahabatnya, Ana Linda, yang kini telah kembali kepada dirinya semula dan menyaru menjadi seorang lelaki. Vera telah menceritakan tugas yang dilaksanakannya dan informasi tentang si janda yang diperolehnya barusan kepada sahabatnya itu.

"Gila. Ini pertama kalinya gue nyamar jadi orang sejelek ini..." Ujar Aan sambil mengelus wajahnya sendiri. Pakaian wanitanya telah diganti dengan pakaian santai. Kaos dan celana panjang jeans.

"Yep, persis anjing Bulldog si Mpok Yati." Vera tertawa.

"Anjing sialan itu!" Aan menggeram dan mengepalkan tangannya. "Kalo ketemu lagi, gue pites putus kepalanya..."

"Udah. Lanjutin tugas. Ayo!" Vera menepuk pundak sahabatnya lagi. "Sebentar lagi dia akan bangun."

"Semoga aja dengan ini, dia bisa sadar ya. Nggak lagi terobsesi jadi istrinya si Bulldog sialan itu." Kata Aan. "Karena udah ada suami yang bertampang sama seperti Bulldog."

Sepasang Detektif Koko tertawa menyeringai. Inilah tugas terakhir mereka dalam misi kali ini. Meyakinkan si janda bahwa manusia tak selamanya jahat dan masih lebih baik dibandingkan bersuamikan anjing. Sebuah tugas konyol, namun harus tetap diemban Detektif Koko.

"Good luck!" Ujar Vera kepada sahabatnya.

Aan mengerdipkan matanya. Dia melangkah masuk ke rumah Mpok Yati dimana sahabatnya kini berada. Begitu dia masuk, Vera pun melangkah keluar meninggalkan tempat itu. Posisinya digantikan oleh Aan.

Aan duduk di sofa di samping Mpok Yati terkapar pingsan akibat hantaman batu ketapel Vera. Malas memperhatikan wajah si janda, Aan memalingkan wajahnya ke arah pintu dan melihat ke jalanan.

"Dunia makin menggila ya. Ada aja manusia yang nikah sama anjing hanya karena suaminya ketahuan selingkuh sama anak kecil." Aan bergumam sendiri. "Mending kalau selingkuhnya dengan cewek cantik, lah ini maho..."

"Selingkuh sama anak kecil..." Lanjut Aan. "Mending satu. Ini banyak! Kenapa nggak sekalian aja anak selapangan bola lu embat juga..."

Aan menggelengkan kepala dan menghembuskan nafasnya. "Istri nggak beres, dapat suami nggak beres pula. Emang kalo udah jodoh nggak akan kemana..."

Tiba-tiba Aan teringat sesuatu. "J-Co. Kacau nih kalau semua samaran gue selama ini ketahuan olehnya. Bisa-bisa gue nasibnya sama kayak nih jande. Di-PHK, Pemutusan Hubungan Keintiman."

Aan tampak merenung. "Hmm... Gue harus bisa merayunya nih kalau udah ketemu dia nanti. Tapi gimana ya?"

Saat itu Mpok Yati mulai sadarkan dirinya, kesadarannya perlahan kembali dan matanya kembali membuka perlahan.

"Gue rayu aja kali ya. Cewek kan biasanya manja dan suka dirayu." Gumam Aan. Dia tidak menyadari kalau saat itu Mpok Yati sudah siuman. Dijentikkannya jarinya. "Iya, aku rayu aja. Mumpung ada waktu, gue latihan dulu deh..."

Mpok Yati sudah sepenuhnya siuman, namun masih berbaring di sofa dan tidak bergeming mendengar suara yang ada di dekatnya itu.

"Sayang..." Ujar Aan. "Maafkan aku ya kalau selama ini aku telah menyembunyikan hal ini padamu. Aku tidak ingin menyakitimu dengan membohongimu. Namun ketahuilah, aku juga tidak ingin kamu mengetahui hal ini."

'Suamiku? Suamiku sudah pulang?' Mpok Yati terkejut bercampur senang. Namun dia belum ingin bangun karena masih ingin mendengar pengakuan suaminya akan perbuatannya selama ini.

"Aku takut kamu mengatakan aku ini aneh. Pasti kamu akan berkata begitu." Sambung Aan. "Apa yang telah kulakukan semua ini, bukanlah apa yang kumau. Namun ini adalah tuntutan profesi yang harus kujalani."

'Tuntutan profesi?' Mpok Yati berkata dalam hatinya.

"Ya. Aku tak ingin melakukannya." Lanjut Aan. "Namun aku harus bangga melakukannya. Harus bangga. Bangga dan puas karena dengan melakukannya, semua yang aku inginkan pasti tercapai."

"Kamu harus mengerti mengapa aku melakukan hal ini. Kalau kamu memang mencintaiku, kamu pasti akan mengerti dan menerimanya. Maafkan aku. Sekali lagi, maafkan aku..."

"Aku memaafkanmu kok." Terdengar sebuah suara di samping Aan yang membuat pemuda itu menengok.

"Hahh?!!" Bersamaan dengan menengoknya Aan, sesosok tubuh bantet bangun dari tidurnya sambil mengusap kepalanya yang masih tersisa sakitnya terkena hantaman kerikil. Melihat hal itu, sepasang mata Aan terbelalak.

"Ahh... Ti... Tidak... Maksudku..." Aan bangun dari duduknya, tepat bersamaan dengan bangunnya Mpok Yati.

"Aku mengerti maksudmu, suamiku..."

"Aku... Aku bukan..." Aan mulai pucat saat itu. Kakinya mulai beringsut mundur. Keringat dingin mulai mengucur di keningnya.

'Kenapa bisa jadi kacau begini?' Aan berkata dalam hatinya.

Tak melihat ke belakang karena keasikan menghindari Mpok Yati yang kian mendekat, sebuah kaki kursi membuat Aan jatuh terduduk di lantai.

"Aiiddduiiii..." Mengerang kesakitan Aan terjatuh oleh kaki kursi tersebut.

"Suamikuuuuuuu..." Tahu-tahu Mpok Yati berlari kecil dan memeluk Aan yang masih serba kelimpungan itu. Tubuhnya yang pendek dengan tepat merangkul tubuh kurus Aan dan membuat pemuda itu jatuh terbaring di lantai.

"Cupppp.... Cuppp... Muuuaacchhhhh.... Muaaaacchhhh.... Muaaccchhhh...." Ciuman bertubi-tubi didaratkan si janda ke wajah Aan yang berusaha keras untuk menghindarinya.

"Hentikan.... Stop..." Aan berseru sambil bersusah payah menghindari wajah Mpok Yati.

"Kenapa, suamiku? Aku kangen. Peluk aku..." Si janda mendesis manja dan makin mendekap Aan. "Cuuuppp... Muacchhhh..."

"Iihhhh.... Stooopppp... Tolllooonnngggggg...." Aan mulai berteriak. Tangannya bergerak gelagapan mencoba mendorong tubuh si janda menjauh saat itu.

"Suamiku, kenapa? Aku kurang cantik ya?" Si janda berkata. "Maaf kalau aku kurang cantik. Aku kan belum dandan, sayang. Aku baru bangun..."

"Bodo amat!!" Dengan sekali dorong, Aan berhasil mendorong Mpok Yati menjauh dari badannya. Begitu melihat badan pendek yang menimpanya itu mulai menjauh, Aan menarik kakinya dan meloncat berdiri.

"Suamiku? Mau kemana?" Tanpa diduga, Mpok Yati juga ikut berdiri secepat kilat.

"Aku... Aku baru ingat kalau aku masih ada hukuman penjara yang belum lunas." Celetuk Aan dan memutar badannya. "Aku harus melunasinya..."

'... Daripada aku ketemu monster begini...' Sambung Aan dalam hatinya.

"Lho, suamiku?" Mpok Yati mendekat. Wajahnya tampak sendu. "Jangan pergi!"

Tepat pada saat Aan hendak melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar, seseorang tampak berdiri di depan pintu.

"Owh, jadi ini hom swit hom kamiu..." Terdengar suara orang tersebut.

"Hei ya, masyuk sana. Aqiu owh gaah, owh gaah ketemiu majikan kamiu yang miusyium langka ituuuu..." Dengan mulut yang monyong, sosok yang ternyata adalah J-Co itu melepaskan anjing Bulldog si janda.

"Mati aku!" Gumam Aan. "J-Co, kenapa bisa ada disini?"

Saat Aan melintasi pintu dan melangkah ke pintu pagar, saat itu pula Haiya, anjing Bulldog Mpok Yati melintas di depannya.

Baik Aan dan Haiya, keduanya saling berpapasan. Baik Aan dan Haiya, keduanya saling bertatapan.

'Apa lu anjing sialan?' Maki Aan dalam hati. 'Biang kerok. Kalo bukan karena ada majikan lu dan pacar gue, udah gue pites putus kepala lu...'

Pada saat bersamaan, Haiya juga tak kalah sengitnya melewati Aan dengan menggeram. Matanya yang sipit itu dibeliakkan memelototi Aan.

"Apa lu liat-liat?" Aan menggerutu pelan.

"GRRRRR!!" Haiya menggeram.

"Haiya!!!" Pada saat bersamaan, Mpok Yati datang dan memeluk Haiya. Paling tidak tindakan itu membuat Aan bisa sedikit bernafas lega. "Darimana saja kamu? Bikin cemas saja..."

Diciuminya anjing kesayangannya itu dengan bertubi-tubi. Haiya juga membalas menciumi Mpok Yati, majikannya itu. Hal mana membuat Aan bergidik. "Anjing dengan majikan sama aja."

Diusapnya bibirnya yang tadi sempat tercium Mpok Yati. "Gue nggak abis pikir barusan gue dicium sama tu bibir buat nyium anjing. Hiiii... Merinding gue..."

"Suamiku, ayo masuk..." Mpok Yati juga berusaha memegang lengan Aan dan menariknya. Namun Aan lebih gesit menghindarinya.

'Gimana nih sekarang?' Sebuah dilema menghampiri Aan sekarang. 'Kalau aku keluar, ada J-Co. Kalau matanya jeli, dia bisa curiga ini aku. Kalau aku di dalam, ada dua setan maksiat disini...'

"GRRRR!!" Haiya masih menggeram.

"Haiya, kenapa? Itu suamiku..." Mpok Yati yang memeluk anjingnya itu berkata. Matanya tak dilepaskan dari Aan.

Aan masih tampak kebingungan dengan keputusan yang akan dia ambil. Di satu pihak, Mpok Yati mulai melepaskan Haiya dari pelukannya. Dia baru saja hendak meletakkan anjing itu ke atas lantai dan menghampiri Aan, ketika dia tidak menyadari si anjing telah melompat menerkam ke depan.

"Aiidduuiiii..." Aan terpekik saat melihat si anjing Bulldog kembali menerkam dirinya. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu segera melompat ke pekarangan luar dan meloncati pagar tanpa sempat berpikir untuk membukanya lagi, padahal pintu pagar sudah terbuka saat itu.

"Anjing sialan!" Dengus Aan. Diliriknya sekilas dan dia melihat si anjing telah mendorong pintu pagar dengan moncongnya dan mulai berlari mengejarnya.

Untuk kedua kalinya dalam hari yang sama, Aan harus menyelamatkan dirinya dari sergapan anjing si janda. Pada saat itu langkahnya telah membawanya melintasi J-Co yang baru saja masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.

"Yaaaa ampyyyuuuunnnn. Apa itu?" J-Co membuka kaca dan melongokkan kepalanya ke depan. Dilihatnya seorang pemuda berwajah jelek berlari melesat pesat melintasinya. Saat melewatinya, si pemuda tampak melirik sesaat ke arahnya.

"Issshhhhhh..." J-Co menatap mengikuti lari si pemuda. Di belakang si pemuda tampak si anjing Bulldog berlari tak kalah kencangnya sambil menggonggong.

"Apa itu? Anjing kebo kejar-kejaran anjing kebo?" Gumam J-Co menengok kembali ke depan. "Aqiu ini nggak sedang kresi kan??"

Baru saja J-Co hendak menutup pintu kacanya, ujung matanya melihat sesosok badan pendek berlari sambil berteriak. "HAIYAAAA!!! Suamiku!! Berhenti!!"

J-Co melotot mengenali sosok yang berlari itu. Namun Mpok Yati tidak menggubrisnya karena dia lebih fokus kepada anjing dan Aan yang dikejarnya. "Suami? So anjing itu suaminya?"

"Issshhhhhhh.... Kressssiiiii... Gilaaaa... Aqiu gilaaaa..." J-Co menjerit histeris sambil meremas rambutnya. "Aqiu bener sudah gilaaaaa..."

Serial Detektif Koko (4): Jaga Janda Anda

TAMAT

Cerita dan karya asli: Kaz Felinus Li.

Semua karakter Serial Detektif Koko, telah mendapatkan ijin dan persetujuan dari para member HSG yang berhubungan.

Posted By: Kaz HSG

This story is the property of Heavenly Story Group.

Copyrights: ©HSG-March 2012

(Dilarang meng-copy dan memperbanyak tanpa ijin langsung dari penulis: Kaz Felinus Li. Pelanggar akan dikenakan tindak pidana).

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates