25/09/10





Malaikat Bersayap Satu


Semua bermula saat aku bertemu dengannya di kebun binatang beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang sangat tidak terduga dan sama sekali tidak romantis namun menjadi titik balikku dalam urusan cinta. Aku sedang berjalan-jalan di kebun binatang dengan para sahabatku dan tiba-tiba ada seorang cowok berpenampilan rapi mendekatiku. 
“Hai, aku Randy,“ kata cowok itu sambil mengulurkan tangannya. Aku tersenyum kikuk dan menyambut tangannya. “Lian.”
“Kami adalah mahasiswa fakultas kedokteran hewan yang sedang mengadakan penelitian,” kata kak Randy. Aku dan kedua temanku hanya mengangguk-angguk. Benar kan, tidak romantis? Tidak seperti Dina yang bertemu dengan pangerannya saat dia sedang tampil di sebuah kafe paling romantis di kota ini. Atau Niske yang ditembak di tengah seratus lilin berbentuk hati yang menyala. Pertemuan itu berlangsung singkat namun entah mengapa aku mulai merasakan ada sesuatu yang lain.

+++

Aku tersenyum saat menerima sebuah SMS dari seseorang. SMS pertama dari kak Randy setelah kami bertemu siang tadi. Aku senang sekali saat mengetahui kak Randy sendiri yang meminta nomor HPku, bukan teman-temanku yang memberitahukannya.
Malam ini aku tidak bisa tidur. Entah mengapa perasaanku berbunga-bunga dan jantungku berdebar tidak keruan. Bayangan kak Randy tidak dapat kuhilangkan dari otakku. Kalau saja otakku adalah perangkat komputer, aku sudah meng-klik tombol kanan mouse dan merefreshnya. Kalau perlu mendelete beberapa file yang mengganggu.
Aku berbaring di tempat tidur dan meraih bantal gulingku. Berkali-kali mengubah posisi tidak membuatku mengantuk, tetapi mataku semakin terbuka lebar. Aku merutuk dalam hati. Mengapa seorang Randy dapat membuatku insomnia begini? Batinku heran. Aku bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Dengan sekali tekan aku kembali menghidupkan lampu kamarku. 
Jujur, aku belum pernah merasakan jatuh cinta bahkan pacaran meskipun usiaku telah menginjak 18 tahun. Misiku yang kuat untuk menyelesaikan pendidikan dan membuat kedua orang tuaku bangga adalah pondasiku dalam menghadapi virus yang bernama cinta. Flashback dua bulan yang lalu, ada seorang cowok yang menyukaiku, namun dia memutuskan untuk mundur karena aku lebih memilih les bahasa Inggris daripada makan es krim di restoran mewah.
Sebenarnya aku nggak jelek-jelek amat. Tubuhku tergolong mungil dengan pipi yang sedikit tembem namun berlesung ketika aku tersenyum. Kata teman-teman senyumku manis. Aku juga anak yang mudah bergaul dengan siapa saja. Aku tidak gendut, apalagi obesitas. Banyak cowok yang sebenarnya naksir padaku. Itu yang ku ketahui dari kedua sahabatku, Niske dan Dina.
Tanpa kusadari bibirku melengkungkan senyum. Benar juga apa kata Niske dan Dina. Saat istirahat sekolah, banyak cowok yang datang ke kelasku sekedar untuk mengobrol dan menarik perhatianku. Sebenarnya mereka hanya buang-buang waktu saja. Aku tidak pernah tertarik untuk berpacaran sebelum masa sekolahku usai. Kugali lagi memoriku saat kedua sahabatku menasehati, “Umur 18 tahun adalah saat yang tepat untuk memiliki pacar.”
Aku tertawa geli. Pacar bisa dicari, tetapi kebanggaan orang tua sangat sulit didapatkan. Lagipula aku telah berjanji kepada almarhum bundaku untuk selalu menjadi kebanggaan orang tua.
Aku berbaring kembali. Bunda… seandainya kau masih ada disini, batinku sambil mendesah. Kau bisa membantuku mengatasi masalah ini. Bunda! Anakmu ini jatuh cinta!

+++

Hari ini adalah hari yang indah untukku karena sebuah tim dari universitas akan datang dan membantu kami melakukan penelitian. Pembina tim ekstrakurikuler karya ilmiah remaja kami yang mengusulkan agar pihak sekolah mendatangkan pembimbing yang sesuai dengan cakupan penelitian kami. Dan yang paling menyenangkan adalah saat aku mengetahui bahwa kak Randy yang mengetuai tim tersebut. 
Semua anak bertepuk riuh termasuk aku dan kedua sahabatku saat pembina ekstrakurikuler kami menyambut tim yang baru saja datang. Namun, tidak ada satupun yang berkomentar saat Kak Randy membuka acara dengan memperkenalkan diri. “Saya Randy Pranata Setiawan. Salam kenal.”
Pandanganku terpaku pada sosok yang tengah berdiri di depan ruangan. Tubuhnya tegap, sikapnya sopan dan tampak ramah kepada semua orang. Gaya bicaranya mampu membuat semua anak memperhatikannya. Wajahnya bersih dan sangat manis jika tersenyum. Dia seperti malaikat bersayap. Saat itu aku mati-matian berharap belum ada orang yang menjadi sayap keduanya.
Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dan mendesah, namun beberapa saat kemudian wajahku berubah menjadi ekspresi wajah meratap. Perasaanku menjadi begitu gembira. Tampaknya otakku mulai terserang virus cinta. 
Bunda… kenapa cowok itu ganteng sekali?

+++

Malam harinya…
“Silakan masuk, Kak,” kataku sopan. Kak Randy tersenyum dan mengangguk. Malam ini kak Randy datang ke rumahku setelah sore tadi dia menelepon untuk meminta ijinku. Aku menyambutnya kikuk, menyilakan kak Randy duduk kemudian berlari ke belakang untuk membuat minuman. Aku serasa ingin meledak saat itu.
Aku senyum-senyum sendiri saat membuat minuman. Bunda, cowok itu datang, batinku. Ditemani oleh pembantuku, Mbok Kar, aku kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas minuman dan beberapa potong kue brownies. 
“Well, aku datang karena tertarik dengan proposal penelitian yang tadi kau presentasikan di forum. Aku ingin mengajukan proposal penelitianmu ke dekan fakultas untuk disertakan dalam lomba penelitian tingkat nasional bidang IPA kategori umum. Kuharap… kalau proposalnya disetujui… kau mau bergabung dengan kami,” kata kak Randy dengan senyum mengembang. Aku meleleh. Dadaku berdetak kencang. Bunda… lihatlah, betapa indah malaikat yang satu ini. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk. Kak Randy mengucapkan terimakasih, menjabat tanganku, kemudian berkata, “Aku sangat berharap kau bisa menjadi anggota tim.”
Aku tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat mobil kak Randy mulai berjalan. Di tanganku terdapat sebatang cokelat pemberiannya. Hey, dari mana dia tahu kalau aku menyukai cokelat? Aku meletakkan cokelat itu di meja belajarku dan kucari tanggal kadaluwarsanya. 30 Januari 2012. Ha! Berarti aku dapat menyimpan cokelat ini sampai tiga tahun kedepan.
Konyol! Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Perasaanku selalu berbunga-bunga dan semuanya tampak indah. Beberapa minggu kemudian kak Randy memberitahuku bahwa proposalku telah diterima dan dalam beberapa hari kedepan dana penelitian dapat dicairkan.
Itu artinya aku semakin dekat dengan kak Randy.


Laboratorium FKH UGM, dua bulan sebelum lomba…
Aku sedang mengamati ayam-ayam percobaan yang bobotnya meningkat dratis. Aku menggendong ayam itu satu persatu dan memindahkan ke sebuah wadah yang nantinya akan digunakan untuk menimbang. Kak Randy tersenyum dan merangkul pundakku. “Percobaan kita berhasil,” katanya. Aku langsung terdiam.
“Kenapa diam saja? Biasanya kau tidak pernah bisa diam,” tanya kak Randy. Aku menggeleng dan meninggalkannya. Mataku memanas. Kak Randy telah mengecewakanku dan sekarang dia pura-pura peduli padaku! Apakah setiap orang pernah merasakan patah hati dan putus asa karena cinta? Jika benar, maafkan aku Bunda. Aku telah menjadi salah satu dari mereka.

+++

Lab FKH UGM, dua minggu sebelum lomba…
Kak Dhimas menggandeng tanganku dan mengajakku duduk. Aku menurut. Dia memberiku segelas orange juice. “Presentasimu bagus,” kata kak Dimas singkat. Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan tepukan di pundak kananku. Kak Randy.
“Wajahmu pucat. Jangan sampai sakit, ya,” kata Kak Randy. Aku mengangguk kecil. Tiba-tiba kak Dhimas bangkit. “Kita mulai lagi latihan presentasinya,” katanya dengan suara lantang. Kak Randy mendesah panjang dan kembali ke lab.
“Aku tidak suka kau dekat dengan Randy.”
“Loh, bukannya dia juga anggota tim?”
“Ya.”
“Mengapa kau melarang…”
“Karena aku menyukaimu!”

+++

8 Agustus 2009, detik-detik perlombaan…
“Yang terhormat, bapak ibu dewan juri dan para hadirin. Saya akan mempresentasikan hasil penelitian dari Avogadro Team tentang Pemanfaatan Air Perasan Tomat sebagai Feed Additive pada Ayam Broiler. ”
Semua mata menatapku sedangkan aku sibuk menenangkan diriku sendiri. Aku berpresentasi dengan lancar. Paling tidak aku dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh juri. Butuh waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikan presentasiku dan berdebat dengan para penanya dan mematahkan argument-argumen mereka.
Semua anggota tim langsung mengerubungiku saat aku turun panggung. Saat itu, tangan kak Randy terulur ingin menjabat tanganku, namun terhalang oleh tubuh kak Dhimas yang telah lebih dulu merangkulku.
“Kita makan siang dulu, yuk,” ajak kak Dhimas. Aku mengangguk. Sekilas kulihat kak Randy, dia sedang mengepalkan tangannya. Saat itu aku masih berharap kak Randy akan mengejarku. Namun hatiku kembali sakit untuk yang kedua kalinya saat mengetahui dia ternyata hanya berani memandangku.
Saat kami kembali, ternyata dewan juri telah bersiap-siap untuk mengumumkan pemenangnya. Aku sama sekali tidak berharap menjadi juara, apalagi juara pertama. Namun tidak dengan anggota tim lainnya. Mereka tampak gelisah saat tim juri jeda sejenak untuk membacakan pemenang pertama.
“Juara pertama adalah… Avogadro Team dengan penelitian yang berjudul Pemanfaatan Air Perasan Tomat sebagai Feed Additive pada Ayam Broiler!”
Kak Dhimas langsung memelukku dengan erat sedangkan kak Randy menjabat tanganku. Aku sendiri melompat-lompat kegirangan dan menerima jabatan tangan dari anggota tim lainnya. Dengan penuh percaya diri aku melangkah menuju podium dan menerima ucapan dari dewan juri dan tim penilai.
Bunda! Aku menang! Dengan begini, sudahkah kau merasa bangga padaku?

“Hey!”
Lamunanku buyar saat seseorang menepuk pundakku. Aku tersenyum. Seorang cowok yang sekarang telah resmi menjadi dokter hewan itu berdiri di hadapanku. Kak Randy. “Melamun?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Jangan bohong,” sahutnya. Aku tertawa dan menarik tangannya agar duduk di sebelahku. “Memoriku kembali lagi,” jawabku.
“Tentang malaikat itu?” tanya kak Randy. Aku mengangguk dan tersenyum. “Aku ingin sekali menuliskannya agar semua orang tahu, bahwa kita harus selalu berjuang untuk mendapatkan malaikat yang kita inginkan,” jawabku.
“Kau tidak berubah. Masih ambisius sepeti dulu.”
Aku tertawa mendengar perkataannya. “Ambisius? Bukankah saat perlombaan aku sama sekali tidak menginginkan kemenangan?” tanyaku. Giliran dia tertawa. Aku memandangnya. Wajahnya bersih, tampan, manis, dan sangat mencuri perhatian. Dagunya berjenggot tipis, dewasa, berwibawa, dan mampu membuatku jatuh cinta. Ah… malaikatku…

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates