26/09/10

Perjalanan Ke Dunia Gaib: Dunia Arwah, Khayalan Atau Memang Ada? 



Sebelumnya, ijinkan saya memberikan acungan jempol kepada Tisana atas kiriman Cerpen: Mempelai Arwah. Cerita yang menurutku bagus sekali. Dikirim hampir hari Kamis lagi...Hari Kamis kan hari mistis, namanya aja udah Kamis, mis, mistis... Hiiii... Kok jadi merinding ya?? Oh pantes, AC nya kedinginan, bentar ya, naikin dulu suhunya. Wekekeke...

Okeh, kita lanjut lagi. Setelah membaca Cerpen: Mempelai Arwah, ada yang ingin saya share untuk rekan-rekan HSG disini. Kebetulan pengalaman ini saya dapatkan dari meditasi dan cerita hidup seorang yang mati suri. Psst... Jangan cerita-cerita ya. Mau berbagi sedikit nih kehidupan di alam sana, alam setelah kematian kita. Nanti saya ditangkap yang berwajib lho. Wajib lapor 1x24 jam maksudnya. Hahaha.

Saya akan share dalam 3 kepercayaan agama: Buddhism, Islam dan Kristiani.

Semoga Bermanfaat.

*******************************


Cerita 1. Mati Suri

Cerita ini adalah kisah hidup seorang Kristiani yang saya temui suatu hari dan bercerita kepada saya tentang kisah hidupnya. Begini ceritanya (kok jadi kaya di TV sih ya??)

Sebut saja pria ini, Erik, 48 tahun. Menikah dan telah memiliki 2 orang anak yang telah bekerja dan kuliah. Yang sulungnya telah lulus kuliah dan bekerja, yang bungsu baru masuk kuliah. Istrinya tidak disebutkan olehnya (takut saya cemburu kali...).

Telah 3 tahun ini dia mengalami sakit di syarafnya yang membuat pekerjaannya terhenti. Karena jalannya semakin lama semakin pelan, lalu menggunakan tongkat sebagai bantuan dan akhirnya jadi semi lumpuh. Namun dia tidak mau memanjakan dirinya. Dia bersikeras tidak mau menggunakan kursi roda. Sehari-hari dia hanya tinggal di rumah, membiarkan anaknya membiayainya (lagi-lagi istrinya tidak disebutkan... arrgghhh...). Dan dia mempunyai kebiasaan, setiap sore berbaring di ruang tamu rumahnya, yang memang luas, menikmati indahnya tidur dengan kaki yang bisa diselonjorkan. Hingga malam menjelang, ketika anak sulungnya pulang kerja, barulah dia bangun untuk makan malam.

Suatu sore menjelang malam, Erik tidur-tiduran di ruang tamu. Hembusan kipas angin membuat matanya menjadi berat. Akhirnya dia tertidur. Hingga dia terbangun oleh sebuah suara adzan Magrib. Karena rumah tempatnya tinggal sekarang tepat berhadapan dengan Mesjid. Karena belum makan, ditambah lagi mimpi nyenyak terganggu oleh suara bising yang membangunkannya, Erik pun mengomel.

"Kalian Islam, kenapa tiap kali sembahyang harus mengganggu yang lain? Kenapa harus teriak-teriak di depan mikrofon? Tuhan yang kalian panggil Allah itu tuli ya sampai harus dipanggil pakai mikrofon segala? Ganggu istirahat orang aja tiap hari! Islam kafir!"

Cerita berlanjut ketika keesokan paginya, Erik dinyatakan meninggal karena sakit. Selama meninggal itu, yang kalau di dunia manusia, masih ditunggu sampai sanak keluarga dan teman-teman datang, selama masa itulah, Erik mendapatkan satu pengalaman berharga yang dibagikan kepada kami semua disana (termasuk saya yang juga menjadi pendengarnya).

"Aku merasakan tubuhku seperti melayang-layang. Dunia di sekelilingku gelap. Tak ada apapun. Hawa juga tak menentu, kadang dingin, kadang hangat, kadang panas. Aku bingung berada dimana diriku. Hingga aku mendarat di sebuah tempat. Jalannya panjang sekali, seperti tak berujung. Tempat yang kupijak tak terlihat karena terbungkus gumpalan awan. Aku bagaikan berjalan di jalan awan. Kalau aku masih hidup, mungkin aku bisa menyombongkan diri bahwa aku berjalan di atas awan.

Memandang ke depan, aku semakin bingung.Tempat itu tidak dingin, tidak panas, juga tidak sejuk. Aku berjalan, sekedar mencari tahu ada apa di depan atau tempat apa ini. 

Terus ku berjalan, hingga akhirnya aku bertemu sebuah antrian panjang manusia dan aku berbaris menunggu giliranku. Ketika tiba giliranku, aku dihadapkan pada sebuah pintu besar yang dijaga oleh dua orang berpakaian serba putih di kiri kanan pintu. Aku mendekat.

"Permisi," Hanya itu yang sempat kutanyakan karena saat berikutnya mereka yang bertanya padaku.

"Apa agamamu?"

"Saya Kristiani."

"Maaf, kamu telah salah tempat. Pintu Kristiani bukan disini. Disini Pintu Islam. Pintu Kristiani ada di depan sana."

"Kalau boleh tahu, tempat apa ini?" Tanyaku sambil melirik ke dalam. Kulihat di dalam tampak sebuah kehidupan yang nyaman, dengan hawa sejuk, semuanya disana tampak tenang, damai, tidak seperti di dunia manusia.

Aku bingung. Tapi aku tak kehilangan akal.

"Ini pintu peradilan. Maaf waktumu telah habis!"

Aku mundur memberi kesempatan kepada antrian yang lain. Lalu kuteruskan jalanku.

Apa yang dikatakan dua penjaga itu benar. Pintu Kristiani ada di depan. Kembali aku berbaris menunggu giliranku. Ketika tiba giliranku dan aku dihadapkan di sebuah pintu gerbang besar, lagi-lagi dengan dua penjaga laki-laki, hanya saja wajah mereka berbeda dan lebih berkesan Kristiani dibanding sebelumnya.

"Dimana pengantarmu?" Itu pertanyaan pertama yang diajukan kepadaku.

"Pengantarku? Maksudnya?" Aku kebingungan.

"Siapa namamu?"

Kuberitahukan namaku yang lengkap.

"Berapa tanggal dan jam lahirmu?"

Kuberitahukan mereka lagi.

Mereka seperti membuka buku besar dan membacanya.

"Kamu belum waktunya meninggal."

"Hah?" Aku terkejut. "Maksudnya?"

"Kami belum bisa menerimamu. Lagipula kamu datang sendiri, tidak bersama dengan pengantar. Maaf, kami menolakmu. Silakan kembali ke duniamu! Belum waktunya kamu meninggal."

Aku mencoba melirik ke dalam, tapi tidak bisa. Tidak seperti di Pintu Islam dimana aku bisa mencuri pandang. Tiba-tiba kurasakan tubuhku melayang-layang. Sekelilingku menjadi gelap lagi. Semua yang kualami dan kulihat barusan hilang tak berbekas."

Tidak diceritakan olehnya bagaimana kejadian pas dia membuka matanya. Dia hanya menceritakan ketika dia membuka matanya, dia kaget karena berada di dalam keranda yang telah ditutup kelambu.

Mungkin waktu dia bangun, orang-orang yang melayat heboh kali ya? Pada lari tunggang langgang karena mengira dia adalah hantu.

Namun satu hal yang dia tekankan. "Janganlah menghina agama lain! Karena semua agama sama."

Sejak kehidupannya kembali, Eric memutuskan menjadi Islam. Dan penyakitnya yang telah 3 tahun dideritanya, sembuh total setelah dia menjadi Muslim.

Mati Suri - TAMAT






Cerita 2. Arwah Nenek

Cerita ini diambil dari cerita mulut yang disampaikan oleh seorang kenalan dari keluarga saya. Begini ceritanya.

Tradisi Ching Ming (Cheng Beng) tanggal 15 bulan 3 Kalender Lunar dan Ghost Festival (tanggal 7 bulan 7 Kalender Lunar) menjadi tradisi kuat bangsa Tionghoa, termasuk di Indonesia. Kisah ini terjadi di Jakarta, pada sebuah keluarga yang berasal dari Pontianak.

Sang Nenek yang telah berusia 82 tahun, kita sebut saja begitu, meninggal belum lama. Upacara demi upacara dilakukan hingga minggu ke-7, lalu hari ke-100.

Semasa hidupnya, Sang Nenek sangat sayang kepada cucu laki-laki, anak dari putrinya. Nama cucu itu, kita sebut saja, Asan. Umurnya baru 2 tahunan. Sudah bisa berjalan dan berbicara.

Biasanya selama upacara demi upacara dilakukan, Asan tidak pernah dibawa mamanya karena takut kesambet. Masih kecil, belum mengerti apa-apa. Terlebih pekuburan itu kan daerah angker.

Namun menjelang upacara hari ke-100 Sang Nenek yang bertepatan dengan masukknya Ching Ming, Sang Nenek datang ke mimpi putrinya.

"Mana Asan yang saya sayang itu? Mengapa tidak pernah kalian bawa ke sana? Saya kangen sekali ingin bertemu dengannya."

Setelah merundingkan dengan suami dan keluarganya, akhirnya putrinya memutuskan membawa Asan serta ke upacara hari ke-100 sekaligus Ching Ming untuk Sang Nenek.

Semua buah dan makanan lain yang dipersembahkan akhirnya telah siap dan upacara dimulai. Dalam tradisi, diberikan waktu yang istilah dipakai para arwah leluhur yang disembayangi untuk menikmati hidangan yang disajikan. Sementara waktu itu bisa dipakai keluarga mempersiapkan kertas emas atau perak ataupun yang lain-lainnya yang akan dibakar.

Pada saat itu, kedua orang tua Asan tak mengetahui apa yang sedang dilakukan anaknya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Hingga akhirnya, bibi Asan lah yang menyadari dan memanggilnya.

Asan terlihat sedang berjongkok tepat di depan altar nisan kuburan Sang Nenek yang dijadikan tempat menaruh hidangan persembahan. Asan seperti sedang memandang sesuatu.

"Asan, bangun, sedang apa kamu berjongkok disana?" Kata mamanya.

"Mama... Aku lagi lihat pho pho..." Jawab Asan.

"Pho-pho?" Semua yang ada disana saling berpandangan satu sama lain. Keheranan. "Pho pho kan sudah meninggal, San..."

"Tidak, Ma." Asan menunjuk ke altar di depannya. "Itu pho pho. Sedang makan."

"Sedang makan?"

"Iya, pho pho sedang makan. Tapi makannya tidak pakai tangan, Ma."

"Cuma kepala pho pho yang keliatan, makannya pakai lidah aja, jilat-jilat. Tuh pho pho lagi liatin San San..."

Astaga!!

Semua yang ada disana terkejut mendengarnya. Malamnya, Asan meriang panasnya tinggi. Diduga karena kesambet.

Catatan: Bagi yang memiliki anak, jangan sekali-sekali diajak untuk sembahyang kuburan. Kisah di atas adalah kisah nyata. Semoga bisa diambil hikmahnya.


Arwah Nenek - TAMAT

*******************************

Cerita 3. Karangan Bunga


Cerita ini diambil dari kisah salah seorang pelanggan Toko Hio saudara saya di Jakarta. Begini ceritanya.

Kita sebut saja, Aliong, seorang bisnisman muda berusia 40an tahun. Aslinya dia adalah seorang Buddhis taat. Sejak menikah dengan seorang wanita yang beragama Kristen, Aliong pindah agama menjadi Kristen. Imbasnya, mamanya sendiri, sebut saja Mama Guan, dimintanya menjadi Kristiani. Namun Mama Guan tetap taat menjadi penganut Buddhis.

Suatu hari Mama Guan, meninggal dalam usia 86 tahun. Detik-detik sebelum dia meninggal, dia berpesan agar dimakamkan secara tradisional Tionghoa sesuai ajaran agama yang dianutnya yaitu Buddhis.

Namun, suami istri Aliong tak menggubrisnya. Mereka memakamkan Mama Guan menurut ajaran Kristiani. Menabur bunga dia makamnya dan setelah upacara selesai, ya sudah, selesai begitu saja. Tak ada sembahyang hari ke-7, 14, 21, 49 atau 100.

Bahkan, tidak ada tongkat dan roti yang digenggamkan ke tangan jenazah seperti kebanyakan tradisi. Juga tidak ada kertas emas dan perak dan Wang Shen yang adalah uang perjalanan kematian.

Sebagai seorang bisnisman, kematian mamanya tak lagi diingat-ingat olehnya. Hingga suatu hari, sekitar 7 minggu berlalu setelah kematian Mama Guan.

Malamnya, Aliong bermimpi bertemu dengan Mama Guan. Alih-alih mau memanggil mamanya, malah Aliong yang mendapat makian.

"Aliong, tak kusangka, kamu ternyata anak murtad. Susah-susah saya melahirkanmu, membesarkanmu hingga kamu sukses begini. Waktu saya matipun, saya hanya minta prosesi Buddhis, kamu tidak menggubris saya. Malah memakamkan saya dengan cara Kristen. Saya tak peduli kamu mau menjadi Kristen, tapi saya tetap seorang Buddhis. Saya ingin mati sebagai Buddhis. Jangan perlakukan saya sebagai seorang Kristen. Kamu mau tau apa yang terjadi pada saya disini?

Ketika saya tiba di alam sini, saya tidak ada tongkat untuk memukul anjing. Mereka dengan ganas menggigit kaki saya. Saya tak ada roti untuk melemparkan kepada mereka, jadi saya tidak bisa jalan. Dari waktu saya tiba hingga sekarang saya tidak bisa kemana-mana. Hanya berdiri disini. Lapar, haus. Mau membeli, tidak ada uang. Yang ada hanya karangan bunga ini. Saya mencoba menjual bunga ini, tapi tidak ada yang mau membeli. Malah saya yang ditertawai. Mau makan bunga ini, saya tidak bisa. Akhirnya saya mengemis kepada yang lain yang lewat disini. Tapi tak ada yang membagikan kepada saya. Mereka bilang, untuk sendiri saja sudah susah, mau bagi orang lain lagi? Akhirnya saya hanya bisa berjongkok disini menangis dan menangis. Lapar, haus. Saya terdampar. Mau lanjut tidak bisa, di depan jembatan sana banyak anjing. Mau mundur, lebih tidak bisa.

Teganya kamu membuat mama jadi menderita begini. Sudah meninggal, masih dibuat susah. Makanya saya menemuimu di mimpi, karena lusa kalau saya tidak salah hitung, adalah 49 hari manusia saya meninggal. Tolong tanya kepada yang lebih mengerti, saya minta dibakarkan Wang Sheng Chien (uang jalan), Kim Coa (kertas emas), Nyun Coa (Kertas Perak). Itu saja. Kalau rumah, pakaian dan lain-lain itu terserah kamu mau membalas budi atau gimana."

Setelah kata-kata itu Mama Guan menghilang dari mimpi Aliong. Keesokan harinya Aliong dan istrinya mendatangi kami dan bertanya tentang mimpi berjumpa mamanya itu. Kami memberi penjelasan bahwa sejak kepergiannya di dunia ini, wanita dengan pria adalah berbeda.

Wanita berjalan lebih cepat daripada pria. Di hari ke-6 sejak kematiannya itulah upacara pertama untuk almarhumah. Sedang untuk almarhum, tepat hari ke-7 upacara pertama. Dan mereka membutuhkan tongkat dan roti yang dibawa serta dalam keranda mereka untuk membantu mereka menyebrangi jembatan menuju dunia peradilan disana. Karena sepanjang jalan banyak sekali anjing dan pengemis liar, maka roti yang dilempar akan menghalau sebagian anjing-anjing liar sehingga arwah bisa berjalan. Lalu dengan tongkat di tangan, anjing-anjing lainnya bisa dihalau. Sedangkan Wang Sheng Chien (uang jalan) diibaratkan uang bagi arwah terlantar yang tidak diperhatikan keluarga mereka. Disana mereka hanya dapat dari hasil rampokan ataupun boleh minta dari arwah laiinya. Tak heran pakaian mereka compang camping dan tubuh mereka kurus kering. Arwah mereka akan tetap penasaran karena belum waktunya bagi mereka untuk meninggal.

Nah, waktu untuk menyebrangi jembatan itu, lebih pendek wanita dan lebih panjang pria. Ketika tiba di seberang jembatan, kabarnya mereka akan berjongkok dan mencuci muka mereka. Disana mereka akan melihat wajah mereka. Barulah saat itu mereka menyadari kalau mereka telah meninggal. Biasanya antara hari keenam atau ketujuh. Jadi kalau ada pengalaman anggota keluarga yang pulang lagi setelah meninggal itu karena mereka belum sadar kalau mereka sudah mati. Itu pula kenapa mereka harus 'ditenangkan' oleh yang menyadari kedatangannya bahwa dunia mereka telah berbeda.

Setelah Aliong dan istrinya membeli semua permintaan Mama Guan, akhirnya Mama Guan kembali menemuinya di dalam mimpi. Namun, bukan untuk memarahinya. Melainkan untuk berterima kasih telah melakukan permintaannya.

Aliong juga tidak melupakan tradisi yang pernah dipelajarinya dari mamanya itu. Dia melakukannya setiap Ching Ming dan Ghost Festival setiap tahunnya untuk mamanya. Sebagai balasannya, mamanya membantu bisnis Aliong semakin berkembang pesat.

Karangan Bunga - TAMAT


Jadi, menurut pembaca, dari 3 cerita di atas, apakah dunia arwah itu benar-benar ada atau hanya khayalan? Jawabannya saya kembalikan kepada pembaca semuanya.

Semua cerita di atas saya tulis berdasarkan sumber asli, jadi tidak ada maksud membela atau menghina satu agama tertentu. Penulis hanya menyalurkan cerita lisan menjadi tulisan. Bila ada penggunaan kata atau kalimat yang bersifat sensitif, penulis meminta maaf. Tak ada maksud untuk menyinggung, namun hanya ingin berbagi.


Salam HSG

Posted By: Kaz HSG
Under property of Heavenly Story Group.
Copyrights: ©HSG-September 2010


0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates