02/11/10


Asiong,Sepenggal Kisah Si Anak Rantau
(Episode 91-100)



BAGIAN 91
'Apa katanya?' Bathin Asiong dalam hati. 'Khuntien pecundang?'

Mendadak wajah Ahon yang telah meninggal muncul di pandangan Asiong. Wajah sahabatnya yang kini telah tinggal di alam baka. Sahabat yang meninggal dalam perkelahian antar geng.

'Ahon...' Kata Asiong.

'Asiong... Wa sudah kalah...' Bayangan Ahon yang muncul dalam pandangan Asiong berbicara. 'Kau tidak boleh kalah! Kau harus menang! Buktikan, Siong! Wa yakin kau bisa, karena kau ketua kami!'

Bayangan Ahon tersenyum sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Asiong.

'Ahon...' Asiong masih mencoba memanggil sahabatnya yang telah raib itu. Tapi bayangan Ahon tidak muncul kembali.

Thai Nyiu begitu menikmati kemenangannya, sehingga tidak memperhatikan keadaan di bawah kakinya. Lelaki berbadan tinggi besar dan gemuk itu sepertinya terlarut dalam kemenangan bisa mengalahkan Asiong yang telah terkenal sebagai anak geng tak terkalahkan di Pontianak.

'Ahon benar. Aku tidak boleh kalah. Aku tidak boleh kalah! Kawan-kawanku sudah kalah. Mereka semua berharap padaku. Aku ketua mereka! Aku harus bisa membuktikan aku pantas memimpin mereka! Aku tidak boleh kalah! Tidak boleh!!' Kata Asiong lagi.

'Badanku sudah sakit. Kekalahan di depan kawan-kawan akan lebih menyakitkan lagi.' Kata Asiong lagi. 'Tapi aku harus bagaimana? Semua pukulanku tak dirasanya. Aku bagai memukul bantal!'

"Hahahaha! Khuntien, Khuntien! Jagoanmu sudah kalah! Tak ada lagi yang bisa melawan kami! Sekali pecundang, tetap pecundang! Cuih!!" Thai Nyiu meludah di tanah.

'Kurang ajar! Aku tidak suka dia membawa-bawa nama kampungku.' Kata Asiong dalam hati, kesal mendengar kata-kata Thai Nyiu yang merendahkan kampung halamannya. 'Aku tidak akan kalah! Aku harus bisa! Aku tidak boleh kalah untuk kampungku! Khuntien, tanah kelahiranku! Aku tak boleh kalah dan membiarkanmu dihina seperti ini! Aku harus bisa, walau badan ini harus hancur karenanya!'

Saat itu sebuah suara kembali terdengar di hati Asiong. 'Asiong, untuk apa kau belajar jurus dari guru-guru ilmu beladiri kalau menghadapi lawan begitu saja kau tak bisa? Mana kemampuan Judo yang pernah kau pelajari? Mana kemampuan Karate-mu? Mana kemampuanmu bertarung liar selama ini?'

'Judo? Karate? Pertarungan liar?' Asiong mengulangi kata-kata itu dalam hatinya. 'Ya, pertarungan liar. Aku sudah tahu sekarang. Bila badan tidak mampu untuk diserang, hanya ada daerah itu...'

Perlahan Asiong mengepalkan kedua tangannya. Semangat bertarungnya bangkit kembali. Walaupun terasa sakit, namun demi nama baik tanah kelahiran yang dihina, demi nama baik geng yang direndahkan, demi kematian Ahon yang tragis, dan demi sebuah kesejatian pertarungan, pemuda itu mengumpulkan segenap tenaganya untuk bangun dan bangkit dari terkaparnya.

Setelah cukup mengumpulkan tenaga di kedua lengan dan badannya, pemuda itu perlahan bangkit. Dengan menjadikan kedua lengannya sebagai tumpuan, Asiong mengangkat badannya dari injakan Thai Nyiu.

"Heh?!" Thai Nyiu tersentak saat menyadari ada dorongan tenaga di bawah kakinya. Kepalanya menengok ke bawah.

"Hoho, si pecundang ini masih mau melawan rupanya?" Sambil tersenyum mengejek, Thai Nyiu menjambak rambut gondrong Asiong dan dengannya membuat pemuda itu berdiri.

Tak ada lenguhan ataupun keluhan yang keluar dari mulut Asiong yang dijambak seperti itu. Tangan kanannya yang masih mengepal menunggu saat yang tepat hingga badannya berdiri sejajar dengan kedua kakinya. Thai Nyiu berada sedikit lebih tinggi darinya.

"Lihat! Pecundang ini masih belum menyerah!" Dengan satu tangan masih menjambak rambut gondrong Asiong, Thai Nyiu melihat ke arah teman-teman gengnya sambil tertawa terbahak-bahak. Seakan ingin menunjukkan ejekannya di depan teman-teman gengnya.


BAGIAN 92
'Ini dia!' Kata Asiong dalam hati. Pemuda itu mengayunkan kepalan tangannya dengan kekuatan yang masih tersisa, tepat menghantam mata kiri Thai Nyiu dengan keras.

BUAKKKHH!!!

"Ouuugghhhh!!" Thai Nyiu menjerit kesakitan dan mundur sempoyongan ke belakang. Jambakannya di rambut Asiong terlepas, membuat pemuda itu berusaha berdiri dengan tegak di balik badannya yang sudah sakit itu. Kedua tangannya segera menutupi mata kirinya yang terhantam pukulan keras dari Asiong.

"Kau bilang aku pecundang? Kita lihat siapa yang pecundang!" Asiong berteriak keras sambil memasang kuda-kuda setelah sanggup berdiri dengan tegak.

"Kurang ajar!" Thai Nyiu menggeram dan menurunkan tangannya. Ada cairan segar berwarna merah yang mengalir di tangannya seiring dengan dilepaskannya dari matanya. "Khuntien sialan!!"

Tanpa memberi kesempatan kepada Thai Nyiu untuk beraksi terlebih dulu, Asiong merangsek maju. Sebuah pukulan bertenaga kencang kembali meluncur dari tangannya. Arahnya ke dada Thai Nyiu!

"Pukulanmu pelan!" Thai Nyiu menggerakkan tangannya mencoba menghalau pukulan Asiong yang terarah ke dadanya itu. Jurus pukulan Karate yang dilancarkan Asiong dengan mudah dihindarinya dan bahkan Thai Nyiu berniat menangkap lengan Asiong yang menyerangnya itu.

Tapi Asiong dengan lincah, menghentikan gerakan tangannya sebelum hantamannya mengenai dada lawannya. Hal mana membuat Thai Nyiu terperanjat! Gerakan tipuan!

"Kau salah! Yang aku incar itu..." Dengan tangan kirinya yang bebas, Asiong menghantam kepalan tangannya ke wajah Thai Nyiu.

"Ini!" Pukulan Asiong mengincar tepat di hidungnya!

BUAAKKKHHHH!!

"AAAAOOOHHHH!!" Thai Nyiu mengerang keras saat hidungnya terkena pukulan Asiong dengan telak! Terkejut bukan main pemuda berbadan gemuk besar itu.

"Lagi!!" Asiong menambahkan pukulan tepat ke dagu Thai Nyiu sebelum lawannya sempat menutup wajahnya yang kesakitan dengan tangannya.

DDUUUAAGGGHHHH!!

"AAAKKKHHHHH!!!" Kembali Thai Nyiu mengerang keras. Pukulan di dagunya membuat kedua kakinya goyah. Kedua tangannya ditutup di wajahnya yang kini semakin berdarah!

"Hiaaaa!!!" Dengan gerakan cepat, Asiong menarik lengan Thai Nyiu dan sebelah kakinya menyengkat kaki lawannya yang berbadan besar itu. Jurus banting dalam Judo! Akibatnya...

BRUGGHHH!!!

"AAAKKKHHHH!!" Thai Nyiu lagi-lagi mengerang saat badan besarnya terbanting roboh dengan gerakan bantingan Judo yang diperagakan Asiong. Sebelum badannya menghantam tanah dengan suara dentuman keras, Thai Nyiu merasakan badannya seperti melayang di udara.

"Ouukkkhhh!!" Thai Nyiu mengerang memegangi pinggangnya yang kesakitan akibat bantingan itu. Pinggangnya terangkat saking menahan sakitnya.

Melihat lawannya sudah roboh, dengan dikuasai oleh kemarahan dari hinaan yang diberikan lawannya, Asiong menggeram dan maju menyerang lagi. Pemuda itu langsung duduk di atas badan gemuk besar lawannya, kedua kakinya diinjakkan di ketiak lawannya menahan lawan mengangkat tangannya dan sepasang tangannya kini berganti yang menjambak rambut lawannya.

"Kau bilang anak Khuntien pecundang, hah!" Teriak Asiong marah.

BUKKKK!! Sebuah kepalan mampir di wajah Thai Nyiu. "Kuperlihatkan siapa yang pecundang!!"

"Kau bilang anak Khuntien itu pengecut! Apa anak pengecut bisa memukul begini?"

BUKKK!!! BUKK!!! BUGGGHHH!!

"Kau bilang anak Khuntien tidak ada apa-apanya!"

DUAGGGHH!!!

"Apa itu masih tidak ada apa-apa?"

BUUKKKK!!

"Masih belum ada apa-apa?"

BUGGGHHH!!! DDUKKKHHH!!! DDUGGGGHHH!!!

Asiong dengan murkanya menghantam kepala lawan yang dijambaknya ke tanah di bawahnya! Sekali, dua kali, tiga kali.

"Kau bilang Kim Siong hanya anak kampung, hah!"

PLAKK!! PLAKKKK!! PLAAKKKK!!! PLAKK!! PLAAKKKK!!! PLAKKKK!!!

Tiga pasang tamparan berturut-turut mampir di wajah Thai Nyiu.

Thai Nyiu meronta, menjerit dan mengerang diserang seperti bertubi-tubi itu. Dia ingin mengangkat tangannya yang diinjak Asiong di ketiaknya itu.

"DIAMMM!!!" Asiong memindahkan injakan kakinya di tepat pertengahan tangan lawannya, membuat lawannya tak bisa mengangkat tangannya sedikitpun.

Asiong yang sudah diselimuti amarah akibat penghinaan dari lawannya, entah sadar atau tidak, kembali menghajar wajah lawannya bertubi-tubi dengan pukulan tangan ke wajah, tamparan ke pipi, dan hantaman kepala ke tanah berturut-turut.

Lalu dengan lengan kiri menjambak rambut Thai Nyiu, lengan kanannya bertubi-tubi melancarkan pukulan yang tak henti-hentinya disarangkan di wajah lawannya.

"Khuntien pengecut. Pecundang. Anak kampung. Tidak ada apa-apa!!!" Sambil berteriak murka, Asiong tak henti-hentinya melancarkan serangan demi serangan ke wajah Thai Nyiu.

"Amppunn....Sii.. Aahhh...Sii...ongg..." Thai Nyiu mengeluh kesakitan. Pukulan bertubi-tubi yang mendarat di wajahnya bukan saja membuat wajahnya menjadi bengkak, memar, berdarah dan pandangan matanya menjadi kabur, namun hantaman yang terus menerus di tempurung kepalanya juga mulai membuat kesadarannya memudar.

Melihat kemarahan Asiong, tak ada satupun dari teman-temannya, juga dari pihak musuh yang berani maju menahannya. Semuanya terdiam dan melongo melihat Asiong yang tidak pernah seperti itu sebelumnya. Sementara Thai Nyiu sudah berhenti mengerang dan mengeluh. Kepalanya terkulai lemas ke samping. Kesadarannya hilang sepenuhnya. Darah masih mengucur dari bibir, hidung, mata dan beberapa luka lain di wajahnya.

"HIHHH!!" Melihat lawannya sudah tak sadarkan diri lagi, sambil menggeram marah, Asiong bangkit dan berdiri. Disapukannya pandangannya yang mengerikan seperti ingin menelan lawannya hidup-hidup. Dengan kedua tangan terkepal, sepasang kakinya melangkah ke geng lawan.

"Siapa yang masih mau maju lagi? Siapa?!" Asiong berteriak sambil terus melangkah maju ke geng lawan. Tak ada yang berani menyahut. Tak ada yang berani maju. Bahkan geng lawan mundur melihat Asiong yang seperti kesetanan itu.

"Bilang pada ketua kalian! Ganti nama Thai Nyiu menjadi Thai Sui Nyiu!!" Teriak Asiong di depan geng lawannya. "Percuma saja badannya besar namun jiwa pengecut! Berani menghina kampung halaman orang lain! Anak Khuntien tidak ada yang pengecut! Dan anak Khuntien bukan anak kampung pecundang!"

"Bilang padanya anak Khuntien tidak akan pernah takut dan kalah selama Kim Siong masih hidup!" Asiong menepuk dadanya yang basah oleh darah yang telah mengering di bajunya itu. "Kalau kalian tidak berani bilang, biar Kim Siong yang bilang padanya! Mulai detik ini, ganti namanya menjadi Thai Sui Nyiu!!"


BAGIAN 93
"Kamu sadis, Lex. Aku tak menyangka kamu bisa sesadis itu..." Kata Ervina memeluk lengan kekasihnya.

"Aku tidak tahu, Vin. Saat itu aku sudah marah dihina, direndahkan dan dilecehkan seperti itu." Ujar Asiong. "Aku tidak pernah suka dengan kekalahan. Aku lebih tidak suka dengan yang namanya penghinaan."

"Jadi si Thai Nyiu gimana?" Tanya Ervina. "Eh, tadi namanya kamu ganti jadi apa?"

Asiong tertawa kecil. "Thai Sui Nyiu. Kuda nil."

"Kenapa begitu?" Ervina ikut tertawa mendengarnya.

"Thai Sui Nyiu artinya seseorang yang badannya besar, tapi tak punya otak dan jiwanya pengecut!" Jawab Asiong.

"Akhirnya dia bagaimana?"

"Sama seperti Ahon, dia dilarikan ke rumah sakit."

"Terus? Meninggal juga?"

"Tidak. Jiwanya tertolong, tapi dia jadi trauma!"

"Maksudnya?"

"Setiap kali dia mendengar nama Kim Siong, dia seperti ketakutan. Berteriak, menjerit dan berkata ampun." Kata Asiong.

"Kamu sudah menciptakan ketakutan pada dirinya." Sahut Ervina. "Tapi bagaimanapun juga kurasa itu cukup setimpal karena mereka telah membuat temanmu meninggal..."

"Ya... Dendam kematian Ahon terbalas." Asiong mengepalkan tangannya.

"Lalu apa hubungannya dengan Meilan?" Tanya Ervina.

"Dia mendekatiku karena aku satu-satunya yang bisa membuat kokonya ketakutan." Kata Asiong. "Karena menurutnya, kokonya itu orang yang keras kepala dan tidak pernah mau menurut. Selalu membantah orang tua dan berlaku semena-mena kepada orang lain.'

"Bahkan Anyiu juga pernah melawan orang tuanya, membentak mamanya hingga menangis. Mengancam papanya dengan pisau pada saat papanya memberinya nasehat. Tidak ada yang bisa mengatur dirinya. Anyiu menjadi rusak. Namun sejak kekalahannya itu, Anyiu berubah dan setiap kali mendengar namaku, dia seperti ketakutan."

"Itulah yang membuat Meilan mendekatiku. Sekaligus meminta aku membimbing kokonya kembali ke jalan yang benar."

Ervina manggut-manggut. "Kalau aku boleh tau, berapa lama hubungan kalian terjalin?"

"Hampir dua tahun."

"Cukup lama juga. Lalu kenapa bisa putus?"

"Terakhir aku mengetahui kalau ternyata Meilan gadis yang materialistis, lebih mementingkan kekayaan daripada cinta. Terlebih, aku pernah diberitahu teman bahwa Meilan sebenarnya memiliki pasangan selain aku."

"Hah? Kok bisa sih?" Ervina mengangkat alis matanya.

"Aku semula tidak percaya." Asiong mematikan rokoknya, yang sudah masuk batang rokok ketiga. "Tapi dari sebuah foto yang terambil diam-diam, aku mendapat bukti."

"Ternyata Meilan memanfaatkanku dengan mengatakan cinta kepadaku, hanya semata-mata untuk menolong kokonya..." Lanjut Asiong. "Hal yang lebih parah lagi, tabunganku dipinjamnya dengan alasan ingin membuka usaha, namun ternyata ludes dipakainya begitu saja."

"Tabunganmu? Banyak ya, Lex?"

"Sekitar lima jutaan." Jawab Asiong. "Untuk Pontianak, uang segitu sudah bisa untuk buka usaha kecil-kecilan..."

"Pantas saja kamu meninggalkannya." Kata Ervina.

"Ya, ternyata keluarga mereka tidak ada yang beres." Sahut Asiong. "Mamanya berjudi. Papanya mabuk-mabukan. Pantas saja Anyiu tidak bisa menerima nasehat papanya dan membentak mamanya sampai menangis. Aku jadi paham kenapa dia seperti itu kepada keluarganya."

"Lalu karena merasa kamu dimanfaatin, kamu memutuskan hubungan dengan Meilan?"

Asiong mengangguk. "Saat aku kembali ke Jakarta sekitar tiga bulan yang lalu, aku hanya memberitahu kawan-kawanku dan keluargaku. Sedangkan Meilan sama sekali tak kuberitahu."

"Hmm... Begitu ceritanya..." Ervina tersenyum.

"Kamu menyalahkanku?" Asiong menatap kekasihnya.

Ervina menggeleng dengan pandangan heran. "Tidak, Lex. Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Karena aku telah menghajar seseorang sampai luka parah seperti itu..."

"Tapi mereka juga menghajar temanmu sampai meninggal kan?" Ervina balik bertanya.

Asiong menundukkan wajahnya, tampak termenung. Bayangan wajah Ahon yang tersenyum seperti hadir di depan matanya saat itu.

"Lex, menurutku, perbuatanmu itu tidak salah. Justru kamu telah menyadarkan mereka akan perbuatan mereka..."

"Ya, mungkin. Tapi perbuatanku itu telah memakan korban..." Jawab Asiong pelan.

"Semua pasti butuh pengorbanan kan, Alex Sayang..." Ervina menggamit lengan kekasihnya dan menghiburnya. "Sudahlah, yang penting bagiku kamu tetap pahlawanku..."

"Jangan pernah tinggalkan aku ya, Lex." Gadis itu menyandarkan kepalanya ke pundak Asiong. "Aku tidak mau..."

"Vina." Asiong mengangkat jari manis tangan kirinya. "Di cincin ini tersimpan namamu. Terukir indah disana. Setiap kali tangan ini bergerak, artinya setiap kali ada Ervina yang menyertai setiap perbuatanku. Jadi mana mungkin aku meninggalkanmu..."

"Terima kasih, Lex..." Ervina tersenyum sambil mempererat pelukan di lengan kekasihnya.

"Aku yang berterima kasih..." Ujar Asiong membelai rambut Ervina. "...bisa menerima diriku ini apa adanya..."


BAGIAN 94
Keesokan harinya, sekitar pukul 10 siang, teman-teman Asiong mengantar kepergian Asiong, Ervina, Jun Nyen dan Achiung yang akan bertolak ke Jakarta di Bandara Supadio. Peluk salam dan canda tawa terjadi di ruang lobi bandara itu.

Tak lupa kedua orang tua Asiong dan Aheng ikut pula mengantar kepergian putra dan kakak kandung mereka.

"Wa kembali ke Jakarta ya, Pa, Ma." Asiong memeluk kedua orang tuanya dengan haru. "Jaga diri kalian baik-baik."

"Titip salam untuk Mei Hwa, Chun Hwa dan Akhiong ya." Kata Papanya.

"Iya, Pa." Asiong mengangguk.

"Di Jakarta jangan banyak berkelahi!" Tak ketinggalan Mamanya juga berpesan kepada putra tertuanya itu.

Asiong tersenyum. "Mudah-mudahan, Ma."

"Mudah-mudahan?" Mamanya membalas senyuman anaknya dan mengacak-acak rambut gondrong Asiong.

"Sepertinya tidak bisa deh, Ma. Wa kan kenal siapa Siong Ko." Sahut Aheng sambil tersenyum. Dia meminta ijin kepada sekolahnya untuk tidak masuk belajar dengan alasan ingin mengantar Asiong ke bandara.

"Heng! Tinggal kau seorang ya." Asiong menyalami tangan adiknya itu. "Setelah lulus, kita laksanakan janji kita."

"Pasti, Siong Ko." Aheng mengedipkan matanya. "Wa masih ingat janji itu."

Ervina juga tak bersalaman dengan kedua orang tua dan adik kekasihnya.

"Terima kasih untuk semuanya, Papa, Mama..." Kata Ervina sambil menyalami mereka.

"Wah, Cece ikutan panggil Papa Mama juga nih?" Aheng yang mendengarnya tersenyum lebar. "Pertanda bagus nih."

Asiong tertawa mendengar celotehan adiknya itu. "Nanti kamu panggil Aso ya, bukan Cece lagi."

"Ya, Siong Ko. Pasti dong." Jawab Aheng sambil masih menyengir.

"Selamat jalan, Ketua! Imlek nanti pulang kemari ya, kita berkumpul bersama lagi!" Kata Anam melepas kepergian Asiong.

"Ya, wa akan rindu dengan latihannya..." Asiong menerima salaman kompak dari delapan temannya yang masing-masing meninggalkan pesan untuknya. Tak ketinggalan, Asiong juga meninggalkan pesan kepada kawan-kawan yang ditinggalkannya itu.

Begitu pula dengan Jun Nyen dan Achiung yang akan ikut serta dengan Asiong ke Jakarta. Keduanya ikut bertukar pesan dan melepas salam dengan teman-teman lainnya.

"Setelah fotonya dicuci, wa akan kirim ke Jakarta, Siong." Kata Afu.

"Jangan lupa ya!" Asiong mengerdipkan matanya.

"Pasti, Ketua." Sahut Afu.

"Ketua, jaga dirimu baik-baik!" Teman-teman yang lainnya tak ketinggalan memberikan ucapan.

"Kalian juga!" Kata Asiong. "Ayo, kita satukan kekuatan!"

Pemuda itu menjulurkan tangannya lurus ke depan, disusul oleh telapak tangan teman lain yang menimpa di atasnya dan lalu diikuti teman-teman lainnya, hingga semuanya bergabung dalam setumpukan telapak tangan. "Sa!!"

"Cia you!!" Lalu sambil mengangkat tangan masing-masing ke udara dalam bentuk kepalan, Asiong dan kesepuluh temannya berteriak bersamaan.

'Persahabatan yang luar biasa!' Bathin Ervina saat melihat perpisahan yang dilakukan kekasihnya dengan teman-teman gengnya. 'Bahkan di saat perpisahan seperti ini, mereka masih saja kompak.'

Tak ada pesta yang tak usai. Bila ada perjumpaan, pasti akan ada perpisahan. Begitu pula dengan Asiong dan teman-teman gengnya. Walaupun terpisah jarak, namun hati mereka semua akan tetap dekat dan hangat.

"Ayo, kita berangkat!" Asiong mengambil tas ransel yang diletakkan di lantai bandara di dekat kakinya. Diikuti oleh Jun Nyen dan Achiung yang juga melakukan hal yang sama.

"Selamat jalan, Ketua!"

"Sampai kita bertemu lagi, Anyen, Achiung!"

Itulah kata-kata perpisahan yang diucapkan sahabat sejati geng yang dipimpin Asiong di Pontianak. Keempat anak muda yang akan bertolak menuju Jakarta itu melambaikan tangan, mengucapkan terima kasih sekaligus tanda perpisahan dengan kawan-kawan lama mereka yang masih menetap di Pontianak.

"Lex, memang kamu janji apa dengan adikmu itu?" Tanya Ervina saat mereka berempat berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan.

"Setelah Aheng lulus sekolah, kami berlima berencana membawa Papa dan Mama tinggal di Jakarta." Jawab Asiong.

"Jadi rumah disini?" Tanya Ervina lagi.

"Ya, mungkin dikontrakan..."

"Wah, Siong. Kita gak bisa berkelahi lagi dong kalau kalian sekeluarga pindah ke Jakarta." Celtuk Achiung yang mendengar pembicaraan mereka.

"Kita lihat saja nanti, Chiung." Asiong tersenyum sebagai jawabannya. "Kita lihat saja nanti."


BAGIAN 95
Ketika kembali ke Jakarta, Jun Nyen langsung menuju ke rumah saudaranya untuk menumpang tinggal disana, sedangkan Achiung diajak Asiong tinggal bersama di rumah konveksinya. Walaupun hampir tak ada kamar cukup, Achiung yang sudah terbiasa tidur di tempat terbuka, memilih untuk tidur di meja panjang beserta dengan Asiong setiap malamnya.

Setelah mengeluarkan barang bawaan masing-masing, Asiong dengan Ervina, diikuti Achiung duduk melepas lelah di ruang tamu sambil ditemani kedua kakak kandung Asiong. Ervina sendiri sudah melepas kerinduannya dengan anjing piaraannya, Justine, yang dipeluk dan diciumnya berjam-jam lamanya sebelum akhirnya dilepaskan dan dibiarkan berkeliaran di rumah.

Mereka semua saling bertukar cerita pengalaman yang dialami selama di Pontianak. Mulai dari saat menginjakkan kaki kembali ke Pontianak, hingga kepulangan mereka dari sana. Saat itu waktu sudah malam, dan para pegawai konveksi sudah pulang kerja.

"Perjuangan yang berat ya, Siong, tapi kamu bisa melewatinya dan kembali dengan selamat." Chun Hwa berkomentar mendengar cerita adik kandungnya.

Mendengar komentar Chun Hwa, Ervina tersenyum sambil menunduk. "Maafkan, aku sudah menyusahkan kalian semua..."

"Lho, kenapa kamu bilang begitu?" Asiong menatap kekasihnya dan bertanya balik. "Itu semua tak perlu diingat lagi..."

"Yang penting kan Vina selamat." Chun Hwa tertawa sambil menatap sepasang kekasih itu.

"Iya, betul..." Achiung ikut bersuara. "Ketua sudah sering menghadapi kesulitan, jadi perjuangan seperti itu tentunya tidak masalah baginya."

Kedua mata Ervina tampak berkaca-kaca mendengar komentar demi komentar orang-orang dekat kekasihnya itu. Dia menatap Asiong yang kebetulan duduk di sampingnya.

"Terima kasih ya, Lex, sekali lagi terima kasih." Gadis itu berkata dengan suara bergetar seperti sedang menahan tangis. Dipegangnya tangan kekasihnya dan diremasnya.

"Wa mau siapin makan malam dulu..." Chun Hwa berkata tiba-tiba dan bangun dari duduknya.

"Chun, tunggu, wa bantu ya..." Mei Hwa mengikuti adiknya berdiri dan berjalan menuju dapur.

"Err, Siong, wa ke depan dulu ya... Mau merokok..." Achiung yang melihat gelagat kedua kakak Asiong juga ikut berdiri dan memisahkan dirinya dari sepasang sejoli itu.

"Walau sudah berkali-kali kuucapkan, namun entah mengapa, aku masih tak merasa bosan mengucapkan kata terima kasih kepadamu, Lex." Dengan tatapan mata sayu, Ervina memandang Asiong.

CUP!

Sebuah kecupan dihadiahkan gadis itu di bibir Asiong. "Terima kasih, Sayang."

"Vina. Bagaimana kalau nanti dilihat mereka?" Tanpa menengok, Asiong melirikkan matanya ke arah dapur dimana kedua kakaknya berada sekarang.

Ervina tersenyum. "Biar saja. Toh mereka sudah tau kan kalau kita saling mencintai?"

Asiong terdiam.

Ervina memelankan suaranya, nyaris berbisik. "Badanku saja sudah kamu peluk begitu sering, kenapa aku gak boleh menciummu? Sama saja kan, Lex..."

"Tapi kalau mereka melihat?" Bisik pemuda itu.

"Biarkan saja. Kan gak ada hukum tertulis?"

Dari arah dapur terdengar suara memanggil.

"Siong, Vina. Waktunya makan."

"Ya, Ce." Pekik Asiong menjawab panggilan kakaknya.

"Yuk, kita makan, Lex." Ervina berdiri dan menggandeng lengan Asiong yang ikut berdiri. "Malam ini aku masih capek. Besok giliran aku yang masak untukmu ya?"

"Memangnya kamu bisa memasak?" Sambil tertawa Asiong menatap kekasihnya. "Bukannya biasanya kita makan diluar?"

"Eh, Alex, kamu meragukan kemampuanku ya?" Mendelik mata Ervina memelototi Asiong sambil tersenyum. "Jangan-jangan malah kamu ketagihan masakanku lho..."

"Chiung, makan!" Asiong berteriak memanggil temannya yang berada di halaman depan. "Yang benar saja, Vin? Aku jadi ingin mencobanya."

"Besok ya, kumasakkan untukmu." Gadis itu tertawa sambil bergabung dengan kedua kakak kandung Asiong di dapur.

"Ayo makan." Kata Mei Hwa sambil membagikan piring. "Achiung mana?"

"Wa disini..." Achiung yang sudah masuk ke dalam itu menjawab dan bergabung dengan mereka berempat. "Hmmm.... Wangi lho ayam gorengnya."

"Siapa dulu yang goreng, Chiung." Asiong menimpali sambil tertawa. "Cece wa lho..."

"Siong... Jangan promosi deh..." Chun Hwa tertawa menatap adik kandungnya yang sangat gemar menggodanya itu.

"Tapi benar lho, Chun Ce." Achiung memilih tempat duduknya. "Wa pernah makan masakan Chun Ce waktu masih di Pontianak. Enak lho..."

"Enak kan? Tuh, apa wa bilang..." Asiong tertawa senang mendengar perkataan temannya.

"Ya udah, kita makan yuk semua..." Chun Hwa mengalihkan topik pembicaraan dengan mengajak semua yang berada disana untuk memulai makan malamnya.


BAGIAN 96
"Oke. Jadi kita semua sudah berkumpul disini ya..." Kata Asiong sambil memandang semua orang yang hadir disana.

Keesokan harinya, sekitar jam 6 malam, Asiong mengumpulkan Jun Nyen, Achiung, Buntara dan juga Ervina, duduk di atas meja panjang, menyusun rencana untuk menyerang balik komplotan Roni. Asiong sendiri yang memimpin rapat kecil itu.

Asiong sengaja hanya mengundang Buntara dari keempat saudaranya, karena dia berpendapat kalau tenaga Buntara bisa lebih dibutuhkan dibanding sepupunya yang lain. Terlebih, Buntara adalah yang tertua dari mereka semua, jadi secara tidak langsung, Buntara yang memegang pimpinan dalam geng kecil sepupu mereka itu.

"Malam ini kita akan menyusun rencana untuk menyerang balik komplotan Roni." Kata Asiong. Dinyalakannya sebatang rokok dan dihisapnya sebelum dia melanjutkan.

"Seperti yang kita semua ketahui, selama ini Roni dan anak buahnya telah banyak berulah. Aku dan Buntara pun sampai terlihat pertarungan dengan mereka." Lanjut pemuda itu. "Belum lagi, mereka meracuni Justine, menyerang keluarganya, menyerang Cece, dan yang paling parah menyerang Vina dengan ilmu tenung."

"Itu semua masih terlepas dari masa lalu Vina yang mengawali semua konflik ini." Asiong berhenti untuk memandang kekasihnya yang duduk di sampingnya sambil mengelus-elus kepala Justine, yang terbuai dalam belaian gadis itu.

"Vin, boleh kuceritakan awal mula pertikaian kalian?" Tanya Asiong lembut kepada Ervina.

"Biar aku saja yang cerita." Sahut Ervina menatap Asiong dan kemudian ke semuanya. Lalu gadis itu mulai bercerita bagaimana keluarganya bisa mengenal Roni, sama seperti yang pernah diceritakan gadis itu kepada Asiong di restoran fastfood saat pemuda itu menolongnya dari diskotik.

"Hmmm... Kasusnya pelik, Siong." Jun Nyen berkomentar saat Ervina selesai bercerita. Dihembuskannya asap rokok yang dihisapnya dengan mulutnya.

"Ya, sangat pelik." Ujar Asiong. "Untungnya kau mau datang membantu."

"Tenang, Siong. Kau ketua kami, kalau ada apa-apa, pasti kami akan datang membantu." Jawab Jun Nyen tertawa.

"Nah, kalau aku tidak salah menduga." Asiong melanjutkan saat semuanya kembali tenang. "Roni bisa jadi tidak menduga, atau belum menduga, kalau Vina sudah sembuh..."

Buntara menjentikkan jarinya. "Seperti yang terpikirkan olehku..."

"Betul, Siong. Mereka pasti mengira Vina masih dalam pengaruh tenung ilmu hitam." Achiung menambahkan. Tangannya mematikan rokok yang telah habis dihisapnya ke dalam asbak di depan mereka.

"Itu dia! Dengan berharap mereka masih menduga seperti itu, ini saat yang tepat bagi kita untuk menyerang balik." Asiong menatap semua yang hadir disana.

"Maksudnya gimana, Siong?" Tanya Achiung.

"Apa rencanamu?" Jun Nyen menimpali.

Asiong mengalihkan pandangannya ke wajah Ervina yang duduk di sebelahnya. "Vina, siapa nama saingan bisnis Papamu itu?"

"Babah Chen Kuang." Jawab Ervina.

"Babah? Berarti sudah tua ya?" Buntara memotong perkataan Ervina.

Ervina mengangguk. "Ya, memang sudah tua."

"Kamu masih ada alamatnya?" Tanya Asiong lagi setelah Buntara mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

Sang gadis mengangguk lagi. "Mudah-mudahan dia belum pindah." Ujarnya. "Aku takkan melupakan tempat itu."

"Bagus!" Asiong mengepalkan tangannya. "Kita mulai dari sana."

"Apa rencanamu, Lex?" Ervina yang masih mengelus-elus kepala anjingnya tampak bingung dengan kekasihnya yang bersemangat itu.

Sebelum menjawab pertanyaan rasa penasaran semua orang yang hadir disana, Asiong mematikan rokok yang dihisapnya.

"Begini rencananya!" Kata pemuda rantau itu.


BAGIAN 97
Jun Nyen menghentikan motornya dan menapakkan kakinya di tanah. Setelah mengaca sesaat, pemuda itu berjalan dengan map yang diapit di lengan kanannya.

"Permisi." Jun Nyen memanggil saat melihat seorang wanita muda yang duduk di belakang etalase kaca toko yang dikunjunginya. "Apa benar ini Toko Dunia Motor?"

"Betul." Wanita muda yang ditanya Jun Nyen berdiri dari duduknya dan menjawab. "Ada yang bisa dibantu?"

"Saya mencari Babah Chen Kuang. Apa beliau ada?" Tanya Jun Nyen lagi. Matanya melirik sekilas ke dalam toko tersebut. Tampak seorang anak muda sedang merapikan dan menyusun barang dagangan ke dalam etalase kaca.

"Oh, Babah ya? Ada." Jawab wanita itu lagi. "Maaf, ini dengan siapa ya?"

"Oh, saya Anyen." Jun Nyen menjulurkan tangannya dan mengajak wanita di depannya bersalaman.

"Ada tujuan apa ya mau bertemu Babah Chen Kuang?"

"Errr... Katanya disini sedang mencari karyawan ya, apa benar?"

"Oh iya. Ko mau melamar kerja?"

Jun Nyen tersenyum. "Iya, begitulah."

"Tunggu sebentar, Ko. Biar saya beritahu Babah dulu..."

"Iya, silakan." Jun Nyen mengangguk. Sementara si wanita muda melangkah masuk ke dalam tokonya, Jun Nyen melihat-lihat ke sekeliling. Sengaja dia menyapukan matanya ke sekeliling tempat itu.

'Deretan kios semua.' Bathin Jun Nyen. 'Tapi yang jadi toko Papanya Ervina yang mana ya?'

Pada saat pemuda itu masih terbengong mempelajari keadaan sekeliling, sebuah panggilan menyadarkan lamunannya.

"Ko, Babah minta Ko masuk." Wanita yang sebelumnya berbicara dengan Jun Nyen telah keluar dan memberitahukan pemuda itu agar masuk dan bertemu dengan pemilik toko.

"Terima kasih." Sambil setengah membungkuk, Jun Nyen melangkah masuk ke dalam toko. Di depannya melangkah wanita muda yang membimbing jalannya.

"Ini ruangannya." Kata wanita itu sambil berdiri di depan pintu. "Bah, ini orang yang mau melamar itu."

"Suruh dia masuk." Terdengar sebuah suara tua yang sangat medok logat daerahnya menjawab dari dalam.

'Logat Hokkian.' Kata Jun Nyen dalam hati. 'Orang Medan kah?'

"Silakan, Ko." Wanita muda itu mempersilakan Jun Nyen masuk.

Sambil tersenyum, Jun Nyen mengucapkan terima kasih kepada wanita itu dan melangkah ke dalam ruangan. Di dalamnya, dia melihat seorang lelaki yang sudah tua, dengan jambang dan jenggot yang mulai beruban, rambut keriting dan mata sipit yang berlindung di balik kacamata tebal, duduk di kursi kebesaran seorang bos.

"Selamat pagi." Sapa Jun Nyen sambil menjulurkan lengannya.

"Pagi. Duduk. Duduk." Lelaki itu mempersilakan Jun Nyen duduk di kursi di hadapannya. Dialah Babah Chen Kuang.

"Maaf, apa benar disini sedang mencari pegawai baru, Babah?" Jun Nyen mengajukan pertanyaan.

Babah Chen Kuang tertawa lebar sebelum menjawab. "Kau bisa tahu dari mana kalau disini sedang butuh pegawai?"

"Dengar dari seorang teman." Jawab Jun Nyen.

"Oh, begitu?" Babah Chen Kuang menatap pemuda di hadapannya dengan ujung mata bagian atasnya. "Siapa namanya?"

"Saya, Jun Nyen."

"Bukan, bukan namamu. Tapi nama temanmu yang kasih tahu kamu itu."

"Oh," Jun Nyen meracau dalam hati. 'Sial. Pake tanya gitu segala lagi.'

"Maaf. Dia minta saya menyembunyikan namanya, Bah. Jadi saya tak bisa menyebutkannya." Jawab Jun Nyen yang terpikir cara untuk menjawabnya.

"Oh, begitu?" Lagi-lagi Babah Chen Kuang menatap Jun Nyen dengan ujung matanya. Tampak dia mempelajari penampilan pemuda di hadapannya yang saat itu berpakaian rapi itu.

"Hmmm... Siapa namamu tadi?" Tanya Babah Chen Kuang lagi.

"Jun Nyen."

"Bawa ijazah?"

"Bawa. Bawa, Bah." Jun Nyen menyerahkan map yang dikepit di lengannya itu kepada Babah Chen Kuang yang langsung membuka dan mempelajarinya.

'Tampangnya licik!' Gumam Jun Nyen dalam hati. 'Mudah-mudahan wa bisa diterima.'

Setelah terdiam sesaat, Babah Chen Kuang menatap Jun Nyen dengan ujung matanya bagian atas.

"Bagus. Sudah pernah kerja di bengkel ya?" Tanya Babah Chen Kuang.

"Iya, Mbah." Jawab Jun Nyen. Pemuda itu memang aslinya anak bengkel di Pontianak, sebelum akhirnya dia ditarik menjadi anak buah oleh Asiong.

"Oh, begitu?" Babah Chen Kuang berkata. "Pengalaman ada, bagus, bagus."

'Oh begitu aja terus, Bah.' Kata Jun Nyen dalam hatinya. 'Belum sepuluh menit wa duduk disini, sudah berapa kali oh begitu yang wa dengar.'

Setelah wawancara singkat, termasuk membicarakan gaji yang sebenarnya tidak penting dan bukan menjadi tujuan utama bagi Jun Nyen, akhirnya Babah Chen Kuang menjulurkan tangannya.

"Selamat! Mulai besok kau sudah bisa bekerja disini." Kata Babah Chen Kuang.

"Oh, begitu?" Tanpa sadar pemuda itu bergumam kata-kata Babah Chen Kuang. "Baik. Terima kasih, Bah."

"Ya, ya." Babah Chen Kuang tertawa setelah wawancara selesai dan Jun Nyen resmi menjadi pegawai tokonya.

'Bagus, Siong! Wa diterima bekerja disini! Semua berjalan sesuai rencana.' Sambil tersenyum penuh arti, Jun Nyen berkata dalam hatinya. 'Semua berjalan sesuai rencana!'


BAGIAN 98
Waktu berlalu dengan cepat. Seminggu sudah sejak Jun Nyen bekerja di toko Babah Chen Kuang. Karena pernah bekerja di bengkel sebelumnya, jadi tidak sulit bagi Jun Nyen untuk beradaptasi. Hanya beberapa hari bekerja disana, Jun Nyen telah disukai oleh Babah Chen Kuang.

Dalam waktu yang bersamaan pula, Meilan, mantan kekasih Asiong memutuskan untuk meninggalkan Pontianak menuju Jakarta. Gadis itu masih belum puas sebelum bertemu dengan Asiong kembali. Pertemuan singkat di Pontianak beberapa hari yang lalu, ternyata belum cukup mengobati kerinduan hatinya, yang masih tercekat dengan sang pemuda.

Sementara Asiong dan Ervina bisa bernafas lega untuk beberapa waktu lamanya, karena seperti dugaan Asiong sebelumnya, Roni dan komplotannya tidak mengetahui bahwa Ervina telah sembuh dari tenung ilmu hitam yang dilancarkannya. Asiong sendiri masih menunggu perkembangan dari Jun Nyen yang 'diutusnya' bekerja di toko Babah Chen Kuang.

Dua minggu berlalu...

"Ada perkembangan apa, Nyen?" Asiong bertanya kepada Jun Nyen yang malam itu berkunjung ke rumah konveksinya. Saat itu sekitar pukul setengah delapan malam.

"Kabar bagus, Siong. Babah Chen Kuang ternyata punya penyakit asma." Jun Nyen menjelaskan sambil membuka bungkus rokok dan mengeluarkan sebatang rokok dari dalamnya.

"Sakit asma?" Ervina yang duduk di sebelah Asiong di meja panjang konveksi, terhenyak mendengar keterangan dari Jun Nyen. "Setahuku dulunya dia gak begitu..."

"Mungkin sakitnya baru belakangan ini..." Sahut Asiong. "Darimana kau bisa tahu?"

"Sudah sejak seminggu lalu, wa lihat di mejanya ada bungkusan obat. Wa semula gak gitu peduli." Kata Jun Nyen. "Tapi iseng-iseng wa cari tahu nama obatnya. Ternyata obat asma. Dan dua hari yang lalu, sesak nafasnya kambuh."

"Wah, terus..." Achiung yang ikut bergabung dengan mereka, tak mau ketinggalan menimbrung.

"Dia langsung minum obat itu. Gak lama kemudian sesak nafasnya pun mendingan." Lanjut Jun Nyen.

"Terus sudah tahu dimana dia menyimpan uangnya?" Tanya Asiong.

Jun Nyen menggeleng. "Di suatu tempat di ruangannya. Tapi kau yakin mau wa ambil uangnya? Risikonya besar lho..."

"Bukan. Bukan begitu." Ujar Asiong. "Tidak mungkin lah kalau Babah Chen Kuang menyimpan uangnya di lemari begitu saja. Itu terlalu berbahaya."

"Maksudmu, uangnya disetor ke bank?" Tanya Achiung.

"Bisa jadi ada kemungkinan." Mata Asiong tampak berbinar-binar. "Toko aksesoris motor seperti dia, tidak mungkin lah terima pembayaran dengan kredit atau kartu gesek. Pasti pembayaran dengan tunai."

"Jadi kalau pembayaran tunai, kalau sudah banyak, dia pasti akan menyimpannya di bank." Lanjut Asiong. "Nah, saat itu, kita beraksi."

"Pas Babah punya penyakit asma lagi ya?" Timpal Achiung.

"Itu dia, Chiung! Kita manfaatkan kesempatan itu." Asiong berujar lagi, sambil tersenyum penuh arti.

"Lex, itu perbuatan jahat lho. Itu kan merampok namanya..." Ervina yang berada di samping pemuda rantau itu menggamit lengan kekasihnya sambil berkata.

"Lebih jahat mana jika dibanding dia meracuni papamu?" Asiong menatap mata gadis yang dicintanya. "Lebih jahat mana jika dibanding dia menghancurkan usaha papamu?"

Ervina terdiam mendengar perkataan kekasihnya. 'Alex, lagi-lagi kamu berkorban untukku. Yang satu ini risikonya besar, tapi kamu tetap menempuhnya tanpa mengeluh...'

"Nah, Nyen, coba cari tahu kapan dia akan menyetor uangnya ke bank." Kembali Asiong melanjutkan penjelasannya. "Saat itu kita langsung bergerak!"

Jun Nyen mengangguk. "Oke, Siong. Siap!"

"Bagus." Ujar Asiong dengan berwibawa. "Achiung, selalu siap di rumah ya. Kapanpun Jun Nyen menghubungi, kita harus siap bergerak."

"Siap, Ketua!" Achiung menjawab dengan mantap.

Di saat yang bersamaan, agak jauh di luar rumah konveksi Asiong, seorang gadis dalam mobilnya sedang memperhatikan keadaan sebuah rumah yang diincarnya.

"Itu dia rumah yang kau cari." Sebuah suara di samping gadis itu berkata.

"Jadi itu rumah Ko Asiong?" Gumam gadis yang diajak berbicara itu.

"Ya, itu rumahnya."

"Darimana kamu bisa tau itu rumahnya Ko Asiong?"

"Mudah saja. Saat kau bilang mau keluar ke Jakarta, wa langsung tau pasti tujuanmu hanya satu. Mau membalaskan dendammu pada Asiong kan?"

"Kenapa kamu bisa tau itu semua?"

Orang itu tertawa sebelum menjawab. "Mei, Mei. Sudah berapa lama kau mengenal wa? Wa ini teman Thai Nyiu sejak kecil sampai sekarang. Jujur, waktu wa tau Thai Nyiu jadi trauma setelah dihajar Asiong, wa ingin balas dendam padanya. Namun wa belum pernah ketemu rumahnya."

"Saat wa dengar dari Thai Nyiu, kau bertemu dengan Asiong di Pontianak dan lalu datang ke Jakarta sini, wa langsung minta tolong teman-teman wa mencari tau di bandara sana. Asiong tidak mengenali teman-teman wa, tapi mereka mengenali Asiong. Terlebih dia membawa pacar dan dua temannya. Teman-teman wa mengikutinya dan jadi tahu ini rumahnya."

"Siapa sangka, kau sudah datang lebih dulu sebelum wa sempat bergerak." Sambung orang itu lagi.

"Hmm... Begitu ya?" Sahut gadis yang dipanggil Mei itu. Dia bukan lain adalah Meilan, mantan kekasih Asiong. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita berbagi tugas?"

"Apa rencanamu?"

"Ko Abui, kau tolong urus cewek sok itu. Biar Ko Asiong wa yang urus sendiri. Bagaimana?" Ujar Meilan dingin.

Orang yang dipanggil dengan Ko Abui tertawa lepas. "Meilan, Meilan. Kau tak ada bedanya dengan Thai Nyiu. Sama-sama licik!"


BAGIAN 99
"Alex, aku senang sekali kita bisa berduaan lagi." Ervina tersenyum sambil menggandeng lengan Asiong keluar dari gedung bioskop.

"Ya, cukup lama juga ya kita sudah tidak seperti ini." Asiong tertawa menyambut komentar kekasihnya itu.

"Masa sih, Lex?" Ervina tersenyum menggoda pemuda kekasihnya itu.

"Iya, sejak kamu kena ilmu hitam itu." Sahut Asiong. "Eh, bukan. Sejak Justine diracuni."

"Wah, itu sudah lama lho..." Kata Ervina. "Tapi kok kita gak nonton hari Sabtu aja sih, Lex? hari Kamis gini kan tanggung banget..."

"Kamu tahu tidak kenapa?" Asiong tersenyum dan menatap gadis itu.

Ervina menggelengkan kepalanya.

"Karena Sabtu nanti, malam minggu, kita akan keluar bersama Jun Nyen dan Achiung. Kemungkinan juga sepupu-sepupuku akan ikut."

"Oh ya?" Mata Ervina membesar mendengar perkataan Asiong. "Wah, sepertinya asik deh."

"Tentu dong. Kan kami sudah merencanakannya terlebih dulu." Asiong tersenyum.

"Pantas kamu ajak aku nonton malam ini." Sang gadis menggelayut manja di lengan Asiong. "Terima kasih ya. Tadi filmnya bagus, aku suka..."

"Terima kasih juga sudah mau menemaniku nonton..." Balas Asiong.

"Kita kemana sekarang, Lex?"

"Lho, terserah kamu. Kamu mau makan dulu baru pulang, atau gimana?"

"Boleh. Aku juga udah lapar nih."

"Hmm. Banyak makan jadi gemuk lho nanti..."

"Gak doooong." Dengan merengut manja, Ervina menatap kekasihnya. "Aku akan selalu jaga penampilanku untukmu."

Asiong tertawa lalu memeluk pundak kekasihnya dari samping seraya meneruskan jalannya.

"Mau makan dimana, Vin?"

"Dimana aja, yang penting ada Alex yang menemani..." Jawab Ervina.

"Aduh, lagi-lagi dibalikin..." Asiong kembali tertawa. "Kalau Pizza Hut boleh?"

"Ihhh... Terserah kamu, Lex. Aku makan dimana aja..."

"Oke, kalau begitu. Aku yang tentuin tempatnya, kamu yang tentuin menunya ya." Asiong menggoda Ervina.

"Kok begitu?"

"Ya dong. Biar sama-sama punya pilihan." Jawab Asiong. Saat itu keduanya sudah tiba di depan pintu masuk Pizza Hut di mall yang mereka kunjungi.

"Selamat malam. Meja untuk berdua?" Pelayan wanita yang berdiri di depan pintu tersenyum dan menyapa sepasang kekasih itu.

"Ya," Asiong mengangguk.

"Mari ikut saya!" Pelayan itu mendahului keduanya berjalan dan memilihkan sebuah meja yang cukup untuk berdua duduk saling berhadapan, yang terletak di pinggir ruangan.

"Silakan!" Kata pelayan wanita itu sambil menyodorkan menu kepada keduanya.

"Kamu mau pesan yang mana, Lex?" Sambil membuka dan melihat menu yang disediakan, Ervina bertanya kepada pemuda rantau kekasihnya.

Asiong terdiam, tidak menjawab.

"Alex, kok diam?" Setelah beberapa saat melihat kekasihnya terdiam, Ervina mengangkat kepalanya dan menatapnya.

"Kan sekarang giliran kamu...." Ujar Asiong pelan.

"Ihhhh...." Merengut sambil tersenyum, Ervina memelototi kekasihnya sekilas. "Nanti kalau yang kupesan, kamu tidak suka gimana?"

"Apapun yang kamu pesan, pasti aku suka. Sama seperti yang memesan, aku pun suka padanya." Jawab Asiong tersenyum.

"Ihhhh..." Ervina masih memelototi kekasihnya sambil tersenyum.

Sikap sepasang kekasih itu sempat menarik perhatian si pelayan wanita yang berdiri menunggu keduanya. Tak urung si pelayan tersenyum melihat kemesraan sepasang kekasih di depannya.

"Mbak," Masih ada senyum di bibir Ervina saat gadis itu menengok dan mengatakan pesanannya. "Pesan yang Supreme aja ya, dengan cheese topping. Minumnya biasa ya, Coca-Cola Pitcher."

Setelah memesan dan mengobrol sambil menunggu pesanan tiba, keduanya terlarut dalam suasana indah di malam itu. Makan malam bersama dengan orang yang dicintai, sudah pasti akan menjadi momen yang sangat menyenangkan. Seperti itulah yang sedang dialami oleh pasangan Asiong dan Ervina malam itu.

BAGIAN 100
Saat Asiong mengendarai motornya menuju rumah konveksinya keluar dari mall bersama dengan Ervina yang membonceng di belakangnya, waktu sudah lewat pukul 7 malam. Seperti biasanya bila berada di atas motor yang dibawa Asiong, Ervina selalu memeluk erat pinggang kekasihnya.

Sambil melintasi indahnya malam ibukota Jakarta yang dihiasi kelap-kelip cahaya lampu, dengan ditemani lalu lintas yang berseliweran, sepasang kekasih itu mengobrol sambil bercanda melewati waktu perjalanan ke rumah bersama-sama.

Asiong membelokkan motornya memasuki jalan dimana rumah konveksinya berada. Lampu jalam menerangi area sekitar tempat tinggal mereka. Beberapa warga berjalan santai melintas di depan keduanya.

"Motormu mau langsung masuk ya, Lex?" Gadis itu bertanya sesaat sebelum turun.

Pemuda kekasihnya itu mengangguk dan mematikan motornya di depan rumahnya. Dengan berpegangan pada pundak Asiong, Ervina memanjat turun dari motor dan membuka pintu pagar. Lalu dengan pagar yang dipegang olehnya, gadis itu menunggu kekasihnya turun dari motor dan mendorongnya masuk ke dalam rumah konveksi.

Saat Ervina hendak menutup pintu pagar, gadis itu melihat sesosok bayangan mendekat. Karena kepalanya agak tertunduk, jadi gadis itu tidak menyadari kalau sosok itu telah berdiri di depan pintu pagar yang hendak ditutupnya itu. Gadis itu baru menyadarinya saat sebuah suara panggilan mengejutkannya.

"Ko Asiong." Panggil sosok itu.

Ervina mengangkat wajahnya dan menengok ingin mengetahui siapa yang memanggil kekasihnya itu. Namun, saat menyadari siapa sosok yang berada di depannya itu, gadis itu justru melotot dan membelalakkan matanya.

Sementara sosok yang memanggil Asiong juga tidak kalah membelalakkan mata saat melihat Ervina berdiri di depannya. Kedua gadis itu saling memelototi satu sama lain untuk beberapa saat lamanya.

"Vina, kok tumben kamu panggil aku begitu?" Di antara deru mesin motornya yang belum dimatikan, Asiong mendengar namanya dipanggil oleh suara seorang gadis, namun dia tidak menyadari bahwa yang memanggilnya bukanlah Ervina, kekasihnya, melainkan...

"Mei?" Asiong terbelalak saat menyadari gadis yang memanggil namanya itu. Lidah pemuda itu menjadi kelu saat melihat kenyataan di depan matanya.

'Bagaimana dia bisa tahu rumahku ini?' Bathin Asiong dalam hati.

"Ervina! Ternyata kau tinggal serumah dengan Ko Asiong ya! Tak kusangka kau ternyata wanita jalang!" Gadis yang ternyata adalah Meilan berkata dengan ketus.

"Heh! Apa kau bilang? Wanita jalang!" Ervina tak mau kalah dibentak seperti itu oleh Meilan. Terlebih dia dibentak dan dipermalukan di depan kekasihnya sendiri.

"Siapa yang lebih jalang? Kau sudah putus dengan Alex, tapi masih kembali lagi mencarinya?" Lanjut Ervina sambil tak henti memelototi Meilan. Asiong yang berdiri di belakangnya hanya bisa melihat kedua gadis itu bersiteru mengadu mulut tanpa bisa bersuara.

"Alex katamu? Huh!!" Meilan mencibir. Tatapannya dialihkan kepada Asiong yang berada di belakang Ervina. "Ko Asiong, kau lupa ya..."

Dengan sebelah tangan memegangi perutnya, Meilan kembali berkata. "Janin yang ada di dalam perut ini. Ini anak kita berdua, Ko..."

"Apa?!" Semakin terbelalak Ervina mendengar perkataan Meilan saat itu. Kepalanya ditengokkan ke arah kekasihnya.

"Alex, kamu..." Ervina tak sanggup melanjutkan perkataannya.

"Ko Asiong, benar-benar sudah lupa. Janin ini masih anak kita berdua, tapi Koko sudah berhubungan lagi dengan gadis jalang itu!" Melihat pancingannya berhasil, Meilan semakin melanjutkan perkataannya.

Kali ini dipanggil gadis jalang oleh Meilan, tidak membuat Ervina ingin membalasnya. Pikirannya lebih tertuju kepada kekasihnya yang berada di belakangnya itu.

"Alex.... Ini..." Tampak kedua mata Ervina mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar.

"Vina," Asiong berkata dengan dingin. "Jangan dengarkan perkataannya! Itu semua fitnah!"

"Fitnah katamu?" Meilan membalas. "Koko, kamu keterlaluan!"

"Kau yang keterlaluan, Mei!" Asiong yang mulai kesal itu menuding Meilan dengan telunjuknya.

Saat Asiong menuding Meilan dengan jarinya, di belakang gadis berambut pendek itu, mendadak muncul seorang lelaki yang tersenyum menyeringai. Matanya berbinar-binar menatap Ervina yang masih berdiri di balik pintu pagar itu.

"Hai, Ervina. Kita berjumpa lagi!" Lelaki itu mendadak menyapa Ervina, membuat sang gadis yang sudah shock itu semakin menjadi rasa terkejutnya.

"Abui!" Sementara Asiong tercekat melihat kemunculan mendadak lelaki yang ternyata masih dikenalnya itu.


BERSAMBUNG ,,,,,,,



Cerita dan karya asli: Kaz Felinus Li.
Posted By: Kaz HSG
This story is the property of Heavenly Story Group.
Copyrights: ©HSG-August 2010

(Dilarang meng-copy dan memperbanyak tanpa ijin langsung dari penulis: Kaz Felinus Li. Pelanggar akan dikenakan tindak pidana).

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates