22/11/10


Kenapa Manusia Seharusnya Mempunyai Rasa Berbakti Terhadap Orang Tuanya?

Kaz Felinus Li 06 November 2010~ jam 2:46

Salam Surgawi,

Setiap orang pasti mempunyai orang tua dan kita dilahirkan dari orang tua kita masing-masing. Oleh karena itu setiap orang harus mengerti bagaimana caranya berbakti terhadap orang tua mereka. Setiap pohon pasti ada akarnya, air juga ada sumbernya, maka setiap orang harus selalu ingat asal kita yaitu orang tua kita.

Kita semua berasal dari darah daging seorang ibu dan ibu mengandung kita selama 9 bulan. Selama kita masih di dalam perut ibu, kita tidak dapat makan dan minum, maka semua bayi hanya dapat menyerah sari makanan dari tubuh sang ibu melalui placentanya (pusarnya). Bayi tersebut menyerap hormon dari otak sang ibu, sehingga ibu hamil sering merasa pusing. Kadang-kadang menyerap hormon dari sumsum sang ibu, sehingga ibu hamil sering merasa sakit pinggang, tulang ngilu, makanya ibu hamil suka makan makanan asam. Si bayi juga menyerap sari yang lain dari tubuh sang ibu, sehingga ibu hamil sering tidak enak badan, keadaan tubuhnya berubah dan sangat menderita.

Setelah selama 9 bulan sang ibu berusaha menjaga bayinya di dalam perut supaya sehat, akhirnya tiba waktunya untuk melahirkan sang bayi. Pada saat kritis bayi tersebut akan lahir, sebenarnya sang ibu sedang bertarung dengan nyawanya antara hidup dan mati. Oleh karena itu pada hari ulang tahun kita sebenarnya lebih patut mengenang hari penderitaan ibu dimana nyawa ibu kita sedang dalam keadaan kritis. tetapi bagi sang ibu penderitaan itu tidak penting, yang penting harus bisa menyelamatkan sang bayi.

Kita sebagai anak sebenarnya dikatakan kulit kita berasal dari orang tua, tulang kita berasal dari orang tua, demikian juga darah kita. Setelah kita lahir dgn selamat, sang ibu tetap akan merawat dan membesarkan kita. Meskipun di rumah ada perawat, tetapi pada malam hari sang ibu tetap akan bangun dan memeriksa bayinya. Kalau tidak ada perawat, maka ibu akan lebih menderita lagi, karena segala sesuatunya akan dikerjakan sendiri. Kalau kita belum tidur, ibu juga belum mau tidur. Kalau kita tertawa, ibupun ikut bahagia. Kalau kita menangis, ibu juga ikut sedih. terutama kalau kita sedang sakit atau luka, biarpun tengah malam papa dan mama kita akan berusaha mencari dokter. Mereka berkeinginan kalau bisa sakit anaknya itu ditanggung oleh mereka. Orang tua bersedia berkorban apapun, asalkan anaknya bisa sembuh.

Sejak bayi sampai bisa berjalan, sang ibu tidak pernah meninggalkan bayinya, mereka akan dengan sabar mengajarkan anaknya supaya bisa jalan, bisa bicara, dll. Setelah menjadi agak besar kalau sedang berjalan, sang ibu selalu memperhatikan kita, kuatir kalau kita terjatuh atau ada sesuatu yang terjadi. Kalau siang hari sang ibu akan mengurus semua keperluan anak-anaknya baik mengenai pakaian, makanan, sampai urusan sekolah, sehingga kadang lupa untuk makan siang. Kalau malam hari tidak pernah tidur nyenyak, kuatir anaknya tidak bisa tidur. Kalau ada makanan enak selalu ingat untuk diberikan kepada anaknya dulu. Kalau ada pakaian bagus selalu ingat untuk anaknya dulu. Kalau anaknya bisa mencapai usia dewasa, orang tua akan sangat berterima kasih kepada Tuhan. Mereka mengaharapkan anaknya menjadi orang dewasa yang berguna dengan mereka membiayai anaknya supaya dapat sekolah di Universitas.

Demi mencari biaya ini, sang papa akan sibuk kesana dan kemari untuk mencari uang. Dia tidak pernah perduli penderitaan yang dialaminya dan merima cacian dari kiri dan kanannya. Dia bersedia menderita stress yang dikarenakannya. kadang-kadang di luar rumah dia menerima tekanan batin yg amat sangat, tetapi sesampainya di rumah dia juga tidak bisa menceritakan kepada istri dan anaknya. Dia berusaha menelan semua penderitaan ini. Dia tetap berusaha keras mencari uang. Oleh karena itu sepasang tangannya bisa dibilang sebagai sumber kebahagiaan keluarga. Kadang pulang dari kerja, seorang papa sudah sangat lelah, tetapi demi keluarganya dan demi anaknya, dia rela memaksakan diri untuk menemani anaknya berekreasi.

Dari cerita di atas, kita dapat memahami bahwa budi orang tua kita bisa diumpamakan lebih tinggi dari sebuah gunung yang tertinggi.

Sejak hamil sampai melahirkan dan membesarkan kita, sampai kita menanjak dewasa, orang tua selalu memperhatikan kita. Biarpun sudah berkarir sendiri dan pada saat ekonomi kita lagi sulit, orang tua kita pun ikut prihatin. Dalam hal jodoh, mereka juga ikut memikirkan apakah kita bisa mendapatkan suami/istri yang baik? Anak perempuannya sudah menikah juga masih dipikiri, apakah suami dan mertuanya akan bersikap baik terhadap anak perempuannya. Betapa besar cinta kasih orang tua terhadap anaknya. Oleh karena itu sebagai anak, kita harus tahu berbakti membalas budi mereka yang begitu besar.

Salah satu cara membalas budi orang tua kita adalah menjaga tubuh kita baik-baik, tidak boleh melukai diri kita, tidak tidak boleh bunuh diri, tidak boleh merusak badan. Suatu saat orang tua kita akan menjadi tua dan bertubuh keriput, sikapnya juga akan berubah seperti anak kecil. Pada saat itu, biar bagaimanapun cerewetnya dia, bagaimanapun marahnya dia, kita harus mengerti dan memakluminya. janganlah malah membalas memaki atau membentaknya. Seumpamanya kita merasa tidak bersalah, lalu orang tua memarahi kita, kita pun tidak pantas langsung membentak orang tua. Seharusnya kita menerima saja omelannya. Nanti sesudah suasana agak dingin, barulah kita pelan-pelan membicarakan kesalahpahaman ini. Orang tua kita sudah menjadi tua dan kondisi tubuhnya lemah, dia sangat membutuhkan anaknya untuk bisa diharapkani. Pada saat itu keadaannya persis waktu kita masih kecil dan bertubuh lemah yang sangat membutuhkan seseorang utk diharapkan.

Sebagai anak, kita harus ingat bahwa berbakti terhadap orang tua adalah perbuatan baik yang paling utama diantara semua perbuatan baik. Surga berada di telapak kaki ibu. Hanya melalui orang tua, barulah kita bisa pergi ke surga artinya semua perbuatan baik tidak ada artinya kalau kita masih jahat terhadap orang tua kita sendiri. Tuhan juga tidak mau menerima doa kita, kalau kita jahat terhadap orang tua sendiri.

Secara logika yang paling mudah bisa dijelaskan sebagai berikut: sewaktu kita masih bayi, lalu menjadi anak-anak, lalu menjadi dewasa, seberapa banyak kita berbuat salah terhadap orang tua kita, tetapi tetap saja mereka selalu memaafkan dan tidak pernah membenci. Kadang kala seorang anak begitu jahatnya terhadap orang tuanya, sehingga orang tuanya sangat sakit hati dan sedih, tetapi begitu anaknya meminta maaf, langsung saja orang tuanya memaafkan, hal ini menunjukkan betapa besar kasih orang tua terhadap anaknya, sehingga tidak pantas kita bersikap jahat terhadap orang tua kita. Kita harus bersikap seperti orang tua terhadap anaknya, yaitu biar bagaimanapun salahnya orang tua terhadap kita, kita harus tetap memaafkan dia. Saya yakin kalau kita bisa melakukan hal itu, surga pasti menanti kita.

Tetapi sekarang jaman sudah berubah, anak yang memaki, membentak dan memukul orang tuanya ada dimana-mana. Anak yang suka berbuat hal-hal yang melanggar hukum sehingga membuat orang tua sedih juga ada dimana-mana. Anak yg demikian tidak berbakti. Tuhan bisa jadi tidak akan mengampuninya.

Banyak sekali anak yang stlh mendengar cerita mengenai budi orang tua yang begitu besar terhadap mereka menjadi begitu terharu dan menyesal dan mereka berjanji akan berubah sikap dan berbakti sepenuhnya. Tapi hal ini tidak akan selamanya karena cinta kasih anak terhadap orang tuanya bagaikan ujung pohon liu yg bergoyang kalau ada angin bertiup, yang artinya cinta kasih mereka hanya timbul kalau ada yg mengingatkan. Lain halnya dengan cinta kasih orang tua yang bagaikan air gunung yang mengalir ke lereng gunung dengan tiada hentinya. Seperti pepatah mengatakan, kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan. Hal ini tentulah sama.

Bagaimana cara berbakti kepada orang tua?
1. Berbakti kecil, adalah dimana anak setelah menjadi dewasa membalas budi orang tuanya dengan memberi biaya hidup, tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari.

2. Berbakti menengah, adalah dimana anak setelah menjadi dewasa membalas budi orang tuanya dengan berbakti kecil ditambah dengan memperhatikan kebutuhan batiniah mereka, misalnya menyukai apa yang disukai orang tua kita, menghormati apa yang dihormati orang tua kita, tidak menyinggung perasaan orang tua kita.

3. Berbakti besar, adalah dimana anak setelah menjadi dewasa membalas budi orang tuanya dengan berbakti kecil dan menengah, ditambah lagi dgn membantu orang tua kita ke jalan yang benar, yaitu apabila orang tua kita berbuat baik kita harus mendukung mereka, dan apabila mereka berbuat salah kita harus menasehati mereka supaya kembali ke jalan yang benar.

Sebagai seorang anak yang berbakti terutama yang orang tuanya masih hidup, cepatlah berbakti semaksimal mungkin untuk menyenangkan orang tua kita. Banyak sekali orang yang tidak pernah menyenangkan orang tuanya selama mereka hidup, tetapi begitu orang tuanya meninggal, mereka baru menyesal dan berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan hati orang tuanya dengan membangun kuburan yang amat mewah. Tetapi apa gunanya berbuat demikian? Orang tuanya sudah tidak dapat menikmati lagi, karena sekarang yang tinggal hanya rohnya saja, sedangkan jasmaninya sudah di liang kubur.

Salam HSG

Posted by: Kaz HSG
HSG - November 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates