29/09/10



Tragedi Sebuah Cincin


Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku ketika hawa dingin kembali menghampiri. Menyesal juga aku menolak tawaran Bima untuk membawa sweater, yang akhirnya membuat aku harus panda-pandai menyembunyikan rasa dingin agar tidak ditertawakan.


"Dingin, kan?" tanya Bima seakan tahu isi hatiku. Diraihnya jemariku ke dalam genggamannya.


Aku hanya tersenyum kecut ketika melihat sorot matanya yang lembut. Aku juga tak kuasa menolak ketika ia mencoba menarik tubuh mungilku ke dalam pelukannya. Selalu ada rasa damai dan hangat yang mengalir ketika aku merebahkan kepala di dadanya.

"Shinta, kenapa sih kamu masih gengsi dan tidak terbuka denganku?" tanyanya lagi.

"Tidak terbuka apanya sih, Bim?"

"Gimana tidak terbuka, disuruh bawa sweater aja kamu keberatan. Ya panaslah, ya beratlah...," jelasnya kecewa.

Aku mencoba melepaskan tubuh dari dekapannya.

"Lalu bagaimana dengan masalah pertunangan kita, kamu masih juga belum mau terbuka?"

Sesaat aku terkejut dengan pertanyaannya, namun aku mencoba menutupinya dengan memberikan potongan apel.

"Shinta, aku serius! Kamu selalu mengalihkan pembicaraan jika menyangkut pertunangan yang kuusulkan. Apa Mama kamu tidak menyetujui keinginanku untuk berhubungan lebih serius denganmu?"

"Bim... aku bukan mengalihkan pembicaraan, kamu jangan menyimpulkan yang tidak-tidak dong!"

"Lalu mengapa kamu tidak menjawab saya iya atau tidak. Itu aja kok, yang aku tunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu. Aku tuh sayang beneran sama kamu, dan aku juga mau serius," sambung Bima seraya menarik kembali jemariku.

"Iya, aku tahu kamu sayang sama aku. Tapi kamu juga mesti ngerti dong kalau aku masih mau kuliah," jawabku sekenanya. Sebenarnya aku paling tidak suka kalau ia sudah membicarakan hal-hal yang terlalu serius seperti ini. Bukannya aku tidak mau serius sama dia, tapi aku kan tidak mau ngecewain Mama dengan melantakkan kuliahku. Aku hanya tinggal punya Mama di dunia ini, beliaulah tempatku berlindung.

"Shinta...," serunya membuyarkan lamunanku. "Dengan bertunangan, bukan berarti aku akan melarangmu untuk meneruskan kuliah. Aku hanya ingin kepergianku ke Amsterdam nanti bisa membuatku tenang, sehingga aku bisa mengikuti pendidikan tanpa rasa was-was, kalau-kalau merpatiku dijerat orang," seloroh Bima seraya kembali membelai rambutku.

"Jadi... kamu serius dengan tawaran kantormu?"


"Shinta Sayang... aku tidak mungkin segencar ini mengajakmu untuk segera bertunangan, kalau rencana keberangkatanku masih tahun depan."

"Jadi...?"

"Iya. Aku terpaksa harus mendengar keputusanmu hari ini, karena bulan depan aku sudah harus mempersiapkan keberangkatanku," urainya seraya menatapku penuh permohonan.

***

Aku tak kuasa menahan airmata yang mengalir membasahi pipiku. Ada rasa haru dan bahagia mengalir bersama butiran-butiran airmataku. Bima merengkuh bahuku dalam gerak gegas, dan mengecup keningku kemudian.

"Maaf, Shin, kalau pernyataanku membuatmu bersedih," ujarnya dengan nada penyesalan.

"Apakah kamu sungguh-sungguh akan pergi meninggalkanku?" desah kecemasan tak dapat lagi kusembunyikan. Terbayang di hadapanku hari-hari yang panjang dan menjenuhkan karena dipisah oleh waktu dan jarak.

"Untuk itulah aku mohon pengertian kamu! Please, penuhi permohonanku. Dan aku janji tidak akan lebih dari setahun, semua ilmu manajemen Negeri Kincir Angin itu sudah aku babat habis, lalu segera pulang untuk menemuimu lagi," ujarnya mencoba meyakinkanku.

"Ak-aku...." Aku merasa lidahku kelu. Perbendaharaan kalimatku mandek. Padahal, aku ingin mengatakan bahwa aku mengabulkan permohonannya.

"Kamu mau kan memenuhi permohonanku?"

Aku tidak kuasa menjawab, hanya airmata dan anggukan lembut yang sanggup aku lakukan. Dan Bima kembali merengkuh bahuku sebagai reaksi bahagia. Sungguh, seketika ada rasa damai yang mengalir dalam hatiku.


Bima melepaskan pelukanku dan merogoh sesuatu dari dalam saku blue jeans lusuhnya. Sebuah kotak mungil berlapis beludru hitam ia raih dari sana. Bima memintaku membukanya. Ternyata sebuah cincin perak bermata kristal bertengger manis di dalamnya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Sesaat kemudian ia mengenakan cincin perak bermata kristal tersebut ke dalam jari manisku.

"Ok, oke. Aku sudah lega sekarang. Hari hampir gelap, kita pulang ya? Mamamu pasti sudah cemas," usul Bima seraya membantuku membenahi perlengkapan piknik ke dalam bagasi mobilnya. Belum setengah jam aku meninggalkan lokasi pantai, hujan tiba-tiba turun dibarengi angin kencang.

Aku mencoba mencari sebuah cd dalam laci dashboard ketika mobil melaju dalam kecepatan sedang. Aku hanya berhasil menemukan lagu lawas 'November Rain'-nya Gun 'n Roses. Lumayan ketimbang sunyi. Apalagi jalanan yang kami lalui mulai gelap. Kulirik Bima di sampingku, duduk dengan mimik serius seakan ia sedang mencoba menerobos gelap dan hujan. Entah mengapa aku merasa kangen sekali menatapnya saat ini.

Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba entah bagaimana awalnya, sebuah cahaya terang menyoroti kendaraan yang kami tumpangi. Belum sempat aku berpikir jauh, benda bersinar di hadapan kami makin mendekat, dan....

Brrraaaakkk!

Aku hanya sempat merasakan benturan keras di keningku, sesaat kemudian aku melihat sekelilingku menjadi gelap!

***

Aku merasakan ada air hangat menyentuh pergelangan tanganku. Kucoba membuka kelopak mataku yang terasa memberat. Perlahan, dan samar aku melihat bayangan sosok berlatar belakang serba putih. Aku mencoba membuka mataku lebih lebar. Aku melihat Tante Retno — Mama Bima duduk di sisi pembaringanku. Aku berusaha mengeluarkan sepatah kata, namun rasa kantuk yang berat seakan menekan kelopak mataku.

"Shinta... ini Mama," sapa sebuah suara yang sanggup aku dengar, dan suara itu seakan memberi kekuatan padaku sehingga aku bisa melihat dengan jelas orang-orang di sekitarku.

"Mama... Shinta sekarang berada di mana?" tanyaku dengan suara serak.

"Sayang, istirahat saja ya?" jawab wanita setengah baya yang duduk di samping pembaringanku, seraya mencoba menyembunyikan airmatanya. Aku berusaha mengingat sedikit demi sedikit kejadian yang aku alami.

"Ma... di mana Bima?" tanyaku begitu kesadaranku sedikit demi sedikit kembali memulih. Tak ada jawaban yang terdengar. Kulihat Tante Retno menghampiri sisi kanan pembaringanku, lalu mencium keningku. Tiba-tiba aku merasakan ada yang tidak beres.

"Tante, di mana Bim?!" tanyaku lirih. Aku tetap tidak mendengar jawaban dari mereka. Namun aku juga tidak berani menyimpulkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Tiba-tiba tatapanku tertumpu pada pakaian yang mereka kenakan. Hitam, dan berkerudung! Aku mencoba mencari jawaban dari mata sayu milik Mama. Yang tergambar hanyalah kedukaan. Aku hanya mendengar Mama berkata lirih dan memintaku bersabar menghadapi cobaan.

Ya, Tuhan!

Aku tak kuasa lagi menahan airmata yang menerobos keluar membasahi pipiku. Aku mencoba menyentuh cincin perak bermata kristal pemberian Bim yang masih menghias di jari manisku. Pening kembali menyerangku. Sesaat kemudian aku merasakan sekelilingku menjadi gelap.

the end

Salam HSG.......................

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates