22/02/11

Cerpen: Air Mata Cinta di Hari Valentine


Air Mata Cinta di Hari Valentine



Namaku Nicholas, teman-teman memanggilku Nicky atau Nick. Tahun 2010 ini aku tepat berumur 28 tahun.

Sebagai seorang pegawai kantor dengan jabatan asisten manajer, cukup banyak gadis yang tertarik kepadaku. Yah, mungkin karena uang, bila tak mau dibilang jabatan. Terlebih wajahku yang tampan, menjadi pendukung dan daya tarik tersendiri bagi wanita di sekelilingku.

Namun sepertinya mereka semua harus bertepuk sebelah tangan. Hal ini dikarenakan dari sekian banyak gadis yang mengenalku, hanya ada satu yang membuatku terpikat. Seorang gadis yang bekerja di gedung yang sama denganku, namun berbeda lantai dan perusahaan. Gadis yang telah bekerja sekitar dua tahun di perusahaan tersebut. Bekerja sebagai posisi keuangan dan masih berusia 25 tahun. Namanya Vania, sebuah nama yang indah, seindah pemiliknya.

Vania adalah kekasihku yang keempat, dan semoga, yang terakhir. Masih kuingat saat pertama kali aku tertarik pada lawan jenis adalah ketika aku masih berumur 15 tahun dan duduk di jenjang terakhir SMP kelas 3.

Usia yang masih sangat muda. Bahkan banyak yang bilang itu adalah cinta monyet. Aku tak peduli itu. Banyak teman-teman sekolahku yang juga sudah saling tertarik satu sama lain.

1997.

Aku termasuk murid yang tertutup dan lebih senang membaca dibanding aku harus bergaul dengan teman-teman. Saat itu awal tahun 1997, semester terakhir di SMP. Aku dipindahkan duduk dengan Kelly, gadis yang menjadi kembang sekolah karena kecantikan dan kebaikan hatinya. Tak hanya itu, Kelly juga bintang kelas di sekolah.

Banyak sudah teman yang mendekatinya, namun ditampik begitu saja oleh Kelly dengan alasan dia lebih mementingkan belajar. Sikap dinginnya itu tidak membuat dia dijauhi, namun sebaliknya, semakin banyak teman yang penasaran untuk bisa menaklukkan hatinya. Kelly sendiri tetap pada pendiriannya, takkan memilih siapapun juga untuk dijadikannya sebagai kekasih.

Ketika kami diharuskan duduk semeja berdua, aku sempat bergetar. Betapa tidak. Saat itu aku baru menyadari mengapa Kelly selalu dilirik dan didekati teman-teman di sekolah. Kecantikan yang dimilikinya, walaupun usianya baru 15 tahun, terpancar begitu indah, kulitnya yang putih terawat tanpa sedikitpun ada jerawat dan semacamnya, nyaris sempurna. Mungkin bila tetes air jatuh menitik di kulitnya, air tersebut pasti akan langsung menetes turun dengan cepatnya. Kulitnya yang halus. Rambutnya yang indah tergerai dan harum. Ditambah senyuman memikat yang dimilikinya, dengan lesung pipi yang membuat setiap lelaki yang memandangnya bagaikan terbang di angkasa.

Hampir setiap saat aku mencuri pandang wajahnya yang cantik itu. Posisi dudukku yang tepat di sampingnya bukanlah suatu kesulitan bagiku untuk melakukan hal tersebut. Hingga suatu saat...

"Nick..." Kelly memanggilku. Saat itu kelas kami sedang tak ada guru, sehingga kami mengerjakan tugas untuk pelajaran berikutnya tanpa diawasi guru.

"Ya," Aku meletakkan pen dan menengok memandangnya. Matanya yang indah menatapku tanpa berkedip.

'Aduh, cantik sekali...' Kataku dalam hati. Entah mengapa saat itu jantungku mulai berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Mau sampai berapa lama kamu curi pandang seperti itu?"

'Mati aku. Jadi dia tahu kalau aku mencuri pandang dia terus menerus?' Kataku lagi.

"Ng... Nggak... Nggak kok... Kata... Kata siapa?" Ujarku terbata-bata. 'Kenapa lagi nih? Kok jadi gugup gini sih...'

Kelly tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Nick, mata tak bisa berbohong lho..."

"Ahh..." Aku segera berpaling dan menutup kedua mataku. Sikapku itu membuat Kelly semakin tertawa lepas.

"Nick, kamu lucu..." Ujar Kelly diantara gelak tawanya. Tangannya entah disengaja atau tidak menepak punggung tanganku.

"Aduuhh..." Aku memekik walaupun tepakannya tidak sakit, tapi lebih mengarah ke pekikan kaget.

"Oh, sorry, sakit ya..." Kelly terhenyak saat menyadarinya. Tangannya menjulur memegang tanganku.

Perbuatannya hanya bisa membuatku semakin terbelalak saja. Jantungku semakin berdegup kencang. Andaikan jantung tak ada jaringan syaraf, mungkin saja sudah lepas dari tempatnya. Tanpa kusadari, refleks aku tarik lenganku dari pegangan Kelly.

"Ma... Maaf..." Ujarku sambil menunduk dan memalingkan wajahku.

"Eh, A... Aku yang minta maaf..." Kelly juga memalingkan wajahnya yang mungkin memerah saat itu.

Itulah pertama kalinya aku mengenal Kelly lebih dari sekedar seorang teman yang sudah saling mengenal sejak dari kelas 1 SD. Keakraban yang tak bertahan lama. Hanya sampai saat kami lulus dari SMP dan saat itu kami terpisah.

Orang tua Kelly meminta putrinya kembali ke Bandung untuk melanjutkan studinya disana. Selama ini Kelly tinggal menumpang di rumah neneknya. Namun tahun ini, nenek Kelly telah meninggalkan dunia, dan rumahnya diwariskan kepada anak sulungnya yang adalah paman Kelly, kakak dari mamanya.

Sejak kepindahannya ke Bandung, tak ada lagi kabar yang terdengar dari Kelly saat itu. Tahun 1997 adalah tahun dimana ponsel masih berupa barang langka yang mahal dan teknologi internet baru mulai dikenal di Indonesia.

Aku melanjutkan studi di sebuah SMA elit di Jakarta. Selama 3 tahun pendidikanku, aku jatuh cinta kepada seorang gadis teman sekelasku. Kehadirannya membuat kenanganku akan Kelly menjadi pudar dan menghilang.

Namun, entah apa yang terjadi. Hubunganku dengan Eva, temanku semasa SMA ini, tak bisa bertahan lama. Seperti halnya dengan Kelly, begitu kami lulus SMA, begitu pula kisah cinta kami terpisah. Orang tua Eva menikahkan putrinya dengan putra seorang jutawan yang telah dijodohkannya sebelumnya. Ketika putra hartawan tersebut pulang setelah selesai menamatkan kuliahnya di luar negeri, pertunangan mereka pun dilakukan. Karena Eva tak ingin aku merasa sakit hati, dia pun menyembunyikannya selama ini.

Tak selamanya yang disembunyikan itu akan aman tak terbongkar. Begitu mengetahui perihal sebenarnya, aku menjadi sakit hati dan sangat membenci Eva. Ternyata selama 3 tahun, dia memanfaatkanku bersama dengannya untuk mengisi kekosongan harinya selama menunggu tunangannya kembali ke Jakarta. Dengan begitu secara tidak langsung, Eva telah menghalangi dan mengecewakan teman-teman yang ingin mendekatiku.

Untungnya, kejadian tersebut tak membuatku gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke sebuah universitas terkenal di Australia. Paling tidak, selama 4 tahun aku kuliah disana, aku bisa melupakan sakit hatiku kepada Eva.

Entah karena wajahku yang memang tampan atau bagaimana. Di Australia, aku kembali berkenalan dengan banyak gadis yang tertarik kepadaku. Disana pula, aku menjalin hubungan dengan seorang dari mereka yang bernama Helen, seorang blasteran Indo-Belanda.

Hubungan kami lagi-lagi kandas di tengah jalan. Suatu malam, aku memergoki Helen berjalan dengan seorang lelaki lain di sebuah cafe. Sontak, akupun memutuskan hubunganku dengannya, tanpa memperdulikan tangisnya yang menurutku hanya tangisan dusta.

Tahun 2004, aku lulus kuliah di Australia dan kembali ke Jakarta. Mencari lowongan kerja di surat kabar menghabiskan waktu hampir dua tahun sebelum akhirnya aku mendapatkan posisi nyaman sebagai asisten manajer di kantorku sekarang berada. Setelah bekerja disana sini dengan segala lika-likunya, baru pekerjaanku sekali ini yang menjanjikan masa depan baik untukku.

Suatu hari, karena pekerjaan kantor yang banyak, aku terpaksa harus bekerja lembur. Bertiga dengan temanku, kami mengurung diri di kantor dan berkutat dengan pekerjaan kami yang menumpuk.

Meja kantor yang hanya dibatasi sekat antar satu personil dengan lainnya membuat kami mudah untuk saling berhubungan saat bekerja. Pada saat itu, kantor kami yang sudah memakai jasa pelayanan internet, banyak mempermudah pekerjaan kami.

"Nick, teman Friendster-mu sudah berapa?" Di saat sedang asyiknya bekerja, seorang teman yang duduk di sebelah mejaku berkata memecah keheningan.

"Wah, gak tau juga ya." Ujarku. "Terakhir aku buka sih masih seratusan orang..."

"Seratusan?" Celetuknya lagi. "Payah kau. Katanya lulusan luar negeri, tapi kok punya temen cuma seratusan?"

"Hahahaha..." Seorang teman lain tertawa mendengar perkataan itu. "Tio, Nick itu kan jarang mau bergaul, kutu buku gitu lho..."

"Kata siapa?" Aku menaikkan kacamataku yang turun hingga ke hidungku. "Lihat ya. Suatu saat nanti aku pasti akan menyaingi, bahkan melewati kalian..."

"Di Indonesia lebih mengenal Friendster sih. Coba kalau Facebook, belum tentu kalian ada sebanyak temanku." Kataku lagi. Tahun 2007, di saat budaya Barat sudah mulai menggunakan Facebook, Indonesia baru mulai mengenal situs Friendster.

"Bagus tuh..." Tio tertawa. "Buktikan kalau memang kamu bisa melewati kami!"

"Tentu!" Jawabku dan kembali menekuni pekerjaaanku.

Waktu menunjukkan sekitar pukul tujuh malam ketika pekerjaan kami semua selesai. Sambil merentangkan tanganku melepas penat, aku melirik ke layar komputer yang terpampang halaman depan Friendster.

"Eh, siapa ini? Sepertinya aku kenal deh." Gumamku saat mengenali sesosok foto di layar. Aku mendekat dan melihat lebih jelas lagi. "Ini sepertinya Amelia."

Amelia adalah salah seorang temanku semasa SMP. Aku mengarahkan panah mouse ke fotonya dan menekan mouse. Menunggu sesaat, akupun dibawa ke profilnya.

"Hmm... Iya, benar, ini Amelia." Ujarku lagi. Kutekan tulisan 'Add as Friend' untuk memintanya menjadi temanku.

Tanpa sengaja mataku melirik ke beberapa foto temannya.

"Hei..." Aku terperangah. "Ini..."

Jantungku mulai berdegup kencang saat itu. Betapa tidak! Salah satu foto temannya yang kulihat itu adalah foto seorang yang sangat kukenal. Orang yang telah kulupakan dan tak kuingat-ingat lagi. Siapa nyana, aku bisa bertemu dengannya lagi, walau hanya di dunia maya.

"Mudah-mudahan profilnya tidak dikunci." Gumamku sambil menekan panah mouse di fotonya.

Menunggu beberapa detik, aku pun dibawa ke sebuah halaman profil dan data. Namun apa yang ingin kucari tak kutemui.

"Ya sudah, aku add saja. Mudah-mudahan dia mengenaliku." Kataku.

"Nick, gak mau pulang nih?" Tio menepuk pundakku dari belakang. Tiba-tiba dia memajukan badannya melihat ke layar monitor di depanku.

"Wah, cewek cantik, pantas senyum-senyum sendiri dari tadi..." Gumamnya. "Kelly Monica."

Temanku yang satu lagi mendekat dan bergabung sambil tersenyum. "Mau cari cewek buat nyaingin Friendster kita kali..."

"Mau pulang? Ayolah..." Aku mengalihkan topik pembicaraan dan segera menekan ikon logout Friendster. Aku tak ingin Tio dan temanku melihat profil yang sedang kulihat itu lebih jauh. Sikapku itu membuat kedua temanku tertawa melihatnya.

================

Beberapa hari berlalu. Ketika kembali aku masuk ke Friendster, ternyata Kelly, gadis teman Amelia yang kutambah sebagai teman, menerima permintaan bertemanku. Tak hanya itu, di kolom testimoni khas Friendster, ada pesan yang ditinggalkannya.

"Hai, Nick. Lama tak jumpa. Ada dimana kamu sekarang?"

Aku segera membalas di kolom testimonial di profil Kelly. "Aku sudah ada di Jakarta. Kamu masih di Bandung?"

Begitulah. Sementara aku bisa berhubungan kembali dengan Kelly melalui dunia maya hingga suatu hari aku mengajaknya bertemu ketika pulang kerja.

"Aku sudah lama kembali ke Jakarta, Nick." Kelly berkata sambil menyedot minuman juice jeruk dari sedotan. "Sekarang aku sudah bekerja di toko yang kubuka sendiri."

"Oh ya?" Alisku terangkat. "Toko apa? Dimana?"

"Di Mangga Dua. Toko pakaian." Jawabnya sambil tersenyum.

'Gila. Lesung pipinya masih menawan.' Kataku dalam hati. "Lalu, masih nikah atau sudah single?"

"Hihihi..." Pertanyaanku membuat Kelly tertawa. "Nick, kamu masih lucu seperti dulu. Masih nikah atau sudah single? Memangnya kamu berharap aku single ya?"

"Kalau memang begitu, kenapa?" Tanyaku. "Aku begini-begini masih single lho."

Tertawa Kelly terlepas saat itu mendengar perkataanku.

"Lho kenapa?" Aku menatapnya dengan kening berkerut.

"Tidak. Tidak apa-apa." Kelly mengambil tisu di atas meja dan menutup bibirnya.

"Aku... Aku tertawa karena kamu masih single..." Ujarnya sesaat kemudian.

"Lho, apa ada yang aneh kalau aku single?" Tanyaku lagi.

"Nick, kamu kan tampan. Kalau kamu mau, banyak kok yang akan mau sama kamu." Jawab Kelly.

"Yah, kamu benar." Ujarku sambil memainkan jariku di mulut cangkir kopi yang kuminum. "Tapi semua wanita itu matrelialistik, hanya memandang uang dan jabatan."

"Tidak semuanya begitu kok, Nick." Sahut Kelly.

"Itu kalau kamu kan?" Imbuhku sambil menatap mata indahnya tak berkedip.

"Hihihi..." Kelly tertawa lebar memperlihatkan deretan giginya yang masih sama seperti SMP dulu, putih dan terawat.

"Benar kan?" Tanyaku. "Masih single sampai sekarang?"

"Hmmm..." Cukup lama juga Kelly bergumam sebelum akhirnya dia menjawab. "Sebenarnya sih..."

"Iya..." Alisku terangkat menunggu lanjutan jawabannya.

"Aku sudah punya..." Jawabnya pelan. "Maaf ya, Nick."

"Oh begitu..." Aku menghembuskan nafas menahan kecewa. "Tak apa. Tak apa."

"Aku tak tahu dimana dirimu berada dan aku tak mungkin menunggu sampai selama ini kan?" Kata Kelly. "Umurku sudah 25 lho..."

"Memang sih..." Aku menghembuskan nafasku lagi.

"Jangan kecewa begitu dong, Nick." Kelly menyenggol lenganku. "Kamu masih bisa memilikiku kok."

"Maksudmu?"

"Ya, aku pernah dengar orang berkata begini." Kelly menatap lekat kedua mataku. "Dalam suatu hubungan percintaan, walaupun sangat dekat, namun rasa saling menghargai pasangannya tidak sebesar rasa menghargai seorang teman sejati."

"Teman sejati itu teman sehati. Dia akan selalu ada disaat suka maupun duka, senang maupun sedih. Tak pernah mengeluh dalam kesulitan. Selalu berada di sana sebelum dia dibutuhkan. Selalu memberikan pundaknya sebagai tempat menangis dan selalu menyadarkan sahabatnya di jalan yang benar."

"Semua itu jauh lebih terasa sebagai sahabat sejati dibandingkan sebagai pasangan. Mengapa? Karena dalam hubungan suatu cinta, bisa saja hubungan itu terputus dan berhenti. Namun persahabatan akan selamanya terjalin sampai maut menjelang."

"Itulah mengapa sebagian orang lebih memilih untuk bersahabat daripada berkomitmen." Lanjut Kelly.

"Jadi maksudmu kita jadi..."

"Sahabat." Ujar Kelly memotong kalimatku. "Sahabat baik. Sahabat sejati. Yang saling memperhatikan dan mengisi."

"Tapi..." Aku masih tak bisa menerima kenyataan ini.

"Nick, dalam persahabatan, ada sesuatu yang bisa dilakukan, dan sesuatu itu tak bisa dilakukan dalam berpasangan."

"Apa?" Tanyaku dalam suara malas.

"Sebagai sahabat sejati, tak ada rahasia yang tersembunyi di antara keduanya. Namun sebagai pasangan hidup, masih sering kali ada rahasia di antara mereka."

Aku masih diam termenung memikirkan perkataan Kelly barusan.

"Maaf, Nick." Kata Kelly lagi. "Kalau kamu mencintaiku, kamu pasti akan menerimaku sebagai sahabat sejatimu."

"Bagiku, seorang sahabat sejati jauh lebih berarti daripada pasangan hidupku. Sesuatu yang tak bisa kuceritakan kepada pasanganku, bukan tidak mungkin kamu sebagai sahabat sejatiku bisa menjadi tempat tersebut menggantikannya."

"Bagaimana?" Kelly masih tak berkedip menatap kedua mataku.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya aku mengangkat tanganku. "Oke, deal!"

"Deal!" Kelly mengangkat tangannya dan mengacungkan kelingking kanannya sebagai tanda persahabatan. Ketika kedua kelingking kami saling mengait, itulah tanda persahabatan kami dimulai.

Setelah janji persahabatan kami malam itu, entah kenapa perasaanku menjadi lega. Aku tak lagi merasa terikat dengan ketidakpastian selama ini. Dengannya pula, aku bisa membuka hatiku kepada gadis lain untuk mengenalku lebih dekat.

Kesempatan itu datang pada pertengahan tahun 2008. Vania, seorang gadis manis yang tak sengaja bertemu denganku di pintu masuk, menarik perhatianku. Itu kali pertamanya dia berada di gedung tempat aku bekerja, datang untuk memenuhi undangan wawancara. Aku masih sempat mengantarkannya hingga ke pintu masuk perusahaan yang berbeda lantai dengan kantorku tersebut, sebelum akhirnya aku pergi meninggalkannya.

Selang seminggu kemudian, aku kembali bertemu dengan Vania. Pagi itu kami mengantri untuk mendapatkan layanan lift menuju ke lantai atas.

"Lho, Vania?" Sapaku saat melihat gadis itu.

"Eh, Koko Nick..." Vania tersenyum membalas sapaanku.

"Wawancara lagi ya?" Tanyaku.

"Tidak dong. Aku sudah bekerja mulai hari ini." Jawab Vania. Senyumnya masih belum lepas dari bibirnya.

"Oh, selamat ya." Kujulurkan tanganku menyalaminya.

"Terima kasih, Ko." Vania menerima salam tanganku. "Koko di kantor apa?"

"Oh, di lantai 17." Kataku. Tepat saat itu lampu lift di depan kami menyala dan pintu lift membuka. "Mari."

Vania dan aku melangkah masuk ke dalam lift yang sama. Kami masih sempat berbicara beberapa saat ketika akhirnya aku meninggalkan kartu namaku kepadanya.

"Ini kartu namaku. Siapa tahu suatu saat kamu butuhkan." Kataku saat memberikannya kartu namaku.

Ketika aku bertemu dengannya lagi di tempat yang sama tiga hari kemudian, aku mencoba menawarkannya untuk makan siang bersama hari itu. Aku sudah bersiap untuk ditolaknya, karena tak selamnya usaha pertama kita akan berhasil. Siapa sangka, Vania menerimanya.

Sejak saat itu, kami pun semakin lama semakin akrab. Bahkan bukan saja kami sering makan siang bersama, namun kami juga sudah pulang bersama suatu sore. Beberapa minggu kemudian, ketika aku menawarkan diri untuk menjemput Vania, gadis itu kembali menerimanya.

Tak berapa lama kemudian, kami pun resmi menjadi pasangan. Aku masih sempat mengenalkan Vania kepada Kelly, seperti yang pernah aku janjikan kepadanya bahwa aku akan mengenalkan pasanganku padanya. Disana Kelly juga membawa pasangannya yang sudah kukenal terlebih dulu.

================

Menjelang akhir Januari 2011, aku mendapat kabar mengejutkan dari Kelly. Hubungannya dengan pasangannya putus tanpa alasan yang jelas. Kelly sendiri masih menyimpan kepedihan hatinya dariku. Sebagai sahabatnya, akupun tahu diri untuk tidak memaksanya.

Hingga suatu malam, Kelly memintaku menjemputnya dari tokonya. Waktu itu kebetulan aku sedang tugas di luar kantor, sehingga aku bisa langsung menjemputnya. Kepada Vania, aku memberitahukannya agar dia pulang sendiri hari itu. Namun selebihnya aku tidak menceritakan bahwa aku sedang bersama dengan Kelly.

Di kantin tempatnya bekerja, Kelly menceritakan alasannya, bahwa mereka tidak melanjutkan hubungan karena kedua orang tua pasangannya tidak menyetujui perbedaan agama mereka berdua. Selama ini keduanya selalu menyembunyikan dari orang tua kedua belah pihak.

Hari itu keluarga pasangannya datang melamar Kelly di depan kedua orang tuanya. Pada saat itulah, rahasia yang selama ini mereka tutup sebaik mungkin, terkuak di depan mereka semua. Kelly akhirnya memutuskan untuk berpindah agama demi pasangannya, namun pasangannya menolaknya. Sebaliknya dia yang memutuskan untuk berpindah agama demi Kelly. Namun ternyata niat mereka berdua ditentang habis oleh orang tua pasangannya.

Keadaan semakin genting saat di dalam emosinya, Kelly mendapatkan pasangannya membentak dan mencaci kedua orang tuanya. Kelly tak menerima kedua orang tuanya diperlakukan seperti itu oleh pasangannya. Orang tua Kelly yang semua menyetujui kekasihnya, kini berbalik menentangnya. Akhirnya baik Kelly dan orang tuanya memutuskan kalau hubungan keduanya tak mungkin lagi berlanjut. Hal mana tentunya merupakan sebuah keputusan yang membahagiakan bagi orang tua pasangannya.

Aku tersentak mendengar penjelasan Kelly kepadaku. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku melihat gadis yang kini telah menjadi sahabatku itu menitikkan air matanya.

"Aku... Aku tak tahu lagi harus bagaimana, Nick..." Ujar Kelly dengan bibir bergetar berusaha menahan agar tangisnya tak meledak.

"Kel," Sepasang tanganku menjulur memegang kedua tangannya. "Menangislah bila kamu merasa itu memang perlu. Kalau kamu merasa itu bisa membuatmu lega. Aku sahabatmu, aku akan selalu ada untukmu..."

"Te... Terima kasih... Nick..." Bulir air mata Kelly kembali menetes dan membasahi punggung tanganku yang masih memegang jemarinya itu.

Entah bagaimana caranya, pada saat aku masih memegang tangan Kelly, tepat di hadapanku muncul sesosok tubuh yang tak ingin kulihat saat itu. Setidaknya aku tak ingin dia muncul disana sekarang, melihat aku memegang tangan Kelly dan menghiburnya.

PLAKK!!!

Sebuah tamparan mendarat dengan tiba-tiba di pipi kiriku.

"Koko! Tak kusangka! Ternyata dugaanku selama ini benar!" Sosok yang muncul mendadak dan menamparku itu membuatku melepaskan peganganku pada tangan Kelly. Kelly sendiri tersentak menyadari kehadiran mendadak sosok itu dan langsung saja Kelly menarik tangannya dari peganganku.

"Vania!!" Aku terbelalak melihat kemunculan yang tiba-tiba itu. Pipiku yang menjadi tempat tamparannya masih terasa pedas hingga membuatku mengusapnya. "Kenapa kamu bisa berada disini?"

"Kenapa aku tidak boleh berada disini?" Vania membentakku dengan mata membelalak dan kedua tangan dikacak pinggang.

"Mak... Maksudmu?"

Vania menggeleng. Kedua matanya mulai berkaca-kaca saat itu. "Aku sudah lama curiga padamu, Ko. Hari ini semuanya terbukti."

"Tunggu..." Aku berdiri dari dudukku. "Ini semua salah paham. Aku dan Kelly hanya sahabat."

"Mau berapa kali kamu membohongiku dengan kata-kata itu, Ko?" Ujar Vania. "Koko kira aku tidak tahu kedekatan kalian berdua seperti apa?"

Kelly, yang saat itu kuharapkan bisa membantuku menjelaskan semuanya, ternyata masih menunduk sedih, tak banyak bisa membantuku. Aku pun meraih lengan Vania.

"Lepaskan!!" Vania menampik peganganku.

"Vania, dengarkan dulu!!" Aku masih mencoba membujuknya, berharap Vania bisa memberiku kesempatan menjelaskan semua ini.

"Mendengarkan semua kebohonganmu? Iya?" Bentak Vania. Semua pengunjung kantin itu melihat ke arah kami. Sungguh kami saat itu bagaikan pemain sandiwara yang sedang ditonton dalam sebuah siaran langsung.

"Vania..."

"Cukup, Ko!! Aku tak mau dengar lagi!" Kata Vania dengan suara keras. "Kita putus!!"

BLEDAARRR!!!

"Kita putus!!"

Ucapan itu terngiang kembali di telingaku, walaupun saat itu Vania sudah membalikkan badannya dan meninggalkan tempat itu dengan merengut kesal. Entah kenapa aku juga tak berinisiatif mengejarnya. Hanya bisa terpaku dalam kebingungan mendengar dua kata yang menyakitkan itu.

Aku terduduk dengan lemas di hadapan Kelly. Orang-orang di kantin yang tadinya melihat kejadian itu, kini sudah kembali kepada kesibukan masing-masing.

"Nick. Vania, kenapa tidak kamu kejar?" Kelly mengangkat kepalanya dan perkataannya menyadarkan lamunanku.

"Ke... Kejar?" Terbengong aku mengikuti perkataannya.

"Iya, kejar dia. Mumpung dia belum jauh." Kata Kelly lagi. "Siapa tahu masih ada harapan?"

"Kamu bagaimana?" Tanyaku.

"Jangan pikirkan aku! Pentingkan Vania. Aku tak apa-apa disini." Ujar Kelly.

Akhirnya aku bangun dari tempat dudukku dan mengejar sesuatu yang tidak pasti arahnya. Entah kemana Vania menghilang. Aku berlari, berlari dan terus berlari. Namun, selain para pengunjung yang melihatku dengan tatapan mata bingung, aku tak melihat Vania sama sekali, begitupun bayangannya.

Tiba-tiba terpikir olehku untuk menghubungi nomor ponsel Vania. Kusambar ponsel dari saku bajuku dan menekan nomor tertentu.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan hubungi beberapa saat lagi." Terdengar suara operator yang menjawab panggilanku.

Aku menekan nomor lainnya. Hasilnya sama. Tidak aktif.

"Aaaarrrgggghhhhhhh!!!" Aku menjerit dalam keputusaanku. Kuremas rambutku, tanpa peduli ponsel yang masih kugenggam itu nyaris jatuh karenanya.

"Rumahnya!" Aku lantas berlari ke tempat parkir mobil dan menyalakan mesin untuk mengejarnya. Tak lupa aku menghubungi Kelly memberitahukan bahwa aku telah pergi dari tempat tersebut.

Ternyata Vania tidak pulang ke rumahnya malam itu. Walau aku telah menunggunya sampai larut malam, tak ada tanda-tanda kehadirannya akan pulang. Bahkan adik lelakinya keluar dari dalam rumah dan memberitahuku bahwa Vania malam itu tidak pulang. Dia juga tak mau menjawab dimana Vania berada malam itu. Akhirnya aku hanya bisa pulang dengan tangan hampa.

Malamnya, pikiranku galau dan tak bisa beristirahat dengan tenang. Tak tahan dengan semuanya, aku menyambar kunci mobil dan bertolak ke rumah Kelly.

Malam itu, aku menginap di rumah Kelly. Semua kepedihan yang kurasakan kuceritakan kepadanya. Kini ganti aku yang membutuhkan tempat mencurahkan semuanya.

Ketika keesokan harinya aku tiba di kantorku, aku menyempatkan diri ke kantor tempat Vania bekerja. Sayangnya, hari ini Vania tidak masuk kerja. Entah hilang kemana dia dari terakhir aku bertemu dengannya di rumah makan itu semalam.

Aku tak menyerah. Aku tetap mencari tahu Vania dan berharap untuk bertemu dengannya. Namun, Vania bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan kabar terakhir yang kudapat, dia memutuskan untuk berhenti kerja dan pulang ke Bangka, kampung halamannya.

Hilang sudah semua harapanku. Aku gagal total. Hubunganku dengan Kelly tak kunjung jadi, malah menjadi persahabatan. Di saat aku berharap aku bisa menjalin hubungan dengan Vania, justru semuanya menjadi berantakan hanya karena kesalahpahaman yang semestinya bisa dimengerti dan diterima.

Sore itu, hujan mengguyur kota Jakarta dengan derasnya. Aku mengemudikan mobilku tanpa peduli derasnya hujan yang turun. Kunyalakan radio di mobilku sekencangnya untuk mengusir kegalauan hati dan berharap bisa mengalahkan suara hujan di luar.

"Pendengar Radio Cakrawala, tak terasa Hari Valentine kembali datang menyapa. Apakah kita sudah menyiapkan diri kita menyambutnya?" Terdengar suara pembawa acara dari radio yang kunyalakan itu.

"Ada sebuah pepatah mengatakan, percintaan berasal dari persahabatan. Namun bila sudah mendapatkannya, kita tak boleh lagi memutuskannya. Apalagi sampai kembali lagi menjadi persahabatan. Namun bila ada yang mengalaminya, jangan bersedih, karena persahabatan itu selalu indah."

"Bagi pendengar, lagu ini menceritakan tentang sebuah hubungan percintaan yang berubah menjadi persahabatan. Inilah lagu persembahan dari kami untuk semua pendengar Radio Cakrawala, Shi Nian, Sepuluh Tahun, yang dinyanyikan oleh Eason Chan. Selamat mendengarkan!"

Begitu suara pembawa acara tersebut menghilang, sebuah alunan musik terdengar menggantikannya. Tak lama kemudian lagu tersebut pun dinyanyikan.


十年
shí nián
(Sepuluh Tahun)


如果那两个字没有颤抖
rú guǒ nà liǎng ge zì méi yôu chàn dô
我不会发现我难受
wô bù huì fā xiàn wô nán shòu
怎么说出口也不过是分手
zên me shuō chū kôu yê bù guò shì fēn shǒu

(Jikalau dia tidak mengucapkan kata-kata menggetarkan itu, aku takkan menyadari kesakitanku. Tak peduli bagaimana kita mengungkapkannya, hal ini hanya akan berakhir dengan putusnya hubungan).


如果对于明天没有要求
rú guô duì yú míng tiān méi yôu yāo qiú
牵牵手就像旅游
qiān qiān shôu jiù xiàng lü^ yóu
成千上万个门口总有一个人要先走
chéng qiān shàng wàn gè mén kôu zông yôu yī ge rén yāo xiān zôu

(Jikalau kamu bertanya tentang ketidakpastian esok, memegang tangan ini ibarat berkelana. Akan terdapat ribuan pintu, tapi seseorang harus keluar di tempat yang pertama).


怀抱既然不能逗留
huái bào jì rán bù néng dòu liú
何不在离开的时候
hé bù zài lí kāi de shí hòu
一边享受一边泪流
yī biān xiâng shòu yī biān lèi liú

(Andai kita tak bisa bersama dalam pelukan ini, mengapa tidak kita pisahkan saja kesenangan dengan penderitaan).


十年之前
shí nián zhī qián
我不认识你你不属于我
wǒ bù rèn shi nǐ, nî bù shû yú wô
我们还是一样陪在一个陌生人左右
wômen hái shì yí yàng, péi zài yī gè mò shēng rén zuô yòu
走过渐渐熟悉的街头
zôu guò jiàn jiàn shú xī de jiē tóu

(Sepuluh tahun yang lalu, aku tak mengenalmu, kamu bukan milikku. Kita adalah sama, berjalan berdampingan dengan orang asing).


十年之后
shí nián zhī hòu
我们是朋友还可以问候
wǒ men shì péng you hái kě yǐ wèn hòu
只是那种温柔再也找不到拥抱的理由
zhǐ shi na zhǒng wēn róu zài yě zhǎo bù dào yōng bào de lǐ yóu
情人最后难免沦为朋友
qíng rén zuì hòu nán miǎn lún wéi péng you

(Sepuluh tahun kemudian, kita menjadi teman. Kita masih bisa saling menjaga, tapi tidak menemukan alasan untuk berpelukan satu sama lain. Cinta kita telah kembali menjadi persahabatan).


直到和你做了多年朋友
zhí dào hé nǐ zuò le duō nián péng you
才明白我的眼泪
cái míng bai wǒ de yǎn lèi
不是为你而流也为别人而流
bú shì wéi nǐ ér liú yě wéi bié rén ér liú

(Setelah bertahun-tahun menjalin persahabatan, akhirnya aku mengerti bahwa, jikalau air mataku tidak disebabkan olehmu, aku pasti telah menangis untuk orang lain).


Aku tak lagi kuasa menahan air mataku saat lagu Shi Nian mengalun di telingaku. Pun aku tak sanggup untuk menutup telinga ini. Semua yang dinyanyikan Eason Chan, semuanya, terjadi padaku, selama hampir sepuluh tahun ini.

Sepuluh tahun pertama aku mengenal Kelly dan kami masih belum menyadari ketertarikan kami satu sama lain. Sepuluh tahun bertemu kembali, saat kami sudah saling menyadari dan berharap, keadaan justru memaksa kami untuk menjadi sahabat sejati.

Air mataku menetes deras seakan ingin bersaing dengan derasnya hujan di luar sana. Untungnya saat itu, aku hanya sendiri di dalam mobilku. Sendiri, ditemani lagu sendu ini.

Malam Valentine tahun ini terasa sendu. Sesendu hati dan perasaanku.

TAMAT.


Cerita dan karya asli: Kaz Felinus Li.
Posted By: Kaz HSG
Copyrights: ©HSG-February 2011

(Dilarang meng-copy dan memperbanyak tanpa ijin langsung dari Heavenly Story Group. Pelanggar akan dikenakan tindak pidana).

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates