01/09/10

6 Suara Seorang Kakak

6 suara seorang kakak sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan dengan seseorang yang kau hormati atau sebuah pengalaman.
Apapun bentuknya, inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari adikku Vicki, seseorang yang berbaik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan penghargaan atau masuk dalam surat kabar. Yang diinginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya, keluarga dan teman-temannya.
Pada musim panas sebelum aku mulai kuliah tingkat 3, aku menerima telepon dari ayahku yang memberitakan bahwa Vicki masuk rumah sakit. Ia pingsan dan bagian kanan tubuhnya lumpuh. Indikasi awal adalah ia menderita stroke.
Namun, hasil tes memastikan bahwa penyakitnya lebih serius. Ada sebuah tumor otak ganas yang menyebabkannya lumpuh. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari 3 bulan. Aku ingat aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi ? Sehari sebelumnya Vicki baik-baik saja. Sekarang, hidupnya akan berakhir pada usia begitu uda.
Setelah mengatasi rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, aku memutuskan bahwa Vicki membutuhkan harapan dan semangat. Ia memerlukan seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia dapat mengatasi rintangan ini. Aku menjadi pelatih Vicki. Setiap hari kami membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang kami bicarakan bersifat positif. Aku bahkan memasang poster dipintu kamar rumah sakitnya yang bertulisan, “ Kalau kau memiliki pikiran negative, tinggalkan pikiran itu dipintu. “ Aku sudah berbulat hati untuk membantu Vicki mengalahkan tumor itu.
Kami berdua membuat perjanjian yang disebut 50-50. Aku berjuang 50% dan Vicki akan memperjuangkan 50% sisanya. Bulan Agustus tiba dan kuliah tingkat 3 akan dimulai di universitas yang jaraknya 3000mil dari rumah. Aku bingung, apakah aku harus pergi atau tetap menemani Vicki. Aku salah bicara, menyebutkan bahwa aku mungkin tak akan pergi kuliah. Ia menjadi marah dan menyuruhku untuk tidak khawatir karena ia akan baik-baik saja. Jadi, malah Vicki yang terbaring sakit di tempat tidur dirumah sakit yang menyuruhku agar jangan khawatir.
Aku sadar, bahwa aku tetap bersamanya, aku mungkin akan menyirat bahwa dia sedang sekarat dan aku tak mau ia berpikir begitu. Vicki harus yakin bahwa ia dapat menang melawan tumor itu.
Kepergianku malam itu, merasa bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Vicki dalam keadaan hidup, adalah yang tersulit pernah aku lakukan. Selama kuliah, aku tak pernah berhenti memperjuangkan 50% bagianku untuknya.
Setiap malam sebelum tidur, aku berbicara dengan Vicki, berharap ia dapat mendengarku. Aku berkata, “ Vicki, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak akan menyerah. Asalkan kau tak pernah berhenti berjuang, kita dapat mengalah tumor ini. “
Beberapa bulan berlalu dan ia masih bertahan. Aku sedang berbicara dengan seorang teman yang lebih tua dan ia menanyakan keadaan Vicki.
Aku bercerita bahwa keadaan kondisinya makin buruk, tapi ia tidak menyerah. Temanku melontarkan suatu pertanyaan yang benar-benar membuatku berpikir. Katanya, “ Menurutmu, apakah ia bertahan karena tak mau mengecewakanmu ? “ mungkin pertanyaannya benar ? mungkin aku egois, menyemangati Vicki untuk berjuang ? Malam itu sebelum tidur, aku berkata padanya, “ Vicki, aku mengerti kau sangat menderita dan mungkin kau ingin menyerah.
Kalau memang begitu, aku mendukungmu.
Kita tidak akan kalah karena kau tak pernah berhenti berjuang. Kalau kau ingin pergi ke tempat yang lebih baik, aku mengerti.
Kita pasti bersama lagi. Aku menyayangimu dan aku akan terus bersamamu dimana pun kau berada. “ Keesokan paginya, ibuku menelepon, memberi tahu bahwa Vicki telah meninggal.

Sumber : Chicken Soup for the Teenage Soul, by James Malinchak.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates