08/04/12

Serial Detektif Koko (1): Kasus Hilangnya Sendal Bolong

Serial Detektif Koko



Riwayat lahirnya serial Detektif Koko:

Berawal dari dibentuknya BBM HSG, semakin hari semakin banyak yang bergabung ke dalamnya. Tiada hari tanpa keramaian di BBM HSG. Dari pagi bangun tidur hingga malam menjelang tidur. Mungkin bisa dibilang itu Grup BBM paling ramai yang pernah ada. Canda tawa, hingga info dan motivasi. Benar-benar seperti HSG yang sebenarnya, dimana rasa kekeluargaan sangat erat sekali terasa.

Hingga pada suatu hari, salah satu member HSG berulang tahun. Kaz yang admin mengucapkannya melalui BBM. Tapi karena Kaz mengucapkannya bukan pada saat yang senggang, maka ada kesalahan pengetikan, dimana BBM ultah itu sebenarnya Kaz ambil dari BBM seorang teman yang bernama Linda yang dicopas dan dikirim kepada member yang berulang tahun itu. Dari sanalah muncul karakter Linda pada member kita ini.

Beberapa hari kemudian, member lain diberi nama Vera karena dipelesetkan dari nama sebenarnya. Akibat dari guyonan Linda yang semakin lama semakin menghangat. Plus canda tawa yang semakin banyak, hingga akhirnya Kaz mendapat inspirasi untuk menuangkannya ke dalam sebuah serial pelesatan dari serial Lina & Viska, yaitu Linda & Vera.

Berikutnya giliran 2 member yang berulang tahun berlainan hari dan keduanya berinisial HY. Disanalah kisah ini semakin berkembang. Plus Kaz sendiri mendapat imbas dari keisengannya menjodohkan sejoli HY dan pemunuculan karakter Linda & Vera. Oleh salah seorang dari mereka Kaz dipanggil Ko Koz.

Detektif Koko sendiri muncul dari kata Konyol dan Kocak. Dimana 2 episode perdana yang akan tayang ini tak lepas dari kekonyolan dan kekocakan dua detektif wanita Linda dan Vera, yang aslinya adalah laki-laki (member HSG sendiri).

Disanalah serial ini dimulai. Serial Detektif Koko: Linda & Vera, yang mengambil setting di Kampung HSG (Hunian Serba Gaduh) - HSG banget ya, yang selalu hyperaktif dalam eksistensinya - sebuah kampung yang dipimpin oleh Akoh Koz, juragan sesepuh kampung.

Para pemeran di Serial Detektif Koko (tokoh diambil dari member HSG yang dipelesetkan nama dan diberikan karakter khusus khas rekaan Kaz):

1. Kaz Felinus Li sebagai Akoh Koz, juragan sesepuh dan dedengkot kampung HSG.

2. Aan Gow sebagai Aan alias Ana Linda.

3. V-Ry Ng sebagai Very alias Vera.

4. Han Yo (sejoli HY)

5. Heni Yanz (sejoli HY)

6. Hayati Ling / Uchi Naru sebagai Mpok Yati, janda beranjing galak.

7. Mei Devin / Xiao Mei Mei sebagai Jeng Memei, si penjual kue keliling, pacar Very.

8. Hui Jenny sebagai Jennifer Collins alias J-Co, si cewek tajir, pacar Aan.

9. Kho Ling Hong, sebagai Honggo, si tukang ojek.

10. Henni Silviana , sebagai Henny, si sekretaris seksi.

11. Wenty Anggraeni, sebagai Reny, istri Hong.

12. David Lee, sebagai Dave, si kutu buku dan laptop berjalan.

13. Lynzz, si nenek cilik.

14. Jun Piau jadi Yen Biao, bodyguard Henny.

Dan karakter-karakter lainnya masih akan menyusul.

Serial Detektif Koko: Linda & Vera, disajikan dalam gaya bahasa yang luwes dan menarik. Semoga terhibur.

Salam HSG

**************************

Serial Detektif Koko (1): Kasus Hilangnya Sendal Bolong

EPISODE 1:

Kasus Hilangnya Sendal Bolong

BAGIAN 1

MALING??

Kampung HSG, Hunian Serba Gaduh...

Sebuah kampung yang berisi mayoritas etnis Tionghoa dengan kehidupannya yang bila tak mau dibilang unik, bisa dikatakan aneh. Setiap individu penghuni kampung HSG memiliki aktivitas yang unik. Kampung yang dipimpin oleh seorang pemuda bermata sipit, berbadan tinggi dan rada gempal. Dia dikenal dengan nama Akoh Koz.

Suatu keunikan Kampung HSG yang membuat kampung tersebut dijuluki dengan nama Hunian Serba Gaduh adalah tidak pernah tidurnya kegiatan para penghuni kampung walau jam malam sekalipun. Selalu saja ada warga Kampung HSG yang membuat kehebohan yang menyebabkan Kampung HSG menjadi hunian yang serba gaduh. Seperti kejadian pada hari itu...

Sekitar jam 4 pagi...

"Hoaammm..." Aan membalikkan badannya yang sedang dalam posisi terlentang di atas sebuah tempat tidur yang dipakai untuk berdua. Kaki kanannya terjulur panjang seiring dengan menguapnya dia dan berpindah posisi.

BRUKK!!

"Adaaooww!!" Sebuah suara jeritan terdengar.

"Sial, An!" Seorang pemuda berambut acak-acakan mengusap kepalanya yang jatuh menghantam lantai itu. Posisinya yang kini sudah bangun terduduk, tangannya menepuk punggung Aan yang membelakanginya. "Woii! An!"

PLAKK!!

"Aiiidduuuiiii..." Dengan mata yang masih sipit kecil, Aan membalikkan badannya. "Apaan sih, Ver? Nggak tau ya kalo gue lagi asik tidur?"

"Emang lu aja yang mau tidur, gue juga mau." Pemuda yang adalah Very memprotes. Sebelah tangannya masih memegang bantal guling yang turut jatuh bersamanya.

"Ngapain lu di bawah?" Setelah sekian lama, baru Aan menyadari posisi temannya itu.

"Ngapain lagi? Cari kecoa!" Very masih mengumpat kesal. "Nggak tau tuh siapa yang tidurnya pake main silat segala. Kalau silatnya ban hitam sih nggak apa-apa..."

Tangannya yang sedang memegang bantal guling terangkat dengan guling di genggamannya. "... ini sih bukan ban hitam, tapi bantal!"

Aan yang digebuk bantal oleh sahabatnya itu tertawa lebar sambil mengangkat tangannya menghindari bantal yang dipegang Very. "Sori deh sori... Gue tadi mimpi dapat tendangan pinalti..."

"Lu kira gue bola!" Very merengut kesal.

SREEKK!! GUSRAKK!!

"Bentar!" Aan mengangkat tangannya menahan bantal yang dipukulkan Very kepadanya. "Lu dengar itu nggak?"

"Apaan?" Very menghentikan tangannya yang memukul Aan dengan bantal guling itu. Dipasangnya telinganya.

SREEEKKK!!

"Iya..." Very mengangguk. Suaranya berbisik. "Ada sesuatu..."

"Tikus bukan?" Aan bangun duduk di pinggir ranjang dan menurunkan kakinya.

"Bukan. Ini suaranya dari luar kok..." Very mengambil posisi merangkak dan memasang telinga di dinding yang memang terbuat dari papan itu.

"Woii!! Itu ruang tamu!" Aan menggeplak pundak Very. "Itu suaranya dari halaman..."

"Oh iya..." Menyadari kesalahannya, Very pun berdiri seiring dengan Aan yang juga telah berdiri.

GUSRAKKK!!

"Wah..." Aan dan Very, keduanya telah melangkah keluar kamar dan berjalan mengendap-endap.

"Jangan-jangan..." Aan berbisik.

"Gue juga pikir gitu..." Very menanggapi.

"Maling..." Aan menoleh dan hendak menekan saklar di dinding.

"Jangan!" Very melarang. "Nanti dia kabur!"

"Kita tangkap nih?" Tanya Aan.

Very mengangguk. "Kita kan detektif. Masa cuma maling aja nggak bisa sih?"

"Hmm..." Aan bergumam. Kakinya bergegas mengenakan sandal yang berada di ruang tamu. Gerakannya diikuti oleh Very.

"Gue buka pintunya..." Very berbisik. "Terus lu langsung keluar ya begitu gue buka. Oke?"

Aan mengangguk. Matanya memperhatikan sahabatnya yang memutar kunci dengan perlahan, menghindari suara. Disusul dengan ditekannya gagang pintu ke bawah.

"Satu..." Very berbisik. Tangannya menekan gagang pintu lebih ke bawah.

"Dua..." Tangannya mulai menarik gagang pintu.

"Tiga!" Begitu Very berteriak, Aan sudah meloncat keluar halaman dan mencari sumber suara tersebut.

SREKK! SREEKKK!

"Hei! Apa itu?!" Tangannya menuding ke arah suara yang membuatnya berpaling. Matanya masih belum terbiasa dalam gelap, hanya mengandalkan pendengarannya saja.

GUSRAKK!! GUSRAKKKK!!!

Very melompat keluar tepat pada saat yang bersamaan sepasang matanya menangkap sesosok tubuh yang berkelebat menjauh dari tempat itu.

"Maling!" Teriak Very. Kakinya sudah bergerak saat itu.

"Dia kabur!" Aan ikut berteriak dan bersiap berlari.

"Kejar! Jangan sampai dia lari!" Very mengambil inisiatif terlebih dulu dan bergerak mengejar sosok yang dicurigainya itu.

Detik berikutnya, tampak sesosok badan manusia berlari di kegelapan malam dan keremangan pagi, menghindari kejaran dua anak manusia yang berlari sambil berteriak. Anehnya, walaupun sempat berteriak, namun tak ada satupun warga yang keluar untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung itu.

"Gila! Larinya cepet banget!" Aan berkata dalam nafasnya yang ngos-ngosan. "Anak setan kali ya?"

"Kalo anak setan udah nggak lari gitu kali..." Very mengomentari. "Tuh, dia mau melewati perbatasan!"

Kampung HSG memang berbatasan dengan kampung Permai. Batas daerah keduanya ditandai oleh sebuah hutan kecil berukuran sedang dan dipenuhi pohon-pohon di sekelilingnya.

"Gue udah liat..." Entah apa yang membuat Aan melesat lebih cepat daripada larinya sebelumnya. Pemuda itu sepertinya berniat menangkap sosok mencurigakan itu mendahului sahabatnya.

"Wih..." Very masih terbengong melihat kecepatan lari sahabatnya itu. Harus diakuinya, dirinya kini tertinggal beberapa meter di belakang dan jarak Aan dengan sosok mencurigakan yang mereka anggap maling itu, kini hanya tersisa sekitar 4 meter.

"Kena lu, maling!" Aan berlari kencang tanpa memperhatikan lagi keadaan sekeliling. Targetnya hanya satu: menangkap si maling.

SWINGGG!!

BRUKK!! GUBRAKKK!!!

"Aaaiidduuuiiiii!!" Tahu-tahu Aan mengeluh dan tubuhnya yang tadi melesat kencang, kini justru terbaring di jalanan dengan kedua kaki terangkat menyangsang di udara. Tampak sesuatu yang berwarna hitam melayang bersamaan dengan jatuhnya Aan.

"Jiaaahhhh!!" Very yang telah tiba di tempat Aan terjatuh hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sahabatnya jatuh karena menginjak kulit pisang yang kini menemplok di wajah sahabatnya.

"Pisang sialan!" Aan mengumpat sambil mengambil kulit pisang dari wajahnya dan membantingnya ke samping.

"Serahkan padaku!" Very masih terus berlari mengejar si maling. "Akan kutangkap maling itu!"

Berlari dalam jarak yang cukup dekat dengan si maling, Very mengambil ancang-ancang. Tahu-tahu langkahnya berhenti dan...

HUPPPP!!

Very melompat untuk menyergap si maling. Sosok yang dikejar menengok ke belakang dan melihat dirinya akan disergap. Terbelalak, maling itu mempercepat langkahnya.

GABRUKKK!!!!

"Ooowwwww!!" Very menjerit saat sergapannya gagal karena si maling mengetahuinya. Namun begitu, tangannya masih sempat menjangkau kaki kanan si maling.

"Kena lu!" Very berteriak dan mencoba meraih kaki kanan buruannya.

Menyadari kakinya yang terpegang, si maling panik. Dengan berhenti dan menendang kecil, dia berhasil melepaskan dirinya dari pegangan tangan Very. Begitu melihat pegangannya terlepas, si maling meneruskan larinya.

"Apaan neh?!" Very yang tangannya berhasil menarik sesuatu dari kaki si maling, mencoba memperhatikan lebih jelas lagi apa yang didapatnya itu.

Dalam keadaan tertelungkup, Very memperhatikan lebih cermat benda yang ada di genggamannya. Tepat pada saat yang bersamaan, Aan mendekat.

"Nah, lu aja gagal kan?" Sambil cecengesan, Aan berjongkok di depan sahabatnya yang masih menelungkup itu. "Nggak salah kan kalo gue dia bilang anak setan!"

"Anak setan! Kalo emang bener anak setan, nggak mungkin pake ini kaleeee!!" Dengan mengumpat kesal, Very membanting benda yang sedari tadi dipegangnya itu.

Aan mengambil benda yang dilempar Very itu. Matanya memperhatikan dengan seksama. Sebuah benda yang baginya adalah petunjuk yang ditinggalkan si maling.

"Sendal bolong?" Ujar Aan sambil mengernyitkan keningnya.

BAGIAN 2

MALING LAGI??

"Ini petunjuk!" Aan berkata sambil memperhatikan Very duduk berdiri dan menepuk-nepuk bajunya di bagian dada, kotor akibat terjatuh gagal dalam penyergapannya.

"Maksud lu?!" Tak banyak suara yang Very keluarkan dari mulutnya saat itu.

"Dia kan anak kampung sebelah tuh." Aan melanjutkan. "Nah, gimana kalo kita cari tahu dari petunjuk ini?"

Diacungkannya sendal sebelah kanan yang berlobang di bagian tengahnya itu.

"Sendal bolong?! Mau ngapain lu cari sendal bolong?" Very mengerutkan keningnya.

"Kalo bener dia anak kampung sebelah, kita pasti bisa ketemu sendal sebelahnya dong." Aan berkata. "Kalo udah ketemu, berarti kita bisa tahu siapa malingnya."

"Bener juga!" Very menatap Aan sambil tersenyum. "Tumben otak lu jalan!"

"Otak gue sih nggak jalan, emangnya otak gue ada kaki..." Celetuk Aan.

"Ayo, kita cari di kampung sebelah!" Very menepuk pundak Aan dan mengajaknya melangkah.

"Masih pagi neh, masih bisa cari-cari..." Kata Aan.

"Bener..." Very menghampiri rumah yang paling ujung dari batas gerbang yang dimasukinya. Melirik ke kanan kiri sesaat, kepalanya lalu melongok ke dalam pekarangan rumah tersebut.

"Gue di rumah depan ya..." Aan berkata sambil berjalan menuju rumah di seberangnya. Dengan celingukan mengikuti gaya Very, Aan pun melongok ke pekaragan setiap rumah yang didatanginya.

Baru beberapa rumah dilewati oleh keduanya dan itupun masih belum memperoleh hasil, ketika dari arah tak jauh, keduanya mendengar suara.

"Hei! Sedang apa disitu!" Suara yang membuat Aan dan Very menengok dengan wajah pucat.

"Mau maling ya?!" Seru suara orang kedua dari tiga orang yang ternyata sedang patroli siskamling.

"Malingggg!!!" Orang ketiga berteriak lebih cepat mendahului kedua temannya. Suara teriakannya membuat Aan dan Very yang telah berwajah pucat, kini semakin memutih pucat wajahnya.

"Gawat!" Very dan Aan berseru bersamaan. Secara bersamaan pula, keduanya membalikkan badannya.

"Mereka kabur! Kejar!"

Saling bertatapan sejenak, Very dan Aan kemudian mengambil langkah seribu menuju gerbang Kampung Permai. Keduanya berlari secepatnya, menghindari kejaran warga Kampung Permai yang mulai keluar begitu mendengar suara teriakan.

"Gilaaa!! Mimpi apa gue tadi?!" Aan berseru dalam larinya. "Dikejar-kejar warga kampung sebelah..."

"Mimpi ditendang masuk got!" Celetuk Very yang rupanya masih kesal itu. Wajahnya melirik ke belakang. "Banyak banget yang ngejar..."

"Kita pencar aja..." Kata Aan. "Gue ambil kiri. Lu terserah mau ambil mana..."

Begitu selesai berkata, Aan melesat cepat meninggalkan Very yang berlari terbengong-bengong. Namun menyadari kejaran warga semakin mendekat, dia hanya bisa mempercepat larinya saat itu.

Kejaran warga kampung sebelah semakin mendekat. Very semakin merasa kepanikan dan dalam pelariannya, hanya satu tempat yang menurutnya aman dari pengejaran. Kakinya berlari ke tempat yang kini ada di pikirannya.

Begitu tiba di tempat tersebut, spontan tangannya terangkat dan mengetuk pintu rumah yang ditujunya. "Akoh Koz... Akoh Koz... Tolonggg... Tolonggg...."

Tangannya tak henti-hentinya mengetuk pintu dan suaranya juga tak berhenti memanggil. Beberapa detik kemudian, pintu membuka. Nyaris saja tangan Very mengenai wajah orang yang membukakan pintu itu kalau saja dia tidak menahannya.

"Ada apa ini?" Seorang lelaki berbadan tinggi dan rada gempal, dengan sepasang mata sipit menatap Very.

"Akoh... Tolong aku, Koh... Aku dikejar-kejar warga kampung sebelah, Koh..." Very yang masih mencari nafas itu mencoba menjelaskan kepada si pemilik rumah, yang dikenal dengan nama Akoh Koz, sesepuh dan dedengkot kampung HSG.

"Wah, wah... Masih pagi, tapi sudah bikin gaduh..." Akoh Koz membukakan pintu. "Kalian berdua ini tak ada bedanya. Ayo masuk!"

"Terima kasih, Koh..." Very melangkah masuk ke dalam rumah Akoh Koz dan matanya terbelalak melihat seseorang yang juga menatapnya dengan tatapan melotot. "Lho, Aan?"

"Very?" Seseorang yang bukan lain adalah Aan itu hanya bisa melongo dan melongo.

BERSAMBUNG

BAGIAN 3

DETEKTIF KOKO

"Aan dan Very..." Akoh Koz berkata. Setelah tak menemukan sasaran pengejaran, warga kampung Permai kembali pulang ke wilayahnya. "Sudah tiga bulan menjadi Detektif kampung HSG..."

"Namun selama ini kalian belum pernah berhasil sekalipun kan?" Tambah Akoh Koz. "Hari ini, mau nangkap maling saja, gagal. Ibarat orang bekerja, tiga bulan kalian sudah dipecat!"

"Penjahat sekarang ternyata lebih pintar dari yang kita duga, Koh..." Aan berkata.

"Iya, Koh..." Very menimpali. "Licin seperti belut."

"Bukan begitu!" Akoh Koz duduk mempelajari wajah keduanya. "Kalian kurang akal dalam menghadapi penjahat."

"Maksudnya, Koh?"

"Aan dan Very, Detektif Kampung HSG." Akoh Koz melanjutkan. "Bagiku, kalian tak ubahnya seperti Detektif Koko..."

"Detektif Koko?" Aan dan Very berpandangan satu sama lain.

Sebagai seorang sesepuh, setiap perkataan Akoh Koz akan didengarkan warga kampung HSG.

"Ya, Detektif Konyol dan Kocak. Tapi hasilnya nihil." Ujar Akoh Koz.

"Lalu kami harus bagaimana, Koh?" Aan menggaruk kepalanya.

"Kalian lihat itu Charlie's Angels. Kenapa mereka bisa berhasil sebagai tim detektif?"

"Karena mereka hebat..." Sahut Very.

"Dan pintar..." Sambung Aan.

"Bukan." Akoh Koz menatap keduanya. "Mereka sukses karena mereka wanita."

"Wanita?" Aan dan Very kembali berpandangan satu sama lain.

"Ya, wanita." Akoh Koz mengangguk. "Detektif wanita tak kalah dengan detektif pria, malah lebih sukses dibanding yang laki-laki."

Aan dan Very tak bersuara.

"Itu karena kodrat mereka sebagai wanita." Akoh Koz melanjutkan. "Cantik, seksi, juga pintar. Jadi mereka lebih mudah mendapatkan info yang diinginkan dengan memanfaatkan kelebihan mereka ini."

Akoh Koz berkata lagi, "Lihat tuh Charlie's Angels. Terkenal kan? Hebat kan? Itu karena mereka wanita. Dimana-mana yang namanya wanita itu orang nggak akan curiga kalo dia sebenarnya mata-mata, apalagi detektif. Dia bisa dengan mudah menyamar. Dalam kasus tertentu, orang lebih menyukai wanita sebagai penyelesai masalah dibanding pria. Jadi kalo mau berhasil jadi detektif, kusarankan jadilah detektif wanita seperti Charlie's Angels."

"Jadi kami harus jadi detektif wanita?" Aan menatap sahabatnya. "Tapi, kami kan laki-laki tulen, Koh..."

"Iya, Koh." Very menimpali. "Bagaimana caranya kami bisa jadi Charlie's Angels, eh maksudku, jadi mereka, detektif wanita?"

Akoh Koz tertawa lebar mendengar pertanyaan kedua anak muda energik penghuni kampungnya itu. "Lah, kalian kan masing-masing ada pacar kan?"

Aan dan Very mengangguk bersamaan.

"Siapa pacarmu?" Akoh Koz bertanya kepada Aan.

"Jenny, Koh. Jennifer Collins." Jawab Aan.

"Oh, Si J-Co, gadis tajir yang suka donat itu... Ya, ya, ya... tahu... aku kenal dia..." Akoh Koz berpaling kepada Very. "Lalu kamu, siapa pacarmu?"

Setelah terdiam beberapa detik, Very menjawab. "Jeng Memei..."

"Jeng Memei yang tukang kue keliling itu?"

Very mengangguk. Wajahnya agak memerah saat itu.

"Kalau begitu," Akoh Koz terdiam sebelum melanjutkan. "Tanyalah mereka bagaimana caranya menjadi wanita."

BAGIAN 4

ANA LINDA

"Hah? Meni pedi lagi?" Aan terkejut mendengar perkataan Jennifer Collins, gadis yang ditaksirnya. J-Co, begitu biasa dia dipanggil, adalah seorang gadis keturunan orang kaya, yang memilih tinggal di Kampung HSG, jauh dari rumah orang tuanya di daerah Sumatra. Sebagai mahasiswi di sebuah universitas terkemuka, juga sebagai seorang gadis tunggal yang kedua orang tuanya adalah orang kaya, J-Co sangat dimanja dengan fasilitas yang berlimpah.

"Bukannya baru 3 hari lalu meni pedi?" Aan menggaruk kepalanya. Saat itu sekitar tengah hari setelah peristiwa maling yang meninggalkan jejak berupa sendal bolong itu.

"3 hari kan juga lama, Beibh..." J-Co menjawab sambil memuntir rambut pirangnya. "Kamiu ikut ya, soalnya pulangnya aqiu mau ke mall dan kamiu bantu aqiu bawa belanjaan yach..."

"Lho??" Ternganga Aan mendengar permintaan pacarnya itu.

"Ya eyalah. Secara gitu loh. Aqiu habis meni pedi, harus dijaga. Kalau aqiu bawa berat-berat lagi, itu sama aja merusak kukyu-kukyu aqiu..." J-Co memperlihatkan kuku-kuku tangannya yang tertutup cat kuku mahal itu. Cincin emas dan gelang menghiasi kedua tangannya.

"Kukyu-kukyu..." Aan memonyongkan bibirnya dengan maksud mencibir, namun keburu terlihat oleh J-Co.

"Apa katamiu?" J-Co mendelikkan matanya.

"Oh, kubilang ayuk-ayuk...." Ujar Aan memonyongkan bibirnya kembali sambil membalas delikan kekasihnya. Begitu melihat J-Co melirik ke arah lain, Aan menghembuskan nafas leganya. "Slamet, slamet..."

"Yuks, Beibs... Nanti kesiangan, rame lho salonnya..." J-Co mengambil kunci yang terletak di atas meja dan menyerahkannya kepada Aan yang menerimanya dengan sikap ogah-ogahan.

"Oh iya, dia mau ke mall ya..." Aan menjentikkan jarinya saat duduk di belakang kemudi mobil Audi milik J-Co. "Disana aku bisa belajar juga bagaimana menjadi seorang wanita, seperti pesan Akoh Koz itu..."

Sekitar setengah jam di antaranya, Aan dan J-Co telah berada di salon langganan gadis tajir itu. Pada awalnya Aan berniat untuk menunggu sambil membaca majalah di salon tersebut, namun perhatiannya saat itu lebih tertarik kepada seorang pelayan baru disana.

"Mas..." Aan memanggil pelayan tersebut di saat J-Co sedang berada di ruangan dalam meni-pedi.

"Enak aja Mas! Kalau panggil tuh liat-liat dong!" Pelayan baru itu mengomel. "Nggak liat ye kalo body eike nih...."

Diangkatnya kedua tangannya ke atas dan digoyangkannya pinggulnya sesaat. "... singset gini, boww..."

"Eh, maaf... Mbak..." Aan menutup mulutnya yang ingin meledak tertawa itu.

"Jeng, bukan Mbak..." Pelayan itu melambaikan tangannya yang berbulu di depan wajah Aan dengan gerakan gemulai.

"Eh iya deh, Jeng..." Ujar Aan. "Kayak Memei aja pake Jeng..."

"Memei, siapa tuh Memei?" Pelayan yang melambai itu kembali memperagakan gaya gemulainya.

"Ohh... Temenku..." Sahut Aan. Dalam hati dia mengomel, 'Mau tau aja lu urusan orang...'

"Eheeemmm... Jeng..." Aan berkata kembali.

"Kenape? Gatel ye manggil-manggil?"

"Aihhh, gatelll..." Aan menutup mulutnya. "Kalo gatel ya digaruk, Jeng..."

"Lah, habis situ manggil-manggil... Dah tau nih.... Eike tuh lagi sibuk... buk..."

"Namanya Jeng siapa?" Tanya Aan yang sudah tak tahan menahan tertawanya yang ingin segera meledak itu.

"Wati. Lindawati..." Bencong itu menjawab. "Situ?"

"Ana... Ehh... Aan..." Jawab Aan yang ujung-ujungnya merutuk diri sendiri. 'Jiaahhh... Bisa keceplosan gini bilang nama sendiri Ana. Ini sih, pake melambai segala kalo ngomong...'

"Ganteng-ganteng, namanya Ana..." Si bencong mengelus dagu Aan yang membuat pemuda itu bergidik sesaat.

"Aan... A-An... Bukan A-na..." Sahut Aan.

"Owww... Aan..." Si bencong mengerdipkan matanya. "Boljug tuh namanya..."

"Boljug?"

Mata Aan melirik si bencong Wati di depannya. Dengan pakaian terusan berwarna kuning menyala dan paduan sepatu yang berujung lancip, plus aksesoris ringan, membuat wanita jelmaan lelaki itu tampil feminin.

'Hmmm... Apa yang begini ini yang dimaksud oleh Akoh Koz ya??' Gumam Aan dalam hatinya. 'Seksi juga nih si Jeng Wati...'

"Ana... Eehhh Aan..." Jeng Wati bersuara. "Eike dipanggil tuh... Udah dulu yachhhh..."

Belum sempat Aan menjawab, Jeng Wati telah pergi meninggalkannya dengan lenggokan yang bisa membuat vas bunga jatuh terkena senggolannya.

"Ana... Linda..." Gumam Aan. "Hmm... Apa gue ganti nama aja ya jadi Ana Linda?"

Terdiam sesaat. "Tapi kok kalo dipikir-pikir nama gue kayak anakonda ya?"

"Wew... Biarin aja deh. Demi karir detektif gue... Ana Linda pun harus siap lahir..." Aan bergumam lagi sambil melanjutkan membacanya. "Tapi tuh sepatu lancip banget ya? Apa nggak sakit tuh pake selancip itu? Kasian jari kaki gue dong nanti??"

"Ahh... Nanti aja deh gue tanya J-Co, dia pasti mau ajarin gue..." Lanjutnya. "Dia kan tau gue jadi detektif Kampung HSG. Gue rasa dia juga pasti dukung gue jadi Detektif Koko..."

BAGIAN 5

VERA

"Detektif Koko?" Memei mengernyitkan keningnya mendengar penuturan Very kepadanya.

Very mengangguk.

"Ya, Detektif Koko." Sahut Very sambil membalas tatapan pacarnya. "Detektif Konyol dan Kocak. Katanya kalo mau sukses, kami berdua musti jadi detektif wanita."

"Begitu ya?" Kembali Memei mengernyitkan keningnya. "Terus?"

"Terus..." Very menghembuskan nafasnya. "Ajarin aku dong bagaimana caranya menjadi wanita!"

"Hahh!" Memei terbelalak mendengar permintaan kekasihnya. Tawanya meledak dalam hitungan sepersekian detik.

Diketawai seperti itu, membuat Very cukup kesal juga. Setelah kekasihnya berhenti tertawa, Very menatapnya dengan tampang kesal. "Udah ketawanya?"

Baru saja Memei berhenti tertawa, saat melihat wajah Very, kembali tertawanya meledak. Bahkan tanpa dapat dihindarinya, air liurnya menyembur keluar saat dia tertawa ngakak itu. Air yang mendarat indah di depan hidung Very.

Setelah peristiwa ditendang dalam tidurnya oleh Aan, ditambah gagal mendapatkan buronannya dan malah mendapatkan sendal bolong, kini ditertawakan oleh pacarnya, membuat kekesalan Very memuncak.

Air liur yang mengalir di hidungnya, dihapus dengan sekaan lengannya. Saat itu Very mengira lengan bajunya bisa menyeka liur tersebut, namun dia lupa kalau saat itu dia sebenarnya sedang memakai kaos tanpa lengan. Akibatnya liur di hidungnya berpindah ke lengannya.

"Udah dong, Mei..." Kesal dengan air liur yang menempel di lengannya, Very memegang lengan kekasihnya yang masih terpingkal-pingkal itu. "Ajarin ya. Aku udah tak tahan ini mau menghajar tuh maling dalam bentuk badan wanita..."

"Bentuk badan wanita?" Memei menatapnya. "Aku sih bisa saja mengubah penampilanmu menjadi wanita, tapi yang satu itu..."

Ketawa Memei kembali meledak. "Yang satu itu tetap laki-laki..."

Mendengar komentar pacarnya, Very menunduk dan melihat ke bawah. "Benar juga ya..."

"Tapi, Mei, biarlah..." Senyum Very tersungging juga menyadari kekonyolan itu. "Tak mengapa. Yang penting aku bisa menjadi wanita dan menghajar si maling sendal bolong itu..."

"Kalau itu maumu..." Raut wajah Memei berubah serius. "Aku akan membantumu. Kapan kamu harus siap?"

"Secepatnya. Kalau bisa nanti malam, Detektif Koko sudah harus muncul." Sahut Very.

"Begitu. Mudah saja." Jawab Memei. "Anggap saja aku sedang mengukus kue untuk beberapa jam."

"Akan kuubah penampilanmu menjadi Vera, detektif wanita yang kemayu sepertiku ini..."

BAGIAN 6

DETEKTIF KOKO: LINDA & VERA BERAKSI

"Malam ini maling itu pasti muncul lagi deh..." Aan berkata. Saat itu jam menunjukkan pukul 12 malam dan keduanya berada di dalam rumah mereka.

"Kita menyebar saja ya, gimana?" Very mengusulkan.

"Maksudmu gimana?" Tanya Aan.

"Satu dari kita berada di dalam rumah untuk memancing si maling. Satu lagi menjaga di luar." Ujar Very. "Jadi pada saat tuh maling kabur, yang jaga di luar udah siap dan bisa mengejarnya."

"Setuju!" Sahut Aan. "Tapi bentar. Siapa yang tugas di luar?"

"Gimana kalau kita tentukan dengan suit?"

"Hmmm... Boljug..." Aan manggut-manggut.

"Boljug? Apa tuh?"

"Boleh juga..." Aan menyeringai.

"Pasti J-Co yang ajarin ya?" Very nyengir kuda. "Hebat juga cewek lu tuh..."

"Bukan... Bukan J-Co yang ajarin. Tapi Linda...."

"Linda? Lah, Linda bukannya lu?"

"Itu gue ambil setengah namanya. Nama aslinya Lindawati. Asli wanit permak..."

Very tertawa ngakak mendengar perkataan sahabatnya. "Mana ada yang namanya permak itu asli? Itu mah dempul namanya..."

Keduanya mengayunkan tangan beberapa kali.

"Tiga! Menang gue!" Ujar Aan. "Lu jaga di luar lho sana..."

Very tertawa. "Bagus lah. Mending gue jaga di luar, daripada lu... Coba aja lu liat sendiri!"

Mengikuti perkataan sahabatnya, Aan menatap dirinya sendiri. Rambut palsu seleher berwarna merah marun dengan aksesori anting dan make up ringan dan blush on. Gaun terusan mini berwarna biru tua menjadi pilihan pakaiannya. Lengan yang lengkap dengan aksesoris berat khas gadis kaya. Di bagian dadanya, dia selipkan busa yang cukup banyak untuk membuat dadanya kelihatan membusung. Sedangkan untuk bagian kakinya, gaun yang hanya sepanjang setengah paha itu dipadu dengan sepatu hak tinggi. Sebuah tas kecil menggantung di pundaknya, melengkapi penampilannya seperti layaknya seorang wanita.

"Hmmm... Ini sih, gaya J-Co banget..." Komentar Very sambil menyeringai. "Ana Linda..."

"Linda..." Ujar Aan sambil menggoyangkan lengannya mengikuti gaya Lindawati yang ditemuinya di salon itu. "Kalo lu tuh justru kemayu banget, ini sih Jeng Memei banget..."

Very yang telah memakai nama Vera, seperti 'didikan' pacarnya, Memei, seorang gadis desa yang datang dan tinggal di Kampung HSG sebagai tukang kue keliling. Pembawaannya yang masih natural, ikut mempengaruhi penampilan Vera. Walau begitu, sedikit sentuhannya, membuat Vera tampil lebih elegan seperti gadis kota pada umumnya.

Dimulai dengan wig hitam panjang, lalu celana pendek jeans dengan kaos ketat berwarna kuning yang kelihatan pusarnya. Gelang karet dan arloji di masing-masing lengannya. Dan sebuah senjata yang terbuat dari kayu terselip di pinggang kanannya. Sepasang sepatu wanita model terbaru menjadi penutup akhir penampilannya.

"Vera..." Ujar Very sambil tersenyum. "Ayo, kita ucapkan slogan kita."

Bersama dengan Linda, Vera mengucapkan slogan detektif mereka. "Ada kasus? "Serahkan kepada kami, Koko Detektif!"

Linda bergaya seperti peragawati berjalan di catwalk dan kedua tangan di pinggang, sedangkan wajahnya berpaling ke samping dan berucap, "Linda."

Diikuti oleh Vera yang lengan kanannya diletakkan di pinggang kanan tempat senjatanya terselip dan lengan kiri membelai rambut palsunya. Punggungnya ditempelkan ke punggung Linda yang telah siap dalam posenya sambil berucap, "Vera."

Secara bersamaan keduanya berkata, "Detektif Koko."

Sekitar satu jam berlalu. Vera menunggu di balik sebuah pohon jambu milik rumah kosong yang belum sempat ditawar pemiliknya. Wajahnya tak lepas ditujukan ke rumah mereka yang beberapa meter di depan, berharap si maling sendal bolong muncul dan dia akan dapat menyergapnya.

PROKK!!

"Sialan nih nyamuk! Mana banyak banget lagi..." Vera bergumam sambil menepuk nyamuk yang hinggap di lengannya.

PROKK!!

"Adaaooww!!" Vera menjerit lirih sewaktu pipinya tertampar tangannya sendiri karena nyamuk yang hinggap. "Ihh... Buruan kek muncul maling sendal bolong.... Lu sih enak, lah gue digotong nyamuk..."

Diliriknya arloji di lengan kirinya. "Udah mau jam dua neh... Mudah-mudahan dia nongol 2 jam lebih cepat dari kemarin ya..."

Namun ditunggu dan ditunggu, si maling sendal bolong tak juga muncul. Sementara rasa kantuk sudah mulai menyerang. Karena sudah mulai lelah berdiri, Vera memilih untuk duduk bersandar pada pohon dan menguap lebar.

Namun, baru saja matanya memejam, terdengar suara ribut tak jauh dari rumah mereka berada, disusul oleh teriakan. "Vera... Dia kabur..."

"Hah?" Vera terperanjat dan berdiri dari duduknya. Ditepuknya pahanya yang menempel rumput-rumput kering. Ketika berpaling, dilihatnya sekelebatan bayangan lari melintasinya.

"Hei! Tunggu!" Vera menjulurkan tangannya dan mulai berlari mengejar si maling. Sekilas dia melirik sekilas ke arah rumah mereka. Dari arah sana, tampak Linda berlari tergopoh-gopoh mengikuti dari belakang dengan kaku karena tak terbiasa berlari dengan memakai sepatu hak tinggi.

Karena berada dalam jarak pengejaran yang dekat, Vera tak menemui kesulitan untuk mengejar si maling. Namun, bukan maling namanya bila tak bisa berlari lebih cepat dari pengejarnya. Semakin lama jarak keduanya semakin tertinggal. Beberapa langkah lagi, si maling telah masuk ke hutan kecil yang menjadi batas wilayah kedua kampung.

"Wah, nggak bisa dibiarin nih kalo begini caranya." Vera bergumam. "Oh iya, masih ada ini..."

Tangannya bergerak ke pinggang kanannya dimana senjatanya tersimpan. Itu adalah mainan semasa kecilnya, dimana dia sering membidik pohon buah tetangga untuk dicuri buahnya. Sebuah senjata berbentuk huruf Y dengan karet di kedua ujung atasnya. Apa lagi kalau bukan ketapel adanya!

Matanya melirik ke jalanan yang dipijaknya. Ketika mendapatkan benda yang diincarnya, Vera berhenti berlari. Diambilnya batu berukuran sedang dari jalanan di depannya dan disiapkannya ketapel di tangannya dalam posisi membidik.

"Mau kabur kemana lu, maling?!" Setelah bergumam begitu, dilepaskannya batu dari karet ketapel mengincar buruannya. Batupun melayang!

CTAAKKK!!!

"Ouuhhhh!!" Si maling mengeluh saat kepala bagian belakangnya terhantam mendadak oleh sebuah benda keras. Larinya terhenti. Rasa pusing seketika yang melandanya membuat badannya tersungkur.

Vera mendekat begitu melihat lawannya telah tumbang. Ditariknya kerah baju si maling itu ke dalam posisi berdiri.

"Am... Ampun... Ampun, Neng..." Dalam suara bergetar, si maling berkata. "Jangan... Jangan lukai saya..." Tangannya memegang belakang kepalanya yang tampak mengucurkan darah.

Linda menyusul beberapa menit kemudian, dengan nafas terengah-engah dan keringat membasahi baju terusannya yang seksi. "Hufff.... Hufff... Ke... Ketangkap juga ya..."

Kedua tangannya menopang di lututnya dan Linda mengambil nafas yang terengah-engah itu, tanpa menyadari tatapan nakal si maling ke arah dadanya yang membusung itu. Tas yang menggelantung di pundaknya tampak bergoyang-goyang di samping pinggangnya.

PLAKK!!

"Eh, mata!" Vera yang rupanya menyadari tatapan si maling, menampar pipinya untuk menyadarkannya. Satu tangannya masih mencekal erat kerah baju si maling.

Tamparan itu mengakibatkan si maling mengusap pipi kirinya yang ditampar itu. Sedangkan tangannya yang satu masih memegang belakang kepalanya yang berdarah.

"Eh, kurang ajar ya pake lirik-lirik segala ya..." Saat menyadari kejadian itu, Linda pun tak ingin ketinggalan. Tangannya bergerak.

PLAKKK!

"Aduhhh... Ampunnn..." Si maling mengeluh dan kini kebingungan karena Linda menampar di pipi kanan yang masih bersih itu. Tamparan yang cukup keras dan pedas itu membuat si maling mengerang sambil bergantian mengelus kedua pipinya dengan sebelah tangannya.

"Kita bawa aja ke Akoh Koz ya?" Vera berkata. "Gimana?"

"Lho, gimana sih? Kita ini kan detektif. Ya, kita selesaikan dengan jalan kita sendiri lah..." Seru Linda.

Disandarkan di depan sebatang pohon dan dijaga oleh Linda dan Vera yang berdiri di sampingnya, si maling kini mulai diinterogasi. Kini setelah suasana agak tenang, si maling melongo menatap kedua wanita tersebut.

"Kenapa lihat kami begitu? Mau ditampar lagi?" Vera mengangkat sebelah tangannya.

"Am... Ampun.. Ampun... Neng..." Si maling menjawab. "Cuma... Cuma bingung..."

"Bingung apa?!" Linda menghardik.

"Su... Suara kalian..."

Linda dan Vera terhenyak dan saling bertatapan satu sama lain. Tanpa disadari, keduanya pun saling menelan ludah secara bersamaan.

"Ada apa dengan suara kami?" Tanya Vera.

"Se... Seperti... La..." Si maling terhenti. "... ehhh... maksud... Maksudku.... serak... seksi..."

"Eheemm... Saya sedang flu..." Linda mengusap lehernya dan menelan ludahnya.

"Aku sakit tenggorokan... Makanya serak..." Vera menimpali. "Sudah, jangan banyak tanya!"

"I... Iya... Iya..." Si maling menundukkan kepalanya.

"Kenapa mencuri?" Linda bertanya. "Apa yang kamu cari disana?"

"A... Aku... Aku..." Si maling mengangkat kepalanya dan menatap kedua wanita jadi-jadian itu. "Aku tidak mencuri..."

"Kalo tidak mencuri, kenapa pagi buta begini mengincar rumah orang?" Tanya Vera.

"Sendal..." Sahut si maling. "Sendal bolong itu..."

"Sendal bolong?!" Linda dan Vera saling bertatapan. Lalu secepat kilat, Linda membuka tas yang digantung di lengannya dan mengeluarkan sendal yang menjadi petunjuk yang ditinggalkan si maling.

"Maksudmu ini?" Linda mengacungkan sendal bolong yang dikeluarkannya dari dalam tas di depan si maling.

"I... Iya... Sendal ini..." Si maling mengangguk.

"Kenapa dengan sendal ini? Apa hubungannya denganmu?" Tanya Vera. Tangannya masih mencekal kerah baju si maling.

"Itu... Itu sendal yang kupakai waktu aku dikejar dua orang laki-laki kemarin... Kenapa bisa ada di tangan kalian??"

"Itu ka... uppss..." Linda menghentikan perkataannya. Ditutupnya mulutnya dengan telapak tangannya. Vera pun sudah sempat memelototinya. "Maksudnya kawan kami, begitu..."

"Lalu?" Tanya Vera.

"Aku mendapatkan sendal itu di kampung HSG, namun hanya sebelah saja. Itupun sudah bolong." Sahut si maling.

"Kenapa kamu maling sendal? Kenapa nggak maling yang lebih mahal aja? Baju misalnya?" Tanya Linda.

"Aku bukan maling." Sahut lelaki itu. "Aku pemulung."

"Hah!" Linda dan Vera terbelalak mendengar penjelasan si lelaki di depannya. "Pemulung?"

"Iya..." Lelaki itu mengangguk. "Aku menemukan sendal itu di Kampung HSG. Namun hanya sebelah. Dan aku pakai sendal itu sampai aku kembali lagi ke Kampung HSG untuk mencari pasangannya."

"Selama itu kamu kemana?" Tanya Vera.

"Aku sakit, jadi 2 hari aku tidak kerja."

"Wakss! Pemulung aja bisa cuti kerja ya?" Linda mengangkat alisnya.

"Dimana tempat tinggalmu?" Tanya Vera lagi.

"Di Kampung Permai..."

"Laahhh! Namanya Kampung Permai, tapi penduduknya malah nggak permai..." Linda menyeringai.

"Ohhh... Jadi yang kita pikir petunjuk ini sebenarnya sebuah sendal tak berguna yang sedang dicari pasangannya olehmu yang seorang pemulung, begitu?" Vera berkata sambil menyeringai mendengar komentar sahabatnya.

"I... Iya... Neng..."

"Beeghhhh!! Kirain maling beneran..." Linda dan Vera mendengus kecewa.

"Ya udah, pulang sana..." Vera melepaskan cekalannya dan membiarkan si pemulung itu pulang.

"Tapi, Neng...." Bukannya pulang, si pemulung malah menatap keduanya sambil menyeringai. "Kalian seksi juga ya."

Linda dan Vera bertatapan satu sama lain dengan wajah bingung.

"Boleh kenalan, Neng? Nama Abang, Samiun..."

BAGIAN 7

SENDAL BOLONG

"Dasar sendal bolong. Kirain maling, lah nggak taunya pemulung." Linda menggumam begitu si pemulung berhasil mereka bentak hingga kabur kembali ke kampung sebelah.

"Buang aja sendalnya, buat apa lagi disimpan!" Vera yang masih kesal dengan akhir kasus yang mengejutkan tersebut, berkata.

"Buat lu aja!" Linda tertawa sambil menyerahkan sendal bolong itu kepada sahabatnya.

"Jiahhh!! Buang aja!" Vera yang menerima sendal itu segera melemparnya ke belakang. Keduanya saat itu berjalan pulang melintasi hutan kecil pembatas kampung.

PLUK!!

"Apaan tuh?" Vera terperangah dan menghentikan langkahnya. "Lu denger nggak barusan?"

Linda juga menghentikan langkahnya.

"Kok sepertinya kena sesuatu ya?" Ujar Vera lagi.

"Iya..." Linda bergumam. "Kena pohon kali. Ini kan hutan."

"Tapi juga nggak gitu kali suaranya..." Seru Vera.

"Terus apa dong?" Tanya Linda.

Perlahan keduanya menengok.

"Mbaaaak... "

"Ver, lu denger itu?" Linda yang tak jadi berpaling, malah menatap sahabatnya di sampingnya. "Itu bukannya suara cewek ya?"

Vera mengangguk, namun tak bersuara.

"Siapa tuh, Ver? Kok malam-malam bisa ada cewek di tengah hutan begini?"

"Gue juga nggak tahu, Linda..."

"Aan, bukan Linda. Tugas kita kan udah selesai."

"Mbaaaaakkkkkk...."

"Tuh, lu nggak denger lu dipanggil mbak tadi?"

"Gua nggak peduli, tapi dia siapa? Ini malam lho, Ver..."

"Iya juga ya?" Linda tercekat. Keduanya masih berdiri mematung di tengah area hutan kecil itu.

"Aahhhh!!" Linda menjentikkan jarinya. "Gue tahu! Pasti cewe..." Dimonyongkannya mulutnya, "Itu tuh... Ituuuu..."

Vera berpikir sesaat sebelum menjawab, "Bener juga lu! Siapa tau dia kesepian ya..."

"Nah, itu dia!" Linda tersenyum sambil siap bergerak. "Yuk, kita samperin."

"Tunggu!" Vera mencekal lengan sahabatnya. "Tapi kita kan wanita juga?"

"Kita?" Linda mengangkat sebelah alisnya. "Lu aja kale, gue nggak..."

"Eh, lu nggak nyadar nih... Nih..." Vera menjulurkan lengannya memegang paha sahabatnya yang terbalut rok mini itu.

"Wew... Maho luh! Jijay gue!!" Linda mengernyit geli sambil menjauhkan tangan Vera yang mengusapnya.

"Mbaaaaakkkkkk.... Temenin saya donggg...."

"Tuh... Dia minta ditemenin..." Kata Linda. "Udah, kapan lagi..."

"I... Iya... Anggap aja bonus atas keberhasilan kita yang pertama ya?" Sahut Vera.

Linda mengangguk dan keduanya menengok secara bersamaan. Di depan mereka berdiri seorang gadis cantik berambut hitam panjang sepinggang dengan pakaian panjang serba putih.

"Cantik..." Seru Linda sambil mengusap lengannya.

"Iya..." Vera tersenyum lebar menyeringai.

"Namanya siapa, Neng? Kok diem aja?" Akhirnya Linda memberanikan diri bertanya.

"Tersesat ya? Rumahnya dimana? Biar kami antar pulang..." Vera menyambung.

Si wanita itu tidak menjawab. Dia hanya membalikkan badannya. Linda dan Vera mengira wanita itu memberi lampu hijau kepada mereka dengan membalikkan badan seperti itu.

"Hikkk... Hikkk... Hiiikkkk.... Hikkkkk... Hikkkk... Hikkkk....." Tahu-tahu wanita itu tertawa terkikik dan punggungnya yang berada di depan keduanya mendadak berubah.

"Se... Se... Se... Setannn!!!" Vera berteriak saat menyadari siapa wanita di depannya itu.

"Sendal eh sundel bolong!!" Linda yang terkejut tak urung berteriak.

"Kabuuurrrrr!!!"

Sepasang Detektif Koko lari ngibrrrittt. Vera berlari bagaikan atlit olimpiade, meninggalkan Linda yang telat berlari di belakangnya.

GABRUKKK!!!

"Aaaiidduuuiiiii!!" Linda mengeluh saat jatuh akibat tak terbiasa berlari dengan sepatu hak tinggi begitu. "Ver, tunggu aku!!"

Melihat ke depan, Vera telah ngacir entah kemana. Akhirnya Linda duduk dan menarik lepas sepatu hak tingginya sebelum dia berdiri dan melanjutkan larinya sambil menjinjing sepatunya...

Serial Detektif Koko (1): Kasus Hilangnya Sendal Bolong

TAMAT



Cerita dan karya asli: Kaz Felinus Li.

Semua karakter Serial Detektif Koko, telah mendapatkan ijin dan persetujuan dari para member HSG yang berhubungan.

Posted By: Kaz HSG

This story is the property of Heavenly Story Group.

Copyrights: ©HSG-October 2011

(Dilarang meng-copy dan memperbanyak tanpa ijin langsung dari penulis: Kaz Felinus Li. Pelanggar akan dikenakan tindak pidana).

Special thanks to my a lovely beautiful girl, who helped me make this story perfect. ^^

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates