26/09/10

Senandung Elegi Hati Terperi

Andai air mata bisa mengganti luka, andai angin malam bisa membawa pergi duka.
Kuingin berbaring di nisanmu, mengukir kata terakhirku untukmu.
Takkan ada derai air mataku, karena ku tak lagi sanggup terisak.
Takkan ada untai kata permata, karena ku tak lagi sanggup berkata.

Takkan ada cahya penerang, karena ku tak lagi sanggup membayang.
Isakku sudah hilang, kataku sudah lekang, cahyaku sudah tenang.
Apa kau tahu betapa luka kalbu ini?
Apa kau tahu betapa hampa jiwa ini?

Satu sayat sembilu dan aku teriris.
Dua gurat mendayu dan aku meringis.
Apa artinya semua ini? Apa artinya selama ini?
Aku tak mau bertahan, bukan karena ku tak lagi mau berkorban.

Namun karena tertinggalkan.
Sementara ombak di hadapan tak pernah kenal badan.
Terus menerjang, kian menghantam, tak lelah menyerang, tak letih merejam.
Aku kalah sudah, aku lelah sudah.

Ribuan pasir di pantai tak sanggup menahan sapu deru sepercik air.
Jutaan kata dan ketulusan tak sanggup menahan dirimu dari seonggok janji.
Aku pecah sudah, aku berdarah, sangat berdarah.
Ingin kulampiaskan amarah tapi aku buta arah.

Mungkin jalan terbaik adalah menyerah.
Kala sang waktu kembali berkuasa dan aku tersadar dari putus asa.
Hanya sebuah nama yang masih tersimpan indah, tetap tersimpan indah.
Nama yang pernah membantu mengukir hidupku, membingkai jiwaku.

Tidak, kini semuanya telah berubah.
Bingkai itu tidak lagi sebuah ukiran, tapi hanya sekumpulan serpihan.
Kususun bagaimanapun, serpihan tetaplah serpihan.
Takkan pernah menjadi bayangan, apalagi kenyataan.

Di nisan ini aku terbaring, ditemani dingin, dihinggapi sepi.
Di nisan ini seuntai kata merangkai kata.
Mungkin hanya sebuah kata perpisahan yang layak kutinggalkan.
Mungkin hanya belaian angin yang akan menghilangkan semuanya.

Ingatanku, kenanganku, catatanku, hari-hariku, bahkan pula namamu.
Aku ingin hidup lagi, seperti sedia kala.
Lepas dari dirimu. Tak terbebani. Tak terbelenggu lagi.
Hiduplah di duniamu. Anggap saja kita tak pernah bertemu.


Jakarta, Quatro September, 2010

Untuk "JL" yang pernah mengisi sebagian kecil lembaran hidupku.


Semoga setelah selesai aku menuliskan elegi ini, hatiku akan kembali berwarna seperti biasanya. Jalan hidupku masih panjang. Tak perlu merisaukan satu hal kecil seperti ini. Kerikil di jalan itu sudah biasa, bila kita berhati-hati, takkan membuat kita terjatuh.
Terima kasih ya, Tuhan, telah memperkenalkanku kepadanya. Walaupun singkat, namun semua detik yang terukir terasa bagaikan berabad-abad. Mungkin waktu yang singkat itu adalah saat dimana kami harus bertemu, berjalan dan berpisah. Kudoakan, semoga dia bahagia. Semoga semua yang pernah kita lalui bersama akan membuatnya lebih dewasa, sama seperti dia yang telah membuatku menjadi lebih dewasa. Amin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates