19/10/10

BAGIAN 63
Melihat Dokter Kristina menggelengkan kepalanya, air mata Ervina semakin menetes. Asiong juga terlihat tidak tenang seperti biasanya
"Jangan... Tuhan... aku mohon.... Jangan ada apa-apa pada Justine...' Kata Ervina dalam hati. Air matanya jatuh ke tangannya dan gadis itu tidak berniat lagi untuk menyekanya.

Tampak dokter hewan itu melakukan pemeriksaan medis kepada Justine. Lalu dia bergegas ke bagian belakang ruangan tempat menyimpan obat-obatan dan keluar lagi dengan sebatang jarum suntik di tangan.
Dengannya, dia menyuntikkan serum yang ada di injeksi tersebut ke dalam badan Justine.
"Vina..." Dokter Kristina berkata setelah beberapa saat terdiam. Dia menghela nafasnya dan menatap sepasang kekasih itu.
"Justine... Justine gimana, Dokter..." Dengan bibir bergetar, Ervina menatap dokter hewan langganannya itu.
"Telat sedikit saja, nyawa Justine sudah lepas dari badannya." Dokter Kristina menerangkan. "Paling lama lima menit lagi, pergilah dia."
Sebersit harapan muncul di depan mata Ervina mendengar penjelasan dokter hewan di depannya itu. Tanpa terasa bibirnya tersenyum kecil.
"Ja... Jadi... Justine..." Ervina tak bisa melanjutkan kata-katanya. 
Dokter Kristina tersenyum. "Terkena racun. Tapi sekarang dia sudah selamat..."
Senyum Ervina semakin mengembang saat itu dan dia menatap Asiong yang berdiri di sampingnya itu.
"Andai saja racun itu keburu menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darahnya..." Dokter Kristina berkata. "Serum yang kusuntikkan sudah menolak racunnya."
"Justine akan sadar dalam beberapa jam." Lanjut dokter hewan itu. "Namun dia masih lemah. Perlakukanlah dia dengan lembut bila dia sudah bangun."
"Terima kasih... Terima kasih, Dokter..." Ervina berteriak sambil menyalami dan memeluk dokter hewan langganannya itu. Setelah melepaskan pelukannya, gadis itu pun memeluk Asiong. Seperti tak ada perasaan canggung di depan dokter hewan kenalannya itu.
"Terima kasih, Alex. Lagi-lagi kamu menolongku. Terima kasihku mewakili Justine." Ervina berlinang air mata memeluk Asiong.
Asiong membalas pelukan kekasihnya. Pemuda itu juga terharu dengan kejadian di depan matanya itu. Perjuangan mereka berdua tidaklah sia-sia. Dimulai dari berpacu dengan waktu sambil menghindari kejaran anak buah Roni dan berakhir dengan Asiong yang berselisih dengan wanita berambut gulung di ruang lobi itu.
"Andai tak ada kamu, aku tak tau harus bagaimana. Aku pasti sudah kehilangan Justine." Gadis itu melepaskan pelukannya dan memandang wajah kekasihnya. Kedua matanya tampak sembab dan wajah cantiknya terlihat kuyu karena terlalu banyak menangis. "Terima kasih..."
"Sudahlah, tak apa-apa. Tak perlu terima kasih." Jawab pemuda kekasihnya itu. "Yang penting sekarang Justine selamat."
Gadis itu berbalik menatap Dokter Kristina.
"Sepertinya perjuangan kalian untuk kesini cukup berat ya." Dokter Kristina tersenyum menatap Asiong dan Ervina bergantian. "Pemuda ini kekasihmu, Vina?"
"Iya, Dok." Ervina tersenyum. Tangannya mengambil tisu di meja sang dokter dan menyeka air matanya. Rupanya dia baru teringat untuk menghapusnya saat itu.
Asiong tersenyum sambil menyalami dokter hewan itu.
"Masih ada obat yang harus diberikan kepada Justine." Kata Dokter Kristina. Dia kembali beranjak ke belakang dan keluar dengan sebotol cairan berukuran sedang.
"Campurkan ini di minumannya." Diberikannya botol itu kepada Ervina yang menerimanya sambil tersenyum.
"Kalau boleh tau, Justine keracunan apa ya, Dok?" Saat menerima botol dari sang dokter, gadis itu tak lupa bertanya.
"Insektisida."
"Hah? Itu kan obat serangga?" Asiong terbelalak tak percaya. "Bagaimana bisa? Bukannya obat itu berbau?"
"Ya, Dok, penciuman Justine kan tajam. Setauku tak mungkin dia akan mau bila berbau tidak sedap begitu." Sambung Ervina melirik Asiong.
"Mungkin saja. Insektisida dinetralkan baunya dan dicampurkan ke susu." Jelas Dokter Kristina. "Justine suka minum susu kan?"
Ervina mengangguk.
"Nah, itu dia jawabannya!" Dokter Kristina mengiyakan.
"Mereka berdua!" Asiong menggertakkan gerahamnya.
"Siapa?" Tampak Dokter Kristina kebingungan dan mengernyitkan alisnya.
"Oh, tetanggaku, Dok." Ervina mencoba mengalihkan jawaban. "Justine memang sering main di rumahnya."
"Oh, begitu." Sang dokter menatap sepasang kekasih itu. "Lain kali musti lebih hati-hati ya."
"Baik, Dokter." Ervina menjawab dengan anggukan kepalanya.
Tak lama kemudian, sepasang kekasih itupun keluar dari ruang praktek Dokter Kristina. Asiong membukakan pintu untuk kekasihnya itu keluar yang menggendong Justine dalam pelukannya.
Ketika tiba diluar, tampak sepasang mata wanita yang sebelumnya terlibat adu mulut dengan Asiong, memelototi pemuda itu seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Pemuda itu hanya tersenyum membalas pelototan wanita itu. Sementara anjing pudelnya menyalak ribut.
'Anjing dengan majikan tak ada bedanya!' Kata pemuda itu dalam hatinya sambil berlalu dari hadapan wanita berambut digulung itu

BAGIAN 64






Dua minggu berlalu sudah sejak Justine mengalami keracunan dan nyaris kehilangan nyawanya andai saja pertolongan telat diberikan. Kini, anjing mungil itu telah sehat seperti sedia kala dan kembali bisa bermain dan bercanda dengan Ervina, Asiong dan kedua kakaknya.

"Justine sudah kembali ya, Vin..." Kata Asiong saat melihat anjing mungil itu berlari-larian mengejar dan menyalaki seekor tikus kecil yang mendadak muncul di pekarangan rumah dan menghilang di sela-sela pintu.

"Berkat kamu juga kan, Lex." Ervina tersenyum dan mengerdipkan sebelah matanya.

"Sama-samalah, Vin. Kita kan berjuang bersama..."

"Lebih banyak kamu dong." Gadis itu mendekati kekasihnya. "Siapa yang membawaku dan Justine menghindari kejaran anak buah Roni? Lalu siapa yang memperjuangkan waktu untuk Justine ketika kita di dokter?"

Asiong tersenyum dan memalingkan wajahnya. "Aku lakukan itu semua demi Justine. Karena aku sayang dia."

"Terima kasih, Lex." Sebuah kecupan diberikan Ervina di pipi kekasihnya. "Aku semakin cinta padamu."

Untung saja saat itu di lantai bawah tak ada siapapun kecuali mereka berdua, sehingga adegan mesra itu tak ada yang mengetahui selain keduanya.

"Tapi aku merasa aneh lho..." Ujar Asiong menatap kekasihnya.

"Kenapa?" Gadis di depannya mengerlingkan matanya. "Ada yang aneh dengan ciumanku?"

"Bukan... Bukan itu..." Mendadak Asiong merasa berdegup jantungnya mendengar perkataan kekasihnya itu.

"Terus?" Lagi-lagi Ervina mengerlingkan matanya yang membuat Asiong semakin berdegup kencang jantunya.

'Sudah cantik, jadi semakin cantik dengan kerlinganmu itu.' Kata Asiong dalam hatinya. 'Kalau seperti ini, mana ada yang bisa tahan? Beruntung aku bisa memilikimu, Vina...'

"Kamu tidak merasa aneh?" Asiong bertanya balik. "Sudah dua minggu ini tak ada gangguan dari Roni dan anak buahnya."

"Iya ya..." Ervina menggaruk kepalanya. "Padahal kan mereka tau rumah ini."

"Kupikir juga begitu." Timpal kekasihnya. "Tapi sudahlah. Tak perlu kita pikirkan itu lebih lanjut."

"Ya, Lex. Lupakan saja hal tak berguna itu. Besok bisa kan antar aku interview?"

"Boleh. Sudah ada panggilan ya?"

Ervina mengangguk. Poni di depan keningnya bergoyang sesaat seiring anggukan itu, menambah kecantikannya yang menawan.

"Produk apa? Rokok lagi?"

"Bukan. Yang sekali ini handphone."

"Handphone? Wah, asyik tuh." Asiong terkekeh. "Tadinya kukira rokok lagi, jadi aku bisa nebeng..."

"Huh, maunya kamu, Lex..." Ervina mengerlingkan matanya menggoda kekasihnya lagi.

"Lho, kan dulu kamu yang belikan untukku, masih ingat?"

"Ingat dong." Gadis itu tersenyum. "Itu saat pertama kita berjumpa."

Asiong memeluk pinggang kekasihnya itu. "Tak apa-apa. Aku kan sekarang sudah dapat orangnya. Rokoknya tak lagi gratis, tak masalah."

Ervina yang dipeluk pinggangnya mendekat ke badan kekasihnya itu tersenyum. "Lex, mau merayuku ya?"

"Merayumu juga tak apa-apa kan?" Pemuda itu balik bertanya. Matanya menatap mata bening kekasihnya itu. Dalam hatinya, Asiong berniat memberikan sebuah kecupan kepada Ervina.

Pada saat yang bersamaan, di puncak sebuah gunung di daerah Jambi...

"Jadi ini orangnyo?" Tampak seorang lelaki tua berjenggot putih duduk bersila di lantai yang dialasi tikar. Di depannya tampak sebuah tempat dupa bergambar tengkorak yang terus mengepulkan asap berbau kemenyan. Di tangannya tergenggam sebuah foto yang baru saja diterimanya dari seorang lelaki di hadapannya yang juga duduk bersila.

"Betul, Datuk Rajo Kalebat." Terdengar lelaki di hadapan pak tua berjenggot itu.

"Cantiknyo. Siapo namanyo?" Lelaki yang dipanggil Datuk Rajo Kalebat itu mengusap-usap jenggotnya sambil melihat foto yang di tangannya.

"Ervina, Datuk."



"Hmmm... Namo yang indah..." Datuk Rajo Kalebat masih mengusap-usap jenggotnya. Foto di tangannya diletakkan di pangkuannya. "Berapo kau berani bayar sayo?"



"Sepuluh juta, Datuk!"






"Sepuluh juto? Sayo minto duo puluh limo juto. Biso?"

Walau terkejut mendengarnya, lelaki yang duduk di hadapan sang datuk menyanggupinya.



"Bagus. Siapkan uangnyo secepatnyo hari ini jugo. Malam ini kau biso melihat hasilnyo."



"Baik. Baik, Datuk!"



"Namamu siapo?"






"Saya? Saya Roni, Datuk." Jawab lelaki yang duduk di depan sang datuk.



"Baik. Baik." Datuk Rajo Kalebat tertawa terkekeh sambil mengusap jenggotnya

BAGIAN 65
Sang waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa hari Jumat pun tiba dan akhir pekan menjelang. Jam dinding di rumah konveksi Asiong menunjukkan sekitar pukul 7 pagi.

"Pagi, Vina." Asiong menyapa kekasihnya yang baru bangun dan melangkah keluar kamar pagi itu. "Tumben hari ini bangun siang?"

Tak ada jawaban dari gadis itu. Ervina hanya melangkah ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya. Juga dia tidak menjawab sapaan kekasihnya itu.

'Kok tidak dijawab sih? Tumben...' Bathin Asiong saat melihat kekasihnya terus berjalan ke kamar mandi tanpa bersuara. 'Ah, mungkin masih capek kali. Biar sajalah.'

Setelah beberapa lama di kamar mandi, Ervina keluar. Dengan langkah kaku, gadis itu kembali ke kamar tidur Asiong. Lagi-lagi tanpa sepatah katapun yang diucapkannya.

Asiong berniat menghampiri kekasihnya. Namun belum sempat dia melakukannya, Justine yang sedari tadi tidur-tiduran di ruang tamu, mendahuluinya ke kamar tidur. Anjing itu mendadak menyalaki Ervina.

"Justine..." Asiong menempelkan telunjuknya di bibirnya meminta anjing kecil itu untuk berhenti menyalak. Bukannya diam, malah semakin menjadi Justine menyalaki majikannya.

Asiong melangkah ke kamarnya, berniat menemui kekasihnya itu. Namun suara lolongan Justine membuat langkahnya terhenti.

"Uuuuu.....Uuuuuu.....Aaaauuuuuuuuuuuuuu........" Sambil mendongakkan kepalanya dan memajukan moncongnya, Justine bertalu dan melolong layaknya seekor serigala.

"Justine bertalu? Kok aneh?" Asiong menatap Justine yang masih bertalu itu. "Tidak biasanya Justine begini.... Atau jangan-jangan..."

Pemuda itu memandang Ervina yang kebetulan melangkah keluar dari kamarnya. Ditatapnya mata kekasihnya itu.

"Vina..." Asiong mencoba memanggil. Tak ada tanggapan ataupun jawaban. Matanya tak lepas menatap sepasang mata Ervina.

Kedua mata kekasihnya yang dulunya bening, kini seperti kosong tak berisi. Tatapannya kosong dan pandangannya bengong.

"Vina..." Asiong melambaikan tangannya di depan mata Ervina. Namun lambaian yang dekat itu seperti tidak terlihat sama sekali olehnya.

"Aneh. Vina, kamu kenapa?" Asiong memegang pundak kekasihnya dan diguncangnya pelan.

"Yaaa..." Terdengar jawaban pelan dari mulut Ervina. Nadanya dingin. Wajahnya menengok ke arah Asiong, namun pandangannya tetap kosong.

"Kamu siapa?" Tanya Ervina.

"Hah?!!" Asiong terbelalak mendengar pertanyaan Ervina. "Jangan bercanda, Vin! Tidak lucu."

"Aku tak mengenalmu. Kamu siapa?" Dengan tatapan mata kosong, gadis itu kembali mengajukan pertanyaannya.

"Vina, ini sama sekali tidak lucu!" Asiong kembali mengguncang pundak kekasihnya.

"DIAMMM!!!" Tiba-tiba Ervina berteriak membentak. Suara yang dikeluarkannya terdengar membahana. Mata Ervina mendadak membesar dan melotot, tatapannya seperti ingin menelan Asiong.

"Lepaskan!!" Kedua lengan gadis itu bergerak menghalau tangan Asiong yang memegang pundaknya itu. Akibatnya lengan Asiong terhentak ke udara dengan gerakan tiba-tiba.

"Hah!!" Semakin terkejut Asiong melihat tingkah kekasihnya itu. Digoyangkannya tangannya yang mulai kesemutan itu.

"Tanganku kesemutan..." Asiong menatap tak percaya. Pandangan beralih dari lengannya yang kesemutan dan wajah Ervina di depannya. "Ti... Tidak mungkin. Itu.... Itu bukan tenagamu..."

Pandangan pemuda itu beralih ke Justine yang masih terus bertalu di belakang majikannya itu.

"Ada apa denganmu, Vina?" Entah kenapa, Asiong merasakan bulu kuduknya meremang saat memandang kekasihnya itu lagi. Pandangan matanya kosong namun menyimpan misteri


BAGIAN 66
 "Vina..." Asiong masih mencoba memanggil kekasihnya itu. Dipegangnya lengan kiri Ervina. "Katamu minta diantar interview hari ini..."

"Kubilang lepaskan!!" Ervina menampik lengan Asiong yang memegangnya itu. Dorongan tangannya ternyata mampu melepaskan tangan pemuda itu. Bukan itu saja. Dorongan tersebut sanggup membuat lengan pemuda itu tersentak ke belakang.

Asiong kembali terbelalak menyadari kenyataan itu. Tenaga yang tidak mungkin akan pernah dimiliki oleh seorang wanita. Tenaga yang sanggup membuat badan tegapnya mundur beberapa tindak ke belakang.

"Ini bukan tenagamu, Vina." Gumam Asiong. "Sepertinya ada yang tidak beres denganmu."

Pemuda itu segera mengambil ponsel yang disimpan di saku celananya dan menekan beberapa tombol sambil matanya terus mengawasi kekasihnya yang masih berdiri di depannya.

"Bun," Ujar Asiong setelah sambungan di ponselnya terhubung. "Ada yang perlu kutanyakan padamu. Bisa datang kesini?"

Suara bertalu yang masih dikeluarkan Justine membuat keduanya sulit mendengar dengan jelas.

"Kenapa? Tentang Ervina lagi ya?" Terdengar suara dari saluran seberang.

"Ya, ada yang aneh dengannya." Sahut Asiong. "Segera datang ya! Kutunggu."

Setelah sekitar satu jam kemudian, Buntara yang dihubungi Asiong datang ke konveksi pemuda itu. Ketika dia datang, kedua kakak kandung sepupunya, Mei Hwa dan Chun Hwa juga telah berada di tempat itu. Sementara Justine telah dinaikkan ke lantai atas dan dimasukkan ke kamar Chun Hwa untuk menghindari gongongan dan suara bertalunya lagi.

"Ada apa, Siong?" Buntara meletakkan tas kerjanya di meja panjang khas konveksi dan menghampiri sepupunya itu. Sekilas matanya melirik ke arah Ervina yang sedang duduk tak bergerak itu.

"Sikapnya aneh. Tidak seperti Vina yang biasanya." Kata Asiong.

"Sepertinya sih kemasukan, Bun." Mei Hwa menimpali.

"Kemasukan?" Buntara mengernyitkan keningnya. Dihampirinya Ervina yang masih duduk, sementara Asiong berdiri tak jauh dari kekasihnya.

"Coba ajak dia bicara!" Asiong menatap sepupunya itu.

Buntara mengangguk.

"Ervina." Buntara mencoba memanggil Ervina dengan nada pelan. Tak ada jawaban. Dipanggilnya sekali lagi. Tetap masih tak ada jawaban.

Buntara tak menyerah. Dia berdiri lebih mendekati Ervina dan memanggilnya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

"Ervina..."

"Hrrrgggghhhhh!!!" Jawaban Ervina seperti suara geraman yang bernada dalam. Matanya melotot ke arah Buntara, padahal sebenarnya pandangannya kosong.

"Astaga!" Buntara terloncat mendengar suara jawaban Ervina. Dipandanginya ketiga sepupunya yang juga berada disana dengan pandangan heran.

"Nih, lihat ya." Asiong memberi tanda kepada Buntara. Didekatinya kekasihnya itu dan disentuhnya lengannya.

"Vina, ini aku." Kata pemuda itu.

"Siapa kamu?!" Jawab Ervina.

"Aku, masa kamu lupa padaku?" Ujar Asiong lagi sambil menekan sedikit lengan kekasihnya itu.

"Grrrrr!!! Lepaskan!!!" Ervina menggerakkan tangannya dan menghalau pegangan Asiong. Hentakan itu membuat pemuda perantauan itu terdorong ke belakang. Namun dengan memantapkan kuda-kuda kakinya, pemuda itu berhasil menghentikan tolakan keras itu.

"Gila!!" Buntara terbelalak melihat Asiong yang berbadan tegap dan terlatih itu sampai limbung terdorong oleh tenaga yang dikeluarkan dari gerakan tangan Ervina yang kelihatan seperti melambai itu.

"Lihat kan, Bun?" Kata Asiong sambil menggoyangkan tangannya. "Tanganku sampai kesemutan karenanya..."

"Itu bukan Ervina kan?" Chun Hwa tampak panik ekpresi wajahnya.

Asiong dan Buntara menggelengkan kepalanya, hampir bersamaan.

"Bukan..." Buntara menjawab dengan suara bergetar. Keringat dingin mengucur di keningnya dan matanya masih terbelalak tak percaya. "Itu bukan Ervina..."


BAGIAN 67
 "Jadi sekarang bagaimana, Bun?" Asiong menatap sepupunya itu.
"Sepertinya Ervina kena tenung..." Kata Buntara.
"Ilmu hitam..." Mei Hwa menimpali.
"Ya, sepertinya begitu." Jawab Asiong. "Kemarin dia masih minta aku mengantarnya wawancara hari ini. Waktu bangun sudah aneh begini. Bahkan aku sudah tidak dikenalnya lagi."
"Sudah dapat dipastikan ini ilmu hitam." Ujar Buntara.
"Ada usul?" Tanya Asiong.
Buntara menggaruk-garuk kepalanya. "Jujur, Siong, belum ada."
Asiong menghela nafasnya.
Tahu-tahu terdengar Ervina tertawa dengan suara cekikikan nyaring. Semua yang berada di sana terlompat saking terkejutnya.

"Astaga!" Asiong hanya bisa menatap kekasihnya itu dengan jantung berdetak kencang. Dengan kedua kakaknya dan Buntara yang sama-sama terbelalak, pemuda itu saling berpandangan satu sama lain.

"Roni! Pasti Roni yang melakukan ini!" Pemuda itu mengepalkan tangannya. "Kurang ajar!"

"Begitu juga dugaanku!" Buntara masih menatap sepupunya itu. "Tunggu. Sepertinya aku ada kenalan yang mungkin bisa membantu..."

"Bagus!" Asiong tersenyum.

"Tapi dia gak bisa mengobati, namun kalau menerawang apa yang sedang terjadi, dia jagonya." Sambung Buntara lagi.

"Jadi buat apa dong kalau begitu?" Timpal Mei Hwa.

"Paling tidak kan kita bisa tahu apa yang terjadi pada Ervina." Asiong menjawab pertanyaan kakak sulungnya.

"Tenang aja. Gak cuma itu." Buntara berkata lagi. "Dia biasanya memberi jalan keluar. Selama ini udah banyak yang tertolong sama dia."

"Kita yang kesana atau dia yang datang?" Tampak Asiong sudah semakin tak sabar.

Buntara melihat Mei Hwa dan Chun Hwa.

"Mungkin dengan kondisi begini, lebih baik dia yang datang..." Kata Mei Hwa. "Bagaimana menurut kalian?"

"Aku setuju dengan usul Mei Ce..." Ujar Asiong menunjuk kakak sulungnya.

"Coba liat waktunya dulu ya... Masalahnya ini Jumat, tapi mudah-mudahan aja bisa..." Jawab Buntara sambil mengambil ponselnya dari saku bajunya.

Ketika Buntara menelepon, Asiong dan kedua kakaknya menunggu dengan was-was. Sementara Ervina masih tertawa cekikikan dengan pandangan mata kosong.

"Oke, baik. Terima kasih." Buntara menutup teleponnya. Ditatapnya ketiga sepupunya itu.

"Dia minta dijemput karena ada praktek jam 6 malam ini." Kata Buntara. Dilihatnya jam tangan di lengannya. "Sekarang belum jam 12 siang. Masih ada waktu untuk antar jemput dia."

"Bagus. Kalau begitu kita tunggu." Asiong menjentikkan jarinya.

"Tapi biayanya, Siong?" Chun Hwa menyadarkan adiknya itu.

"Oh, tenang aja. Dia gak pernah pasang harga. Terserah kita mau kasih berapa." Kata Buntara menjelaskan. "Masih kenalan dari teman juga..."

"Yep, bagus sekali..." Asiong menjawab. Hatinya terlihat gundah dengan mata yang tak lepas dari kekasihnya itu. "Kalau begitu, kami tunggu disini..."

Untuk meredakan ketegangan, dia mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkannya kepada sepupunya, yang segera mengambil sebatang dan menyalakannya.

"Terima kasih, Bun..." Asiong menghembuskan asap rokoknya. Tampak sekali pikirannya jenuh menghadapi situasi itu.

"Apa lagi yang dilakukan Roni kali ini?" Gumamnya.

"Gue juga gak tau apa maksudnya dengan semua ini, tapi ada baiknya kita tunggu aja kedatangan orang ini. Agar semuanya jelas." Sahut Buntara.

Asiong mengangguk. Ervina sudah tidak tertawa terkikik lagi, namun pandangan matanya masih kosong seperti tak berisi.

Buntara mengangguk dan berjalan menuju pintu depan. "Gue pergi dulu."

"Oke, kami tunggu." Asiong berjalan menemani Buntara ke arah pintu.

Keduanya berjalan menuju pintu dan saat itu selangkah lagi, Buntara akan menjulurkan tangannya membuka gagang pintu ketika terdengar suara dari belakang mereka.

"Siong!!" Terdengar Chun Hwa memekik kencang.

"Heh?!" Asiong yang dipanggil kakaknya terkejut dan menengok, posisi badannya membalik ke belakang. Tepat pada saat itu...

GREEPPP!!

"Aakkhhhh!!" Asiong mengeluh dan terperanjat. Sepasang tangan terjulur dan mencengkram leher pemuda itu dengan kencang.

"Ugghhhhhh...." Pemuda itu mendelik menyadari orang yang mencekik lehernya saat itu adalah Ervina, kekasihnya. Rokok yang masih dihisapnya dan berada di mulutnya jatuh akibat cekikan tiba-tiba yang mendarat di lehernya itu


BAGIAN 68
 Ervina dengan tangan terjulur, mata melotot yang merah menyala dan wajah yang menyeringai menyeramkan mencekik leher kekasihnya, yang terlambat menyadari semua tindakannya.

"Siong!!" Buntara yang juga terperanjat dengan pekikan Chun Hwa itu ikut panik saat dia membalikkan badannya dan menyaksikan sepupunya itu sudah dicengkram lehernya oleh Ervina yang wajahnya menjadi menyeramkan itu. Mau tak mau, dia mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Uggghhhhh!!!" Asiong mengangkat tangannya dan memegang kedua pergelangan tangan Ervina. Namun kekasihnya yang telah dirasuki itu tenaganya sangat besar dan kuat. Untuk sesaat pemuda perantauan itu tampak kerepotan mengimbangi tenaga luar biasa Ervina.

"Aaarrgggghhhh!!" Dengan mengerahkan tenaganya, Asiong mencoba menarik lepas tangan Ervina yang mencekik lehernya itu. "Ku....ku..at....se...ka...lii....uugghhhh...."

"Siong!!" Kedua kakak kandung Asiong hanya bisa terpaku melihat adiknya berusaha keras melepaskan cekikan di lehernya itu. Sementara dari atas loteng, beberapa pegawai konveksi berteriak turun dan bergabung dengan mereka yang berada di bawah.

"Kenapa, Cik?" Tanya beberapa di antara mereka. "Berantem ya?"

"Ervina kesurupan!" Jawab Mei Hwa pendek.

"Astagfirullahalazim!" Beberapa pegawai terbelalak matanya melihat kejadian yang berlangsung di depan mata mereka itu.

"Ku....kuu....aaattthhhhh...." Asiong mengerahkan tenaganya mencoba melepaskan cekikan tangan Ervina di lehernya. Namun tekanan tenaga setan yang kuat membuat pemuda itu kewalahan. Lehernya tertekan keras oleh jari-jari lentik Ervina!!

"Siong. Gue bantu!" Buntara yang tidak tega melihat sepupunya kewalahan itu mendekat. Rokok yang dihisapnya dibuangnya tanpa peduli masih tersisa cukup panjang. Hampir di saat yang bersamaan, beberapa pegawai yang turun dari atas juga bergegas maju memberikan bantuan.

"Hihhh!!!" Ervina mengibaskan lengan kirinya saat Buntara mendekat. Kibasannya itu tepat mengenai dada pemuda itu dan mengakibatkan pemuda itu terlontar ke belakang beberapa meter dan jatuh terduduk di lantai.

"Aakkhhhh!!" Buntara mengeluh saat badannya terhempas dengan keras akibat kibasan lengan Ervina itu. Pandangan matanya tampak berkunang-kunang untuk sesaat.

Melihat Buntara yang terjatuh hanya dengan sekali kibas, membuat para pegawai konveksi yang sekiranya ingin maju memberikan bantuan, malah mundur ketakutan. Beberapa di antara mereka terbelalak tak percaya dengan apa yang sedang terjadi itu.

"Buuunnn..." Asiong melihat sepupunya terjatuh di depan matanya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, sehingga Ervina kembali mencengkram lehernya dengan kedua tangannya.

'Bodoh, Siong!' Hati Asiong berkata. Nafasnya sudah semakin sesak. 'Masih ada cara lain.'

Merasa tidak dapat menarik tangan yang mencengkram erat lehernya itu, Asiong menurunkan kedua tangannya. Perlahan pemuda itu kembali menaikkan tangannya lagi.

'Kalau tak bisa dari luar...' Hatinya kembali berkata. 'Bagaimana kalau dari dalam?'

Kedua tangannya masuk di celah-celah dari kedua tangan Ervina yang masih mencekik lehernya dan menggeram itu. Perlahan, sepasang tangannya naik.

'Begini!' Asiong mengumpulkan tenaganya di tangannya dan dengan tenaga yang terkumpul itu, dia menghentakkan kedua lengannya dari celah yang dimasukinya dengan gerakan mendorong ke samping.

"Huuaaaaaaa!!!" Ervina menjerit saat kedua lengannya terhentak lepas akibat dorongan tangan Asiong itu. Tubuhnya sempat mundur dua tiga langkah akibat tenaga kencang yang dikeluarkan pemuda itu untuk menepis tangannya.

"Hosh!! Hosh!!" Asiong mengusap lehernya yang sakit tercekik itu. Pandangannya tak lepas dari Ervina yang masih berada di depannya.

"Hihhh!!" Ervina menggeram lagi dan merangsek maju dengan lengan terjulur, hendak mencekik leher Asiong lagi.

Sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, Asiong pun sudah mengantisipasinya. Saat Ervina merangsek maju hendak mencekiknya lagi, pemuda itu menghindar dengan melompat ke samping kanan kekasihnya. Untuk selanjutnya dengan gerakan lincah, Asiong meringkus kedua lengan kekasihnya itu.

"Hhhhrrggghhhhh!!!" Terdengar geraman dari mulut Ervina saat mengetahui kedua lengannya ditelikung dari belakang. Gadis itu meronta, namun Asiong sudah terlebih dulu mengunci lengannya di belakang.

"RRRGGGGHHHHHH!!!!" Geraman Ervina semakin keras. Matanya mendelik besar. Tubuhnya semakin meronta. Digoyangkannya ke kiri dan ke kanan bermaksud melepaskan kuncian di lengannya.

Asiong sendiri dengan susah payah mencoba mengimbangi tenaga setan yang merasuki badan kekasihnya itu. Badannya sesaat terbawa oleh rontaan Ervina. Namun pemuda itu tak hilang akal. Dia memantapkan kuda-kudanya dan dengannya berhasil membuat rontaan Ervina berkurang.

"Bun!! Lakukan sesuatu!!" Teriak Asiong yang mulai keringatan menahan tenaga setan kekasihnya itu. Otot-otot di lengannya tampak tercetak jelas saat dia menahan dengan segenap kekuatannya. Otot bisepnya terangkat menampakkan kekuatan lengannya dan otot trisepnya juga tak ketinggalan, tercetak jelas di samping lengan bagian atasnya.

"Aku... Aku tak bisa lama menahannya. Kuat... sekaliiiihh..." Dengan keringat berkucuran di kening dan badannya, pemuda itu masih berusaha mengunci kedua lengan Ervina dari belakang.

Buntara yang melihat situasi itu, segera bangkit dari terjatuhnya. Namun pemuda itu tampak kebingungan sesaat setelah dia berdiri.

"Apa... Apa yang musti dilakukan?" Buntara berkata kebingungan. Dilihatnya Asiong sambil mengertakkan geraham, semakin berusaha keras menahan dan mengunci lengan Ervina.


BAGIAN 69
Sementara itu para pegawai konveksi telah berkumpul di bawah dan menyaksikan peristiwa di depan mata mereka itu. Beberapa di antara mereka bahkan mulai duduk bersila dan membaca doa.

Melihat Asiong mulai kehabisan tenaga, Chun Hwa bergegas naik ke lantai atas. Pikirannya mendadak teringat akan sesuatu yang tersimpan di lantai atas.

"Chun, mau kemana?" Mei Hwa berteriak saat melihat adiknya dengan tergopoh-gopoh naik ke lantai atas.

"Tunggu disana! Aku mau mengambil sesuatu!" Suara Chun Hwa menghilang seiring dengan tibanya dia di lantai atas.

Gadis itu bergegas ke altar sembahyang Dewi Kwan Im yang disembahnya setiap hari dan mengambil botol air mineral yang diletakkan di samping rupang Sang Dewi. Dengannya, Chun Hwa menyembah sesaat dan mulutnya tampak berkomat-kamit membaca doa.

"Semoga air Hu ini bisa berguna!" Ujar gadis itu saat membuka matanya dan bergegas kembali turun ke lantai bawah.

Sesampainya di bawah, Chun Hwa melihat Asiong sudah bermandikan keringat sementara Buntara masih berdiri kebingungan.Hal itu semakin diperparah lagi dengan Ervina yang mulai meronta kembali disertai suara geraman menyeramkan.

"Aku... Aku... tak... kuat... lagi...." Asiong berkata dengan terbata-bata. Lengannya yang mengunci lengan Ervina mulai mengendur, sementara kakinya yang memasang kuda-kuda mulai goyah. Rupanya batas tenaganya sebagai seorang manusia sudah mencapai ambang batasnya. "Bunnn...."

Chun Hwa berlari ke arah Ervina dan adiknya yang tengah bergumul tenaga itu. Gadis itu berniat menolong Asiong yang sudah mulai lemas itu.

"Chun! Jangan!" Mei Hwa keburu menarik lengan Chun Hwa beberapa detik lebih cepat sebelum adiknya itu keburu bergerak. "Bahaya!"

"Tapi Asiong..." Kata Chun Hwa panik. "Dia sudah gak kuat..."

"Kamu mau apa?" Mei Hwa membentak balik. "Abun aja mental dihajar sekali, apalagi kamu."

"Wa mau menyiramnya dengan air ini..." Desis Chun Hwa yang semakin panik itu.

"Air apa itu?" Tanya kakaknya.

"Air Hu Dewi. Kuambil dari Vihara."

"Berikan padaku!" Buntara yang sedari tadi mendengar pembicaraan kedua kakak sepupunya itu bertindak cepat menyambar botol air mineral di tangan Chun Hwa.

Pemuda itu membuka tutup botol mineral itu dan meminum beberapa teguk yang ditahannya di mulutnya. Lalu dia melangkah mendekati Ervina yang masih menggeram dan mulai meronta kembali.

"Siong, tahan ya! Abun datang!" Chun Hwa berteriak memperingati adiknya itu. Sangat terlihat sekali gadis itu sangat menyayangi adik kandungnya itu.

"Puaahhhh!!" Dengan air yang ada di mulutnya itu, Buntara memuntahkannya tepat ke wajah Ervina.

"Haahhhhh!! Gggrrrrr!!" Terdengar geraman Ervina saat air Hu Dewi tepat mengenai wajahnya.

"Masih kurang ya?" Buntara meminum beberapa teguk lagi dan kembali disemburkan di wajah gadis itu.

"Aaarrgggghhhhhh!!!!" Ervina meronta keras, bersamaan dengan itu kuncian di lengannya terlepas. Asiong yang telah menahan kedua lengannya, telah kelelahan dan berdiri terengah-engah menarik nafas mencari udara.

"Sekali lagi!" Buntara meminum lagi dan menyemburkan air Hu Dewi ke wajah Ervina.

"Puaahhh!!" Buntara mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. "Mau berapa kalipun akan kusembur!"

"AAAAHHHHH!!!!" Terdengar jeritan keras dari Ervina saat untuk ketiga kalinya air Hu Dewi menyiram wajahnya. Kedua tangannya bergerak menutup wajahnya. Tubuhnya meronta.

Sambil mengerang dan menjerit dengan kedua tangan menutupi wajah, rontaan badannya semakin lama semakin pelan. Beberapa detik kemudian, gadis itu jatuh berlutut dengan lemas. Kedua matanya terkatup.

"Siong!!" Buntara berteriak dan maju hendak menahan jatuh Ervina. Di satu pihak, Asiong dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, memeluk tubuh kekasihnya dari belakang sehingga terhindar dari jatuh.

Dengan memapah tubuh kekasihnya yang lemas dan tak sadarkan diri itu, Asiong membaringkannya di sofa di ruang tamu. Saat Ervina telah terbaring di sofa, semua yang berada di sana menarik nafas lega. Asiong sendiri duduk di lantai berselonjor kaki dengan nafas masih terengah-engah dan keringat membasahi seluruh badannya.

"Akhirnya...." Chun Hwa tersenyum dan mendekati adiknya itu. "Gimana keadaanmu, Siong?"

Mei Hwa dan semua pegawai konveksi juga menarik nafas lega setelah peristiwa menegangkan itu berakhir.

"Capek... Tenaga iblis... Kuat sekali..." Kata Asiong dengan terengah-engah.

"Nih, minum dulu..." Mei Hwa mendekat sambil menyerahkan dua gelas berisi air putih dingin kepada Asiong dan Buntara, yang juga telah duduk mendeprok di samping sepupunya itu.

Setelah keadaan kembali tenang beberapa menit kemudian dan Ervina dipastikan tidak akan sadar untuk beberapa saat lamanya, para pegawai konveksi kembali melanjutkan kerjanya di lantai atas. Sementara Chun Hwa duduk di ruang tamu menemani Asiong dan Buntara pergi menjemput kenalannya dengan ditemani oleh Mei Hwa.

"Untung aja ada air Hu ini, Siong." Ujar Chun Hwa sambil memutar pelan botol berisi air mineral yang telah disembayangi dan diisi mantra itu.

"Ya, terima kasih, Ce..." Asiong menyandarkan kepalanya di dudukan sofa yang disandarnya saat dia duduk di lantai. Nafasnya sudah mulai tenang, namun jantungnya masih berdetak kencang saat itu.


BAGIAN 70
 Selang satu setengah jam kemudian, Buntara dan Mei Hwa kembali ke rumah konveksi dengan membawa seorang wanita yang berpakaian khas peramal Tiongkok dengan baju kuningnya yang berlambang Tao dan topi hitam yang juga berlambang Tao. Sebuah tasbih Buddhis berukuran besar tampak menggantung di lehernya.

Asiong telah meminumkan beberapa teguk air Hu Dewi ke dalam mulut Ervina saat kekasihnya itu masih tak sadarkan dirinya. Hingga saat wanita peramal itu tiba, Ervina masih terbujur kaku dan belum siuman.

Wanita itu duduk bersila tepat di depan sofa dan di samping badan Ervina. Tangannya sesaat memeriksa urat nadi di pergelangan tangan gadis itu. Lalu matanya menutup dan kedua telapak tangannya diletakkannya di atas pahanya dengan telapak menghadap atas. Sesaat kemudian, jari-jari tangannya mulai bergerak dengan ujung ibu jari yang dipertemukan dengan ujung keempat jarinya secara bergantian. Ciri khas bila seseorang sedang meramal atau menerawang.

Asiong duduk berdampingan dengan Buntara di sebelah kiri wanita peramal itu, sedangkan kedua kakaknya duduk berdampingan di sebelah kanan wanita itu.

"Siapa namanya?" Tanya wanita peramal itu tanpa membuka matanya dan jari-jarinya masih tetap bergerak.

"Patricia Ervina Wijaya." Jawab Asiong.

"Umur?"

"20 tahun."

"Hmmm...." Wanita peramal itu bergumam sejenak. Untuk selanjutnya dia terdiam. Jari-jari tangannya masih bergerak-gerak.

"Siapa yang menyiram air Hu Dewi itu kepadanya?"

"Saya, Aih." Jawab Buntara.

"Dari mana airnya?"

"Kuambil dari Vihara, Aih." Kali ini Chun Hwa yang menjawab.

"Hmmm..." Wanita peramal itu menggumam lagi. "Air Hu Dewi itu bisa menghentikannya sementara, tapi tidak bisa mengobatinya."

"Dia terkena apa, Aih?" Tanya Asiong.

"Tenung. Tenung hitam." Ujar wanita peramal itu. "Ilmu ganas!"

Semuanya terdiam, tak ada yang bersuara. Menantikan wanita peramal itu berkata kembali.

"Ilmu Tenung Anak Dalam!" Sambung wanita itu setelah terdiam beberapa detik.

"Ilmu Tenung Anak Dalam?" Asiong mengernyitkan keningnya dan menatap kedua kakaknya. Keduanya mengangkat bahunya bersamaan.

"Ya. Ilmu Tenung Anak Dalam." Kata wanita peramal itu. "Suku primitif. Suku Anak Dalam."

"Maksud Aih apa ya?" Tanya Asiong yang semakin kebingungan itu.

"Suku Kubu!" Tegas wanita itu. "Suku Anak Dalam Kubu, di Jambi."

"Suku Kubu Jambi?" Asiong terbelalak dan bergidik ngeri mendengar penjelasan wanita peramal itu. Kedua kakak kandungnya juga tak beda jauh dengannya.

Sebagai perantau asli dari Pontianak, Kalimantan Barat, ketiganya mengetahui benar bahwa Suku Kubu adalah satu dari suku primitif di Indonesia, selain Suku Badui dan Suku Dayak, yang ilmu dan kepercayaan mereka masih sangat primitif dan menggunakan kekuatan asli alam. Siapapun yang terkena ilmu tenung dari salah satu suku primitif tersebut, konon dikabarkan sulit untuk disembuhkan.

"Ya. Suku Kubu Jambi." Wanita peramal itu mengangguk.

"Apa tujuannya, Aih?" Tanya Buntara.

"Tujuannya..." Wanita itu kembali terdiam beberapa saat.

"Untuk membunuhmu!" Tangan kirinya dengan mendadak menunjuk Asiong yang duduk di samping kirinya, membuat pemuda perantau itu tersentak kaget.

"Kenapa, Aih? Kenapa dia mau membunuh adikku? Dia kan pacarnya adikku." Tanya Chun Hwa.

"Bukan! Dia bukan pacar adikmu!" Jawab wanita peramal itu seketika.

"Maksudnya?" Mei Hwa juga tampak penasaran dan ikut nimbrung bertanya.

"Bukan Ervina! Badannya dirasuki wanita lain!"

"Hah!" Asiong dan ketiga saudaranya yang duduk disana terbelalak mendengar hal itu.

"Pantas saja tenaganya kuat sekali." Kata Asiong.

"Hmmm..." Wanita itu bergumam lagi. "Ada yang dendam padamu, anak muda!"

"Siapa dia, Aih?" Asiong bertanya.

"Laki-laki." Jawab wanita itu. "Dia yang membuat pacarmu begitu."

"Demi Ervina, kau bentrok dengannya." Sambung wanita itu lagi.

"Berarti benar Roni." Kata Asiong kepada Buntara yang duduk di sampingnya. Sepupunya itu mengangguk.

"Apa yang terjadi pada Ervina, Aih?" Chun Hwa kembali bertanya.

"Jiwanya tak ada di badan."

"Tak ada di badan?" Asiong mengerutkan keningnya.

"Jiwanya dikurung! Yang ada di badannya jiwa wanita lain. Diutus untuk membunuhmu."

"Setelah kau mati dibunuhnya, jiwanya akan kembali! Namun, dia akan menjadi milik lelaki ini." Sambung wanita itu lagi. "Karena jiwanya sudah diikat dengan lelaki ini."

Asiong mengusap rambutnya mendengar penjelasan wanita peramal itu. Dia menghela nafas dalam-dalam.

"Jadi jiwa Ervina mati ya, Aih?" Tanya Mei Hwa melihat adiknya yang kecewa itu.

"Bukan! Jiwanya tidak mati." Jawab wanita itu. "Hanya tak berjiwa."

"Apa ada cara untuk menolong Ervina, Aih?" Tanya Asiong setelah bisa menenangkan dirinya lagi.

"Hmmm..." Wanita peramal itu bergumam lagi. Cukup lama dia terdiam dan jari-jarinya terus bergerak.

"Ada!!" Wanita itu menjawab dengan suara tegas. "Harus cepat ditolong! Hanya ada satu cara yang bisa."

"Apa itu, Aih?" Tanya Buntara.

"Ilmu tenung ini sangat tinggi. Yang bisa menghadapi ilmu Tenung Anak Dalam ini hanya satu..."

Wanita peramal itu terdiam untuk sesaat. Keempat bersaudara yang berada di sana menunggu dengan hati tak tenang dan jantung berdetak kencang.

"Ilmu Dayak!" Jawab wanita itu pada akhirnya setelah terdiam sekitar satu menit. "Tapi harus Dayak Iban asli!"

"Hah!!" Asiong terbelalak mendengar perkataan itu. Dipandanginya kedua kakaknya dan lalu berpaling ke Buntara, yang juga terkesiap mendengarnya.

"Dayak?" Mei Hwa dan Chun Hwa saling berpandangan satu sama lain.

"Iban?" Asiong dan Buntara juga saling bertatapan satu sama lain


BAGIAN 71
"Dimana harus mencari Dayak Iban?" Asiong menggaruk kepalanya. Saat itu peramal wanita itu telah diantar pulang oleh Buntara yang ditemani oleh Mei Hwa.

"Ya, di Pontianak lah, Siong. Mau cari dimana lagi?" Chun Hwa menjawab pertanyaan adiknya itu dengan balik bertanya. "Harus Dayak Iban asli kan?"

Asong mengangguk. Diliriknya kekasihnya yang masih belum sadarkan diri itu. "Berarti wa harus pulang ke Pontianak lagi?"

"Ya, kalau mau menolong Vina..." Ujar Chun Hwa.

Asiong memukul meja panjang yang sedang didudukinya itu. "Semua ini gara-gara Roni!"

"Sial! Baru datang, harus pulang lagi." Pemuda itu mengumpat kesal.

"Itu kan demi Vina juga kan, Siong..." Chun Hwa mendekati Asiong dan menghibur adiknya itu. "Pulanglah! Obati dia! Kamu tega liat dia seperti itu?"

Asiong termenung, diam tak bersuara.

"Itu menyangkut nyawa lho, Siong." Kata Chun Hwa lagi. "Kamu dengar kan tadi yang dipesan, harus cepat ditolong."

"Tapi..."

"Masalah biaya?" Chun Hwa tersenyum. Sepertinya dia bisa membaca pikiran adiknya.

"Memang tak mudah ya kalau mau pulang pergi seperti itu, apalagi kalian berdua." Gadis itu duduk di meja panjang menemani adiknya. "Biayanya pasti mahal."

"Mau naik kapal, makan waktu sekitar dua hari." Sambungnya lagi. "Kalau pesawat, kalian berdua lagi."

Chun Hwa menepuk pundak adik kandungnya itu. "Gini deh. Kebetulan wa punya kenalan yang jualan tiket pesawat. Wa akan hubung dia dan cari tau tiket pulang pergi yang lumayan murah yang mana."

Asiong berpaling menatap kakaknya. "Lalu?"

"Yah, kalau bisa besok kamu pulang. Lebih cepat lebih baik." Chun Hwa menghela nafas. Dibalasnya tatapan adiknya itu. "Soal biaya, tak perlu khawatir. Wa pinjamin setengah deh."

"Benar nih?" Asiong tersenyum menatap kakaknya itu. "Itu kan mahal lho, Ce..."

Chun Hwa membalas tersenyum. "Pentingkan nyawa dulu, Siong. Uang bisa kita cari."

Senangnya hati Asiong saat mendengar bantuan dari kakaknya itu. Tanpa sadar pemuda itu memeluk kakaknya dengan seketika.

"Terima kasih, Ce. Terima kasih." Dipeluknya Chun Hwa dengan dekapan kuat.

"Siong... Jangan kencang-kencang dong! Wa sesak nih..." Sebuah protes dilancarkan Chun Hwa saat tubuhnya dipeluk adiknya itu.

"Ah, iya... Maaf... Maaf..." Sambil tertawa, Asiong melepaskan pelukannya di badan kakak kandungnya itu. Dibandingkan Mei Hwa, Chun Hwa lebih memperhatikan Asiong. Tak heran, Asiong merasa tentram dan bahagia saat berada di samping kakaknya itu.

"Ya udah. Kamu siap-siap dulu untuk besok. Wa mau telepon teman tanya soal tiket." Chun Hwa beringsut turun dari meja panjang.

"Oh ya, jangan lupa air ini." Gadis itu menyerahkan botol mineral berisi air Hu Dewi kepada adiknya. "Selama di perjalanan, berikan dia minum air ini. Mudah-mudahan dia gak sampai kumat dan mengganggu perjalananmu."

Asiong menerima botol mineral 600ml dari kakaknya. "Andai saja tadi tidak ada air ini, aku sudah tak tahu lagi..."

Chun Hwa tersenyum. "Udah ya, wa mau telepon dulu."

"Iya, Ce. Sekali lagi terima kasih." Dengannya, Asiong pun beringsut turun dari meja panjang dan berjalan menuju kamarnya untuk mempersiapkan pakaian yang akan dibawanya besok.

************

Keesokan paginya, dengan diantar oleh Buntara, yang ditemani oleh kedua kakaknya, Asiong membawa Ervina ke bandara yang akan membawa mereka ke pesawat menuju Pontianak. Ervina sudah sadar namun pandangan matanya masih kosong. Seperti tak ada jiwa di badannya saat itu.

"Bun, tolong jaga konveksi ya selama aku di Pontianak." Asiong menepuk pundak sepupunya. "Mudah-mudahan Roni tidak datang mengacau."

"Tenang, Siong!" Buntara menggamit tangan Asiong dan menyalaminya. "Percayakan padaku!"

"Siong, jangan lupa ya pesanan wa!" Sambut Chun Hwa dengan senyum kecil.

"Lempok duren dan asem paya kan?" Asiong mengerdipkan matanya. "Kalau wa lupa, wa bawa bijinya saja. Nanti Ce tanam sendiri di rumah ya."

"Mulai lagi deh." Chun Hwa tertawa mendengar lelucon adiknya. "Terus lempoknya?"

"Ya, beli tepung di pasar. Bikin sendiri. Mei Ce kan jago masak." Ujar Asiong sekenanya.

"Enak aja, Siong!" Mei Hwa tertawa. "Bawa yang udah jadi aja, biar gak repot."

"Hati-hati di jalan ya, Siong!" Chun Hwa menepuk lengan adiknya.

"Titip salam untuk Papa Mama ya, Siong!" Timpal Mei Hwa. "Kasih tau mereka kalau kita di Jakarta baik-baik aja."

"Ya, Mei Ce. Pasti wa sampaikan." Jawab Asiong sambil mengangguk, sekaligus menjawab dua permintaan kedua kakaknya. "Begitu urusan selesai, wa akan kembali ke Jakarta lagi."

Setelah salam perpisahan antar saudara itu terucap, Asiong membawa kekasihnya, Ervina masuk ke dalam bandara, meninggalkan Jakarta, kembali pulang ke Pontianak, kampung halaman sekaligus tanah kelahirannya


BAGIAN 72



Perjalanan yang ditempuh dari Bandar Udara Soekarno-Hatta menuju Bandar Udara Supadio, Pontianak memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Ditambah dengan sekitar setengah jam lebih bagi Asiong untuk menempuh perjalanan ke rumahnya yang terletak di Kota Siantan Tengah, Pontianak Utara. Untunglah selama perjalanan itu, Ervina tidak mengamuk akibat roh di badannya yang berulah.

Ketika Asiong tiba di rumahnya, kedua orang tuanya terkejut mendapatkannya yang pulang mendadak tanpa memberi kabar dahulu. Terlebih Asiong tidak sendiri, namun membawa seorang gadis cantik berpenampilan modern, namun berwajah sayu.

"Jadi begitu ceritanya, Pa, Ma." Ujar Asiong menutup ceritanya kepada kedua orang tuanya yang terbengong-bengong mendengar kisahnya.

"Asiong, Asiong. Tidak di sini, tidak di Jakarta, kamu selalu berkelahi..." Mamanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan anaknya.

"Tapi saya bangga padanya, Ma. Dia berkelahi demi membela kebenaran." Sahut Papa Asiong. "Sama seperti saya waktu masih muda dulu."

"Ya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Jawab istrinya sambil tertawa. "Jadi apa rencanamu nanti, Siong?"

"Hari ini wa akan cari info dari teman-teman wa tentang Dayak Iban, mungkin besok baru wa kesana..." Kata Asiong. Ervina duduk di sampingnya. Pandangan matanya kosong. Air Hu Dewi yang diminumkan Asiong selang beberapa jam sekali membuatnya 'tenang'.

"Setahu saya, Dayak Iban itu adanya di pedalaman Kampung Sungai Utik..." Sahut Papanya.

"Dimana itu?" Asiong menggaruk kepalanya.

"Jalai Lintang, Embaloh Hulu, di Kapuas Hulu sana." Papanya Asiong menerangkan. "Di pinggiran jalur Lintas Utara antara Putussibau dengan Lubuk Antu..."

"Putussibau, Pa?" Asiong terbelalak mendengarnya. "Di dekat perbatasan Malaysia sana?"

Papanya menggangguk. "Ya. Kalau tidak salah, ke pedalaman itu harus melewati daerah hutan, menyeberangi Sungai Utik baru bisa sampai di kampungnya."

Asiong berdecak membayangkan perjalanan yang harus ditempuhnya nanti bersama dengan kekasihnya. "Rumit sekali."

"Sudah tiba disini, masakah harus mundur lagi?" Papanya menantang putranya itu.

Asiong mengepalkan tangannya. "Sedalam apapun akan wa lewati, yang penting Vina bisa sembuh."

"Ya sudah, istirahat lah dulu, Siong." Kata Mamanya lagi sambil berdiri. "Sudah makan siang?"

"Belum, Ma." Asiong berdiri dari duduknya dan memegang perutnya. "Lapar aku. Sudah lama tak makan masakan Mama."

"Baru juga tiga bulanan di Jakarta, Siong, apanya yang lama..." Sahut Mamanya tersenyum dan melangkah ke dapur. Rumah orang tua Asiong berukuran sedang, tidak memiliki loteng, namun memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang mandi.

Asiong tersenyum dan bergegas ke dapur untuk mengisi perutnya. Saat masih sedang menikmati makan siangnya, dari arah ruang tamu terdengar suara.

"Lho, Pa, ini siapa? Kok bisa ada cewek disini? Mana cantik lagi?"

"Ssssttt!! Tidak sopan!!" Papa Asiong meminta orang yang baru masuk itu untuk berhenti berkata. "Lihat dulu siapa yang ada di dalam!"

"Siapa, Pa?"

"Lihat dulu sana!!"

Asiong mendengar langkah kaki yang mendekat ke ruang dapur tempatnya makan. Beberapa detik kemudian, sosok yang baru datang itu pun terlihat.

"Lho, Siong Ko. Kok sudah pulang?" Sosok itu terkejut melihat Asiong yang menatapnya sambil tersenyum. Tas sekolahnya diletakkannya di kursi makan.

"Aheng!"

Keduanya saling berpelukan untuk sesaat. Rupanya yang datang itu adalah Aheng, adik bungsu Asiong. Sebelum Aheng, masih ada satu adik lelaki lagi, yang juga sudah mencari kerja di luar Pontianak. Namanya Akhiong. Untuk sementara dia diutus ke daerah Bandung, jadi Akhiong tidak bisa pulang ke Jakarta dan tinggal bersama ketiga kakaknya.

"Tumben, Siong Ko." Aheng mengambil duduk di samping kakaknya. Perawakannya tinggi dan kurus. Wajahnya terkesan seorang yang gemar membaca dan menyukai ketenangan dibandingkan kakaknya yang senang berkelahi.

"Ya, ceritanya panjang, Heng." Sahut Asiong sambil menyendok nasi dan memasukkan ke mulutnya.

"Heng, kokomu baru pulang. Biarkan dia istirahat dan makan dulu." Terdengar mama mereka berkata.

"Iya. Wa juga mau mandi dulu." Aheng berdiri dan menyambar tasnya. Dia baru saja hendak melangkah ketika teringat akan sesuatu yang membuatnya membalikkan badan menatap Asiong lagi.

"Siong Ko, di depan itu siapa? Pacarnya ya?" Tanpa basa-basi Aheng bertanya kepada kakaknya itu.

Asiong tidak menjawab, hanya menaikkan kedua alis matanya sebagai pengganti jawabannya. Namun hal itu saja sudah cukup dianggap sebagai jawaban oleh Aheng yang memang cerdas itu.

"Cantik banget, Siong Ko. " Katanya. "Ohh, wa tahu. Mau dikenalin ke Papa Mama ya?"

"Nantilah wa cerita." Asiong menelan kunyahannya dan meneguk minuman di gelas. Sambil bangun dari duduknya, dia melangkah ke arah mamanya dan meminta nasi lagi.

"Enak, Ma. Kangen lho sama masakan Mama." Kata pemuda itu tersenyum. Aheng ikut tersenyum melihatnya.









"Selamat datang kembali, Siong Ko!" Ujarnya kepada kakaknya itu

BAGIAN 73
Kabar pulangnya Asiong ke Pontianak langsung merebak ke teman-teman seperjuangannya. Padahal pemuda itu baru beberapa jam menginjakkan kakinya ke Pontianak. Hal itu dikarenakan Asiong menghubungi seorang temannya, Jun Nyen, yang mengaku mempunyai kenalan orang Dayak.

Jun Nyen yang waktu dihubungi via ponsel oleh Asiong, sedang berkumpul bersama teman-temannya, segera mengetahui kalau pemuda itu telah pulang kembali ke Pontianak. Serempak Jun Nyen mengajak teman-temannya untuk mengunjungi teman lama mereka yang baru datang itu.

"Jangan dulu! Datang sendiri saja kemari. Nanti akan wa jelaskan kenapa." Pesan Asiong kepada Jun Nyen di ponselnya. "Ya, boleh. Satu jam lagi. Wa tunggu lah ya."

Sekitar satu jam kemudian, dengan mengendarai sebuah motor bebek, Jun Nyen mampir ke rumah Asiong. Jun Nyen, 24 tahun, berkulit putih dan berbadan tegap, namun tidak sekekar Asiong. Bersama dengan teman-teman lainnya, keduanya pernah bekerjasama dalam perkelahian antar geng dengan kampung wilayah sebelah.

"Apa kabar, Ketua?" Jun Nyen menyalami tangan Asiong dengan salaman khas persabahatan. "Wah, makin keras tenagamu. Latihan tiap hari ya?"

"Begitulah, Nyen." Asiong tersenyum. Di Pontianak, Asiong diangkat menjadi ketua oleh teman-temannya karena sifat setia kawan dan ksatrianya itu melebihi yang lainnya. "Seperti yang kau lihat."

"Heh, jangan bilang di Jakarta kau berkelahi juga..." Jun Nyen langsung duduk di sofa di rumah Asiong tanpa menunggu dipersilakan lagi. Hubungan keduanya sudah sangat akrab, jadi basa-basi semacam itu sudah tak ada lagi di antara mereka.

Asiong tertawa mendengar komentar temannya itu. "Justru karena itu wa kembali kesini."

"Wah, kenapa? Kalah pasukan?" Jun Nyen menaikkan alis matanya. "Kami siap membantu!"

"Bukan. Lebih parah dari itu." Sahut Asiong.

"Kenapa? Kenapa?" Jun Nyen mengeluarkan rokok dari saku jaketnya. "Ayo, sambil merokok, biar lebih seru ngobrolnya."

Asiong mengambil sebatang rokok yang ditawarkan sahabatnya itu. Setelah menyalakan dan menghembuskan asap yang dihisapnya, pemuda itu memulai ceritanya.

Jun Nyen mendengarkan cerita Asiong dari perkenalan pemuda itu dengan Ervina hingga insiden Ervina kerasukan di rumah konveksinya dengan seksama, sehingga rokok yang dibakarnya lupa dihisapnya.

Jun Nyen masih terbengong ketika Asiong sudah selesai bercerita. Kalau saja bukan karena api dari rokok yang dipegangnya telah habis terbakar dan menyentuh jarinya, dia masih belum sadar dan masih terbuai oleh cerita Asiong.

"Waduhhh...." Jun Nyen melambaikan tangannya dan membuang puntung rokok ke dalam asbak di atas meja. Sementara Asiong tertawa melihat tingkah temannya itu.

"Gila, Siong. Wa salut padamu. Perjuangan berat seperti itu, sampai membawanya kemari. Kalau sampai tak bisa mendapatkannya, salahkan takdir!" Itu kata-kata pertama Jun Nyen setelah berhasil mengatasi 'kebakaran' kecil itu.

"Padahal baru berapa bulan di Jakarta..." Lanjutnya. "Bagaimana kalau setahun? Dua tahun? Bisa-bisa kau pulang kembali dengan dua orang anak. Atau bisa-bisa kau tidak pulang lagi kemari."

Asiong tertawa lebar. "Paling bisa lah kau kalau sudah bicara. Jadi bagaimana untuk besok? Kau ada waktu?"

Ganti Jun Nyen yang tertawa. "Wa mau lihat calonmu tuh, dimana dia?"

"Lagi tidur, di kamar." Jawab Asiong.

"Bolehkah?"

"Besoklah..." Tukas Asiong. "Lagipula, besok kan pasti kubawa juga..."

"Paling bisa lah kau kalau sudah bicara." Jun Nyen meniru kata-kata Asiong. Keduanya tertawa.

"Jadi bagaimana rencana untuk besok?" Asiong mengulang pertanyaannya.

"Oke..." Jun Nyen menyalakan sebatang rokok lagi. "Begini saja..."

"Bagaimana?"

"Suku Dayak Iban." Jun Nyen merenung sesaat. "Adanya di Pedalaman Kampung Sungai Utik, Kapuas Hulu. Perjalanan kesana tidak mudah. Bisa memakan waktu tidak sedikit."

"Itu lewat rute darat dan air kan?"

Jun Nyen mengangguk. "Ya. Rute darat dan air. Kalau naik pesawat sih lebih cepat. Hanya beberapa jam saja sudah di Putussibau."

"Tapi ya," Jun Nyen menggosok ibu jari dengan telunjuk dan jari tengahnya. "Ini..."

"Tak masalah." Jawab Asiong.

"Apa kau sanggup?"

"Nyen, dari Jakarta pun sudah wa ajak sampai sini. Masa di pulau yang sama tidak bisa kulewati?" Ujar Asiong.

"Oke. Kalau begitu, besok pagi kita berangkat."

"Tidak masalah." Asiong menghembuskan asap rokoknya. "Bagiku keselamatan Vina adalah segala-galanya."

"Hebat!" Jun Nyen menepuk pundak Asiong. "Tak salah kalau kau jadi ketua kami! Sifat ksatriamu patut diteladani!"


BAGIAN 74
Dengan pesawat udara domestik, Asiong, Ervina dan Jun Nyen akhirnya tiba di Bandar Udara Pangsuma, Putussibau. Dari sana, dengan menumpang kendaraan umum, mereka melanjutkan perjalanan ke Pedalaman Suku Dayak Iban.

Jun Nyen sendiri masih mampir dan bertanya-tanya kepada penduduk setempat untuk mendapatkan lokasi yang pasti ke Kampung Sungai Utik. Walau harus melewati daerah yang berpenduduk jarang, namun selebihnya perjalanan mereka bertiga tidak memakan waktu banyak.

"Kita akan melintasi sungai." Kata Jun Nyen ketika mereka tiba di ujung sebuah sungai. "Diperkirakan Kampung Sungai Utik ada di seberang sungai ini."

"Begitu ya?" Gumam Asiong. Ervina digandengnya di sampingnya. Air Hu Dewi masih tetap diminumkan kepadanya.

Pemuda itu memandang ke sekeliling. Berbeda dengan Jakarta, tempat itu dikelilingi oleh pepohonan dan perahu menjadi salah satu sarana transportasi untuk menyeberangi sungai.

Asiong menghembuskan nafasnya. "Okelah. Ayo, kita lanjutkan!"

Akhirnya dengan menempuh rute perjalanan air, ketiga anak muda itu menyeberangi Sungai Utik. Dengan menyewa sebuah perahu yang didayung oleh penduduk setempat, ketiganya menikmati hembusan angin semilir yang membelai wajah mereka saat perahu yang didayung berjalan melintasi sungai. Sekeliling mereka tampak pohon-pohon yang tumbuh, membuat suasana semakin terasa pedalaman.

"Siong, kalau mau dibilang-bilang sih, wa masih ada turunan Dayak Iban lho..." Kata Jun Nyen ketika perahu berjalan pelan memecah sungai.

"Oh ya? Sepertinya kau sudah pernah bilang pada wa begitu..." Ujar Asiong. Untungnya selama perjalanan itu Ervina tidak banyak tingkah. Hanya duduk tenang dan tak bersuara. Pandangan matanya kosong.

"Yah, secara tak langsung. Darah dari buyut wa..." Celoteh Jun Nyen lagi sambil menyengir kuda.

"Lah, kenapa juga kau tanya-tanya jalan kalau begitu?" Asiong tak kalah menyengir saat itu.

"Karena wa udah lama tidak kesini lagi. Dulu waktu masih kecil sekali, wa pernah dibawa kesini."

"Pantas..." Ujar Asiong.

"Mana mungkin wa bisa ingat?" Lanjut Jun Nyen lagi.

"Berarti kau bisa bahasa Dayak?"

"Hanya sedikit. Tapi wa mengerti apa yang diucapkan." Sahut Jun Nyen.

Sayup-sayup terdengar suara seperti tiupan suling yang berasal dari kejauhan.

"Suara apa itu?" Tanya Asiong.

"Oh, itu suara alat musik yang ditiup Dayak Iban..." Kata pendayung perahu memberi penjelasan.

'Suasana yang benar-benar pedalaman.' Gumam Asiong dalam hati. 'Sungai, daerah hutan, pohon-pohon. Sekarang suara alat musik.'

Perjalanan terus berlanjut. Beberapa lama kemudian, ketiganya menapakkan kaki di tanah berpasir setelah perahu yang mereka tempuh menepi.

Asiong membalikkan badannya. Sebuah daerah hutan berpohon banyak dan berdaun lebat telah menghadang di depan mereka.

"Sepertinya kita masih harus berjalan kaki ke sana ya?" Tanya pemuda itu sambil menggandeng kekasihnya.

Jun Nyen mengangguk. "Betul. Daerah hutan ini...."

"Ssshhh!!" Asiong menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Dipelankannya suaranya. "Wa sudah tahu. Angker."

Jun Nyen mengangguk lagi. "Jaga Vina, Siong!"

"Tentu!" Pemuda perantau itu mengangguk. "Kau jalan dulu."

Dengan dipandu jalan oleh Jun Nyen, Asiong menggandeng tangan Ervina melintasi daerah perhutanan yang sarat oleh pepohonan rimbun di kiri kanan. Hanya jalan setapak kecil yang bisa dilewati orang saja yang menjadi tempat melintas di hutan itu.

Setelah beberapa jauh berjalan, ketiganya mendapatkan angin berbeda saat mereka meninggalkan daerah perhutanan di belakang mereka dan sebuah area yang adalah perkampungan dengan rumah panjang telah menyambut mereka.
"Selamat datang di Perkampungan Dayak Iban!" Ujar Jun Nyen saat mereka menapakkan kaki di pedalaman perkampungan itu


B
AGIAN 75






































Berjalan beberapa meter ke dalam, mereka disambut oleh seorang lelaki berdada telanjang dan berkulit hitam. Di sekujur badannya penuh oleh tato. Kalung yang terbuat dari tenunan dan ikat kepala yang juga terbuat dari tenunan, menjadi hiasan di badannya. Matanya menatap tegas mulai dari Jun Nyen, lalu ke Asiong dan terakhir Ervina.

"Sapa?" Terdengar lelaki itu bertanya. Suaranya terdengar dalam dan tegas.

"Aku Anyen." Jawab Jun Nyen. Tangannya menunjuk Asiong dan Ervina bergantian. "Asiong enggau Ervina."

Karena hanya mengerti sebagian artinya, itupun hanya dari nama dan menebak-nebak, tak pelak Asiong berdiri terbengong-bengong melihat sahabatnya berbicara dengan lelaki Dayak di depan mereka itu. Matanya terus menerus menatap Jun Nyen dan lelaki itu bergantian saat salah satu dari mereka berbicara.

"Ah, Tuai rumah, bisi, bisi." Terdengar lelaki itu menjawab sambil mengangguk setelah berbicara sejenak dengan Jun Nyen. Dia membalikkan badannya membelakangi mereka. "Jalai!"

"Ayo, Siong." Jun Nyen memberi tanda kepada Asiong yang terbengong-bengong itu.

"Kau bicara apa? Wa tak paham lah." Ujar Asiong mengikuti temannya melangkah sambil terus menggandeng kekasihnya.

"Wa jelaskan padanya siapa kita, lalu apa tujuan kita. Kemudian dia bilang Pimpinan mereka ada dan dia minta kita jalan mengikutinya." Jun Nyen memberi penjelasan.

"Oh, begitu..." Walaupun masih bingung, pemuda itu mengangguk seakan paham dengan penjelasan Jun Nyen.

Sepanjang jalan, Asiong memandang ke kiri dan kanannya mempelajari keadaan sekitar pedalaman Suku Dayak Iban. Sebuah rumah panjang, dinamakan demikian karena rumah tersebut memang panjang seperti rumah panggung. Sebuah tangga terbuat dari kayu menjadi tempat naik ke rumah itu. Sekeliling rumah dibilik dengan kayu. Beberapa di antaranya bisa terlihat penghuni di dalamnya yang tinggal secara mengumpul di rumah panjang itu.

Lelaki Iban yang membimbing mereka berkata sesuatu kepada Jun Nyen, lalu menghilang ke dalam rumah panjang melalui tangga kayu. Jun Nyen mengangguk sambil tersenyum.

"Ini namanya rumah betang," Jun Nyen memberi penjelasan. "Artinya rumah panjang. Waktu membuat rumah ini, bagian hulunya harus searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam."

"Ohh..." Asiong mengangguk-angguk. Diliriknya beberapa anak gadis Iban sedang menenun di bilik. Saat melihat kedatangan mereka, gadis-gadis itu tersenyum kecil.

"Artinya simbol kerja-keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari tumbuh dan pulang ke rumah di matahari padam." Lanjut Jun Nyen.

"Tumbuh dan padam?" Asiong mengernyitkan keningnya.

"Istilah matahari terbit itu tumbuh, terbenam itu padam." Kata Jun Nyen lagi.

Asiong mengangguk lagi. Dilihatnya beberapa lelaki Iban, yang semuanya bertelanjang dada dan bertato dengan ciri khas gambar Dayak, duduk di bawah pohon sambil menuangkan minuman yang berasal dari bambu.

"Apa yang mereka minum itu, Nyen?" Tanya Asiong. Jun Nyen menengok ke arah yang ditunjuk Asiong.

"Oh, Saguer." Jun Nyen berkata. "Tuak."

"Arak ya?" Timpal Asiong. "Wah, jadi ingat dulu kita minum arak bersama ya?"

"Ya, jadi rindu saat itu. Kau masih lama kan disini?"

"Belum tahu. Setelah Vina sembuh, mungkin wa akan kembali lagi ke Jakarta."

"Jangan cepat-cepatlah! Minum bersama dulu, baru balik ke Jakarta." Jun Nyen meninju pelan pundak Asiong.

"Boleh! Wa juga mau melepas rindu dengan teman-teman semua." Sahut Asiong.

"Nah, itu dia!" Jun Nyen tersenyum. Namun senyumnya hilang beberapa detik kemudian saat lelaki yang mengantar mereka itu kembali berdiri di atas pintu masuk rumah betang dan mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti Asiong.

Jun Nyen mengangguk dan tersenyum. Dia menatap Asiong. "Siong, kita diminta masuk ke dalam."

"Baiklah." Asiong menggenggam tangan Ervina dan berjalan menuju tangga naik ke rumah panjang. Dihembuskannya nafasnya. 'Entah apa yang akan kutemui nantinya. Semoga saja Vina bisa sembuh.' Gumamnya dalam hati.

Baru saja pemuda itu berjalan dua langkah, mendadak dia mendengar Ervina yang sedang digandengnya menggeram. Namun dia tidak mempedulikannya. Dia terus melangkah menganggap telinganya salah mendengar.

"RRRGGHHH!!" Geraman itu kembali terdengar. Asiong menghentikan langkahnya. Ditengoknya kepalanya ke belakang ke arah kekasihnya.

"RRRGGGGGHHHH!!!" Kedua mata kekasihnya melotot, merah seakan ingin menelannya hidup-hidup. Kepalanya berputar pelan dan kembali menggeram sambil melotot.



























"Astaga!!" Asiong terperanjat. Matanya terbelalak. Gandengan tangannya terlepas. Pada saat yang bersamaan, Jun Nyen menengok ke arah yang sama dan juga terbelalak.


BERSAMBUNG......




















Cerita dan karya asli: Kaz Felinus Li.
Posted By: Kaz HSG
This story is the property of Heavenly Story Group.
Copyrights: ©HSG-October 2010

(Dilarang meng-copy dan memperbanyak tanpa ijin langsung dari penulis: Kaz Felinus Li. Pelanggar akan dikenakan tindak pidana)
.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates