23/10/10

 

Perjalanan Ke Dunia Gaib: Mereka Ada Bersama Kita

Kaz Felinus Li 21 Oktober jam 12:42 Balas Laporkan
Salam Surgawi,

Hari Kamis sangat identik dengan hari yang berbau misteri dan kegaiban. HSG mencoba mengisi hari Kamis ini dengan berbagi cerita tentang seputar dunia gaib. Kali ini topik yang akan dibagikan kepada pembaca bertema "Mereka Ada Bersama Kita"

Apanya yang tidak mungkin? Dengan dunia gaib, memang selalu ada ketidakmungkinan yang terjadi. Penasaran? Yuk, kita baca bersama kisah-kisah nyata ini.

Selamat membaca.


Kisah 1 (Kuntilanak Melintas di Depanku)

Kisah ini dialami oleh Almarhum Papaku (aku Kaz), dan ini adalah cerita yang dikisahkannya ketika dia masih muda.

Tahun 1960an, kala itu Papaku masih berusia 20an tahun, masih bujangan, seorang lelaki yang tampan dan jangkung. Saking jangkungnya sampai dia mendapat julukan "Mangkala" yang kurang lebih berarti "Galah" dari teman-temannya.

Sebagai seorang anak muda yang sangat aktif, Papaku yang dilahirkan di Pontianak, masih tinggal di tempat yang sama sebelum beberapa tahun kemudian merantau ke Jakarta dan tinggal selamanya di sana.

Suatu senja, setelah Papaku selesai beraktivitas, diapun pulang ke rumah orang tuanya. Biasanya Papaku naik sepeda untuk kegiatan sehari-harinya. Karena hari itu sepeda dipinjam oleh adiknya, jadi Papaku memutuskan untuk berjalan kaki menempuh jarak yang tidak bisa dibilang dekat untuk wilayah antar kota.

Ketika melintasi sebuah jembatan, saat itu hari sudah mulai berganti dengan malam. Waktu sudah menunjukkan sekitar jam 6 lewat.

Jembatan yang dilaluinya cukup sepi. Hanya beberapa orang saja yang melintas di sana. Karena sudah memutuskan untuk menempuh jalan terdekat dengan berjalan kaki melewati jembatan itu, maka Papaku pun meneruskan langkahnya.

Saat langkah membawanya hingga ke tengah jembatan, suasana di sana yang sebelumnya memang sudah hening, mendadak berubah menjadi mencekam.

Papaku berhenti merasakan perubahan mendadak itu. Hawa yang tadinya sejuk berubah menjadi dingin mencekam. Dipandanginya sekelilingnya. Di atas jembatan itu, hanya ada dia sendiri disana. Tak ada siapa-siapa lagi.

"Hanya perasaanku saja." Katanya dalam hati dan Papaku kembali melanjutkan perjalanannya.

Dari ujung jembatan dimana Papaku sedang melintas di atasnyai itu, tampak seorang wanita berambut hitam panjang tergerai, berpakaian serba putih berjalan melintasi jembatan itu. Wajahnya tak terlihat jelas karena tertutup oleh rambut panjangnya.

Keduanya berjalan berlawanan arah. Semakin lama, jarak keduanya semakin mendekat. Dan beberapa detik kemudian, Papaku dan wanita itu saling berpapasan. Karena keduanya saling melintas dengan cepat, Papaku tak bisa melihat jelas wajah wanita yang berpapasan dengannya itu, terlebih dengan wajah yang tertutup rambut seperti itu.

Saat keduanya berpapasan, seketika hidung Papaku mencium wangi bunga yang muncul dengan mendadak. Tepatnya wangi bunga melati. Hawa pun menjadi dingin menusuk tulang.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara tertawa cekikikan tepat di belakangnya!

"Hikhikhikhikhikhikhikhikhikhikhik..." Suara yang semakin lama semakin santar dan jelas. Padahal jarak mereka berdua semakin menjauh.

"Astaga!" Gumam Papaku. Bulu kuduknya mendadak menjadi meremang. Dengan memberanikan dirinya, Papaku mencoba menengok ke belakang.

Sosok wanita yang beberapa detik sebelumnya melintas di depannya dan berpapasan dengannya, tidak ada lagi di belakangnya! Hilang! Namun suaranya masih terdengar memekakkan telinga!


Terkadang, walau berbeda alam, namun sebenarnya manusia dan makhluk halus hidup berdampingan.

***********


Kisah 2 (Baju Pesanan Ko Abun)

Kisah ini juga terjadi di Pontianak. Di tahun 1960an. Diceritakan oleh Papaku dan aku mengisahkannya kembali untuk rekan-rekan pembaca HSG.

Abun adalah salah seorang kenalan Papaku di tahun 1960an. Dia seorang buruh pabrik, yang berangkat dari rumah di pagi hari dan pulang menjelang magrib jam 5-6 sore setiap harinya. Sehari-harinya Abun menyambung kendaraan untuk bepergian.

Suatu hari Senin, seperti biasanya Abun meninggalkan rumahnya untuk pergi bekerja di kota seberang. Dan saat pulang di sore harinya, Abun dengan tertawa riang, dengan amplop di tangan, mampir ke sebuah tailor (penjahit baju) untuk memesan baju baru.

"Nih, kubayar dulu ya, mumpung baru terima gaji." Kata Abun sambil tertawa riang.

"Kam chia, Ko Abun. Balik lagi 3 hari ya. Kamis. Bajunya pasti sudah selesai." Kata penjahit yang menjahitkan bajunya.

Pulang dari sana, Abun tidak langsung ke rumah, tapi mampir dan berkumpul dulu bersama dengan teman-temannya di kopi tiam (warung kopi) langganan mereka.

"Kopi biasa ya." Pesan Abun dan bergabung dengan teman-temannya.

Singkat cerita, 3 hari berlalu dan hari Kamis itu, Abun telah bisa mengambil baju pesanannya di tailor langganannya.

Seperti biasanya, Abun pergi bekerja dengan naik kendaraan umum melintasi kota. Sorenya, Abun pulang lebih awal, sekitar jam 3 sore, karena pabrik tempatnya bekerja mati lampu.

Di perjalanannya sore itu, Abun mengalami kecelakaan. Sebuah mobil truk dalam kecepatan tinggi, melintas saat dia ingin menyebrang jalan dan...

CRASSHHH!!!

Abun tertabrak truk yang melintas kencang itu! Tubuhnya terputar di udara sebelum akhirnya jatuh dengan kepala menghantam aspal dan tubuh berdarah-darah. Nafasnya seketika hilang dari raganya.

Kabar meninggalnya Abun sore itu akhirnya sampai ke warung kopi tempat biasa dia minum dan berkumpul dengan teman-temannya sore itu.

"Heh, ada yang tau gak, Abun kecelakaan tadi sore?" Kata seorang dari para lelaki yang berkumpul disana.

"Hah? Masa sih? Kapan?" Tanya yang lainnya.

"Tadi, sekitar jam 4 sore waktu pulang kerja."

"Ah, yang bener? Jangan bicara yang tidak-tidak deh." Celetuk salah seorang di antara mereka.

"Bener kok. Untuk apa bilang yang tidak benar, tak ada gunanya."

"Jangan bohong deh! Jam berapa katanya Ko Abun tabrakan?" Tanya orang ini lagi.

"Katanya sekitar jam 4 sore."

"Jam 4 sore? Tadi jam 6 kurang aja, Ko Abun masih mampir ke tempatnya Ko Ahui ambil baju pesanannya kok. Wa kan disana dan masih sempat melihatnya." Sambung orang ini lagi.

"Wa masih panggil dia kok dan dia masih menengok dan tersenyum. Gak bilang apa-apa sih. Diam saja. Mungkin dia lagi sakit, jadi wa diam juga. Masa bisa-bisanya kalian bilang jam 4 dia kecelakaan?"

"HAH?!!" Yang hadir di kedai kopi disana terkejut dengan mata terbelalak lebar mendengar penjelasan orang ini.

Bila masih ada suatu pekerjaan atau barang yang belum sempat dilakukannya atau diambilnya, biasanya arwah yang baru saja meninggal akan menuntaskannya terlebih dulu. Beberapa saat menjelang kematiannya.

***
Kisah 3 (9 Orang, Bukan 10)

Kisah ini diambil dari pengalaman temanku yang hobi karaoke. Terjadi di Jakarta, sekitar tahun 2009.

Sebagai seorang yang hobi menyanyi, Bambang, sebut saja namanya demikian, keranjingan mengunjungi karaoke lounge bersama dengan teman-teman lainnya untuk menghabiskan waktunya di hiburan tarik suara tersebut.

Suatu malam minggu, Bambang dan teman-temannya kembali berkumpul untuk menghabiskan akhir pekan dengan bernyanyi di sebuah karaoke lounge yang cukup terkenal di Jakarta.

Bersama dengan teman-teman wanita dan juga laki-lakinya, Bambang menghabiskan waktu sekitar 3 jam di ruangan bernyanyi berukuran besar dengan teman-temannya.

Saat selesai dan tagihan diantar, tercatat harga yang harus dibayarkan. Sambil tertawa-tawa, semuanya keluar menuju ke kasir.

"Total harganya Rp 380.000,-" Kata gadis penjaga kasir.

"Kok jadi segitu harganya, Mbak?" Tanya Bambang. "Perasaan tadi perhitungan gak segitu deh."

"Maksimum ruangan adalah untuk 9 orang, tapi yang masuk ke sana adalah 10 orang. Jadi kelebihan 1 orang dikenakan charge Rp 30.000,-"

"Hah? Mbak yang benar aja? Kami semua 9 orang, bukan 10." Kata Bambang. Teman-temannya yang masih disana mengiyakan.

"10, Pak. Bukan 9." Kata kasir.

"9, Mbak. Bukan 10." Balas Bambang.

"Ya, kami 9 kok. Gak ada 10." Sahut teman Bambang.

"Kalau gak percaya, hitung aja. Kami semua masih disini kok." Timpal temannya lagi.

"Tapi di rekaman kamera, kamarnya ada 10 orang." Kata kasir lagi.

"9, Mbak. Gak ada 10." Bambang mulai kesal.

"Nih, kami hitung ya." Teman Bambang mulai menghitung. "Tuh kan 9. Darimana 10?"

"Tapi di kamera 10 orang." Kata kasir. "Pasti yang satunya udah pulang."

"Mbak, uang sebanyak itu pun kami akan bayar, masa hanya 30 ribu kami tidak mau bayar?"

"Coba kami lihat rekamannya." Ujar salah seorang teman Bambang.

Akhirnya untuk mencegah keributan, manajer karaoke tempat tersebut memperlihatkan rekaman di ruangan yang disewa Bambang sebelumnya.

"Tuh, kan ada 10 orang." Kata kasir lagi. "Pasti satunya itu udah pulang."

"Gini aja deh. Kita cocokin diri kita yang ada disini dengan yang ada di rekaman. Kalau ada 1 yang beda, itulah dia."

Kasir itu menyetujui. Setiap orang yang muncuk dicocokkan dengan yang hadir di tempat itu.

"Tuh kan benar 9. Untuk apa kami menipu?" Kata Bambang.

"Bentar, bentar." Teman Bambang menaikkan tangannya. "Ini siapa ya? Kok gw belum pernah liat dia sebelumnya."

Jarinya menunjuk ke layar TV yang rekamannya sedang di-pause dan tampak seorang wanita berambut panjang dengan gaun panjang berwarna hitam berada di antara kami semua yang sedang berada di ruangan itu.

"Coba kita liat wajahnya." Teman Bambang yang lain masih penasaran. "Putar, Mbak. Penasaran wajahnya seperti apa. Kok kami gak sadar ada yang pakai baju hitam sih?"

Kasir memutar rekamannya dan pada saat kamera menyorot tepat ke wajah wanita berjubah hitam itu, tepat pada saat itu wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap kamera.

Wajahnya putih pucat, rambutnya acak-acakan, matanya merah, pelupuk lingkar matanya hitam dan dia tersenyum menyeringai.

"Se...setaaaaaannnnn!!!" Teriak teman-teman dan Bambang pada saat bersamaan.
Terkadang mereka juga ingin bersenang-senang bersama manusia, seperti di cerita di atas.


Salam HSG
Posted by: Kaz HSG
HSG - October 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates