15/08/10

Renungan: Jalur Kereta Api


Renungan: Jalur Kereta Api


Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api (KA). Jalur yang pertama adalah jalur aktif yang masih sering dilewati KA. Sementara jalur kedua sudah tidak aktif alias sudah tidak pernah lagi dilewati KA. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang sudah tidak aktif, sedangkan anak-anak lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif.

Tiba-tiba ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Anda adalah penjaga pintu lintasan KA dan kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut.

Apa yang akan Anda lakukan? Mengusir anak-anak yang sedang bermain sudah tidak mungkin. Selain karena jarak yang terlalu jauh, juga karena laju kereta api yang terlalu cepat. Yang bisa Anda lakukan hanyalah mengarahkan arah laju KA.

Cobalah renungkan:
1. Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain disana? Hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif Atau
2.Anda akan membiarkan KA tersebut berada di jalur yang semestinya?

Mari berhenti sejenak untuk mengambil keputusan apa yang sebaiknya kita lakukan? Pikirkan baik-baik jawaban Anda! Dan setelah Anda yakin dengan jawaban Anda, teruskan membaca ke bawah.

Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak kecil. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama karena menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disahkan baik secara moral ataupun emosional.

Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman?

Dilema seperti ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik, dan terutama dalam kehidupan demokrasi, dimana pihak minoritas dan rakyat kecil harus dikorbankan demi kepentingan pihak mayoritas dan para orang elit, tak peduli betapa ceroboh dan bodohnya kaum mayoritas tersebut?

Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan, dan bahkan kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.

Seorang teman yang telah mendengar cerita ini berpendapat bahwa dia takkan mengubah arah laju kereta, karena dia percaya anak-anak yang bermain di lajur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif. Maka mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat.

Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif, maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas, karena dia tidak berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.

Di samping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif, maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang yang ada di dalam KA tersebut. Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak, bisa mengorbankan lagi ratusan nyawa di kereta tersebut.

Kita harus sadar bahwa hidup ini penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat dan mungkin kita tidak akan menyadari sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

Satu lagi yang perlu diingat, dalam masyarakat kita sekarang ini: sesuatu yang benar tidak selalu disukai dan sesuatu yang disukai tidak selalu benar.


Sumber: www.andriewongso.com


Salam HSG
Posted by: Kaz HSG
HSG - August 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates