08/04/12

Serial Detektif Koko (3): Kutunggu Kau di Pintu Angkot

Serial Detektif Koko

Riwayat lahirnya serial Detektif Koko:

Berawal dari dibentuknya BBM HSG, semakin hari semakin banyak yang bergabung ke dalamnya. Tiada hari tanpa keramaian di BBM HSG. Dari pagi bangun tidur hingga malam menjelang tidur. Mungkin bisa dibilang itu Grup BBM paling ramai yang pernah ada. Canda tawa, hingga info dan motivasi. Benar-benar seperti HSG yang sebenarnya, dimana rasa kekeluargaan sangat erat sekali terasa.

Hingga pada suatu hari, salah satu member HSG berulang tahun. Kaz yang admin mengucapkannya melalui BBM. Tapi karena Kaz mengucapkannya bukan pada saat yang senggang, maka ada kesalahan pengetikan, dimana BBM ultah itu sebenarnya Kaz ambil dari BBM seorang teman yang bernama Linda yang dicopas dan dikirim kepada member yang berulang tahun itu. Dari sanalah muncul karakter Linda pada member kita ini.

Beberapa hari kemudian, member lain diberi nama Vera karena dipelesetkan dari nama sebenarnya. Akibat dari guyonan Linda yang semakin lama semakin menghangat. Plus canda tawa yang semakin banyak, hingga akhirnya Kaz mendapat inspirasi untuk menuangkannya ke dalam sebuah serial pelesatan dari serial Lina & Viska, yaitu Linda & Vera.

Berikutnya giliran 2 member yang berulang tahun berlainan hari dan keduanya berinisial HY. Disanalah kisah ini semakin berkembang. Plus Kaz sendiri mendapat imbas dari keisengannya menjodohkan sejoli HY dan pemunuculan karakter Linda & Vera. Oleh salah seorang dari mereka Kaz dipanggil Ko Koz.

Detektif Koko sendiri muncul dari kata Konyol dan Kocak. Dimana 2 episode perdana yang akan tayang ini tak lepas dari kekonyolan dan kekocakan dua detektif wanita Linda dan Vera, yang aslinya adalah laki-laki (member HSG sendiri).

Disanalah serial ini dimulai. Serial Detektif Koko: Linda & Vera, yang mengambil setting di Kampung HSG (Hunian Serba Gaduh) - HSG banget ya, yang selalu hyperaktif dalam eksistensinya - sebuah kampung yang dipimpin oleh Akoh Koz, juragan sesepuh kampung.

Para pemeran di Serial Detektif Koko (tokoh diambil dari member HSG yang dipelesetkan nama dan diberikan karakter khusus khas rekaan Kaz):

1. Kaz Felinus Li sebagai Akoh Koz, juragan sesepuh dan dedengkot kampung HSG.

2. Aan Gow sebagai Aan alias Ana Linda.

3. V-Ry Ng sebagai Very alias Vera.

4. Han Yo (sejoli HY)

5. Heni Yanz (sejoli HY)

6. Hayati Ling / Uchi Naru sebagai Mpok Yati, janda beranjing galak.

7. Mei Devin / Xiao Mei Mei sebagai Jeng Memei, si penjual kue keliling, pacar Very.

8. Hui Jenny sebagai Jennifer Collins alias J-Co, si cewek tajir, pacar Aan.

9. Kho Ling Hong, sebagai Honggo, si tukang ojek.

10. Henni Silviana , sebagai Henny, si sekretaris seksi.

11. Wenty Anggraeni, sebagai Reny, istri Hong.

12. David Lee, sebagai Dave, si kutu buku dan laptop berjalan.

13. Lynzz, si nenek cilik.

14. Jun Piau jadi Yen Biao, bodyguard Henny.

Dan karakter-karakter lainnya masih akan menyusul.

Serial Detektif Koko: Linda & Vera, disajikan dalam gaya bahasa yang luwes dan menarik. Semoga terhibur.

Salam HSG

**************************

Serial Detektif Koko (3): Kutunggu Kau di Pintu Angkot

BAGIAN 1

HS DAN HS

Kampung HSG, Hunian Serba Gaduh...

Jam 6:40 pagi...

Sebuah sepeda motor Kawasan Ninja dengan bunyi bagai tenggorokan gatal, melaju dengan kecepatan di bawah pekgo alias cepek goyang. Si pengemudinya seorang lelaki bertampang lumayan keren dengan potongan rambut panjang seleher, tampak bersiul dalam mengendarai motornya tersebut.

Jalanan yang dilewatinya saat itu masih cukup sepi. Namun sepasang matanya yang lincah terlatih dengan sigap menangkap sesosok tubuh sedang berdiri di dekat sebuah tiang listrik beberapa meter di depannya.

"Weits! Pagi-pagi gini, ada cewek cantik nih..." Tangannya yang sebelah kiri segera mengusap-usap rambut panjangnya. Tangannya yang kanan tetap memegang setang motor yang dikendarainya.

Sambil melajukan motornya, mata lelaki ini tampak sibuk mempelajari sosok tubuh di depannya. "Wah, seksi kali nih cewek. Pakai rok mini pula. Pasti dia mau berangkat kerja."

"Seger dah kalo begini..." Tangannya menarik jambul di atas keningnya, yang sebenarnya tidak berjambul. "Biar kusambar eh kusamparin dia. Siapa tau kan dia lagi butuh ditumpang eh, tumpangan..."

Dengan menarik lengan jaketnya dan mengusap rambutnya, lelaki itu memasang tingkat percaya diri ke fase 200% sebelum dia menghampiri si gadis.

"Sendirian aja, Neng?" Lelaki itu menyapa sambil mengaca di spion dan menarik jambul ngibulnya. "Nunggu abang ya? Nih abang udah datang..."

Si gadis terdiam tak bersuara. Matanya dialihkan ke arah lain.

"Buset dah! Somai eh somse kali nih cewek..." Gerutu lelaki yang bukan lain adalah Hong Sule, si tukang ojek Kampung HSG.

"Atau nungguin angkot?" Si ojek kembali berkata. "Mending naik abang eh, maksudnya motor abang deh..."

Si gadis masih terdiam tak bersuara. Pun matanya belum melirik sedikitpun ke arah si tukang ojek.

Merasa aksi perdananya tak mendapat sambutan, Hong Sule tak menyerah. "Eheem!!" Berharap suara dehemannya dapat membuat si gadis berpaling.

Alih-alih si gadis yang berpaling, justru seekor burung kenari yang baru saja hendak hinggap di atas ranting pohon di samping tiang listrik, terpeleset saat mendengar suara deheman si tukang ojek, dan mendarat di aspal yang dingin.

BRUSSH!!

"Ngik..."

Suara jatuhnya sang burung, membuat si gadis berpaling. Tampak si gadis terkejut. Dilihatnya si burung bersusah payah berdiri di atas sepasang kakinya yang mungil, namun jatuh lagi dalam posisi terlentang karena kaki kanannya yang sudah keburu keseleo.

"Jiaahhh, Neng. Arahnya salah itu, harusnya lihatnya kemari, bukan ke burung kenari." Gumam si ojek Hong. Digaruknya kepalanya yang mulai gatal itu, membuat tata rambutnya menjadi seketika berantakan.

Si gadis sudah berjongkok menjemput si burung mungil yang malang itu, diletakkannya si burung di atas telapak tangannya dan dia mulai berdiri dari jongkoknya saat si ojek Hong, yang tak menyerah juga, kembali bersuara. "Diskon untuk tumpangan pertama! Gratis!"

"Hah?! Gratis?!" Terbelalak sepasang mata si gadis mendengar perkataan si tukang ojek.

Mendengar suara pertama si gadis yang menanggapi perkataannya, si ojek Hong menjawab. "Iya, gratis."

"Kalo bener gratis, aku mau!" Tertarik dengan tawaran si tukang ojek, si gadis membalikkan badannya seketika. Tindakannya membuatnya lupa akan si burung mungil yang ada di telapak tangannya. Untuk kedua kalinya burung kenari itu terjatuh, kali ini dari permukaan yang lebih lembut, dan kembali mendarat di aspal yang dingin.

BRUSSHH!!

"Ngikk!!"

Pendaratan kali ini walaupun dalam posisi lebih rendah, namun cukup untuk membuat si burung menikmati beberapa bintang bertebaran di atas kepalanya sebelum akhirnya dia pingsan tak sadarkan dirinya, meninggalkan dua insan yang baru saling kenal itu.

Merasa menang bersaing dengan si burung, ojek Hong mengusap rambutnya kembali. "Mau diantar kemana, Neng?"

"Oh, ke kantorku ya, Bang..." Si gadis bersiap untuk duduk di jok motor belakang.

"Ayo naik aja, Neng siapa namanya?"

"Henny..." Jawab si gadis.

Kening si ojek Hong berkerut. "Henny lagi?"

"Lho, ada yang aneh dengan namaku, Bang?" Henny terdiam tidak meneruskan gerakannya.

"Apa Neng ada hubungan saudara dengan si Heni..." Ojek Hong terdiam sejenak. "Heni Yana Sari Puspa... apalah Simangunsong itu, yang namanya sepanjang rel kereta itu?"

"Sari Puspa obat anti nyamuk itu, Bang?" Tanya Henny sambil menyeringai.

"Apalah itu... Ada sari-sarinya itu lho... Pokoknya belakangnya Simangunsong sing a song..."

Mendengar penuturan si ojek Hong, Henny pun tak dapat menahan tertawanya. Dengan sebelah tangan menutupi mulutnya yang terbuka karena tertawa, gadis itu tak menyadari si ojek terus memperhatikan tingkahnya.

'Manis juga nih cewek kalo tertawa.' Gumam Hong Sule dalam hati sambil matanya tak lepas memperhatikan Henny yang dengan rambut hitamnya yang menyeka pinggangnya. Wajah oriental khas gadis ekonomi menengah ke atas tersirat padanya, putih, cantik dan berbadan indah.

"Glekk!!" Hong Sule menelan ludah menyadari keindahan sang gadis di hadapannya. Tepat pada saat itu si gadis berhenti tertawa.

"Abang ini bisa saja. Aku bukan penyanyi, Bang, cuma pegawai kantor biasa saja..." Ujar Henny.

"Jangan-jangan pekerjaannya sekretaris nih..." Celetuk Hong Sule.

"Kok Abang tahu??"

"Dari pakaiannya Neng Henny..." Sambil cengengesan si ojek Hong menjawab. "Siapa nama lengkapnya kalau Abang boleh tahu?"

"Henny Silvia..." Si gadis menjawab sambil tersipu.

"Wah, nama yang indah untuk insan yang indah..." Si ojek Hong berkata. "Mari kuantar ke kantor..."

"Abang sendiri namanya siapa?" Dengan masih tersipu merah, Henny bertanya.

"Panggil saja Abangmu ini..." Si ojek menaikkan kerah jaketnya dan memasang tampang meyakinkan. "Hong Sule."

"Hong Sule?" Henny terpana sesaat mendengar nama yang disebutkan. "Abang ada hubungan saudara dengan Sule?"

"Aku tetangga jauhnya..." Jawab Hong sekenanya.

"Maksudnya Abang?" Tanya Henny sambil mengerling.

"Nama asliku Honggo Sulaiman, tapi aku dipanggil Hong Sule. Papa berasal dari Hong Kong dan Mama aslii Gorontalo. Hong Kong dan Gorontalo, jadilah Honggo. Nama gaul Abang dipanggil Hong Sule, inisialnya HS."

"Oh, begitu ya ceritanya, Bang." Ujar Henny. "Inisialku juga HS, Bang..."

"Wah, iya juga ya?" Sepasang mata Hong terbelalak.

"Abang antar aku ya, nanti aku kesiangan..." Perkataan Henny menyadarkan ojek Hong.

"Oh iya, ayo, Neng. Naik aja..." Ojek Hong mengusap jambul ngibulnya lagi.

Henny bersiap naik ke atas motor Kawasan Ninja milik ojek Hong. Karena mengenakan rok, posisi duduknya pun menyamping. Wangi parfum Henny menyeruak saat gadis itu naik ke atas motor, membuat sepasang lubang hidung si ojek kembang kempes.

"HS dan HS ya?" Gumam ojek Hong sambil mulai menjalankan motornya. "Ada sejoli HY, lalu kami sepasang HS." Ojek Hong menelan ludahnya.

"Abang boleh tanya nggak ya?" Sambil membawa motornya, ojek Hong kembali melanjutkan manuver rayuannya.

"Mau tanya apa, Bang?"

"Gini. Abang kan joker nih, jomblo keren. Siapa tau kan Abang ada yang mau begitu. Kira-kira Neng ini masih nikah atau udah single?" Dalam gugupnya ojek Hong bertanya.

"Panggil Henny aja ya, jangan Neng lagi..." Sahut Henny.

"Iya, Neng, eh Hen.. Henny..." Ojek Hong tersenyum. Jantungnya saat itu mulai berdegup. "Masih nikah ya? Eh salah, maksudnya udah single ya? Aduhhh... Salah lagi, maksudnya Henny masih single.... Ahh, susah amat nih bibir ngomong gitu juga...."

Henny tertawa mendengar perkataan ojek Hong. "Hihihi... Abang, Henny masih single kok..."

"Wah, masih single? Bener nih?"

Henny mengangguk.

"Waduhhh..." Ojek Hong bergumam. Jantungnya berdetak kencang. "Kemarin saja bisa ada sejoli HY. Kalau begini, aku dan Henny bisa jadi sejoli HS."

"Ada apa ya, Bang? Kenapa Abang bertanya begitu?" Dengan suara yang mendayu, Henny mendekatkan kepalanya dan bertanya. Wangi harum rambut dan make-up yang dipakainya membuat Hong melayang. Akibatnya jantung Hong semakin berdetak dan menjadikannya gugup. Saking gugupnya, pegangan ojek Hong agak melenceng dan nyaris menabrak seorang gadis penjual kue yang lewat di depannya.

"Ma... Maaf, Jeng..." Ujar ojek Hong meminta maaf.

"Ya elah! Hong, Hong!" Si tukang kue yang bukan lain adalah Jeng Memei itu mengumpat. "Kalau jalan itu ya pake mata. Jangan jalan pake kaki, matanya ngelirik cewek. Gimana sih?"

Jeng Memei tampaknya masih kesal melihat si tukang ojek yang tertawa cengengesan itu. Tampi di atas kepalanya telah diturunkannya dan matanya melirik ke arah penumpang yang dibawa si ojek.

"Mau kemana kau pagi-pagi begini?" Tanya Jeng Memei tanpa melepaskan tatapannya pada Henny, yang menatapnya bingung. "Dapat yang dempul pula..."

"Apanya dempul?" Ojek Hong menghentikan motornya. "Emangnya mesin pake dempul."

Jeng Memei tertawa. "Maksudnya kinclong, yah ampun... Ditumpangi cewek cantik, jadi lambretos ya otakmu itu..."

"Apa itu lambretos?" Hong menggaruk kepalanya. "Sejenis permen Mentos ya?"

"Kau tanyakan sajalah pada istrimu di rumah..." Jeng Memei yang merasa mendapat angin menyeletuk. Ucapan itu membuat Henny terperanjat.

"Hah?!" Terbelalak Henny mendengar perkataan Jeng Memei. Spontan, dia menggerakkan badannya turun dari atas motor.

"Aku turun disini saja, Bang." Terdengar nada suara yang cukup ketus dari Henny, membuat ojek Hong terperangah dan Jeng Memei kebingungan.

"Lho, katanya minta diantar sampai ke kantor?" Tanya Hong.

"Nggak perlu, Bang, nggak jadi." Sahut Henny yang segera beranjak dari tempat itu.

"Tapi, gra...." Ojek Hong masih mencoba berkata saat Henny sudah melenggok jauh dengan pakaian seksinya itu. "...tis lho..."

Jeng Memei yang melihat semua itu kini mulai mengerti apa yang sedang terjadi. "Ohhh... Aku mengerti... Aku mengerti..."

Ojek Hong berbalik menatap Jeng Memei. "Apanya mengerti? Gara-gara lu tuh, pergi deh incaran gue..."

"Ya iyalah... Secara gitu, Bangkong, eh maksudku Bang Hong..." Jeng Memei berusaha menahan tawanya. "Istrimu di rumah mau dikemanain?"

"Grrrr!!" Dengan wajah kesal, Hong mulai merasakan rambutnya berdiri dan hawa panas mulai keluar dari kepalanya.

"Waduhhh... Bahaya nih..." Jeng Memei yang menyadari perubahan pada diri si tukang ojek, segera menaikkan tampinya kembali ke atas kepalanya. Dan sebelum sempat si ojek Hong berbuat lebih jauh, Jeng Memei telah mencuri start lari marathon dengan kecepatan 50km/jam.

"Kabuuurrrr..." Jeng Memei berseru sambil mengambil langkah sepuluh ribu.

BAGIAN 2

HENNY SILVIA DAN KENEK ANGKOT

Beberapa hari berlalu ketika Henny tak lagi berada di tempat yang sama untuk menunggu kendaraan. Seperti pada hari itu dimana ojek Hong kembali ke tempat yang sama pada waktu yang sama, dia tidak lagi menemukan Henny berdiri disana.

Keesokan harinya setelah mendapatkan kenyataan dirinya diincar oleh tukang ojek yang mengaku masih bujangan, Henny memutuskan untuk naik angkot menuju tempat kerjanya.

Namun apa dinyana. Angkot yang ditumpanginya, ternyata memiliki kenek yang tek berbeda jauh dengan si ojek Hong. Bahkan lebih parah. Bekerjasama dengan sopir dan beberapa temannya, si kenek melakukan suatu tindakan tidak senonoh yang membuat Henny trauma. Seperti yang terjadi pada hari itu.

Henny baru saja menghentikan sebuah angkot dan masuk ke dalamnya ketika menyadari suasana angkot saat itu tergolong sepi, hanya ada seorang anak muda dan dirinya di bagian belakang. Seorang lelaki duduk di samping si sopir yang brewokan itu.

"Mau kemana, Nona cantik?" Sapa pemuda yang duduk di samping si sopir, yang belakangan diketahui Henny sebagai kenek angkot. Sementara si pemuda yang duduk di deretan belakang bersamanya tersenyum menatapnya dengan pandangan menjalari.

Henny tidak menjawab. Dia hanya terdiam sambil menatap jalan raya.

"Sombong banget. Mentang-mentang cantik..." Si kenek berkata lagi sambil setengah menengok ke belakang.

Merasa tidak nyaman, Henny pun menjawab, "Aku mau ke kantor, Mas..."

"Kantornya dimana?" Begitu Henny sudah menjawab pertanyaan, si kenek kembali bertanya.

"I.. Itu... Di ujung jalan itu..." Henny merasa keringatnya mulai membasahi pelipisnya.

Pada saat itu si pemuda yang duduk di belakang berpindah dan duduk tepat di samping Henny. Situasi mana membuat Henny mulai berdetak jantungnya.

Tak hanya itu saja. Mata si pemuda itu dengan liar menjalari kaki Henny yang mengenakan rok mini itu. Sambil sesekali menelan ludah, anak muda berambut gondrong itu tak lepas menatap sasarannya.

'Semoga saja ada penumpang lain selain aku...' Kata Henny dalam hati. 'Semoga saja dia tidak melakukan sesuatu padaku...'

"Namanya siapa, Non?" Tahu-tahu si pemuda berambut gondrong bersuara. Matanya menatap kini dada Henny.

Henny tidak menjawab karena merasa tidak ada perlunya menjawab pertanyaan tersebut. Namun sikap diamnya itu justru membuat si pemuda semakin berani.

"Sombong banget sih lu, cewek!" Celetuk si pemuda. "Lu nggak liat apa kalo disini lu sendirian aja?"

DEG!!

Jantung Henny seakan berhenti berdetak pada saat itu. Keringat dingin yang mengucur semakin deras membasahi keningnya, dan kini tengkuknya.

Pada saat yang bersamaan, Henny tersentak saat lututnya seperti disentuh sesuatu. Benar saja! Tangan si pemuda gondrong telah mulai mengelus lututnya.

"Ma... Maaf..." Henny berdesis lirih sambil menjauhkan kakinya dengan bergeser ke samping.

Si pemuda gondrong tak tinggal diam. Melihat Henny beringsut, diapun ikut bergeser ke samping.

"Umurnya berapa?" Tahu-tahu si kenek bersuara lagi. Pertanyaan yang semakin lama semakin bersifat pribadi.

Belum lagi bisa menjawab, tangan si pemuda berambut gondrong kembali mendarat di lututnya. Kali ini bahkan mulai mengelus disana.

"Ma... Maaf..." Henny mulai berdiri, bermaksud untuk keluar paksa dari angkot tersebut. Namun si pemuda lebih gesit menarik lengannya.

"Mau kemana?" Si pemuda itu menarik Henny yang kembali terhempas karenanya. "Duduk dulu. Mobil masih berjalan..."

"Ugghhh..." Kekuatannya sebagai seorang wanita ternyata tak sebanding dengan pemuda yang bertampang berandal itu.

Menyadari calon korbannya mulai dikuasai, si pemuda semakin berani. Terlebih pada saat itu si kenek kembali bersuara.

"Jangan coba macam-macam kalau tidak ingin celaka!" Suara si kenek saat itu terdengar cukup menyeramkan dibanding sebelumnya, membuat Henny bergidik ngeri. Terlebih pada saat itu si kenek telah ikut berpindah ke belakang dan menutup pintu angkot. Senyumnya bagaikan senyum serigala lapar dan matanya berbinar-binar nakal.

Sopir angkot yang sedari tadi diam, kini melirik ke belakang dan tersenyum sinis. Dia menyadari saat itu kalau si calon korban telah semakin terdesak.

Sepasang mata Henny terbelalak! Situasi semakin berbahaya. Apa yang harus dilakukannya?

Jalanan saat itu memang tergolong cukup sepi, entah kenapa, tidak seperti biasanya. Hal itu membuat situasi pada saat itu semakin mendukung.

Si kenek dengan kasarnya mementangkan sepasang kaki Henny. Gadis itu berteriak, "Tidaaaakkkk!!!" Tangannya bergerak memberi perlawanan, namun tangannya berhasil direnggut pemuda berambut gondrong yang duduk di sampingnya itu.

Menyadari tenaganya kalah dengan tenaga iblis kedua lelaki yang mulai dikuasai akal busuk itu, Henny mulai terisak. Kepalanya menggeleng. "Ja... Jangan..."

"Apa katamu, hah?" Si kenek memegang dagu Henny yang menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca. Sementara si pemuda gondrong melepaskan tangannya perlahan dan kembali mengelus kakinya.

"Udaaaaahh! Sikat aja!" Si sopir bersuara untuk pertama kalinya. Sebuah senyum menyungging di bibirnya sambil matanya terus-terusan melirik spion di atas dashboard mobil.

Di saat tangan si pemuda semakin kurang ajar di kakinya, mobil yang ditumpangi tahu-tahu bergolak.

BRUKKK!!!

Keempat penumpang yang ada di dalamnya terkejut oleh kejadian mendadak itu. Mobil seperti luruh ke dalam. Ternyata ban bagian depan kanan mobil masuk ke sebuah lobang yang cukup dalam.

Si kenek dan si rambut gondrong terbengong menyadari hal itu. Perbuatan keduanya terhenti sejenak. Sementara si sopir menginjak pedal gas, berharap mobil itu bisa terangkat kembali.

"Jay, kenapa lagi? Ahh... Nggak boleh liat orang seneng lu! Ada-ada aja!" Si kenek berseru dari belakang mobil. Untuk sesaat, keduanya seperti melupakan apa yang sedang dilakukan mereka saat itu.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Henny. Dengan sigap, lengan kirinya bergerak.

DIESSHH!!

"Owwww!!" Si gondrong menjerit saat wajahnya terhantam siku lengan kiri Henny. Sapuan siku yang cukup kencang tak hanya membuat wajah si gondrong terhantam, namun kepala bagian belakangnya juga menghantam jendela mobil, yang membuatnya mengerang kesakitan sambil pegangi wajahnya.

Kejadian mendadak tersebut membuat si kenek tersentak dan berpaling. Namun dia telat untuk menyadari pada saat itu kaki kiri Henny bergerak!

"Iiiaaaoooowwwww!!!" Si kenek melengking dengan mata membeliak. Tubuhnya terloncat dalam duduknya seiring dengan kedua tangannya yang segera memegang kemaluannya yang tertendang oleh Henny.

Menyadari kedua lelaki itu sedang kesakitan, Henny bergerak cepat. Dia bangun dari duduknya dan beruntung pada saat itu pintu angkot tidaklah dikunci. Dengan sekali dorong, Henny berhasil membukanya.

"Heiii... Mau... Shhhhh.... Mau... Kemanaaa....hhhhh..." Si kenek masih julurkan tangannya mencoba menggapai lengan Henny yang sedang bergerak turun itu. Namun rasa sakit di selangkangannya membuat niatnya urung.

Begitu menginjakkan kakinya di jalan, tanpa berpaling lagi, Henny segera berlari dari tempat itu secepatnya. Tanpa peduli keringat mengucur deras dan nafasnya yang terengah-engah.

BAGIAN 3

DETEKTIF KOKO DAN TUGAS BARUNYA

"Henny Silvia, dia masih baru di Kampung HSG ini." Ujar Akoh Koz kepada Aan dan Very yang dipanggil untuk menemuinya pagi itu. Selembar foto diletakkannya di atas meja dan segera disambar oleh Aan.

"Wow..." Sepasang mata Aan terbelalak saat menatap foto tersebut.

"Apaan yang wow?! Sini gue liat!" Tanpa menunggu lebih lama Very menyambar foto tersebut dan melihatnya. "Hmmm... Wow!!"

"Benar saja!" Akoh Koz manggut-manggut. "Ternyata auranya bisa membuat laki-laki terpikat."

"Aurat, Koh?" Seru Aan. "Mana gambar yang ada auratnya?"

"Aura, Aan. A-U-R-A... nggak pake T..." Seru Akoh Koz lagi.

"Iya, Aura Kasih aja belum ada tandingannya, sekarang bisa ditandingi lho sama Henny." Sahut Aan.

BLETAKK!!

"Yang serius, napa?" Very yang tampak kesal itu menepuk kepala Aan yang menghadirkan protes dari sahabatnya itu.

"Lu sendiri?"

"Kalo gue sih emang udah dari sananya serius..." Jawab Very sambil menatap foto. "Serius memperhatikan ini cewek."

BLETAK!!!

Gantian Aan yang menepuk kepala Very. Sikap keduanya membuat Akoh Koz tertawa.

"Aku belum pernah bertemu dengannya..." Ujar Very sambil mengusap-usap kepalanya. "Tapi kalo dia emang seperti ini sih... wahhh..."

"Kedatangannya membuat para lelaki di Kampung HSG ini heboh." Akoh Koz berkata lagi. "Terlebih Hong Sule yang tukang ojek itu, sepertinya kesengsem kepada Henny."

"Hmmm..." Aan bergumam. "Memang gadis berbakat..."

"Dan kudengar para sopir dan kenek angkot juga tak dapat menahan godaannya." Sambung Akoh Koz.

"Hmmmm...." Kali ini Very yang bergumam. "Sampai sopir dan kenek angkot pun diembatnya?"

"Hong Sule dan Henny Silvia. Inisial mereka berdua sama-sama HS." Lanjut Akoh Koz. "Berkaca dari pengalaman kita yang sejoli HY itu, usahakan jangan sampai sepasang HS ini jadian..."

"Kami mengerti." Very mengangkat kepalanya. "Karena ojek Hong sudah menikah dan mempunyai istri..."

Akoh Koz mengangguk. "Juga kalian cari tahu apa maunya Henny ini. Bila sudah terlalu jauh melenceng, kalian boleh mengambil tindakan."

"Kalau memang benar dia seorang sekretaris, seharusnya gajinya lumayan tinggi..." Sambung Akoh Koz.

"Setinggi rok mininya ya?" Celetuk Aan, yang kemudian mendapat jitakan dari Very. Namun Aan telah bersiap diri dan mengangkat tangannya melindungi kepalanya. "Nggak dapet... Nggak dapet..."

"Jadi seharusnya dia bisa menumpang taksi atau taruhlah, bajaj..."

"Tapi kalo aku jadi Henny," Very menimpali. "Naik bajaj justru akan kuhindari."

"Lho kenapa?" Tanya Aan. "Karena rok mini lagi?"

"Bukan." Very nyengir. "Otak lu tuh nggak pernah jauh ya dari selangkangan..."

"Enak aja!" Aan mengumpat. "Siapa yang biasa nonton film BF sampai larut malam?"

"Kalian ini..." Akoh Koz menatap keduanya sambil tersenyum.

"Maaf, Koh, kulanjutkan ya..." Kata Very. Akoh Koz mengangguk.

"Kalo aku jadi Henny dan harus naik bajaj, pas turun itu, aku pasti begini... rrrrr... rrrrr.... rrrrrr..." Very menggetarkan tubuhnya seperti orang yang kedinginan. Hal mana membuat Aan tertawa melihatnya.

"Terus kenapa pula dia nggak naik taksi aja?" Tanya Aan. "Kenapa pula dia harus naik angkot dan bahkan..."

"... Ojek..." Timpal Very.

"Nah, itu juga yang harus kalian cari tahu..." Kata Akoh Koz. "Misi kali ini harus berhasil ya?!"

"Siap, Koh! Detektif Koko siap menjalankan tugas!" Aan tersenyum sambil melirik sahabatnya yang duduk di sebelahnya.

BAGIAN 4

PACAR YANG BERDAYA GUNA

"Mai beibh... " J-Co membuka pintu rumahnya yang diketuk oleh Aan. Begitu tubuh kekasihnya muncul, J-Co segera memeluknya. Rumah keduanya saling berbelakangan.

"Myuuuaaahhhhh... Myuuuaaaaahhhhhh" Sepasang kecupan didaratkan oleh J-Co di kedua pipi pacarnya.

"J-Co, aku baru aja pulang ketemu Akoh Koz... Langsung disambut begini..." Aan menjawab dengan wajah yang sedikit memerah.

"Biar dunks. Beibh kan yayang aqiu... Jadi syuka-syuka aqiu khan?" J-Co melepaskan pelukannya. "Ow yach, beibh pasti belum mam, ya kan? Nich, aqiu beliin mam siang... dimam yach..."

Sebungkus besar makanan tampak terletak di atas sebuah meja.

"Apa itu?" Aan melirik sekilas ke arah kantong yang disiapkan pacarnya.

"Dou... dou... dou...dounat J-Co..." J-Co menjawab dengan nada dilambatkan.

"Donat lagi? Kenapa juga nggak beliin bakso kesukaanku?"

"Mai beibh...." J-Co kali ini menatap kekasihnya. "Bakso," Dimiringkannya kepalanya ke kiri.

"Bakmi," Dimiringkannya kepalanya ke kanan.

"Bakpao," Dimiringkannya kepalanya ke kiri lagi.

"Bakcang..." Miring ke kanan.

"Bakkut..." Miring ke kiri.

"Semua yang ada bak-bak-bak itu..." Miring ke kanan, kiri, kanan lagi.

Ucapannya terhenti sesaat, dikembalikannya kepalanya ke posisi tegak semula, sebelum akhirnya dia melanjutkan. "...unhealty food, beibh..."

"Termasuk bakiak juga?" Aan menjawab menahan kesal.

"Adiiiuuhhhh... Mai beibh..." J-Co melirik ke arah Aan. "Itu mana bisa dimam? Bakiak itu khan sejenis shius.... shius..."

"Shius... Saus kaleee..."

"Sepatiu, beibh... Shius itu sepatiu.... Beibh gaul dunks..."

"Sepatiu..." Aan memonyongkan bibirnya. "Tiu... Tiu... Tiu... Tiup lilinya..."

"Beibh bilang apa? Tiup lilin? Siapa yang betdei, beibh? Ajak aqiu yach, aqiu mau ikyuutttt...."

"Itu, ayam tetangga, ulang tahun kelahiran semalam, udah umur 3 tahun, besok udah mau dipotong..." Aan menjawab sekenanya.

"Addiiuuhhh... Sadishhh... Sadishhhh..." J-Co menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aqiu tak mau lihat akkhhhh..."

"Siapa juga yang suruh liat..." Aan menggerutu. "Bisa kacau ayam sekampung ketemu dirimu. Pada mati muda."

"Oh iya, beibh... Aqiu forget...." Tiba-tiba J-Co membuka wajahnya kembali.

"Apa lagi?" Aan mengembalikan bibirnya ke posisi semula.

"Beibh lihat sepatiu aqiu dimana nggak ya??"

"Banyak tuh di toko sepatu, tinggal pilih aja..."

"Bukan, beibh... Bukan itu... Iccchhhh..." J-Co menggeram pelan. "Sepatiu aqiu yang hak tinggi itu..."

"Yang berapa senti tingginya?" Tanya Aan. "Sepatumu banyak, bisa disewakan, mana aku tahu yang kamu maksud yang mana."

"Yang warna pink itu loch... Yang ini nih..." Kata J-Co. "Lihat aqiu... Sini..."

"Apaan?" Aan melihat ke arah kekasihnya juga.

"Yang pink blink-blink itu...." Sambil berkata itu, J-Co mengerdipkan matanya beberapa kali, membuat Aan berpaling dari tatapannya.

"Kalo yang pink..." Aan mengerdipkan matanya mengikuti kekasihnya. "Blink-blink itu aku belum pernah lihat..."

"Nah, kalo yang kuning...." Aan menarik bibir dan memamerkan giginya. "... kuning jigong... Ada tuh.. Di bawah pohon belakang..."

"Icchhh... Kok di bawah pohon? Kamu apain, beibh, sepatiuku?" Wajah J-Co menampakkan keseriusan.

"Buat nutupin lobang... Tikus pada keluar masuk disana..." Jawab Aan enteng.

"Issshhh... Jijaayyyy...." J-Co bergidik membayangkan sepatunya menjadi ganjalan lubang tikus. "Aqiu meni-pedi aja dech, beibh..."

"Puciiiink aqiu membayangkan itu semua..." J-Co memegang kepalanya sambil menggoyangkan badannya.

"Perasaan, uangmu itu selalu habis untuk meni-pedi aja..." Aan berkata.

"Mai beibh... Kalau meni pedi teratur itu, jari-jari ini..." J-Co menurunkan tangannya dan menggoyang-goyangkan jari-jari lentik tangannya. "Bisa terawat..."

"Kuku panjang begitu, mau adu cakar dengan kucing..." Komentar Aan yang melihat kuku J-Co yang lumayan panjang itu.

"Mai beibh... Kukyu-kukyu aqiu ini bukan untuk cakar kyuching loch... Jangan asal dunks, beibh..."

"Kyuching?? Waduhhh... Ya udah sana... Puciiiink aqiu mendengar itu semua." Aan menggoyangkan badannya mengikuti kebiasaan pacarnya itu bila sedang berbicara.

"Ow yach, beibh..." J-Co bersiap-siap pergi. "Itu dou-dou-natnya don forget dimam yach..."

Setelah meniru ucapan kekasihnya, Aan tidak menjawab lagi, hanya menghela nafas dan melihat kekasihnya mendekati pintu rumahnya.

Pada saat yang bersamaan, di belakang rumah J-Co...

"Tumben, sudah tiga hari ini kamu pulangnya awal?" Tanya Very kepada Memei di siang itu. "Biasanya sampai sore juga kue-kuemu cuma langganan burung-burung gereja aja."

"Begini ya, cintaku, kekasihku, pujaan hatiku..." Memei berkata kepada Very saat pacarnya itu pulang setelah bertamu ke rumah Akoh Koz. Setelah menerima instruksi dari Akoh Koz, Very berniat melobi kekasihnya untuk diajak berunding sebelum dia melaksanakan tugas yang diembankan kepadanya dan Aan.

"Aku nggak jualan banyak, karena..." Tiba-tiba Memei terdiam dan sepasang matanya mendadak melirik ke kanan dan kiri.

"Apaan?" Very ikut-ikutan melirik ke sekelilingnya. "Ada apaan?"

"Shhhhh!!!" Memei menempelkan telunjuknya ke bibirnya.

"Ada apaan sih?" Very melirik penuh tanda tanya melihat tingkah kekasihnya itu. "Disini cuma ada kita berdua, Mei. Kenapa jadi begini?"

"Aku cuma mau memastikan dia tidak lewat disini." Ujar Memei.

"Dia?" Very menggaruk kepalanya. "Dia siapa?"

"Hong Sule..."

"Hong Sule yang ojek belang itu?" Tanya Very.

"Hidung belang kaleee..." Ujar Memei mengoreksi.

"Sama ajalah." Very berkata. "Emangnya kenapa takut dia lewat sini? Kamu ada hutang ya padanya?"

"Bukan, bukan hutang." Memei akhirnya menceritakan pertemuannya dengan ojek Hong saat dia dibonceng oleh Henny. "Begitu ceritanya."

"Oh, pantas udah tiga hari kamu nginap disini ya. Jadi ini sebabnya."

"Hehehe..." Memei menatap kekasihnya sambil tersenyum lebar.

"Kalo soal mereka itu aku udah tau..." Very berkata lagi. "... dari Akoh Koz."

"Cepet banget informasinya?" Sergah Memei.

"Akoh Koz menjuluki mereka sepasang HS..."

"Sepasang HS?"

Very mengangguk. "Henny Silvia dan Hong Sule, inisial mereka sama-sama HS."

"HS... Heboh Selalu." Memei tertawa. "Udah Kampung HSG, ini penghuninya HS pula..."

"HSG lagi..." Sahut Very.

"Apa tuh?" Memei menatapnya dengan senyum masih tersisa.

"Hong Sule Gatel..." Jawab Very yang kemudian meledak dalam tertawanya, diikuti oleh pacarnya.

"Ya, aku dan Aan mendapat misi berikutnya dari Akoh Koz..." Very menjelaskan saat tertawanya berhenti. "Berkaca dari kejadian sejoli HY itu, Akoh Koz meminta kami mencari tahu siapa si Henny Silvia itu dan memastikan bahwa tidak ada lelaki di Kampung HSG ini yang tergoda padanya."

"Ohh... Kalau begitu, aku dukung! Gadis bernama Henny itu harus dipindahkan dari Kampung HSG ini karena merendahkan martabat wanita dan menaikkan celana pria..."

"Menaikkan celana pria? Maksudnya apaan?" Tanya Very kebingungan.

"Kamu nggak lihat kalau dandanannya itu sanggup menaikkan celana pria? Sampai aku aja nyaris ditabrak Hong yang jelas-jelas sudah punya istri kan?" Kata Memei. "Apa dia nggak takut nanti digelandang lagi sama istrinya itu?"

"Emangnya bola digelandang? Dia itu kan ojek." Sahut Very.

"Ojek juga pakai celana kan? Kalau pakai celana kan artinya di kaki kan? Kalau kaki kan tugasnya menggelandang kan? Jadi bisa dong ojek digelandang..." Memei mulai membayangkan Hong yang pernah dijewer oleh istrinya sepanjang jalan karena ketahuan menggoda seorang gadis cantik di pangkalan ojek HSG.

"Aku nggak bisa bayangin kalo istrinya menjewernya dan menariknya pulang sepanjang jalan Kampung HSG ini..." Memei mulai tertawa.

"Udah, Mei, jangan ketawa." Very mengangkat tangannya. "Tawamu itu menyeramkan..."

"Aku bukan setan yang bisa menyeramkan..." Memei berhenti tertawa dan mulai memprotes.

"Tak ada yang lebih menyeramkan daripada terkena senjata ludahmu itu, Mei." Sahut Very mulai nyengir. "Setan di belahan dunia manapun kabur kalau senjuatamu itu sudah keluar."

"Yah baguslah, rumah ini akan aman dari yang namanya setan..." Kata Memei. "Bagaimana kalau aku tertawa begini?"

Memei mulai tertawa terpingkal-pingkal, ditambah dengan bayangan yang muncul mendadak di depan matanya, Hong dijewer pulang oleh istrinya karena kedapatan menggoda penumpang wanta suatu sore.

"Cabe deh..." Very menepuk jidatnya sendiri, sambil mencari upaya menutupi wajahnya dari 'penyakit' tertawa kekasihnya itu.

BAGIAN 5

MEETING DETEKTIF KOKO

"Ternyata Heny tidak mempunyai mobil pribadi dan alasannya tidak mau naik taksi karena takut dirampok..." Aan menjelaskan kepada sahabatnya di suatu siang saat mereka berkumpul. Telah 3 hari berlalu dan belum ada tindakan apapun yang dilakukan oleh sepasang detektif itu mengenai kasus Henny Silvia. Hanya penyelidikan dan pengintaian ringan yang dilakukan oleh keduanya.

"Tidak mau naik ojek karena diganggu oleh Hong Sule..." Memei menimpali. Karena menginap di rumah Very, Memei tentu saja berada disana. Jadi kini satu rumah mereka tinggali bertiga.

"Dan tidak mau naik angkot karena trauma digoda dan nyaris diperkosa oleh sopir dan keneknya..." Very tak mau ketinggalan. "Apa karena Henny punya trauma masa lalu ya?" Very menatap kekasihnya yang mengangkat kedua pundaknya.

"Kalo nggak mau naik taksi, angkot atau ojek, lantas bagaimana caranya dia pergi kerja?" Celetuk Memei.

"Sebentar." Aan mengangkat tangannya. "Kemarin aku melihat Henny naik taksi juga. Namun ada satu cowok kekar yang menemaninya...."

"Pacarnya kali." Jawab Very singkat. "Kalau begitu, case closed."

"Sepertinya bukan," Aan berkata. "Kalau pacarnya pasti mereka mesra kan? Ini nggak. Malah si cowok berjalan seperti melindunginya."

"Kalo pacar, pasti si cowok akan bawa kendaraan kan, minimal motor." Sambung Aan. "Ini nggak. Malah si cowok terkesan membukakan pintu taksi, mempersilakan dia masuk dan baru dia masuk. Itu pun dia duduk di depan dan Henny di belakang."

"Bisa jadi itu bodyguard-nya..." Kata Memei.

"Aku juga berpikir begitu." Jawab Aan. "Tapi untuk apa? Masa pekerjaan sekretaris aja, paling gaji seberapa sih?"

"Ehh belum tentu. Gaji boleh kecil, An, tapi sabetannya..." Very berkomentar. "Bikin belang..."

"Pantas aja hidung ojek Hong berbelang...." Memei menimpali dan mulai tertawa. Spontan, Aan dan Very menutup wajah keduanya saat Memei tertawa.

Setelah beberapa menit tertawa, Memei berhenti. "Lanjut..."

Aan dan Very masih melirik seakan meminta ketegasan kalau Memei tidak akan tertawa lagi. Setelah yakin akan hal itu, Aan melanjutkan.

"Kalaupun pekerjaan sekretaris, untuk apa dia panggil bodyguard segala?" Lanjut Aan. "Bukankan masih banyak alternatif lain yang bisa dilakukan?"

"Tapi keren lho bisa panggil bodyguard." Memei menimpali. "Besok aku juga mau ahh panggil bodyguard."

Mendengar perkataan pacarnya, Very melotot. Ditatapnya Memei dengan pandangan kesal.

"Terus bayarnya pake daun kue jualanmu itu?"

"Bila perlu gratis..." Memei tersenyum manja ke arah Very. "Seperti ojek Hong mengantar Henny waktu itu..."

"Kalo mau yang gratis, ngapain cari yang berotot, aku juga bisa melindungimu..." Very menjawab dengan suara yang masih kesal.

"Kamu beda. Kamu nggak berotot dan nggak akan pernah berotot." Senyum Memei semakin lebar.

"Kenapa nggak bisa? Nih lihat!" Very mengangkat lengan kanannya dan memperlihatkan otot bisepnya. yang memang rata itu. Aan tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

"Apa jadinya Vera berotot? Mana ada badan wanita, tapi kekar berotot?" Memei mulai tertawa. "Yah, ada sih, seperti atlit binaraga begitu. Tapi mereka kan kuat, nggak seperti Vera yang melambai-lambai."

Memei menutup ucapannya dengan suara tertawa, diikuti oleh Aan. Hal mana membuat lelaki itu lupa melakukan sesuatu.

"Hahahahaha..." Ujar Memei dalam tertawanya. "Aku tak bisa membayangkan Very seperti itu, mau dikasih nama apa nantinya? Vero? Vera berotot?"

Guyonan Memei semakin membuat Aan tertawa terbahak-bahak, sementara Very hanya cengar-cengir mendengarnya.

"Aku nggak hanya pernah menjadi Vera, tapi juga dirimu, Mei..." Kata Very.

"Ya, Jeng Memei yang hancur berantakan... Hahahaha..." Tawa Memei semakin membahana membayangkan pacarnya menyaru menjadi dirinya dalam kasus sebelumnya, dimana akhirnya Very terjatuh dan dandanannya berantakan.

Very sendiri mulai tertawa membayangkan dirinya yang memang tampil berantakan pada kasus sejoli HY.

CPRUTTT!!

Benar saja! Kebiasaan Memei terulang kembali! Air liurnya tersemprot keluar dan mencari sasaran mendarat. Karena waktu itu wajahnya sedang menghadap ke arah Very, maka disanalah air liurnya mendarat dengan indahnya! Tepat di hidung bagian tengah!

"Huhhh!! Kebiasaan!!" Very mengumpat dengan kesal sambil menghapus air liur Memei yang mulai mengalir turun membasahi lubang hidungnya.

"Sudah, ayo kita lanjutkan lagi..." Ujar Memei tanpa perasaan bersalah. Tertawanya pun sudah mulai terhenti saat itu.

"Mudah sekali kamu bilang lanjut sementara aku harus mandi air darimu..." Very masih mengumpat kesal sambil membersihkan wajahnya dengan saputangannya.

"Apapun itu, sekarang kita punya dua titik untuk ditutup..." Aan menerangkan. "Pertama..."

Very mengangkat tangannya. "Tak perlu dilanjutkan. Aku sudah mengerti."

"Justru satu titik penting yang harus ditutup itu..." Very menatap kekasihnya itu. "Suara tertawanya yang berbahaya itu! Yang bisa mengeluarkan rudal becek setiap kali tertawa."

Tertawa Aan meledak mendengar protes sahabatnya. Sementara Memei memasang wajah cemberut.

BAGIAN 6

SEPASANG HS BERTEMU KEMBALI

Pagi itu, motor Kawasan Ninja milik ojek Hong kembali melintasi perkampungan HSG. Sudah beberapa hari ini, dia memendam hasratnya bertemu dengan Henny. Setiap kali dia tiba di tempat yang sama, dia tidak menjumpai Henny.

"Sepertinya hari ini HS aku nggak akan nongol lagi..." Gumam Hong sambil memacu pelan motornya. Beberapa meter lagi dia tiba di tempat dimana kedua HS berjumpa. "Disana tempat pertama kali kita bertemu. Kenangan indah di bawah tiang listrik."

"Weits!" Tiba-tiba motor Hong bergoyang. Pandangannya tertuju di suatu tempat. "Aku nggak salah lihat nih?"

Dihentikannya motornya dan dikuceknya matanya. "Jangan-jangan itu setan lagi?"

Teringat olehnya dia keluar dari rumah jam 5 pagi itu dan belum lama dia berjalan. "Berarti ini belum jam 6. Matahari belum terbit. Wah, jangan-jangan bener setan nih..."

Diperhatikannya tempat itu lagi.

"Lho, kok hilang?!" Hong menggaruk kepalanya. "Wah, yang benar saja. Masa ada setan sepagi ini? Di bawah tiang listrik pula."

Dikuceknya matanya sekali lagi dan dia melihat lagi.

"Lho, kok ada lagi?" Jantungnya mulai berdetak saat itu. "Mengapa begini?"

Hong menelan ludahnya. Jantungnya kebat-kebit dan kebingungan. Jika diperhatikannya, si gadis yang ada di sana tampak berdiri tak bergerak.

"Ahh, kudekati saja dia untuk memastikan..." Hong menjalankan motornya kembali dan mendekati tiang listrik dimana dia bertemu dengan Henny.

"Hai!" Hong menyapa gadis yang dilihatnya berdiri di dekat tiang itu. "Henny?"

"Eh, Abang..." Gadis yang bukan lain adalah Henny itu tersenyum. Hari itu dia mengenakan kemben berwarna kuning yang dipadu dengan blazer hitam dengan bawahan rok mini berwarna hitam.

"Ini benar Henny kan?" Tanya Hong memastikan sambil memandangi si gadis dari atas kepala hingga ujung kakinya. "Kok wajahnya agak beda dibanding sebelumnya?"

"Iya, Bang." Henny menjawab dengan senyum yang seperti dibuat-buat. "Beda? Ohh... mungkin karena aku kurang tidur dua hari ini. Eh iya, benar, aku kurang tidur. Baru ingat kalau aku kurang tidur..."

"Lho, kok suaranya serak, Hen?" Pandangan mata Hong tak lepas dari dada membusung si gadis. Dalam hatinya dia bergumam, "Wah, baru kusadari kalau Henny memiliki dada seindah ini. Andai saja istriku seperti itu..."

"Abang..." Suara Henny menyadarkan lamunan Hong.

"Eh, iya..." Hong terkesiap. Diusapnya rambutnya yang terdapat jambul ngibul itu.

"Maaf ya suaraku lagi serak nih. Aku kena flu..." Si gadis menutup hidungnya dengan tissue.

"Oh, pantas..." Hong menelan ludah yang tercekat di tenggorokannya. Matanya masih tertuju pada dada Henny. Dan ternyata si gadis menyadari tatapannya karena dia menarik blazer yang dipakainya untuk menutupi dadanya yang memang membusung indah itu.

Seperti terbangun dari tidurnya, Hong kini memandangi wajah Henny. "Mau kuantar?"

"Mmm..." Henny mengerling. "Gimana ya??"

"Pasti nggak mau kan?" Hong menyambung. "Kemarin-kemarin aja langsung turun dan kabur..."

"Maaf deh, Bang..." Ujar Henny. "Aku nggak enak sama istrimu..."

"Ah, dia bisa apa sih? Kan Henny pelangganku, ya tentunya harus..." Hong berhenti sejenak dan menelan ludah. "...kupuaskan..."

"Aku nggak puasa, Bang..."

"Puaaass. bukan puasa. Tapi tumben pagi sekali, Hen..." Mata Hong kini menjalari paha Henny yang tak tertutup rok mini itu.

"Iya, aku mau persiapkan notulen dulu, kami ada meeting hari ini..." Jawab Henny.

"Miting, mijit yang penting-penting ya?" Hong memancing.

"Bukan... Miting itu mie keriting..." Si gadis tersenyum. "Abang bisa aja..."

"Gimana, mau nebeng nggak?" Tanya Hong sambil menggas motornya.

"Bener nih nggak apa-apa?" Henny bertanya balik. "Masih promosi nggak?"

"Oh iya..." Hong tertawa. "Untukmu masa promosi berlaku selamanya, 100% gratis..."

"Nanti rugi bandar gimana, Bang?" Henny mengerling lagi.

"Rugi?" Hong tersenyum sambil menatap dada Henny yang kini mulai terbuka lagi karena blazer yang dipakainya tak lagi menutupi dadanya. "Bandar ada cara supaya nggak rugi lho. Ayo, naik..."

"Bener nih, Bang?" Tanya Henny.

Hong mengangguk. "Iya..."

Henny tersenyum, menarik tas tangannya dan mendekati motor yang dikendarai Hong, bersiap-siap untuk naik ke atasnya. Sementara Hong menelan ludah entah apa yang dibayangkannya...

BAGIAN 7

JENG MEMEI DAN RENY

"Kue... Kue..." Di hari yang masih pagi, Jeng Memei sudah menjajakan kue mengelilingi Kampung HSG. Suatu pekerjaan yang sudah dilakukannya sejak lama dan menjadi mata pencaharian tetapnya.

Gadis itu melintasi deretan perumahan di Kampung HSG. Matahari masih belum terbit. Sang waktu sendiri masih bertahan di antara jam 5 pagi.

"Kue... Kue..." Jeng Memei melewati beberapa deretan rumah sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang sederhana. Dia menatap ke pekarangan rumahnya sesaat sebelum dia berseru. "Mbak Reny, mau kue nggak?"

Menunggu sesaat, sesosok tubuh seorang wanita membuka pintu rumah dan berseru, "Ada kue apa, Jeng?"

"Banyak, Mbak. Masih segar. Fresh from the oven." Ujar Jeng Memei sambil menurunkan tampi di atas kepalanya.

Wanita yang dipanggil dengan nama Reny itu membuka pintu pagar dan mempersilakan Memei masuk. Segera Memei masuk dan berlutut menurunkan kue di dalam tampi yang dibawanya.

"Masih segar. Ada kue pancung, kue pisang batu. Spesial menu hari ini bubur goreng ala Jeng Memei..."

"Lho, suaranya kenapa, Jeng? Kok serak?" Reny, wanita yang cantik dengan potongan badan sedang dan berambut panjang hitam, menatap Jeng Memei dengan tatapan bingung.

"Maaf, Mbak..." Jeng Memei menutupi mulutnya. "Tenggorokanku sakit, jadi suaraku begini..."

"Oh, minum penyegar, Jeng...." Reny memilih kue yang disajikan. "Ini aja berapa?"

"Lima ribu aja..." Sahut Jeng Memei. "Buat suaminya nggak dibeli juga?"

"Dia sudah kerja..." Jawab Reny sambil menyerahkan selembar uang lima ribu.

"Wah, pagi juga ya?" Jeng Memei berkata. "Oh iya, tadi kami berpapasan, aku lupa..."

Reny tersenyum.

"Tapi sepertinya tadi dia sedang bersama seorang wanita lho..." Lanjut Jeng Memei.

"Biasalah, kan penumpangnya." Sahut Reny sambil tersenyum. Mendadak senyum Reny menghilang. Diperhatikannya Jeng Memei saat itu.

"Ini Jeng Memei?" Tiba-tiba Reny berkata tanpa melepaskan tatapannya.

"Iya, benar." Jeng Memei yang menyadari perubahan pada Reny itu memasang tampang serius.

"Jeng, kok wajahnya beda ya?" Reny bertanya. "Ini benar Jeng Memei kan?"

"Eh..." Jeng Memei terkejut. "Iya, ini jelas-jelas aku. Kok Mbak bertanya gitu sih?"

"Iya, soalnya wajahnya agak beda...." Reny menggaruk kepalanya. "Tapi apa aku yang salah lihat ya?"

"Oh, pasti Mbak salah liat deh... Mbak belum mandi kan?" Jeng Memei menunjuk Reny.

Reny menggeleng.

"Pantas. Tuh belek masih sewajah lho... Ahihihi..."

"Bener nih tadi Jeng melihat suamiku tadi dengan wanita?" Tanya Reny yang lebih tertarik membahas tentang suaminya dibanding dirinya sendiri.

Jeng Memei melambaikan tangannya. "Biarin aja deh, Mbak. Dia kan objek, eh ojek. Wajar dong kalo dapat penumpang wanita seksi gitu..."

"Wah, penumpangnya seksi?" Sepasang mata Reny membelalak.

Jeng Memei mengangguk.

"Terus apa lagi?" Tanya Reny yang tampak mulai antusias.

"Seksi..." Jeng Memei berdiri sambil membelai kedua pinggangnya dengan tangannya. "Bodinya... Gitar Spanyol aja masih kalah lekuk..."

"Terus?" Sepasang mata Reny semakin membelalak.

"Putih, mulus..." Jeng Memei mengusap lengannya sendiri sambil tersenyum melirik Reny.

Sepasang mata Reny membelalak pada tahap paling besar.

"Oh ya..." Jeng Memei masih melirik Reny. "Masih ada lho..."

"Apa?"

"Wanita itu memakai rok pendek..." Ujar Jeng Memei. Diangkatnya kakinya dan betisnya muncul di antara belahan sarung yang dipakainya. "Mulussss lho kakinya..."

"Rok pendek?" Reny mengernyitkan keningnya.

"Owh, iya..." Jeng Memei menurunkan kakinya. "Pendek banget, sampai-sampai pahanya jelas keliatan dari jarak dua puluh meter..."

"Hah?!" Reny melongo. "Sependek itu?"

Jeng Memei mengangguk. "Belum cukup sampai disitu..."

"Hah? Masih ada lagi?" Semakin melongo Reny dibuatnya.

"Oh tentu..." Jeng Memei menaikkan kemben yang dipakainya tepat di bagian bawah dadanya, sehingga dadanya yang tadinya membusung terlihat semakin membusung. "Dadanya tuh... Wah..."

"Kenapa dadanya??" Mau tak mau Reny dibuat memandang dada Memei saat itu.

"Bukan cuma besar, membusung, montok..." Jeng Memei menggoyangkan dadanya ke samping. "Tapi..."

"Tapi apa?" Reny semakin penasaran. "Bicara dong..."

Jeng Memei tersenyum dan berbisik pelan. "Pssttt... Jangan keras-keras ya... Dia tidak memakai bra!"

"Hahh!!" Reny berteriak membuat Memei terloncat di tempat sambil menepuk-nepuk dadanya.

Sepasang tangannya kini bertolak di pinggang. "Apa lagi?! Jangan bilang dia menggoda suamiku dengan dadanya itu..."

"Oh, iya, Mbak..." Sahut Jeng Memei. "Tadinya aku nggak mau kasih tau, takut Mbak marah..."

"Kenapa?" Suara Reny terdengar membahana.

"Dia duduk nempel di belakang suamimu dan dadanya... Ouhhh..." Jeng Memei mengambil sebuah tutup panci yang terletak di tampinya. Dengannya dia menempelkannya ke dadanya.

"Ibarat tutup panci ini punggung suamimu, dan..." Dia menyentuh dadanya sendiri. "... ini dadamu eh salah, dada cewek itu. Suamimu kulihat senyum-senyum ditempel begitu..."

"Mata suamimu itu..." Jeng Memei mengedipkan matanya dengan gerakan perlahan. "Mirip orang kelilipan. Merem melek... Merem melek..."

"HAHH!!" Reny berteriak membuat Memei terloncat kembali karena kaget dan tutup panci yang dipegangnya terlepas dan menimbulkan bunyi yang keras.

KROMPYANGG!!

"Ahhh!! Panci kesukaanku!!" Terbelalak mata Jeng Memei sambil berjongkok mengambil tutup panci dan mengelusnya.

"Jeng..." Dari atasnya, Jeng Memei mendengar namanya dipanggil. "Bisa bawa aku ketemu suamiku?"

"Ahh... Aku tak berani, Mbak..." Jeng Memei berdiri dan menutup mulutnya dengan tangannya.

"Kalau begitu kasih tahu aku dimana Jeng melihatnya..." Reny terus mencecar.

"Di gardu hitam... Upsss..." Jeng Memei kembali menutup mulut dengan tangannya. "Keceplosan deh..."

"Disana..." Ujar Reny. "Terima kasih infonya, Jeng..."

"Jadi udahan nih?"

"Ya sudah, mau apa lagi?" Reny menatap Jeng Memei dengan melotot.

"Yaaaah, endingnya nggak enak bener...." Jeng Memei mengambil tampi dan meletakkan di atas kepalanya. "Padahal puding buatanku enak beneerrr..."

Gadis tukang kue itupun bergegas keluar dari rumah Reny. Seulas senyum tersungging di bibirnya.

BAGIAN 8

SEPASANG HS DAN RENY

"Hen... Wangi sekali pagi ini..." Ojek Hong mengenduskan hidungnya sambil mengendarai motornya. Di belakangnya, duduk dengan gaya mengangkang, Henny Silvia.

"Iya dong, namanya orang kerja, masa nggak wangi..." Henny menepuk pundak kanan ojek Hong. "Abang ini gimana sih?"

"Tapi kok wanginya beda dengan yang sebelumnya?" Tanya ojek Hong. "Perasaan terakhir wanginya nggak begini..."

Henny terkesiap, namun masih bisa menguasai diri. "Oh... Memangnya beda ya?"

Ojek Hong mengangguk. "Ganti parfum ya?"

"Aku nggak pake parfum, Bang..." Ujar Henny. "Aku cuma pake sabun..."

"Wah, kalau gitu sabunnya wangi juga ya..." Ojek Hong memainkan jambul ngibulnya lagi, sementara satu tangan lagi menggas motor yang dibawanya. Secara tidak sengaja, matanya melirik ke spion. Bermaksud untuk melirik Henny yang memboncengnya, sepasang matanya justru melihat sesuatu.

"Gawat!" Ojek Hong bergumam. "Bagaimana dia bisa tahu?"

"Maksud Abang apa? Aku tahu apa, Baaaaaaaaa...." Henny yang berniat bertanya itu tersentak saat ojek Hong menggas motornya lebih kencang lagi dan tubuhnya tertarik. Spontan, merasa ingin terjatuh, Henny julurkan lengannya memeluk pinggang ojek Hong.

"Pelan aja, Bang..." Ujar Henny dari belakang ojek Hong. Tubuhnya kini telah merapat dan sepasang lengannya memeluk erat pinggang si ojek.

"Nggak bisa pelan, Henny..." Kata ojek Hong. "Bisa-bisa..."

"Bisa-bisa apa?" Dalam kebingungannya Henny bersuara.

"A... Ada... Ada..." Suara ojek Hong terdengar gugup. "Ada sesuatu..."

"Sesuatu?" Semakin kebingungan Henny dibuatnya.

Tak jauh dari tempat itu...

"Itu dia, Pak... Agak cepat motornya ya..." Seorang wanita menunjuk dari motor yang ditumpanginya.

"Iya, Mbak..." Si pengemudi motor yang diperintah mengangguk.

"Kurang ajar! Benar kata Jeng Memei, wanita itu menempel-nempelkan badannya ke badan suamiku..." Gumam wanita yang bukan lain adalah Reny itu.

"Kita papak aja mereka, gimana?" Tanya si ojek.

"Itu yang kumau, Pak..." Reny mengangguk. "Lebih cepat lebih baik."

Motor melaju lebih cepat dibanding sebelumnya. Beberapa menit kemudian, jarak antara kedua motor hanya bersisa beberapa meter saja.

"Hong! Berhenti kau!" Reny berseru dari belakang.

"Kacau nih..." Gumam Hong menyadari istrinya semakin dekat. "Aku nggak boleh berhenti..."

"Itu siapa, Bang?" Tanya Henny sambil mempererat pelukannya. Dadanya menempel di punggung ojek Hong.

"Stop!!" Motor yang ditumpangi Reny berhasil menyalip motor ojek Hong yang membuat si pemilik jambul ngibul mengerem mendadak dan Henny yang duduk di belakangnya tersentak ke depan.

"Bang... Mendadak gini..." Henny mengumpat saat rambutnya miring akibat sentakan tersebut.

Reny segera turun dari motor dan membayar ojek yang membawanya. Begitu selesai dan si ojek telah pergi, dia segera menghampiri ojek Hong yang terbelalak tak bergerak.

"Heh! Turun kau!" Henny merasakan lengannya disentak turun. Mau tidak mau, dia turun dari atas motor.

"Apa-apaan sih?"" Henny mengumpat kesal sambil membetulkan posisi rambutnya yang miring itu.

"Dia itu suamiku!" Reny berkata sambil menunjuk ke arah Hong.

"Terus apa hubungannya denganku?" Henny menjawab sambil membetulkan letak rambutnya. "Emangnya dia bisa betulin rambut miringku ini... Upsss!!"

Henny menutup mulutnya dengan tangannya. "Keceplosan!"

"Rambut miring apa?" Reny menatapnya dengan bengong. "Kamu siapa?"

"Aku?" Setelah membereskan rambutnya kembali, Henny menunjuk batang hidungnya sendiri. "Lah, kamu siapa?"

"Aku istrinya!" Sahut Reny gusar. "Kamu barusan naik motornya kan?"

"I... Iya..." Henny mengangguk. "Kenapa?"

"Kenapa duduk dekat suamiku?" Tanya Reny. Matanya melirik gusar ke ojek Hong.

"Karena dia naik motor. Lagipula dia yang ingin membawaku..." Jawab Henny.

"Eh... Bu... Bukan... Bukan..." Ojek Hong menatap istrinya. "Bukan begitu..."

"Diam! Aku tidak bertanya kepadamu." Reny berpaling ke arah Henny kembali. "Kemana?"

"Kencan..."

"Hah?!!" Terbelalak mata Hong Sule mendengarnya. "Bukan, dia mau kerja, bukan kencan."

"Aku tidak tanya kamu!" Bentak Reny. Kembali matanya menatap Henny. "Kenapa pelukan dengan suamiku?"

"Ya, karena tak ada yang memeluknya..." Sahut Henny lalu gadis itu menutup mulutnya. "Upss!"

"Apa katamu?!" Reny melotot dengan mata seperti ingin menelan Henny mentah-mentah. Diliriknya sekilas ke arah suaminya. "Kenapa senyum-senyum?"

"A... Aku... Eh.... Nggak... Nggak kok..." Hong Sule memainkan jambul ngibulnya.

"Apanya yang nggak-nggak?" Tangan Reny bergerak. "Jadi begini ya kerjamu... Nggak boleh lihat jidat licin!!"

"Jidat licin?" Henny bergumam sambil mengelus jidatnya. "Emangnya jidatku papan seluncur?"

"Eeehhhhh... Aduhhh... Addduhhh... Sakit..." Mendadak ojek Hong menjerit saat tangan Reny yang menjulur itu menjewer telinganya. Segera saja istrinya itu naik dan duduk di bangku belakang motornya.

"Pulang!!" Seru Reny tanpa melepaskan jeweran di telinga kanan suaminya. Hal mana membuat kepala ojek Hong doyong ke kiri.

"Saaa... Sakittt... Sakittt..." Ojek Hong menjerit sambil menjalankan motornya.

Henny yang melihat adegan itu tersenyum menyeringai, sementara motor Hong mulai menjauh. Saat dia berseru, seringai itu masih tersisa di bibirnya. "Hati-hati jewernya, Mbak... Nanti pangsit eh telinganya copot..."

BAGIAN 9

DETEKTIF KOKO, HENNY DAN JEN PIAO

"Ada kasus? Serahkan kepada kami, Koko Detektif!"

Dengan gaya bagai seorang peragawati yang sedang berjalan di catwalk, Aan merangkupkan kedua tangannya di pinggang, wajahnya berpaling ke samping dan berkata, "Linda."

Saat itu Linda memakai rambut palsu berwarna hitam sepunggung, dengan aksesoris anting, make up ringan dan blush on. Pakaiannya saat itu kemben putih yang dipadu dengan baju luar berwarna hitam. Di bagian dadanya, strapless bra berbusa cukup tebal membuat lekuk dadanya menjadi indah. Sebuah rok mini hitam menjadi bawahannya. Sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih dan sebuah tas tangan berukuran kecil menggantung di lengannya.

Tak berbeda jauh dengan Aan, Very pun meletakkan lengan kirinya di pinggang dan lengan kanan membelai rambut palsunya yang berwarna hitam. Setelan pakaiannya, celana pendek jeans dengan paduan kaos ketat full press body, yang kali ini berwarna kuning dan menonjolkan pinggang dan pusarnya. Sepasang bra yang berbusa membuat dadanya keliatan membusung. Gelang karet dan arloji menghiasi masing-masing pergelangannya. Sepatu kets model terbaru yang mempercepat larinya dan senjata ketapelnya tampak terselip di pinggang sebelah kanannya. Punggungnya ditempelkan ke punggung Linda sambil berucap, "Vera."

Dalam waktu yang bersamaan keduanya berkata, "Detektif Koko."

Keduanya membalikkan badan, bertatapan satu sama lain dan menempelkan pipi masing-masing dan kemudian mengangguk. Dengan langkah yakin keduanya berjalan menuju pintu pada waktu bersamaan.

CKITT!!

"Wadduuuhh.. Kejepit!!" Vera berseru saat mendapatkan badannya dan badan Linda terjepit di pintu ketika keduanya melewatinya pada saat bersamaan.

"Bola gue neh... Kempes nanti..." Linda menggerutu sambil menggoyang-goyangkan badannya.

"Biar jadi Mario Kempes sekalian..." Vera berkomentar sambil ikut menggoyang-goyangkan badannya berusaha melepaskan badannya yang terjepit di pintu itu. Mario Kempes adalah seorang pemain bola dari Argentina di tahun 60an.

"Pinggang lu sih kegedean..." Linda memprotes.

"Ada juga pinggang lu tuh. Lu kan pake rok, harus keliatan singset..." Seru Vera. "Lu masukin apa sih hari ini?" Ditariknya badannya ke depan.

SRUUTT!!

Vera terhempas ke depan, menyisakan Linda yang mundur ke belakang beberapa tindak. Sambil menggumam pelan, Linda membereskan onderdil permak di bagian dadanya.

"Aset Linda neh, jangan sampai rusak..." Linda berkata sambil membetulkan dada palsunya itu.

"Emangnya lu aja, Vera juga neh..." Vera menggoyangkan dadanya ke kanan dan ke kiri beberapa detik. Ditutupnya sebelah matanya dan melirik ke arah dadanya, seakan sedang mengukur besar keduanya. "Nah... ini baru montok..."

Setelah membereskan onderdilnya, Linda bergegas ke depan dan bergabung dengan Vera. "Menuju gardu hitam!"

Matahari baru saja menyingsingkan sinarnya saat sepasang Detektif Koko keluar dari rumah yang menjadi markas mereka.

"Itu mereka!" Vera menunjuk sepasang manusia yang menjadi incaran mereka.

"Sesuai tugas ya..." Ujar Linda. Vera mengangguk.

"Sana!" Linda menepuk pantat Vera yang berjalan di depannya.

"Aiyoiii!!" Vera mendesah dalam suaranya yang jantan itu tatkala pantatnya ditepuk oleh Linda. Sesaat dia menengok ke belakang dan memelototi sahabatnya. Linda tersenyum dan mengerdipkan sebelah matanya menyambut pelototannya.

"Sudah.... Sana..." Sepasang tangan Linda melambai pelan memberikan tanda agar Vera meneruskan langkahnya.

Beberapa meter di depan Vera yang sedang berjalan itu, tampak sebuah taksi berhenti oleh lambaian tangan seorang lelaki. Segera saja dia membuka pintu taksi bagian belakang. "Silakan masuk!"

Seorang gadis berambut hitam panjang dan bertubuh seksi dalam balutan busana kantor cukup minimalis melangkah dan menaikkan kakinya ke dalam taksi. Setelah semua badannya masuk ke dalamnya, si pria menutup pintu taksi di belakang dan bersiap membuka pintu taksi di sebelah depan.

"Tolooooonggggg...." Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang membuat si pria tercekat dan niatnya membuka pintu taksi tertahan.

"Toloooooonnnggg..." Suara jeritan itu terdengar kembali. Si pria mengernyitkan keningnys, seperti ingin mendengar lebih jelas lagi.

"Jen Piao, kenapa? Masuk dong..." Gadis yang berada di dalam taksi itu bengong melihat si pria yang membukakan pintu untuknya terdiam tidak bergerak.

"Ada yang minta tolong..." Ujar Jen Piao. Tampak ada keraguan di dalam dirinya.

"Biarkan sajalah. Ayo masuk..." Si gadis yang bukan lain adalah Henny Silvia itu berkata kembali. Jen Piao mengangguk.

"Aaauuuhhhh.... Aaaooowwwwww.... Aaaahhhhh.... Tolooonggg... Janggggaannn...." Suara jeritan semakin santar terdengar. Hal mana membuat Jen Piao tergerak hatinya.

"Maafkan aku," Jen Piao menatap Henny. "Aku harus menolongnya..."

"Tung.. Tunggu..." Larangan Henny terlambat didengar oleh Jen Piao yang telah melesat terlebih dulu ke arah sumber suara.

"Huhhh... Payah..." Henny menghela nafasnya, hanya bisa pasrah menatap kepergian Jen Piao.

"Neng, gimana ini?" Sopir taksi melirik ke belakang dan bertanya.

"Kita tunggu sebentar ya..." Jawab Henny sambil melirik jam tangannya.

"Aku akan pinggirkan mobil dulu..." Si sopir berujar sambil menginjak gas. Tahu-tahu...

PUFFF!! BLESSS!!

"Apa itu?" Si sopir taksi terperangah saat menyadari ban sebelah kiri depannya seperti hilang angin dan seketika kempes.

"Sebentar ya. Sepertinya ban kempes..." Dia menengok ke belakang, memberitahu Henny yang semakin menghela nafas kecewanya.

Hanya selang beberapa detik setelah si sopir keluar, pintu taksi di samping Henny tampak membuka. Gadis itu mengira Jen Piao telah kembali.

"Itu dia..." Gumamnya melihat ke arah pintu yang terbuka.

"Maaf ya..." Sesosok tubuh yang muncul mendadak dari balik pintu yang membuka, menyapa Henny. Belum sempat gadis itu menyadari siapa orang tersebut, serangkup asap yang disemprot telah membungkus wajahnya.

"Mpphhh... Mppphhh..." Henny terkesiap dan tak menduga serangan mendadak itu. Asap yang disemprotkan terhirup olehnya. Kepalanya menjadi pusing dan nafasnya sesak. Disusul oleh batuk selama beberapa saat sebelum akhirnya kesadarannya memudar.

Bersamaan dengan pingsannya Henny, sosok yang menyerangnya tiba-tiba itu, membopong tubuhnya keluar dari dalam taksi dan menghilang dengan sigap. Semua terjadi dengan sangat cepat. Hanya dalam waktu kurang dari 2 menit, saat si sopir kembali setelah memeriksa ban mobil, dia tidak mendapatkan ada siapapun di dalam mobilnya.

"Lho, gadis itu kemana?" Ujarnya terbengong. Mencoba melihat ke sekeliling, ujung matanya menangkap sesosok tubuh yang sedang bersusah payah membopong tubuh lainnya yang tampak lemas.

"Hei..." Sopir taksi itu berseru. "Siapa itu?!" Dengannya si sopir taksi bergegas mengejar sosok itu.

"Pengganggu!" Sosok yang membopong tubuh Henny membaringkan tubuh si gadis ke atas jalanan di depan sebuah kebun kosong, sebelum dia bersembunyi di balik sebuah pohon besar, menunggu kedatangan si sopir taksi.

"Itu dia!" Si sopir taksi mendekat dan mendapatkan gadis penumpangnya terbujur lemas di depannya. Menelan ludah sesaat melihat keseksian pakaiannya, si sopir taksi itu mendekati Henny dan menyentuhnya.

"Cantik juga..." Gumamnya sambil menelan ludah. "Tak peduli siapapun yang membawanya kemari, aku harus berterima kasih kepadanya..."

Tangannya terjulur dan dengannya dia malah menyeret tubuh lemas Henny ke arah dalam kebun kosong di depannya. Setelah menyeret cukup jauh dan melihat ke sekelilingnya, memastikan tidak ada yang melihatnya dan tertutup oleh suasana remang di perkebunan itu, si sopir taksi memegang celananya.

"Dasar buaya!! Kirain mau menolong, malah mendahulukan kesempatan dalam celana yang sempit!!" Ujar sosok yang bersembunyi di balik pohon itu.

"Aku harus menolongnya! Sebelum si bakekok itu beraksi!" Sosok itu kembali berkata. "Tapi bagaimana ya?"

Diliriknya ke sekelilingnya, kiri kanan dan atas bawah. Tiba-tiba dia mendapatkan ide. "Oh iya!"

Setengah berjongkok, sosok itu melepaskan sepatu hak tinggi yang dikenakan di kakinya. Dengannya dia memegang, mengarahkan dan membidik sasarannya, yang memang tidak berdiri jauh darinya.

"Rasain lu!" Ujar sosok itu sambil menggoyangkan tangannya dan melontarkan sepatu hak tingginya.

SWIIIIINNNGGG!!

Pada saat itu si sopir taksi tersenyum membayangkan keberuntungannya. Dia tidak menyadari ada sekelebatan bayangan yang semakin lama semakin mendekat.

BLETAAAKK!!

"Uuooogghhhh!!!" Si sopir taksi tersentak hanya untuk mendapati keningnya dihantam telak oleh sesuatu yang membuat darah mengucur darinya. Kepalanya seketika itu juga pusing dan lututnya goyah. Namun dia masih menyadari benda yang menghantam kepalanya adalah sepatu hak tinggi berwarna putih. Beberapa detik kemudian, sopir taksi itu roboh dengan wajah bersimbah darah.

"Semaput lo!" Sosok yang melempar sepatu berjalan terpincang dikarenakan sebelah kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi itu. Mendekati dua sosok yang terkapar itu, sosok yang bukan lain adalah Linda itu berjongkok dan memakai sepatunya kembali.

Setelah membaringkan Henny di tempat yang aman, Linda menyeret tubuh si sopir taksi dan menidurkannya kembali di belakang kemudinya. "Met bobo ye, dasar hidung belang!"

Sebuah geplakan masih diberikan di kepala si sopir sebelum akhirnya dia menutup pintu dan berjalan menjauh.

Ketika Jen Piao kembali beberapa menit kemudian, dia menjumpai taksi yang tak lagi ada Henny di dalamnya. Saat menemukan si sopir taksi yang dalam keadaan pingsan, pemuda berbadan kekar itu semakin terkejut.

Dibukanya pintu taksi dan dibangunkannya si sopir taksi yang tertidur dengan wajah menelungkup di atas kemudia. Digoyangkannya pundak si sopir beberapa saat lamanya, hingga si sopir terbangun.

"Huahhh!! Hantu!!!" Jen Piao terlompat saat melihat wajah si sopir yang bersimbah darah hampir keseluruhannya dan sepasang matanya yang mendelik kesakitan karena luka benjut di keningnya.

"Aku bukan hantu..." Ujar si sopir beberapa saat kemudian.

"Kirain aku Bapak sudah mati."

"Mau nyumpahin aku mati?" Si sopir mengaduh kesakitan sambil mengelus benjol di keningnya.

"Jidatnya kenapa, Pak? Kejeduk setir mobil ya?!" Tanya Jen Piao . Saat itu dia baru menyadari sesuatu.

"Kemana gadis itu, Pak?"

Sopir taksi terhenyak. "Aku... Aku tak tahu..."

Sebuah tepukan di pundak Jen Piao membuat pemuda itu terlompat. Saat dia melihat ke samping, dia mendapatkan seorang gadis berdiri disana.

"Henny..." Jen Piao menatap heran kepada gadis di hadapannya. Tampak pakaian kantornya acak-acakan, rambutnya berantakan, lusuh di sekitar badannya.

Spontan, Jen Piao memegang pundak Henny dan bertanya. "Apa yang terjadi padamu?"

Sepasang air mata Henny menetes. Dengan bibir bergetar, dia mencoba berkata. "Aku... Aku..."

"Diperkosa?!" Jen Piao memotongnya.

Si sopir taksi terkejut dan mengungkupkan tangannya. "Waduh... Mudah-mudahan bukan gua nih pelakunya. Ya, Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini..."

Henny mengangguk.

"Hah?!" Jen Piao tersentak dan melirik ke arah si sopir taksi. Dia sempat melihat tangannya yang mengungkup berdoa, namun perhatiannya lebih tertuju kepada Henny. "Siapa pelakunya?"

"Dia!" Henny menunjuk ke arah si sopir yang membuat si sopir terbelalak. Jen Piao tak kalah terbelalaknya.

"Kurang ajar!" Jen Piao menggeram dan menarik kerah baju si sopir.

"Bukan... Bukan... Aku cuma..." Si sopir terkejut bukan kepalang saat itu.

PLAKK!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi si sopir.

"Aoooww!!! Ampunnn!! Ampunnn!!" Si sopir mengerang kesakitan. Tangan Jen Piao masih terangkat ingin melancarkan pukulan lagi, saat sebuah tepukan membuatnya menengok.

"Aku belum selesai bicara. Maksudku..." Henny melanjutkan. "Dia tadi menolongku..."

"Hah!!" Jen Piao tersentak mendengar perkataan Henny. Lebih terkejut lagi saat menyadari si sopir sempat terkena hajarannya. "Wadduuhhh!!"

"Pelakunya..." Henny terdiam sesaat.

"Siapa?" Tanya Jen Piao.

Sesosok bayangan berkelebat di depan kebun kosong yang tak jauh dari mereka berada itu.

"Itu! Orangnya masih disana!" Henny menunjuk ke sekelebatan sosok itu.

Jen Piao menoleh ke arah yang ditunjuk. "Kalau begitu, kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana! Akan kubereskan orang itu!"

Setelah berkata begitu, Jen Piao berlari mengejar sosok bayangan itu.

Sepeninggal Jen Piao, si sopir taksi menghela nafas lega. "Huff... Neng... Bikin kaget saja!"

"Kaget ya, Mas?" Ujar Henny membalas tatapan si sopir taksi.

"I... Iya... Kaget..." Si sopir taksi mengelus dadanya yang masih berdetak kencang itu.

"Sebentar lagi Bapak malah akan jantungan..." Henny berkata.

"A... Apa maksud Neng?!" Si sopir menengok.

CLETTAAKKK!!!

"Aaaooowwww!!" Si sopir hanya sanggup menjerit saat keningnya kembali mendapat hantaman hak sepatu tinggi dari gadis di depannya. Sambil mengelus keningnya yang kesakitan, sopir itu mencoba berkata. "Ke... Kenapa?"

"Kenapa?!" Henny yang bukan lain adalah Linda yang menyaru dalam pakaian gadis itu saat si gadis telah pingsan itu, mengangkat sepatunya.

"Ampun... Ampun..." Si sopir mengangkat tangannya. "Jangan pukul lagi!"

"Bener nih ampun??" Linda mengangkat sepatunya.

"Jangaannnn..." Lengan kanan si sopir terangkat melindungi wajahnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Sepatu itu. Ba... Bagaimana mungkin??"

"Apanya yang tidak mungkin?" Linda berkata.

"Bu... Bukannya Neng tadi..." Si sopir tak dapat melanjutkan kata-katanya.

"Aku pingsan tapi masih bisa memukul? Begitu?" Linda terkekeh. "Heh! Ketahuilah! Tak ada yang tidak mungkin bagi Detektif Koko..."

"Detektif Koko?" Semakin bingung si sopir dibuatnya.

BAGIAN 10

VERA DAN JEN PIAO

"Berhenti!" Jen Piao berteriak sambil mengejar sosok yang ditunjuk oleh Henny itu. Sementara sosok yang dikejarnya tampak gesit berlari menuju ke kebun kosong di depannya.

"Sial! Cepat banget larinya! Macam lutung aja!" Jen Piao mengumpat kesal karena mulai kehilangan buruannya.

"Kok dia panggil gue lutung?" Rupanya makian Jen Piao cukup keras untuk didengar oleh sosok di depannya. Sosok itu berhenti dan membalikkan badannya.

"Kalo gue lutung, terus lu apa? King Kong ya?" Sosok itu membungkukkan badannya dan menirukan gaya King Kong berjalan. "Ngukkk ngukkk..."

"Kurang ajar!" Jen Piao mengangkat tangannya. "Udah memperkosa Henny, sekarang pakai ngatain aku King Kong lagi..."

"Lah situ katain aku lutung..." Sosok itu masih bertingkah seperti halnya seekor King Kong, bergerak dengan badannya yang berat.

"Kurang a..." Pukulan Jen Piao sedikit lagi akan mendarat di wajah sosok itu, saat dia menyadari sesuatu yang aneh. "Lho..."

"Lho, kenapa berhenti, Kong?" Tanya sosok itu.

"Kamu... Kamu wanita?" Jen Piao terbelalak saat melihat dada membusung di balik kaos kuning tersebut. Pusar yang terlihat dan pinggang yang tak tertutup. Celana pendek jeans yang memperlihatkan pahanya yang berbulu halus.

"Ya... Aku wanita... Lutung wanita... " Sosok yang bukan lain adalah Vera itu meloncat ke kiri dan ke kanan seperti layaknya lutung. Sepasang dadanya naik turun mengikuti loncatannya itu.

Tingkahnya membuat Jen Piao tertawa juga. "Jangan-jangan kamu lutung wanita permak..."

"Hah!!" Vera berhenti melompat. "Enak aja! Lutung ya lutung. Wanita ya wanita. Mana ada lutung wanita permak!"

"Kamu kan yang memperkosa Henny?" Mendadak Jen Piao menjadi serius. "Lalu kamu bersembunyi di balik tubuh lutung, eh wanita ini?"

"Apa katamu?!" Ucapan Jen Piao membuat telinga Vera memanas.

"Masih tak mau mengaku?!" Suara Jen Piao meninggi. "Jangan sampai kau kutelanjangi disini!"

"Waduhh! Aku mau ditelanjangi?!" Sepasang tangan Vera spontan bergerak menutupi selangkangannya. Hal mana membuatnya tersentak beberapa detik kemudian.

"Ehhh..." Menyadari kesalahannya, Vera menggerakkan tangannya menutupi dadanya yang membusung indah itu. Bibirnya cengengesan menatap Jen Piao yang menatapnya dengan pandangan melotot.

Namun perbuatan itu ternyata cukup menyita perhatian Jen Piao. Pria berbadan kekar itu mendekat dan mencekal lengan Vera.

"Aku tahu kau ini wanita permak! Mataku tak bisa dibohongi!" Ucapan Jen Piao terdengar dingin. Vera mendadak mengucurkan keringat dingin menyadari bahaya di depan matanya.

Pada saat yang bersamaan...

Linda tampak tersenyum puas karena berhasil menggertak si sopir taksi. "Belum tahu kan siapa itu Detektif Koko?"

"Makanya gauls, gauls..." Linda berkata dengan menggunakan logat J-Co kekasihnya. Sepasang matanya menangkap sebuah angkot yang menepi dan tiga orang lelaki tampak turun dari dalamnya.

"Itu dia!" Salah seorang berkata dan menunjuknya. Linda terhenyak menyadari dirinya yang menjadi target penunjukkan itu.

"Apaan ini?" Gumamnya. Otaknya berputar cepat. "Itu kan angkot. Jangan-jangan..."

Sebelah tangannya yang masih memegang sepatu hak tinggi memakaikan sepatu itu ke kakinya lagi. Sambil matanya tak lepas mengamati ketiga pemuda bertampang berandal yang kian mendekatinya. Entah mengapa, nyalinya mendadak menjadi ngilu.

"Bahaya!" Linda berkata kepada dirinya sendiri. Dia mengambil ancang-ancang dan bersiap kabur dari tempat itu.

"Neng... Mau kemana?" Si sopir taksi masih sempat bertanya saat melihat Linda mulai beranjak dari tempat itu. Dalam keadaan panik seperti itu, Linda tak terpikir untuk naik ke dalam taksi, namun melarikan diri adalah jalan yang terbaik. Hanya satu tempat yang akan ditujunya! Dan itulah yang dilakukannya.

"Dia lari!" Seru satu dari ketiga pemuda angkot itu. "Kejar!"

BAGIAN 11

KUTUNGGU KAU DI PINTU ANGKOT

Linda sudah terbiasa berlari dengan menggunakan sepatu hak tinggi, tak mengalami kesulitan berlari dengannya. Semua rencana yang dijalankannya menjadi berantakan seiring dengan munculnya tiga pemuda angkot itu.

Namun akalnya yang lincah itu tak membuatnya menyerah begitu saja. Linda berlari menuju satu tempat dimana dia merasa yakin akan mendapatkan keuntungan.

Ketika tiba di tempat itu, Linda melihat sahabatnya sedang tercekal lengannya oleh seorang pria berbadan kekar, yang bukan lain adalah Jen Piao adanya.

"Nih King Kong, tenaganya kuat juga..." Vera menggeram.

"Suaramu bukan suara feminim. Kamu pasti lelaki kan?" Tangan Jen Piao bergerak menjambak rambut Vera.

"Eits!" Mengetahui maksud dan upaya Jen Piao, Vera bergerak cepat. Lengan kanannya maju dan sepasang jarinya, jari telunjuk dan jari tengah, menancap tepat di lubang hidung Jen Piao.

JLEB!!!

"Ughhh!!" Tidak hanya sampai disana, Vera juga menarik jarinya ke atas mengakibatkan Jen Piao kelabakan karena nafasnya di hidung menjadi tertahan.

"Berhenti!" Suara yang berada di belakang mereka membuat keduanya tersentak. Bersamaan dengan itu muncul sesosok tubuh yang sudah sangat dikenal mereka.

"Henny?!" Jen Piao terkejut melihat kedatangan sosok tersebut.

"Linda?!" Vera sendiri tak kalah terkejutnya melihat kedatangan sahabatnya yang terengah-engah itu.

Menyadari keduanya memanggil satu orang dengan dua nama yang berbeda, Vera dan Jen Piao saling bertatapan satu sama lain, tanpa menyadari bahwa sepasang jari Vera masih menancap di lubang hidung Jen Piao.

"Itu dia!" Kembali teriakan terdengar.

"Mereka... Mereka itu..." Linda menunjuk ke tiga pemuda berandal itu. "Mereka pemerkosa Henny... eh... Maksudku yang mau memperkosaku di angkot..."

Walaupun dalam bahasa yang serba salah, namun baik Vera ataupun Jen Piao menangkap maksud yang diutarakan Linda alias Henny itu.

"Wah, tambah runyam nih..." Vera yang sepasang jarinya berada di lubang hidung Jen Piao terkesiap saat melihat kemunculan tiga orang tersebut.

"Apaan sih nih jari. Lepaskan!" Jen Piao bergidik sambil menarik lepas jari Vera yang menyangsang di hidungnya. Kepalanya berpaling ke arah munculnya tiga orang lelaki tersebut yang kini telah berada sangat dekat dengannya.

"Waduuuhhh..."

"Ihhh..." Vera langsung membersihkan jari-jarinya begitu lepas dari lubang hidung Jen Piao. "Badan aja digedein. Tapi joroknya nggak kira-kira. Upilmu segunung..."

"Akan kuurus kau belakangan..." Ujar Jen Piao menatapnya.

"Sama..." Vera menjawab.

"Lihat lelaki itu!" Salah seorang dari pemuda angkot itu berkata. "Badannya besar sekali!"

"Iya... Kita kabur saja yuk..." Sambung temannya.

Ketiganya sepakat dan mulai membalikkan badannya, saat menyadari bahwa mereka hanya mendapatkan diri mereka telah dikepung oleh sepasang Detektif Koko dan Jen Piao.

"Mau kabur kemana kalian?" Jen Piao berkata dengan suara menggelegar. "Apa yang telah kalian lakukan kepada Henny..."

Jen Piao menunjuk ke arah Linda.

"Dia Linda!" Vera berseru. "Bukan Henny!"

"Hah!" Jen Piao terkesiap. "Hen, namamu Henny kan?"

"Hah?!" Linda terkejut mendapat pertanyaan itu. "Aku Linda... Eh iya, aku Henny..."

"Hadooohhh...." Vera menepuk keningnya.

"Tak peduli siapapun itu..." Salah seorang dari mereka berkata. "Kita beresin aja si cowok."

"Ya, terus kita bersenang-senang dengan dua cewek ini..." Temannya menggosok-gosokkan telapak tangannya sambil tertawa.

"Ya, kita setubuhi mereka..." Timpal temannya yang satu lagi.

"Kurang ajar!" Jen Piao melayangkan pukulannya terlebih dulu ke arah salah seorang di antara mereka yang adalah si sopir angkot.

Pada saat yang bersamaan, dua teman si sopir bergerak hendak memeluk sepasang tubuh Linda dan Vera.

"Wow! Linda, kamu dengar nggak? Kita mau disetubuhi lho..." Vera berkata lalu tertawa terbahak-bahak. "Aku nggak salah dengar nih?"

Linda terkekeh menanggapi perkataan sahabatnya. Namun tertawanya tak bisa panjang karena lawan di depannya sudah membungkukkan badan dan hendak memeluk tubuhnya.

Vera masih tertawa terbahak-bahak saat lawannya maju menyerangnya. Tahu-tahu...

CPRUTT!!

"Uoohhh!!!" Sang lawan yang adalah kenek angkot itu terperangah karena wajahnya mendadak mendapat hamparan air hangat yang datang tiba-tiba. Air yang mendadak mengalir turun hingga ke hidungnya dan baunya membuatnya dia sadar.

"Air ludah!" Dia menghapus air yang mengalir di wajahnya itu. Ternyata Vera terinspirasi dari kekasihnya, kebiasaan Jeng Memei yang dikreasikan ke dalam jurusnya.

Melihat lawannya dalam posisi terkejut, Vera bergerak cepat menyambar ketapel yang ada di pinggang kanannya. Dengannya, dia memutar badannya setengah lingkaran dan tangan yang memegang ketapel itu bergerak menyambar.

DIESSHHH!!!

"Aaarrgghhh!!" Si kenek menjerit saat matanya terhantam ujung bawah ketapel yang menjadi senjata Vera. Kesakitan di matanya membuatnya termundur beberapa tindak ke belakang sambil memegangi matanya.

Pada saat yang bersamaan, Linda mendapatkan tubuhnya telah dipeluk oleh kenek yang duduk di belakang angkot pada saat Henny digoda itu. Keduanya jatuh terguling ke tanah kebun yang berumput.

"Kena kau!" Si kenek berkata sambil mencoba menciumi wajah Linda yang dikiranya adalah Henny itu.

"Gila!" Linda mengeluh. Matanya sempat melirik ke arah Vera yang telah melumpuhkan lawannya dengan bantuan kreasi kebiasaan pacarnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Oh iya!"

Lawannya semakin bernafsu ingin menikmati tubuhnya, tangannya telah bergerak meraba paha Linda dan mulai masuk ke dalam rok mininya.

"Wah, buas banget nih orang! Kalau sampai kepegang batangan gue, bisa kacau neh..." Linda menggerakkan tangannya. Sebuah inspirasi muncul di otaknya.

"Kalau Vera bisa pakai kebiasaan Jeng Memei, kenapa juga gua nggak bisa pakai kebiasaan J-Co?" Katanya dalam hati. Tangannya bergerak.

"Aaaaooohhhhhh!!" Sang lawannya menjerit dan roboh ke samping sambil pegangi wajahnya yang kesakitan. Kesempatan itu dipakai oleh Linda untuk berdiri.

Lalu dengan gaya melambai seperti layaknya seorang wanita, Linda berkata, "Makan tuh Jurus Cakar J-Co!"

"Hmm... Meni-pedi membuat kukyu-kukyu aqiu kyuat lho, beibh..." Sambungnya menirukan gaya kekasihnya.

Lawannya yang tercakar berniat bangkit kembali. Pada saat yang bersamaan, kaki kanan Linda bergerak.

DIIEESSHHH!!

"Aaaarrggghhhhh!!" Sang lawan menjerit keras saat dagunya terhantam oleh ujung hak sepatu di kaki Linda. Pandangannya seketika berputar-putar sebelum akhirnya dia jatuh pingsan tak sadarkan dirinya.

Pada saat bersamaan, Jen Piao pun sudah selesai membereskan lawannya. Tanpa perlu waktu lama, dia membuat lawannya terkapar tak berdaya di atas rumput kebun.

Jen Piao menepuk tangannya dan melihat ke arah Henny yang baru saja selesai merobohkan lawannya. Dengan tercengang, Jen Piao melihatnya tak berkedip.

"Ternyata Henny sadis juga ya..." Katanya. "Kalau begitu, untuk apa kamu membutuhkanku sebagai bodyguardmu?"

Pada saat yang bersamaan, Henny asli mulai sadarkan dirinya.

"Ini dimana?" Dia melihat ke sekeliling dan mendapatkan dirinya sedang bersandar di sebuah pohon besar. "Lho, kenapa aku bisa ada di kebun?"

Gadis itu berdiri dan mendapati keributan di depan matanya. "Ada apa itu? Kenapa pakaianku jadi begini?"

Melihat dirinya dia mendapatkan bagian atas badannya mengenakan kemben yang tidak dipakainya untuk pergi kerja hari itu. Langkahnya membawanya ke tempat dimana Detektif Koko dan Jen Piao berdiri.

"Jen Piao, kamu memanggilku?" Henny berkata saat mendengar namanya dipanggil.

Terkesiap oleh suara itu, Jen Piao menengok ke arah datangnya suara. Matanya terbelalak saat melihat kenyataan itu. "Henny?"

Kemunculannya Henny yang tiba-tiba membuat Jen Piao mengucek kedua matanya. "Perasaan mataku tadi nggak dipukul, tapi kenapa bisa ada dua Henny disini?"

Linda menghampiri Henny dan berdiri di sampingnya. "Ini Henny asli dan aku Linda, si Henny palsu..."

"Apa maksud dari semua ini?" Ujar Jen Piao, menggaruk kepalanya.

"Kalian siapa?" Henny asli berkata dalam kebingungannya. "Ada apa ini?"

Sepasang Detektif Koko saling bertatapan dan mengangguk.

"Ada kasus? Serahkan kepada kami, Koko Detektif!"

Linda berjalan bak seorang peragawati dengan tangan di pinggang, wajahnya berpaling ke samping dan berkata, "Linda."

Vera meletakkan lengan kirinya di pinggang dan lengan kanan membelai rambut palsunya yang berwarna hitam. Berjalan mendekati Linda, ditempelkannya punggungnya ke punggung Linda sambil berucap, "Vera."

"Kami Detektif Koko."

"Detektif Koko?" Henny dan Jen Piao bertatapan satu sama lain.

"Aku nggak sedang bermimpi kan?" Jen Piao berkata. "Mengapa sekarang ini banyak orang yang menjadi wanita permak hanya untuk sebuah profesi?"

Serial Detektif Koko (3): Kutunggu Kau di Pintu Angkot


TAMAT




Cerita dan karya asli: Kaz Felinus Li.

Semua karakter Serial Detektif Koko, telah mendapatkan ijin dan persetujuan dari para member HSG yang berhubungan.

Posted By: Kaz HSG

This story is the property of Heavenly Story Group.

Copyrights: ©HSG-December 2011

(Dilarang meng-copy dan memperbanyak tanpa ijin langsung dari penulis: Kaz Felinus Li. Pelanggar akan dikenakan tindak pidana).

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates