05/07/11

Bunga Terakhir


Kiriman dari : Suripno Romero (suripno13@gmail.com)

Gadis berkacamata itu tampak asyik di antara deretan rak buku. Beberapa buku diambilnya, lalu di bawanya ke meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Di situ sudah ada beberapa buku yang beberapa menit lalu diambilnya. Gadis itu tampak sibuk membuka, membaca, kemudian membuka buku lainnya. Dia sibuk sendiri dengan dunianya.

“Buku sastra di sebelah mana, ya?” sebuah suara mengalihkan kesibukan gadis itu sejenak. Tanpa menoleh sedikit pun tangan gadis itu lalu menunjuk ke arah sebelah kanan. Pria yang tadi bertanya mengikuti arah yang ditunjuk. Gadis itu pun kembali berkutet dengan buku-bukunya.

Tak berapa lama kemudian, “Sorry, kamu kayaknya familier banget dengan perpustakaan ini, ngngng...bisa bantu nyariin buku ini nggak,” pria itu kembali menghampiri gadis berkacamata itu sambil menyodorkan secarik kertas.

Masih dengan gaya acuh tak acuhnya, gadis itu mengambil coretan dalam kertas yang disodorkan oleh si penanya, lalu, “Cari saja di deretan buku sastra, ada di rak buku barisan kedua paling pojok sebelah kanan.”

Laki-laki itu pergi menuruti petunjuk si gadis yang kelihatannya tidak mau diganggu.

Tanks ya, bukunya sudah aku temukan. Dari tadi aku pusing muter-muter nyari buku ini, eh tak tahunya kamu tahu persis di mana letaknya, “ ucap laki-laki tadi. “Namaku Rio, kamu siapa?” lanjut laki-laki itu seolah tak peduli dengan keacuhan si gadis.

“Bunga,” jawab gadis itu pendek tanpa menoleh sedikit pun.

Merasa diperhatikan, Bunga menghentikan kegiatannya, lalu menatap laki-laki di hadapannya. Sedetik kemudian dia tertegun, mulutnya yang hampir berucap mendadak berhenti hingga melongo. Betapa kaget dirinya melihat siapa yang kini duduk satu meja dengannya. Laki-laki yang baru saja menanyakan namanya ini adalah Rio, mahasiswa semester enam yang banyak digandrungi cewek-cewek di kampus ini.

“Lho kok malah bengong. Kamu anak semester berapa?” tanya Rio mengulang pertanyaan tadi sekaligus membuyarkan lamunan Bunga.

“Oh eh ngngng...aku?” tanyanya meyakinkan.

“Iya, kamu. Emang ada orang lain di meja ini selain kita?” senyum Rio mengembang.

“Aku adik semestermu.”

“Lho kamu tahu dong aku semester enam.”

Ups! Kontan wajah Bunga memerah malu.

“Aku kok nggak pernah melihat kamu?” kata Rio yang tampak kebingungan.

Jelas saja Rio merasa bingung dan heran karena hampir semua mahasiswa di kampus ini dikenalnya atau paling tidak dia hafal wajah-wajahnya. Maklum Rio kan ketua senat. Selain itu, Rio jago main futsal yang namanya banyak dikenal.

Sementara dalam hati, Bunga merasa tak heran bila Rio tak mengenalnya. Siapa sih yang peduli keberadaan dirinya. mahasiswi kutu buku yang menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan. Hampir tak ada siswa yang mengenalnya dengan akrab. Apalagi cowok-cowok.

“Kamu aktif di kegiatan apa?”

Bunga hanya menggeleng dan kembali menunduk, pura-pura sibuk kembali dengan buku-bukunya.

“Pasti kamu lebih suka di sini, ya. Pantas saja kamu hafal letak buku-buku di sini. Aku sebenarnya juga senang membaca, tapi waktuku nggak banyak. Oke deh kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya. Sekarang aku ada jadwal futsal dulu. Bye Bunga!”

Rio meninggalkan senyum simpatiknya. Bunga pun sekali lagi terbengong-bengong. Bahkan tak sempat membalas senyum ramah sang cowok pujaan. Dia benar-benar merasa seperti bermimpi bisa duduk dan ngobrol bersama Rio.

Dua hari kemudian, Bunga kembali bertemu dengan Rio di perpustakaan. Saat itu Rio bermaksud mengembalikan buku sastra yang dipinjamnya tempo hari. Cowok keren itu mengurungkan niatnya untuk segera meninggalkan perpustakaan ketika melihat gadis yang duduk di meja sebelah pojok. Tiba-tiba ia tertarik untuk menghampiri Bunga.

“Hai, Bunga,” sapanya ramah sambil menarik kursi di sebelah Bunga.

“Oh ka-kamu...,” sapa Bunga balik dengan setengah nerveus.

“Kamu lagi baca apa sih, kok asyik banget. Lagi nggak ada mata kuliah nih? Kan belum istirahat?”

“Tadi dosennya nggak ada. A-aku lagi pengen baca buku ini sambil menunggu dosen berikutnya,” tutur Bunga sekuat tenaga menyembunyikan salah tingkahnya.

“Wih...buku yang kemarin ternyata menarik, ya. Sebenarnya aku pinjam untuk adikku, tapi malah tertarik ikutan baca. Adikku seperti kamu, doyan buku-buku he he...,” kata Rio setengah bercanda membuat Bunga ikut tertawa.

“Membaca buku itu kegiatan yang mengasyikan. Banyak hal yang kita peroleh tanpa harus mengalaminya secara langsung. Seperti membuka jendela saja. Kita bisa melihat pandangan yang luas dan bebas menjelajah,” ujar Bunga tentang dunia yang dicintainya.

Bunga tak lagi canggung. Saat Rio membuka pembicaraan tentang dunia buku, Bunga seolah mendapatkan kepercayaan dirinya.

Pancingan Rio ternyata mengena. Sengaja Rio bertanya-tanya tentang buku agar Bunga tidak banyak diam. Beruntung dia punya adik yang kutu buku juga. Dan beruntung pula beberapa kali dia mengantar adiknya ke toko buku. Setidaknya jadi tahu hal-hal menarik bagi pecinta buku.

Kini bunga tidak lagi pendiam seperti dua hari lalu. Ternyata gadis itu pandai bicara juga. Wajahnya tampak berekspresi ketika menjelaskan satu per satu buku yang sudah dibacanya. Mata yang bening itu tampak berbinar indah.

Belum pernah Rio memandangi wajah gadis yang seperti ini. Biasanya saat berbincang dengan gadis-gadis ia hanya bisa menikmati kecantikan dan kemulusan kulitnya, yang kadang bila terlalu lama dipandang jadi membosankan. Berbeda dengan wajah Bunga yang semakin lama dipandang semakin menarik. Bahkan Rio menebak gadis itu memiliki kecantikan alami yang berpadu dengan tutur bahasa halus dan keindahan akhlaknya. Tanpa sadar Rio bergumam sendiri sambil terus mendengarkan Bunga yang asyik berceloteh.

Bunga pun tanpa sadar menjadi banyak bicara. Satu hal yang jarang dilakukannya.

Tak terasa, sudah satu jam Rio dan Bunga ngobrol panjang lebar. Seperti yang sudah-sudah, Rio yang duluan berpamitan karena ada jadwal latihan futsal. Sebelum pergi, Rio mengajak Bunga untuk menonton futsal. Tapi dengan halus Bunga menolak. Bisa jadi berita heboh di kampus bila ketahuan Bunga dan Rio jalan berdua. Bunga merasa minder.

***

Rio dan Bunga semakin akrab karena sering bertemu dan ngobrol di perpustakaan. Rio sendiri menjadi heran mengapa jadi ketagihan berbincang panjang lebar dengan Bunga. Ada satu hal dalam diri Bunga yang tidak ditemukan pada gadis lain. Perpaduan antara kepolosan dan kepintaran.

Sementara itu, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Bunga dengan keakraban yang baru dijalaninya. Kini, tak hanya buku tujuan ke perpustakaan. Setiap kali datang ke perpustakaan, ia merasa deg-degan menunggu kedatangan Rio. Ia pun tak lagi nerveus seperti dulu, bahkan kini merasa lebih percaya diri. Rio pernah dengan terus terang mengatakan bahwa gadis seperti Bunga yang memiliki pengetahuan yang luas tentang pustaka sangat jarang dijumpainya. Apalagi saat mengetahui ternyata Bunga pandai menulis puisi. Kekagumannya pun semakin bertambah. Sikap Rio yang jujur inilah yang membuat Bunga merasa tersanjung.

Pernah suatu hari, Rio menghadiahkan sekuntum bunga yang indah untuk Bunga sebagai penghargaan atas kekaguman Rio pada puisi-puisi yang ditulisnya. Hal ini membuat Bunga kian bahagia.

Meskipun merasa bahagia dengan kehadiran dan perhatian Rio, Bunga tidak berani berharap banyak. Dia tidak ingin melambung perasaan terlalu tinggi. Jika jatuh pasti sakitnya luar biasa. Beberapa kali Rio menawarkan diri mengantarkan Bunga pulang ke rumah. Tapi dengan halus bunga selalu menolaknya. Bunga juga selalu menolak untuk sekedar makan dan minum di kantin. Bunga tak mau keakrabannya dengan Rio diketahui siswa lain. Bahkan ketika berada di perpustakaan, Bunga selalu memilih tempat yang agak tersembunyi. Berjaga-jaga, kalau Rio datang, agar keduanya tidak mudah terlihat orang banyak.

Sejauh-jauhnya bangkai di simpan, baunya akan tercium juga. Berita kedekatan Rio dan Bunga ternyata tidak bisa ditutup-tutupi. Mungkin karena Rio adalah sosok yang populer di kampus. Atau mungkin karena kabar ini ada sangkut pautnya dengan Bunga, gadis yang tidak terduga dan diperhitungkan. Mereka menjadi penasaran karena selama ini nama Bunga hampir tidak pernah disebut-sebut dalam pembicaraan di antara cowok di kampus. Cewek seperti apa yang bisa menahan perhatian cowok seperti Rio yang menjadi pujaan gadis-gadis kampus. Begitulah mungkin pertanyaan yang kini beredar dari mulut ke mulut. Akhirnya, Bunga pun kini banyak dicari orang.

Hanya Bunga yang tidak mengetahui jika namanya kini jadi bahan pembicaraan di kampus. Hingga suatu hari, saat dia menunggu kehadiran Rio di perpustakaan, datanglah seorang gadis cantik menghampirinya.

“Namamu Bunga, Kan? Kamu sedang menunggu kedatangan Rio, ya?” tanya gadis cantik itu to the point, tanpa basa-basi dulu.

Ditanya demikian, Bunga kaget dan merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Iya,” jawab Bunga lirih tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.

“Aku Elsa, pacar Rio. Terus terang saja, aku ke sini mau mengatakan bahwa gosip kedekatanmu dengan Rio sangat mengganggu diriku, juga hubunganku dengan Rio. Jadi nggak usah berpanjang lebar lagi, aku ingin kamu menjauhi Rio. Lagi pula tidak ada yang kamu harapkan dari Rio. Rio tidak mungkin jatuh cinta sama gadis macam kamu. Jangan menyalahartikan perhatian Rio.”

Gadis bernama Elsa itu berkata dengan ketus dan sinis. Setelah menyelesaikan kalimatnya yang mengandung ancaman, ia langsung pergi meninggalkan Bunga yang terbengong-bengong.

Bagai tersambar petir di siang bolong, Bunga mendengar perkataan Elsa. Elsa pacar Rio? Yah, mengapa selama ini ia tidak berpikir tentang pacar Rio. Tapi, bukankah selama ini tidak ada yang tahu, Bunga dan Rio sering bertemu? Ah, Rio...mana mungkin cowok sekeren dia belum punya pacar. Mengapa selama ini ia tidak menanyakan siapa pacar Rio. Mengapa selama ini ia hanyut oleh perhatian Rio. Hampir saja aku menjadi pungguk merindukan bulan. Bodohnya aku. Begitu pikiran yang berkecamuk di otak Bunga.

Lihatlah betapa berbedanya Bunga dan Elsa. Elsa begitu cantik dengan kulit putih dan rambut panjangnya yang panjang lurus berkilau. Tubuhnya tinggi semampai. Penampilannya seksi dan trendi. Anggun dan indah dipandang mata. Lalu Bunga? Ah, bagai bumi dan langit. Bunga tidak ada apa- apanya dibandingkan Elsa.

“Heh, kok melamun sih! Bukannya baca buku?” tiba-tiba Rio sudah tiba di hadapan Bunga.

“Maaf, aku harus pergi. Ada jam jam kuliah lagi,” kata Bunga bergegas sambil membereskan buku-bukunya di meja.

“Lho, sekarang kan belum ada dosen?” tanya Rio heran.

“Pokoknya, aku harus pergi,” buru-buru Bunga menjawabnya. Ia lalu beranjak pergi. Namun baru selangkah kakinya terhenti dan kembali berbalik ke arah Rio.

“Mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi. Please, jangan temui aku lagi di perpustakaan,” pinta Bunga dengan sorot mata yang terluka.

“Tapi kenapa? Apa yang terjadi? Bunga...Bunga...jangan pergi dulu. Tunggu!” kejar Rio berusaha menghadang langkah Bunga.

Tiba-tiba tangan halus mencengkeram lengannya untuk tidak berlari mengejar Bunga.

“Elsa?! Ngapain kamu di sini?”

“Aku mencarimu. Ternyata benar gosip yang beredar. Diam-diam kamu sering menemui Bunga di perpustakaan ini, ya. Buat apa, sih? Apa menariknya gadis itu?” Elsa memberondong Rio yang mulai salah tingkah. Namun dengan cepat Rio menguasai keadaan.

“Apa yang kau katakan pada Bunga? Kau tidak berhak menyakiti gadis itu. Dan bukan urusanmu aku berteman dengan siapa saja. Kita sudah putus. Ingat itu!” Rio berkata tegas.

“Tapi aku nggak rela kamu mencari pengganti aku dengan gadis macam dia.”

“Ah, sudahlah. Aku nggak mau bertengkar lagi denganmu. Dan ingat ya, jangan sekali lagi menemui Bunga!”

Rio pergi mengejar Bunga. Elsa yang ditinggalkannya hanya tertegun kemudian menangis. Mengapa Rio tertarik dengan Bunga? Kenapa bukan gadis lain yang lebih cantik dariku? Pertanyaan itu sekali lagi mengganggunya. Elsa merasa terhina.

***

Setelah kejadian itu, Bunga bagai ditelan bumi. Berkali-kali Rio bolak-balik ke perpustakaan, tapi tak dijumpainya gadis berjilbab itu. Rio tidak tahu mesti ke mana mencari tahu keberadaan Bunga. Teman-teman kuliahnya tak banyak yang mengenalnya.

Hingga suatu hari, Rio mendapat kiriman bunga dan sepucuk surat dari Bunga. Betapa senang hati Rio. Ia langsung membuka dan membacanya isi surat itu.

Dear Rio,

Kutulis untaian kata ini dengan derai air mata.

Banyak cerita yang semestinya kita ungkap, namun tak pernah kita ungkapkan. Fajar harapan kini telah menjadi senja. Mentari tak lagi menghangatkan dan menyinari jiwa. Hanya kenangan kelabu yang menjadi jawaban atas semuanya.

Terima kasih atas perhatian yang kau tanamkan. Namun kau tak perlu lagi mencariku. Sembilu yang menyayat hati ini tak mungkin terobati. Kita berjumpa untuk berpisah.

Maafkan aku, Rio....

Surat itu dikirim tanpa alamat. Rio sangat kecewa karena ia tak bisa melacak keberadaan Bunga. Ia sendiri tak punya alamat rumahnya karena Bunga tak pernah memberikan. Apalagi nomor ponselnya.

Dalam keadaan hati terlena berbalut kerinduan, Rio menanam sekeping asa bisa bertemu kembali dengan gadis berkacamata itu. Satu-satunya tempat yang diharapkan dapat bertemu dengan Bunga adalah perpustakaan. Ya, tempat itu juga menjadi bukti atas kenangannya bersama Bunga. Sekuntum bunga yang dikasih Bunga selalu dirawatnya, meski ternyata menjadi kenangan terakhir bagi Rio.

Hampir setiap hari Rio duduk di bangku yang diduduki Bunga sembari berharap gadis berkacamata itu muncul kembali. Tapi hari berlalu, minggu berlalu, bulan berlalu. Bunga tak juga nongol.

“Ah, Bunga...di mana kamu? Aku akan tetap menunggumu di perpustakaan ini. Aku ingin menjelaskan sesuatu....tentang perasaanku.”

***

* Dedicated to Wilda Dewi Anggraeni & Teman-teman STIT Al-Amin *

(Indramayu, 29 Juni 2011)

aku yang sunyi di keramaian

aku yang bisa ramai dalam kesunyian

cerpen ini kupersembahkan

kepada mereka yang meyakini kekuatan cinta sejati


0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates