26/09/10




Surat Terbuka Joanna Octavia dari Kanada




Kepada saudara-saudari setanah air Indonesia,
Dari semua warga Indonesia etnis Tionghoa yang pernah bermukim di tanah kelahiran kita, tidak banyak orang yang mengenal keberadaan Soe Hok Gie, mahasiswa dan aktivis politik yang mendedikasikan hidup singkatnya untuk menggulingkan pemerintahan pasca-kemerdekaan yang korup. Saya pertama kali mengenal sosok pemuda gagah berani ini melalui catatan hariannya yang diterbitkan ulang pada tahun 2005, setelah film biografi berjudul "Gie" diluncurkan di Indonesia. "Catatan Harian Seorang Demonstran" bercerita mengenai pengalaman hidup Gie di Indonesia pada zaman pergantian pemerintahan yang penuh goncangan, dari waktu kolonialisme masih merajai tanah nusantara, saat Soekarno naik tahta dan hingga rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto.
Adalah pengetahuan yang umum bahwa seringkali buku lebih dapat mewakili intisari dari sebuah cerita dibandingkan film dengan isi yang sama. Maka dari itulah saya memutuskan untuk membaca buku Gie terlebih dahulu, dan kemudian baru menonton film biografinya. Namun, saya amat terkejut ketika menyadari bahwa kedua media tersebut menyorot sosok Gie melalui teropong yang sama. Bahkan setelah berulang kali membaca buku Gie, saya masih merasa tertarik dengan sosok pemuda ini, dan seringkali bertanya-tanya pada diri sendiri mengenai asal-muasal patriotisme dan keberanian yang ia miliki. Pada saat yang sama, saya juga merasa amat malu pada diri saya sendiri yang lebih banyak menghabiskan waktu memikirkan mengenai hal-hal yang fana dan tidak penting, daripada memakai waktu untuk peduli dan mempelajari hal-hal yang terjadi di Indonesia pada saat ini—dan mencari cara untuk mencetuskan perubahan yang positif. 
Pada usia yang sangat relatif muda, Soe Hok Gie berjuang melawan ketidakadilan untuk alasan-alasan yang mungkin beberapa dari kita tidak akan pernah mengerti. Ia bukanlah seorang yang kaya raya, seperti stereotipe warga Indonesia etnis Tionghoa yang berkecimpung dalam dunia bisnis dan perdagangan; ia adalah seorang pencinta alam, kontributor setia media cetak dan ia adalah seorang guru. Melalui unsur-unsur politik yang dikandung oleh karya tulisnya, Gie diasingkan dan memiliki banyak musuh, namun ia terus berjuang demi kebebasan, keadilan dan Indonesia.
Walaupun almarhum mantan presiden Soeharto mengumumkan akan adanya hukum yang mengharuskan semua warga Indonesia etnis Tionghoa untuk mengubah nama Mandarin mereka menjadi nama yang lebih mengandung unsur Indonesia, Gie tidak mengubah namanya dan ia mempertahankan identitas tersebut hingga hari kematiannya, satu hari sebelum ia berulangtahun yang keduapuluh tujuh. Karena hal inilah, maka saya menyadari bahwa identitas adalah milik pribadi yang tidak dapat diganggu gugat. Walaupun pada awalnya saya ragu, akhirnya saya memutuskan untuk memilih Ilmu Politik sebagai salah satu mata pelajaran saya di universitas, yang adalah sangat jauh berbeda dari pelajaran bisnis yang diinginkan oleh orangtua saya.
Mempelajari Ilmu Politik tidaklah mudah; namun melalui mata pelajaran ini saya kini mengerti akan kekuatan yang dikandung oleh sebuah pena. Dalam film "Gie" yang dibintangi oleh Nicholas Saputra, tokoh Gie berujar bahwa: "Individu-individu yang mampu menghasilkan perubahan adalah mereka yang berani berbicara dan melawan arus norma-norma sosial". Seringkali topik pembicaraan yang perlu dibicarakan adalah hal-hal yang paling dihindari. Banyak orang yang berkata bahwa kini Indonesia sedang melalui "Reformasi"; sebagai pemuda-pemudi Indonesia, adalah tugas kita semua untuk tidak membiarkan kata tersebut hanya cat kering di atas spanduk-spanduk, yang dengan mudahnya dibuang setelah demonstrasi ditutup. Sejujurnya, saya sendiri adalah seorang yang masih amatir dan hijau dalam hal-hal yang menyangkut akan politik dan hukum, tetapi saya berharap bahwa perasaan ini tidak akan luntur bahkan ketika saya dewasa nantinya.
Dibesarkan di Indonesia pada rezim Orde Baru dan zaman Reformasi, dari usia yang sangat muda saya sudah mengerti bahwa untuk semua hal ada harga yang harus dibayar; masih banyak topik-topik yang tidak boleh dengan mudahnya dibicarakan—namun bagaimana caranya generasi kita dapat mengubah Indonesia apabila kita tidak diperbolehkan bicara megenai hal-hal yang menurut kita adalah adil dan benar? Soe Hok Gie menulis bahwa generasinya memikul tanggung jawab untuk memimpin Indonesia ke arah yang benar. Namun, korupsi merajalela dan Kerusuhan Mei 1998 adalah saksi mata betapa kelamnya ranah Ibu Pertiwi dicacah oleh diskriminasi yang dibentuk oleh oknum tertentu demi tercapainya kekuasaan semu. Seringkali saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, bagaimana jika Soe Hok Gie tidak meninggal pada usia yang sangat muda dan terus menulis? Apakah mungkin orang-orang akan mendengarkan ketika ia mengingatkan mereka untuk menjadi seorang yang baik dan benar? Entahlah. Mungkin ya mungkin tidak, sebab tidak ada pasti yang statis. Apakah generasi Gie telah memimpin Indonesia ke arah yang benar adalah suatu pertanyaan yang tidak perlu saya jawab. Apakah generasi saya dan generasi Anda akan mengubah Indonesia adalah suatu pertanyaan yang belum bisa saya jawab pula.
Mungkin saja mencetuskan perubahaan melalui setiap langkah dan setiap individu adalah sesuatu yang dapat terjadi, karena seperti kata Soe Hok Gie: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan!" (Joanna Octavia, penulis dan mahasiswi Jurusan Ekonomi dan Ilmu Politik Tingkat IV, University of British Columbia, Kanada)

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates