30/08/10

Puisi_Puisi Chan (12)

Wajah tanpa kemarahan adalah pemberian yang sejati.
Mulut yang berbicara tanpa kemarahan adalah menyebarkan wangi dan
menyegarkan.
Hati tanpa kemarahan adalah harta yang tak ternilai.
Hati Buddha adalah mengatasi waktu dan tanpa batas.

-------------------------------------------------------------------------------

Kita harus mengendalikan kemarahan. Dalam ajaran Buddha, kemarahan
disamakan dengan api karena kemarahan dapat menghilangkan karma baik
kita. Pada saat api kemarahan datang, maka api itu dengan cepatnya
membakar hutan kebaikan yang telah kita tumbuhkan dengan kerja keras.

Jadi kita harus mengontrol kemarahan kita. Pertama seperti yang
disebutkan di awal kalimat,
SEBUAH WAJAH TANPA KEMARAHAN ADALAH
PEMBERIAN YANG SEJATI.
Kita seharusnya tersenyum. Salah satu hal yang
terindah di dunia ini adalah sebuah senyuman dan di antara bentuk
terbaik kemurahan hati dan perbuatan baik. Banyak orang yang tidak
menyadari bahwa senyuman yang tulus kepada orang lain tidak hanya
suatu bentuk yang sangat berharga tetapi juga perbuatan yang sangat
baik.

Di ajaran agama Buddha, ada beberapa bentuk dari kemurahan hati dan
kebajikan. Kita dapat mendanakan makanan, pakaian, perlengkapan, dan
obat-obatan. Kita dapat juga memberikan dupa, bunga, buah-buahan, atau
barang-barang yang berharga. Kita dapat menggunakan perbuatan, ucapan
dan pikiran untuk berdana. Dana yang tertinggi berasal dari hati.
Kebahagiaan ketulusan hati terpancar dari senyuman di wajah kita. Itu
adalah dana yang terbaik.


MULUT YANG BERBICARA TANPA KEMARAHAN ADALAH BAGAIKAN WANGI BUNGA YANG SEMERBAK DAN MENYEGARKAN.
Saat kita berbicara, kita seharusnya melakukan dengan baik dan tulus. Kita tidak seharusnya meremehkan juga tidak mengkritik. Kita tidak seharusnya
bergosip atau membicarakan orang lain di belakang orang tersebut.
Seperti yang dikatakan dalam Sutra Intan, Sang Buddha hanya
membicarakan kebenaran, tidak pernah membicarakan hal-hal yang
berlebih-lebihan atau kebohongan. Berbicara dengan baik seperti tiupan
udara yang segar.


HATI TANPA KEMARAHAN ADALAH HARTA YANG TAK TERNILAI.
Kita perlu mengontrolnya dengan rajin untuk memastikan kemarahan tidak muncul. Kita seharusnya tidak menunjukkan kemarahan pada wajah kita, tidak
mengeluarkan ungkapan-ungkapan kemarahan dan menyelam ke dalam dasar
hati kita untuk membasmi akar semua pikiran kemarahan. Tidak adanya
kemarahan di hati kita, semua pikiran dan perbuatan kita dapat
diarahkan untuk menolong orang lain, memberikan orang lain rasa
nyaman, kepercayaan dan harapan. Untuk mencapai tahap latihan semacam
ini merupakan sesuatu yang tidak terhingga nilainya.


HATI BUDDHA ADALAH MENGATASI WAKTU DAN TANPA BATAS.
Jika kita dapat mengistirahatkan badan dan pikiran dalam perbuatan, dimana ucapan, dan pikiran bebas dari kemarahan maka kita akan memulai melihat Hati
Buddha yang tanpa batas.***

-------------------------------------------------------------------------------

Sumber: Suara Bodhidharma, edisi 01/III/2003; Ven.Master Hsing Yun,
"Cloud and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai
University Press, USA, 2000.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates