26/09/10




Skala Kekejaman (The Scale of Evil) Seorang Psikopat




Kita belum tahu apakah seseorang itu psikopat tipe yang mana, sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Biasanya yang jadi korban adalah anak-anak atau remaja. Menurut data statistik kriminalitas di dunia, kekerasan terhadap anak menempati posisi nomor dua.


Ini termasuk ulah psikopat atau kekerasan di lingkungan, jalan raya, dsb. Posisi pertama yang membahayakan hidup anak adalah narkoba. Bagaimana caranya kita melindungi buah hati tercinta dari ulah psikopat? Ada 22 kategori kriminalitas dalam Skala Kekejaman yang dibuat oleh Prof. Michael Stone, psikiater dari Columbia University. Semoga informasi ini lebih membuka wawasan para orang tua.
Ada 2 kemungkinan seseorang bisa menjadi psikopat. Kemungkinan pertama: sejak lahir. Psikopati primer, demikian istilahnya, sudah terbentuk dari sononya secara genetika. Kita bisa mengamati anak kecil calon psikopat dari tingkah lakunya, yang asosial. Hukuman fisik tidak membuatnya jera. Jika bertamu ke rumah orang lain, dia sangat reaktif destruktif. Misalnya dengan merusak mainan anak si empunya rumah, membuka-buka laci, menyalakan kran di kamar mandi, dan perilaku aneh-aneh lainnya. Semakin beranjak dewasa dia akan kian beku dan tidak punya empati. Inilah calon psikopat dewasa.
Kemungkinan kedua: anak yang dibesarkan dalam keluarga broken-home yang ekstrem brutal. Nyaris setiap hari dia menyaksikan kekerasan di rumah tangga. Ibu dipukuli ayah, atau sebaliknya. Hukuman fisik yang dia dapat dalam keluarga rusak akan menambah runyam. Hukuman ini bisa jadi melukai otak jika bagian kepala yang dijadikan sasaran. Selain itu juga lingkungan yang keras mampu melahirkan psikopat.


Kasus Psikopat Terkenal
Kasus Gary Mark Gilmore adalah contoh yang tepat. Ia adalah anak ke dari 4 bersaudara. Ayah mereka pemabuk dan suka memukuli isteri dan anak-anaknya. Dibesarkan dalam keluarga rusak seperti itu kelak akan membuat Gary Mark Gilmore menjadi psikopat dan pembunuh berantai. Pada usia 16 tahun dia sudah membunuh seorang karyawan SPBU dan seorang manajer hotel. Dari 21 tahun sisa hidupnya dia habiskan 18 tahun di penjara. Pada usia 37 tahun dia menjalani hukuman mati, tanpa mau dibela pengacara. Ucapannya yang terakhir sebelum ditembak mati adalah “let’s do it”, maksudnya ayo laksanakan saja hukuman ini sekarang. Kisahnya begitu terkenal sampai dijadikan buku dan dibuat film.
Kasus Martin Prinz lain lagi. Pada usia 16 tahun dia sudah memperkosa sesama remaja pria. Pada usia 18 tahun dia membunuh seorang anak berumur 11 tahun dengan pisau. Jumlahnya 70 tusukan yang dia lakukan dengan kepala dingin selama beberapa menit. Sepuluh tahun kemudian, setelah dipenjara selama 9 tahun dan bebas bersyarat. Setelah menjalani 5 kali terapi tanpa hasil, Martin Prinz kembali membunuh. Korbannya seorang anak usia 9 tahun yang tewas akibat tidak bisa bernafas karena kepalanya dibungkus plastik dan lehernya dijerat tali rafia oleh Martin Prinz. Brutal. Psikopat sejati.
Prof. Michael Stone, psikiater dari Columbia University, menyatakan bahwa psikopat itu manusia yang melakukan kriminal brutal dan kejam secara berulang. Mereka tahu apa yang dilakukan. Mereka sadar akan perbuatannya. Prof. Stone meneliti riwayat hidup lebih dari 500 penjahat kelas berat. Berdasarkan riset itu Prof. Stone membuat Skala Kekejaman (The Scale of Evil) yang bakal meringankan tugas hakim. Kapan suatu kejahatan dikategorikan sebagai brutal, sedikit kejam, bengis, atau amat sangat bengis.
Posisi skala teratas (nomor 22) diduduki oleh seorang ibu, yang membakar hidup-hidup seorang putri kandungnya dan membiarkan putri kandung lainnya kelaparan sampai mati. Skala kedua (nomor 21) adalah pembunuh berdarah dingin. Dia berpenampilan normal. Taat beribadah dan sangat simpatik dengan tutur kata yang santun. Contohnya adalah jagal Ryan dari Jombang dan Dr.Hannibal Lecter di film “Silence of the Lamb” yang diperankan dengan sangat baik oleh Anthony Hopkins. Bagi mereka pembunuhan berantai dan kejam merupakan hal biasa.


Skala Kekejaman

1. Manusia yang terpaksa membunuh karena membela diri, karena tak ada kemungkinan lain. Membunuh atau dibunuh.
2. Manusia pembunuh karena cemburu, dia ini egosentris dan kekanak-kanakan, tetapi belum termasuk psikopat.
3. Relawan pembantu pembunuhan. Sikapnya ekstrem impulsif. Ciri khasnya: asosial, tidak suka kerja sama atau kerja dalam kelompok. Penyendiri.
4. Manusia yang membunuh karena membela diri dan provokatif, tapi aksinya ekstrem brutal.
5. Manusia traumata yang terpaksa membunuh karena suatu sebab (misalnya agar dapat uang untuk beli narkoba). Sangat menyesali perbuatannya dan bertobat.
6. Manusia pemarah dan terburu nafsu tanpa ciri khas psikopat.
7. Manusia yang ekstrem narsisisme (ego berlebihan). Gangguan psikisnya ini tidak tampak dan membunuh keluarga dekat . Motif: cemburu.
8. Manusia pemendam amarah bukan psikopat yang membunuh jika amarah yang dipendam itu sudah menumpuk berjibun.
9. Manusia penyemburu yang sedang kasmaran. Membunuh karena semburu. Punya ciri psikopat.
10. Pembunuh mereka yang dianggap bisa menjadi saksi atau mereka yang menghalangi perbuatannya.
11. Psikopat yang membunuh karena korbannya dianggap sebagai penghambat.
12. Psikopat yang haus kekuasaan. Pembunuh jika terdesak.
13. Psikopat yang meledak amarahnya. Pribadi yang mudah marah.
14. Psikopat yang pribadinya sangat kasar, penghasut, egoismenya tinggi.
15. Psikopat pembunuh massal (amok). Pembunuh berantai. Pembunuh berdarah dingin.
16. Psikopat pelaku kriminal dengan tindak kekerasan.
17. Psikopat pembunuh berantai secara seksual yang abnormal. Membunuh dengan menyiksa korban.
18. Pembunuh dengan cara menyiksa korban sampai mati. Motif utamanya membunuh korban.
19. Psikopat yang mengarah pada terorisme dan perkosaan.
20. Pembunuh dengan menyiksa. Motif utamanya penyiksaaan. Psikopat ini kepribadiannya terganggu berat.
21. Psikopat yang dirasuki penyiksaan ekstrem, belum menjadi pembunuh. Dia inilah calon pembunuh yang bakal menempati posisi ke-22, skala tertinggi.
22. Psikopat pembunuh bermotif seks dan penyiksa. Motif utamanya penyiksaan korban secara seksual.


Tes Sederhana Melacak Psikopat
Kita bisa melakukan tes sederhana, seperti yang dilakukan oleh FBI saat menginterograsi para tersangka pembunuh. Tulislah di atas kertas kata-kata netral seperti “meja”, “bunga”, atau “kursi” (3 kata ini masing-masing di sebuah lembar kertas, sehingga butuh 3 lembar). Tulis kata-kata seperti “mati”, “darah”, “setan” juga di 3 lembar kertas. Campur 6 lembar kertas itu sehingga nantinya yang ditampilkan akan secara kebetulan. Jika 6 lembar kertas itu ditayangkan satu demi satu pada manusia normal, maka emosi manusia normal akan berubah tatkala membaca kata seperti “darah”, “setan”, atau “mati”. Seorang psikopat sebaliknya, apapun yang ditayangkan tidak akan membangkitkan ekspresinya.
Bagi psikopat adalah kenikmatan luar biasa melihat korbannya menderita. Bukan karena dia ini suka kesakitan dan kematian korban, tetapi kontrol dan kekuasaan. Beberapa psikopat merasa dirinya lebih tinggi jika dia bisa merendahkan sesama.

Posted By: Kaz HSG
Property of Heavenly Story Group.
Copyrights: ©HSG-September 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates