05/09/10



Kisah Seekor Betet
Seorang Bapak berjalan melewati toko burung dan melihat seekor Betet nemplok di atas ranting dlm sangkarnya. Betet tsb tidak punya kaki sama sekali! 
"Kasihan. Apa yg terjadi pada Betet ini ya?", gumam Bapak tsb.
Tiba-tiba Betet itu menyahut, "Memang sudah begini sejak menetas".
"Astaga," seru Bapak tsb keheranan. "Kamu mengerti apa yg saya katakan!"
"Saya ngerti semuanya," kata si Betet." saya ditakdirkan menjadi
seekor Betet yg sangat pintar."
"Oh ya?", Bapak itu bertanya. "Kalo begitu gimana caranya kamu bisa nemplok di atas ranting itu tanpa kaki ?"
"Sebenarnya ini memalukan, tapi karena kamu nanya, saya melilitkan p*n*s saya ke ranting seperti kait kecil. Kamu nggak bisa liat karena terhalang bulu-bulu saya."
"Wah" seru Bapak itu, "Kamu memang bisa bicara udah gitu pintar pula!?".
Kemudian Bapak tadi memutuskan membeli Betet itu. Dia sangat menikmati kehadiran burung barunya. Ternyata Betet itu sangat sensasional, ia memiliki rasa humor, menarik, teman yg baik, dan pengertian. Bapak itu bangga terhadap piaraannya.

Suatu hari, sang Bapak pulang dari kantor dan si Betet berbisik:"Psssst" dan menyuruh Bapak itu mendekat padanya. " Ini tentang istrimu dan tukang pos."
"Apa katamu? Maksudnya gimana?" tanya si Bapak.
"Sewaktu tukang pos datang mengirim surat tadi, istrimu menyapanya di pintu dgn memakai gaun tidur polos dan menciuminya dgn penuh nafsu."
"Apa ?" si Bapak bertanya dgn gusar.
"Terus apa yang terjadi ?"
"Hmm, terus tukang pos itu masuk ke dlm rumah dan menyingkap gaun tidur sambil menggerayanginya," lapor si Betet lagi.
"Astaga!" Bapak tadi panik. "Lalu apa?"
"Lalu tukang pos itu mulai membuka gaun tidur istrimu sampe polos, berlutut di depannya dan menjilati seluruh tubuhnya, dimulai dari p*y*d*ranya dan perlahan turun ke bawah.."
"Lantas ?" pinta si Bapak, "Lantas Apa yang terjadi ?"
"Saya ngak liat selanjutnya ! Saya EREKSI dan jatuh dari ranting!!!" 


Kakatua Pandai
Seorang ibu yang sedang berbelanja di pasar secara tak sengaja melihat seekor burung Kakatua yang indah bulunya. Wanita itu tertarik untuk membelinya, lantas dia pun bertanya kepada si penjual.
"Tapi, Bu, Kakatua ini bukan hanya pandai bicara, tapi dia bekas dipelihara di sebuah rumah bordir sebelumnya. Apa Ibu berani menanggung resikonya?" Kata penjual itu.
Karena wanita itu sudah tertarik kepada Kakatua itu, maka diapun membelinya.
Singkat cerita, wanita itupun pulang dengan Kakatua yang dimasukkan dalam sangkar dan digantung di ruang tamu rumahnya.
Ketika masuk ke dalam rumahnya, tahu-tahu Kakatua tersebut berceloteh. "Rumah bordir baru, mami baru..."
Mendengar itu, wanita itu kesal juga. Namun saat teringat asal usul Kakatua tersebut, diapun memakluminya.
Siangnya, kedua putri wanita tersebut pulang sekolah. Saat memasuki rumah, kembali Kakatua itu berceloteh. "Rumah baru, perek baru..."
Dua gadis itu kesal dan marah mendengar celotehan si Kakatua. Namun ibunya memberi penjelasan tentang asal usul burung tersebut. Akhirnya kedua anaknya dapat memakluminya dan memaafkan Kakatua tersebut.
Sorenya, giliran suami wanita tersebut pulang dari kantornya. Saat membuka pintu rumah dan masuk ke ruang tamu, seperti yang lainnya, Kakatua tersebut pun menyambutnya.
"Halo, Budi. Apa kabar? Kita ketemu lagi..."


Cita-Cita
Suatu hari seorang Ibu Guru bertanya kepada murid-muridnya di kelas.
"Apa cita-cita kalian jika sudah dewasa nanti?"
"Saya, Bu." Ujang mengangkat jarinya dan menjawab. "Saya mau menjadi dokter."
"Wah, bagus." Kata Bu Guru. "Kenapa kamu mau menjadi dokter?"
"Karena kalau Ibu sakit, saya yang akan mengobati Ibu. Gratis, Bu. Tidak perlu bayar." Jawab Ujang lagi.
"Wah, terima kasih, Ujang." Gurunya tersenyum. "Masih ada lagi?"
"Saya, Bu." Udin menjawab.
"Ya, Udin. Apa cita-cita kamu?" Tanya gurunya.
"Saya mau menjadi polisi, Bu." Jawab Udin. "Biar nanti kalau ada yang jahat sama Ibu, saya tembak dia. Gratis, Bu.Tidak perlu bayar."
"Terima kasih, Udin." Gurunya kembali tersenyum.
"Bu, saya juga punya cita-cita." Ucok tak mau ketinggalan dengan temannya.
"Ya, Ucok. Apa cita-citamu?" Bu Guru bertanya.
"Saya mau jadi tukang gali kubur, Bu." Jawab Ucok.
Gurunya terkejut. "Lho, kenapa bercita-cita jadi tukang kubur?"
"Begini, Bu." Ucok menjelaskan. "Kalau nanti ada yang jahat sama Ibu dan Udin salah tembak, pelurunya nyasar ke Ibu. Dan Ujang yang dokter gak berhasil menolong Ibu. Kan masih ada saya. Gratis, Bu. Tidak perlu bayar."

Salam HSG

Posted by: Kaz HSG
HSG - September 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates