23/03/11

Cerpen : Mengenal Reki

Mengenal Reki


“Our deeply condolences over the loss of our brother, Reki, due to his sickness.
May his soul rest in peace and the family
be strengthen.” Runi terkejut membaca pesan singkat
yang baru saja diterimanya dari Ida.
Pesan itu mengabarkan kepergian salah
seorang teman mereka, Reki, yang
selama hampir dua bulan terakhir
dirawat di rumah sakit. Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi wajah Runi
yang masih terpaku. * Dua tahun yang lalu, saat berlangsung
masa orientasi mahasiswa baru. Hari itu
adalah hari kedua Runi menjadi
mahasiswa baru jurusan Teknik Kimia di
sebuah institut teknologi. Runi setengah
berlari membawa tas plastik warna merah berisi berbagai keperluan untuk
masa orientasi hari ini. Sementara
tangannya yang lain membawa bibit
tanaman yang akan ditanam bersama
teman seangkatannya nanti. Dia tidak
sendiri. Beberapa mahasiswa baru sepertinya juga sedang terburu-buru
berlari menuju kampus jurusan mereka
masing-masing. Mereka mudah dikenali
dengan pakaian kaos putih dan rambut
atau lengan yang diikat dengan pita
warna tertentu. Runi harus tiba di kampusnya sebelum
pukul enam kalau tidak ingin
mendapatkan hukuman dari senior-
seniornya, panitia orientasi. Seharusnya
dia berangkat lebih pagi terutama hari
ini, di saat harus membawa bermacam- macam barang.
”Hei, sedang apa kau? Kalau tidak buru-buru…” Seorang pemuda menyapanya sambil berlari
mendahuluinya. Dia juga membawa tas
plastik warna merah dan cangkul yang
ditutup dengan kertas koran. Runi
mengenali pemuda itu sebelumnya
ketika menghadiri upacara penerimaan mahasiswa baru di jurusannya kemarin. Pemuda itu cukup jauh berlari
meninggalkan Runi di belakang. Larinya
bisa dibilang cepat apalagi dengan
membawa barang-barang seberat itu.
Runi berusaha menyusul pemuda itu
tetapi sia-sia. Tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya dan menoleh
ke arah Runi. Ia balik berlari kembali ke
arah gadis itu. Tanpa berkata apa-apa,
dia mengambil bibit tanaman yang
dibawa Runi kemudian berlari
menyejajarinya. Seperti yang mereka duga, mereka
berdua terlambat. Di depan portal yang
ditutup, menunggu beberapa senior
bermuka masam. Runi yang berusaha
mengatur napasnya menatap pemuda
itu dengan tatapan meminta maaf tapi yang dilihatnya hanya tersenyum tanpa
beban. Mereka berdua harus menunggu
hukuman sebelum diijinkan mengikuti
kegiatan, sementara teman-teman
mereka bersenam pagi diiringi suara
teriakan dari panitia orientasi. ”Aku Reki. ” Pemuda itu memperkenalkan diri.
”Runi,” jawab Runi singkat. Runi menatap lengan kiri Reki. Pemuda
itu mengikuti pandangan gadis itu
kemudian setengah tersentak menepuk
lengan kirinya. Dia lupa mengenakan
pita warna jingga tua di lengannya,
warna yang sama dengan pita yang mengikat rambut Runi. Itu artinya satu
hukuman lagi. Menyadari itu, Reki
setengah tak acuh menggaruk
kepalanya dan berkata bahwa dia lupa
karena terburu-buru.
Melihat sikap santai Reki, Runi tersenyum. Dilepasnya pita yang
mengikat salah satu dari dua kuncir
rambutnya dan memberikannya pada
Reki. Dia membantu mengikatkan pita
itu di lengan Reki. ”Bagaimana denganmu?” tanya Reki sambil merapatkan ikatan pitanya.
Runi melepas pitanya yang satu lagi dan
meminta Reki membawanya sebentar
sementara ia mengeluarkan gunting
dari tempat peralatan tulisnya. Runi
memotong pita itu menjadi dua bagian yang sama panjang dan
mengikatkannya ke kedua kuncir
rambutnya. Karena sedikit kesulitan
mengingat kuncir rambutnya yang
cukup pendek, Reki membantunya
mengikatkan pita itu di rambut Runi. Runi dan Reki saling berpandangan
sambil menahan senyum. Setidaknya
sekarang mereka hanya tinggal
menunggu satu hukuman karena datang
terlambat. * “Hei, sibuk?” Ida melongok ke dalam ruang sekretariat. “Ke taman yuk !” Runi yang sedari tadi duduk di depan
komputer membaca file proposal acara
pekan olahraga yang menjadi tanggung
jawabnya menoleh dan membalas
dengan senyum. Setelah menutup file
tersebut, dia meninggalkan komputer tetap menyala dan mengikuti gadis itu.
Runi dan Ida bergabung dengan
organisasi kemahasiswaan di jurusan
mereka sejak semester lalu. Runi
menjadi anggota departemen
Kesejahteraan Mahasiswa sedangkan Ida bergabung dengan unit Pers
Mahasiswa.
Mereka menuju sebuah ruang terbuka,
yang biasa juga disebut taman, dengan
beberapa bangku dan meja yang di tata
di bawah sebuah pohon besar dan rindang. Taman itu terletak tepat di
samping ruang sekretariat. Kemudian,
berbatasan langsung dengan taman itu
adalah lapangan basket yang sering
digunakan untuk latih tanding anak-
anak dari unit kegiatan Klub Basket. Sore itu pun, mereka sedang melakukan
latihan rutin.
Rupanya bukan hanya Runi dan Ida yang
sedang ingin menikmati semilir angin
sore di taman. Mereka melihat Tito,
teman mereka, duduk di salah satu bangku. Runi dan Ida saling memandang
untuk beberapa saat. Mereka memang
hanya bisa melihat punggung Tito tapi
mereka tahu bahwa teman mereka
tersebut masih bersedih karena
kehilangan. Hampir sebulan berlalu sejak Reki meninggal. Tito mungkin
adalah orang yang paling kehilangan
Reki. Kabarnya, mereka sudah
bersahabat sejak di sekolah menengah.
”Tito, asyik sekali !” Ida tersenyum menyapa, mengambil tempat duduk di
depan Tito sedangkan Runi memilih
bangku di antara mereka berdua.
Mereka bertiga duduk mengelilingi
sebuah meja.
Tito balas tersenyum menyapa. Matanya menatap Runi beberapa saat sebelum
kembali memperhatikan anggota klub
basket yang sedang berlatih.


”Hmm, kalau kalian perhatikan, akhir- akhir ini klub basket kita terlihat kurang
bersemangat,” Ida berkata sambil menoleh ke arah lapangan basket,
berusaha memulai pembicaraan
Tito tersenyum tipis, ”Mungkin karena tidak ada Reki. Dia yang paling
bersemangat dalam latihan basket. ” Dalam hati, Runi membenarkan. Dia
memang hanya memperhatikan Reki
yang sedang berlatih ketika berjalan
pulang melewati ruang sekretariat
tetapi dia bisa melihat bahwa Reki
sangat menikmati bermain basket. * Saat mereka duduk di semester tiga.
Sore hari setelah menghadiri mata
kuliah Azas Teknik Kimia II, Runi dan Ida
berhenti sejenak di depan papan
pengumuman di dekat ruang
sekretariat. Mereka melihat sebuah pengumuman tentang rekrutmen
anggota organisasi mahasiswa jurusan
mereka. Hari itu adalah hari terakhir
pendaftaran anggota.
”Wah, aku baru tahu kalau ada open recruitmen. Kebetulan, mereka punya
unit Pers. Ayo, Runi, kita mendaftar
sekarang. Di sini dikatakan mereka
masih menerima pendaftaran sampai
malam ini.” Runi terdiam sesaat sebelum berkata,
”Maaf, aku tidak ikut. ” Ida menatap Runi dengan pandangan
bertanya. Yang ditatapnya balas
tersenyum. ”Kau tahu aku tidak pintar berkomunikasi dan bersosialisasi
dengan orang, bagaimana bisa
bergabung dengan organisasi seperti
itu?” ”Justru itu.” Ida menjentikkan jari. ”Ini kesempatan yang bagus untuk belajar dan menambah pengalaman.” Ida menambahkan sambil setengah
bercanda, ”Lagipula, memang kenapa kalau kau tidak pintar berkomunikasi,
pemalu, kuper, dan gampang dibohongi?
Aku sendiri banyak bicara, selalu ribut,
dan tidak pernah mau mengalah. Tidak
masalah, ’kan, karena setiap orang itu berbeda, unik!” Mereka berdua tertawa.
Saat itu, beberapa orang melintas di
dekat mereka. Mereka mengikuti mata
kuliah yang sama dengan Runi dan Ida.
Salah seorang dari mereka tanpa
sengaja menabrak Runi dari samping. Orang itu Reki. Sepertinya dia sedang
bercanda dengan Tito hingga tidak
menyadari kalau Runi di dekat mereka.
Beberapa saat, mereka berdua saling
menatap.
Tito tersenyum menyapa Runi dan Ida. ”Hai, sedang apa?” Ida menunjuk ke arah kertas
pengumuman yang tadi sedang mereka
baca. ”Ini, ada pengumuman rekrutmen anggota. Aku dan Runi berpikir untuk
bergabung.” Mata Tito menatap Runi dan Ida
bergantian. ”Itu bagus! Sudah kalian putuskan ingin bergabung dengan departemen
apa?” ”Aku ingin mencoba masuk unit Pers mereka, kalau Runi …” Mereka bertiga menatap Runi, ingin
tahu. Runi berpikir sejenak. ”Belum aku putuskan ikut atau tidak. ” ”Kenapa tidak ?” Tito bertanya sambil melirik Reki yang berdiri di sebelahnya.
”Kuliah itu membosankan !” Reki menimpali. ”Kita ’kan masih muda, tidak ada salahnya mencoba berbagai
hal selain hanya belajar dan belajar. ” ”Reki bergabung dengan klub basket sejak semester satu, baru beberapa kali
ikut latihan tapi sudah berhasil masuk
tim inti. Itu karena dia gila basket !” Tito tersenyum menimpali.
Reki melirik jam tangannya. ”Oya, aku harus ke lapangan sekarang. Ada latihan rutin. ”. ”Latihan lagi? Bagaimana kalau kita berempat mengobrol di kafe
sebentar?” Tito menawarkan ide. Reki menggeleng. ”Sebaiknya aku ke lapangan sekarang dan memulai pemanasan. Setelah
tertidur di kelas selama hampir dua jam,
aku butuh sedikit perenggangan. ” Tito, Runi, dan Ida tertawa melihat Reki
merenggangkan ke dua tangannya ke
atas. Mereka tahu kebiasaan Reki yang
sering tertidur di kelas ketika kuliah
berlangsung.
”Kalau tentang basket, kau terlalu bersemangat. Apa salahnya bolos
latihan sekali-kali? Jarang-jarang kita
bisa jalan dengan Runi dan Ida” ”Kami juga tidak bisa. Lebih baik kami pergi ke ruang sekretariat sekarang.
Ada beberapa hal yang ingin aku
tanyakan sebelum mendaftar. ” Ida memandang Runi yang kemudian
mengangguk mengiyakan. ”Benar, tidak ada alasan untuk menunda atau bolos latihan. Kalau kau
tidak ada kerjaan, bagaimana kalau
menonton latihan klub basket dari
taman?” tawar Reki sambil tersenyum setengah mengejek. ”Tidak ada kerjaan, katamu? Enak saja!” Tito balas menyikut lengan Reki. Mereka berempat tertawa.
”Kami duluan, ” Reki berpamitan sebelum mereka beranjak pergi. ”Oya, Runi, maaf tadi aku tidak sengaja
menabrakmu. ” Tawa Tito meledak. ”Telat tahu!” Dia menonjok pelan lengan Reki.
Ida tertawa terbahak-bahak sedangkan
Runi hanya tersenyum simpul
menyaksikan tingkah Reki dan Tito.
Kemudian mereka berdua pergi ke
ruang sekretariat. Runi memutuskan untuk ikut mendaftar bersama Ida.
Keluar dari ruang sekretariat, langit
berwarna kemerahan menjelang senja.
Runi dan Ida berhenti sejenak melihat
sekumpulan anggota klub basket yang
masih berlatih di tengah lapangan. Runi tersenyum memperhatikan Reki yang
dengan lincah membawa bola melewati
rekan-rekannya. Bajunya basah oleh
keringat tapi dia terlihat menikmati,
tawa tak pernah lepas dari wajahnya. *


Pagi itu, tidak seperti biasanya, Reki
terlihat sibuk mengerjakan soal Kimia
Fisika II yang ada di hadapannya. Tentu
saja, saat itu mereka memang sedang
mengerjakan quiz. Runi yang duduk
berjarak satu kursi dari Reki, tersenyum simpul memperhatikan pemuda itu
terlihat serius berkutat dengan soal-soal
tersebut.
Seratus menit kemudian, waktu untuk
mengerjakan quiz selesai. Ida yang
duduk di belakang Runi menghampiri gadis itu sambil membawa selembar
kertas, take home quiz tambahan.
”Tadi, soal quiznya aneh !” Ida berkata sedikit cemberut.
”Aneh bagaimana ?” tanya Runi. ”Aneh maksudnya, aku tidak bisa mengerjakan sama sekali. Eh, sekarang
ditambah ini.” Ida melambai- lambaikan kertas yang dipegangnya.
“Kalau begitu, kita ke ruang baca untuk mencari literatur dan
menyelesaikan soal itu sekarang, ” usul Runi. Ruang baca adalah sebutan untuk
sebuah perpustakaan kecil yang
terdapat di jurusan mereka.
Ruang baca yang terletak di sudut lantai
dua gedung jurusan Teknik Kimia itu
terlihat sepi. Hanya ada satu-dua anak duduk di sudut ruangan yang terlihat
sibuk dengan buku teks dan buku
catatan mereka. Ida dan Runi memilih
duduk di kursi yang mengelilingi sebuah
meja besar yang terletak di tengah
ruangan. Runi membaca lembaran soal yang didapatnya tadi dan memberi
tanda beberapa poin yang dianggapnya
penting sementara Ida menuju rak buku
di dekat mereka untuk mencari
beberapa literatur tambahan. Beberapa
saat kemudian, Runi teringat buku catatannya dan beranjak menuju rak
penitipan tas di depan pintu masuk.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruang
baca dibuka dari luar. Runi terkejut
ketika tiba-tiba tubuhnya terdorong
sehingga dia hampir menabrak rak penitipan di depannya. Runi menoleh.
Matanya bertemu pandang dengan Reki.
”Ya ampun, Reki! Kenapa kau suka sekali menabrak Runi ?” Tito yang mengikuti di belakang Reki berkata
sambil tertawa. Reki berbalik dan
menatap Tito. Wajahnya terlihat gusar.
Tito bertanya pada Runi apa gadis itu
tidak apa-apa. Runi menjawab dengan
senyum dan menggeleng pelan. Ida yang menyadari kehadiran mereka,
datang menghampiri dengan membawa
dua buku tebal yang terlihat sudah
termakan usia. ”Kalian ke sini unutuk mengerjakan soal take home tadi? Quiz tadi susah
sekali, pasti nilaiku hancur. Untung ada
soal untuk tambahan nilai. ” ”Kalau untuk Reki, soal seperti tadi bukan apa-apa. Walaupun selalu tertidur
saat kuliah berlangsung, dia sama sekali
tidak kesulitan menyelesaikannya.
Benar kan, Reki ?” Tito tersenyum ke arah Reki yang terlihat merasa tidak
nyaman berada di ruangan itu. Mendengar namanya disebut, Reki
selintas menoleh.
”Dalam beberapa hal, dia memang lambat. Tapi sebenarnya otaknya cukup
encer,” imbuh Tito. Runi dan Ida tertawa kecil menanggapi.
Sedangkan Reki terlihat bingung karena
tidak mengerti apa yang sedang mereka
bicarakan. Runi menyadari tingkah Reki
yang tidak biasa. ”Ada apa ?” Reki terdiam menatap Runi beberapa
saat. ”Bukan apa-apa. Eh, aku lupa, masih ada urusan.” Dia bergegas menuju pintu dan memutar
pegangannya. Pintu kembali terbuka
dan Reki melangkah keluar. Tetapi
sebelum menutup pintu, dia berbalik. ”Runi, maaf, tadi tidak sengaja. ” Tawa Tito dan Ida langsung meledak
sedangkan Runi mencoba menahan
tawa karena menyadari tatapan
bernada teguran dari petugas ruang
baca yang duduk di depan mejanya, di
dekat tempat mereka bertiga berdiri. ”Sebenarnya, Reki tidak suka berada di perpustakaan. Tadi, aku yang
memaksanya ke sini, ” Tito menjelaskan setelah dia berusaha
menahan tawanya. ”Dia merasa ”terintimidasi” melihat rak-rak yang penuh buku. ” ”Terintimidasi?” Kali ini tawa Ida terdengar lebih keras sehingga petugas
ruang baca akhirnya menegur mereka
bertiga.
Runi memberi isyarat pada sahabatnya
itu untuk menahan tawanya walaupun
ia sendiri merasa geli mendengar penjelasan Tito. Benar kata Ida, setiap
orang adalah pribadi yang berbeda dan
unik.
Saat semester empat baru saja dimulai,
mereka mendapat kabar bahwa Reki
harus dirawat di rumah sakit setelah tiba-tiba pingsan ketika berlatih basket
di suatu sore. Tito bercerita bahwa
selama ini Reki memang sering
menderita sakit kepala tetapi karena ia
tidak pernah mengeluh, mereka
menganggap itu hanya sakit kepala biasa. Hasil diagnosa dari rumah sakit
memang belum keluar, tetapi dia
diharuskan untuk rawat inap hingga
diketahui kemungkinan penyakit yang
diidapnya.
Karena pagi itu jadwal kuliah tidak terlalu padat, Runi, Ida, bersama
beberapa teman berencana untuk
menjenguk Reki. Runi dan Ida menunggu
mereka di ruang sekretariat. Ida yang
melihat Tito melintas di depan ruang
sekretariat, memanggilnya dan mengatakan rencana mereka kemudian
bertanya apakah Tito mau bergabung
dengan mereka.
”Kalau kalian ingin menjenguk Reki, sebaiknya nanti sore saja, denganku.
Sekarang aku masih ada kuliah. Reki
pasti lebih senang kalau kita datang
bertiga,” Tito berkata sambil tersenyum ke arah Runi yang
menatapnya dengan tatapan khawatir.

Sebenarnya Runi ingin segera
menjenguk Reki. Tetapi usul Tito
memang lebih baik. Setidaknya bila
bersama Tito dan Ida, Runi tidak akan
merasa canggung berbicara dengan
Reki. Ida dan Runi terpaksa mengatakan pada teman mereka bahwa mereka
tidak bisa ikut menjenguk Reki pagi itu.
Sore harinya, mereka bertiga sampai di
rumah sakit dan langsung menuju
ruangan tempat Reki dirawat. Tito
mengenali kedua orang tua Reki dan seorang adik perempuannya yang
sedang berbicara di depan pintu
kemudian menyapa mereka. Setelah
sesaat beramah tamah, mereka
meninggalkan Tito, Ida, dan Runi untuk
berbincang dengan Reki. Runi tersenyum. Melihat keluarga Reki,
rasanya dia paham lingkungan seperti
apa yang bisa membentuk orang seperti
Reki.
”Aku lupa! Tadi aku membawa beberapa tabloid olahraga dan
beberapa buku bacaan untuk Reki.
Tertinggal di mobil,” Tito tiba-tiba berkata sebelum mereka masuk ke
dalam kamar tempat Reki dirawat. ”Runi, kau masuk saja dulu. Biar Ida membantuku mengambil barang-barang
itu,” dia berkata sambil memberi isyarat pada Ida. Ida tersenyum dan menepuk pundak
Runi, ”Cepat sapa dia!” Sebenarnya Runi lebih memilih untuk
pergi bersama mereka. Dia tidak tahu
harus berbicara apa dengan Reki di
dalam. Selama ini, mereka memang
tidak bisa dikatakan akrab. Hanya
sesekali berbicara bila ada kesempatan. Itupun selalu ada Ida dan Tito bersama
mereka.
Runi mengetuk pelan pintu di
hadapannya, karena tidak ada balasan,
dia membuka perlahan kenop pintu dan
melongok. Di sana dia melihat Reki terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya
terlihat sedikit pucat. Menyadari
seseorang di pintu, dia membuka mata.
Untuk beberapa saat, mereka hanya
saling menatap.
”Hai…” ”Hai, aku masuk ya. ” Suatu hari tengah malam, Runi duduk di
dekat jendela kamarnya, menatap langit
yang malam itu ramai oleh taburan
bintang. Bulan purnama berwarna
jingga tua menghias salah satu sudut
langit malam itu. Runi pernah mendengar sesuatu tentang bulan
purnama ketika berwarna jingga tua
yang katanya akan membawa sebuah
keajaiban. Itu mungkin benar, hanya
dengan melihatnya, Runi merasakan
sesuatu yang berbeda di hatinya. Mungkin sama seperti saat melihat
pelangi setelah hujan turun atau ketika
melihat bintang berekor.
Sebuah pesan masuk ke HP Runi. ”Langit malam ternyata cantik, ’ya! Apa bulan purnama berwarna jingga itu
wajar? Reki ” Runi tersenyum membaca pesan
tersebut dan segera membalasnya.
Mungkin Reki sedang bosan sendiri di
kamar serba putih itu. Malam itu,
mereka masih saling mengirim pesan
beberapa kali, bercerita tentang berbagai hal yang terlintas di pikiran
mereka saat itu, sebelum Runi
mengakhiri dan meminta Reki untuk
beristirahat. Setelah kunjungannya yang pertama,
Runi belum bisa kembali menjenguk
Reki karena kesibukan dengan kegiatan
organisasi dan Ujian Tengah Semester
yang sudah dimulai. Tapi mereka masih
saling berkirim pesan hampir setiap hari. Hal itu cukup meyakinkan Runi
bahwa Reki akan segera pulih dan
kembali beraktifitas. Hingga suatu sore
yang sunyi di kamarnya, Runi menerima
pesan dari Ida mengenai kepergian
Reki.

* Sebulan berlalu sejak kepergian Reki. Suatu sore, seperti sore yang biasa, Runi, Ida, dan Tito duduk-duduk ditaman memperhatikan anak-anak anggota klub basket yang sedang berlatih.

Tito mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah pita berwarna jingga tua, dan menyerahkannya pada Runi sambil tersnyum. ”Ini milikmu kan? Reki pernah bercerita tentang perkenalan kalian diawal masa orientasi. Sebenarnya sudah lama Reki ingin mengembalikannya, tapi kau tahu bagaimana dia. ” Runi memandangi pita berwarna jingga tua yang sekarang ada di tangannya.

Matanya tiba-tiba terasa penuh tapi ia tidak ingin Ida dan Tito melihatnya menangis.
Malam harinya, di dalam kamarnya, Runi duduk di depan jendela yang terbuka.
Langit malam itu mendung, tidak ada bintang ataupun bulan purnama berwarna jingga. Sebuah buku harian berada di pangkuannya. Digenggamnya erat pita jingga tua itu di tangan kirinya kemudian ia mulai menulis dengan sebuah pena di tangan kanannya.

Mengenal Reki

1.pelari yang cepat
2.sahabat setia
3.sangat mencintai Basket
4.selalu tertidur di kelas saat kuliah
berlangsung 5.alergi dengan perpustakaan
6.sedikit lambat dalam beberapa hal ^
_^
7……


Posted By
♂♀Lynzz HSG♀♂
©HSG-March 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates