01/08/10

Parodi Asal Usul 12 Shio


Suatu ketika kala Buddha Gautama yang telah mencapai kesempurnaan melihat bahwa diantara sekian banyak jumlah binatang yang berada di dunia ini, cukup banyak yang menjadi korban kebuasan manusia. Oleh karena itu, Sang Buddha membuka kesempatan bagi para binatang untuk menyampaikan keluhan, unek-unek, dan komplain kepada diriNYA.

Kesempatan yang dibukanya hanya 1x24 jam saja. Dan bagi binatang apapun yang datang kepada-NYA dalam waktu tersebut, Dia akan mengabadikan nama mereka agar penderitaan selalu diingat oleh manusia.

Mendengar hal tersebut, berlomba-lombalah para binatang menemui Sang Buddha untuk menyampaikan uneg-unegnya itu. Adalah Tikus dan Kerbau yang pertama tiba disana menemui Sang Buddha.

Si Tikus dengan kaos dan jas rompi yang mewangi membalut tubuh mungilnya sebagai peserta pertamanya. Dia menunggang di atas tubuh Kerbau. Setelah dekat, si Tikus melompat turun dan langsung menyembah Sang Buddha.

"Wahai, Kawan kecilku. Kau yang pertama muncul dari semuanya." Kata Sang Buddha. "Apa yang membuatmu datang kesini?"

"Begini, Buddha." Si Tikus dengan suara mungilnya mulai bercerita. "Aku ini memang lincah. Namun banyak sekali manusia yang menyalahgunakan kelincahanku untuk ketamakan mereka."

"Apa maksudmu, Saudaraku?" Tanya Sang Buddha.

Si Tikus melanjutkan, "Manusia-manusia tamak memakai nama Tikus-Tikus Kantor dan Tikus-Tikus Berdasi untuk para koruptor yang kerjanya selalu menggelapkan uang. Kelincahanku dinodai oleh kelihaian mengambil uang yang bukan hak miliknya. Sungguh itu suatu penghinaan bagiku, Buddha."

"Hmm. Memang benar begitu adanya." Jawab Sang Buddha. "Oke, baik, saya menghormati keputusanmu dan menjadikanmu yang pertama dalam sesi keluhan ini. Selamat ya!"

"Terima kasih, Sang Buddha." Si Tikus tersenyum dan berdiri di sebelah kiri Sang Buddha.

Si Kerbau dengan lenggang lenggok melangkah masuk ke dalam ruangan. Melihat itu Si Tikus menyingkir ke pinggir memberi ruang kepada Si Kerbau yang badannya besar itu.

"Saudaraku, Kerbau. Akhirnya kau tiba juga. Ada apa gerangan?" Tanya Sang Buddha.

"Buddha, manusia sungguh tak tahu diri." Kata Si Kerbau. "Saya setiap hari diperah tenaga dengan pukulan dan cambuk bertubi-tubi. Belum lagi susu saya tiap hari diperas. Itu termasuk pelecehan kan, Buddha."

Sang Buddha tersenyum. "Bukankah itu sudah kodratmu, Kawanku?"

Si Kerbau melenguh. "Sang Buddha. Saya menyadari itu semua. Namun saya dibilang si kerbau dungu, bebal, tak punya otak. Itu yang membuat saya tidak bisa menerimanya. Memang badan saya besar, tapi kenapa pula saya disebut dungu? Seberapa banyak saya harus menderita untuk manusia, Buddha? Berkorban tenaga dan badan saja sudah cukup, masih dikata-katai bodoh."

Sang Buddha tertawa. "Baiklah. Keluhanmu saya terima. Kau menjadi yang nomor dua menemani Tikus."

"Terima kasih, Buddha." Si Kerbau melenguh sebelum ke pinggir berdiri di sisi Si Tikus.

Selang tak berapa lama kemudian, masuklah Si Macan, raja hutan yang perkasa itu. Buddha sedikit tersentak melihat kehadiran si perkasa ini.

"Wahai, Kawanku. Kau sangat perkasa, namun datang ke sesi komplain ini. Ada apa gerangan?" Tanya Sang Buddha.

Si Macan mengaum. Suaranya membuat seluruh tempat itu bergema.

"Perkasa, perkasa. Saya memang perkasa." Jawab Si Macan. "Siapa yang berani bilang kalau saya tidak perkasa?"

"Yang berani bilang begitu hanya manusia." Lanjut Si Macan. "Masa saya dibilang macan ompong dan macan kertas? Itu suatu penghinaan untuk kaum saya, Sang Buddha. Keperkasaan dan keberanian kami dilecehkan seperti itu. Kami meminta keadilan untuk itu."

"Hmm... Begitu ya." Sang Buddha berkata. "Baiklah, Macan, kau menjadi binatang ketiga kalau begitu."

"Terima kasih, Buddha." Sang Macan mengaum kembali, seakan ingin menunjukkan keperkasaannya. Lalu dia menemani Si Tikus dan Si Kerbau yang sudah duduk bersantai-santai itu.

Melompatlah seekor kawan bertubuh mungil berbulu serba putih dengan telinga panjangnya. Gigi gingsulnya yang menarik perhatian sedang mengunyah wortel saat dia masuk ke hutan tersebut menemui Sang Buddha. Dialah Si Imut Kelinci.

"Wortel ini enak... Nyam nyam nyam..." Si Kelinci menelan sisa wortel di genggamannya sebelum akhirnya dia berlutut di depan Sang Buddha.

"Sobatku, Kelinci. Kau sangat indah dan cantik. Ada apa gerangan?" Tanya Sang Buddha dengan suara berwibawa.

"Begini, Buddha." Si Kelinci gingsul menelan wortel yang dikunyahnya. "Sang Buddha sendiri mengakui bahwa aku ini cantik dan indah."

Si Tikus mencicit, Si Kerbau melenguh dan Si Macan mengaum mendengar komentar Si Kelinci. Seakan menyetujui komentar Si Kelinci.

"Terima kasih, teman-teman." Kumis Si Kelinci bergerak-gerak. Tahu-tahu mimik mukanya menjadi sedih. "Tapi, Buddha, keindahan dan kecantikanku ini disalahgunakan manusia. Aku dibilang penggoda, dijadikan lambang Playboy. Betapa sedihnya hatiku, Buddha. Keindahanku dilecehkan seperti itu."

Sang Buddha menjawab, "Baiklah, Sobatku. Keluhanmu Aku terima. Kau kutempatkan di urutan keempat."

"Terima kasih, Sang Buddha." Jawab Si Kelinci. Tubuh mungilnya melompat dan bergabung dengan ketiga temannya yang telah mengantri di pinggir itu.

Sebuah suara menggelegar terdengar, angin keras menderu. Diikuti oleh masuknya seekor ular besar berkumis dan bertanduk, dengan wajah sangar berwibawa, terbang melintas. Dialah Sang Naga.

"Wahai, Sang Buddha. Saya datang menghadap." Kata Sang Naga menyapa Buddha Gautama.

Sang Budda menatap Naga dengan tenang. "Apa kau ingin menyampaikan keluhan juga? Kau binatang yang tertinggi, raja dari segala binatang. Tubuhnya kuat, tenagamu tak terbendung, apimu berbahaya. Kau tak terkalahkan. Apa yang mau kau keluhkan?"

"Manusia." Jawab Naga dengan mendengus. Hidungnya menghembuskan uap dan ekornya bergerak-gerak tak bisa diam.

"Ada apa dengan manusia?" Tanya Sang Buddha.

"Saya ini binatang yang diagungkan oleh banyak bangsa. Raja dari segala binatang." Lanjut Sang Naga. "Tapi ada yang berani mengatakan saya, bahkan memakai nama saya untuk bagian tubuh mereka."

"Berikan contohnya!" Kata Sang Buddha.

"Manusia mengumpamakan bau di bagian tubuh tertentunya dengan sebutan 'bau naga'. Serendah itukah derajat saya hingga diumpakan begitu?"

Sang Buddha mengangguk.

"Juga di Indonesia, ada makanan bernama kaki naga. Kenapa harus memakai nama organ kaki saya? Begitu saya lihat, itu seperti nugget dan tidak seperti kaki saya. Tapi kenapa dinamakan kaki naga?"

Sang Buddha mengangguk lagi. "Hmm. Saya bisa mengerti perasaanmu. Baiklah, keluhanmu Aku terima. Kau berada di urutan kelima."

"Terima kasih, Sang Guru." Kata Naga lalu menepi berbaris dengan empat binatang pendahulunya.

Suara mendesis terdengar. Semua mata menoleh. Di tanah tampak seekor ular berwarna hijau mendekat.

"Wahai, Ular. Kau tidak sedang mengikuti Kakakmu, Naga, bukan?" Tanya Sang Buddha kepada Si Ular yang berhenti tepat di depannya.

"Maafkan aku, Hyang Buddha. Aku kemari diberitahu oleh Kakakku, Naga, bahwa Buddha membuka kesempatan untuk kami menyampaikan keluhan. Oleh karena itu, aku datang kemari untuk menyampaikan kekesalan yang telah lama kupendam dan membuatku sakit hati hingga aku menjadi kurus begini."

"Katakan!" Buddha mengeluarkan suara berwibawanya.

"Sebagai ular, aku merasa telah dihina oleh manusia." Si Ular menjelaskan. "Mereka memakai istilah 'ular berkepala dua', yang tidak ada dalam sejarah perularan kami selama ini dan manusia menciptakan itu sendiri sebagai arti seorang penjilat dan bermuka dua. Karena selama ini ular juga sudah dianggap buruk oleh manusia."

"Hmm..." Sang Buddha manggut-manggut.

"Kalau hanya mengabadikan gambarku sebagai lambang kesehatan mereka. Banyak apotik menggunakan gambar rekan-rekanku sejak lama." Sambung Ular lagi.

"Baik. Keluhanmu Saya terima." Kata Sang Buddha. "Kau boleh menepi."

"Terima kasih, Hyang Buddha. Hatiku sudah plong dengan disampaikan uneg-uneg ini. Kini aku bisa makan dan istirahat dengan tenang." Kata Sang Ular.

Dari kejauhan terdengar suara ringkik kuda dan jejak kakinya yang menendang-nendang bumi sepanjang perjalanannya menemui Buddha. Dalam waktu singkat, Si Kuda telah berdiri di depan Sang Buddha, meringkik sambil mengangkat kedua kakinya, dan menyunggingkan senyum memamerkan gigi kudanya yang berukuran besar itu.

"Hormat saya, Sang Buddha." Kata Si Kuda.

Sang Buddha mengangguk. "Ada apa yang membuatmu kemari, wahai, Sobatku?"

Si Kuda meringkik memperlihatkan barisan gigi kudanya sebelum menjawab. "Manusia itu egois. Sudah menjadikanku sebagai barang tunggangan, untuk diperlombakan demi taruhan mereka, tapi masih juga belum cukup."

"Lanjutkan!" Kata Buddha.

"Susu saya, Buddha. Mereka mengambil susu dari banyak pasangan saya. Bahkan dengan beraninya mereka menamakan susu kuda liar, baik untuk, yah Buddha tahu lah. Juga di tempat tertentu, dikatakan daging kuda bisa meningkatkan vitalitas mereka."

"Tenaga saya saja sudah cukup untuk mereka pergunakan. Tapi saya masih dijadikan sate? Betapa egoisnya manusia."

"Jadi begitu?" Kata Sang Buddha. "Baik. Keluhanmu Saya terima. Kau berada di urutan ketujuh. Silakan berdiri di samping kanan Saya, berhadap-hadapan dengan Si Tikus."

"Embeeekkk...." Terdengar suara embik Kambing dan baunya yang sangit pun memenuhi tempat itu. Si Tikus dan Si Kelinci yang penciumannya tajam segera menutup hidung masing-masing saat si Kambing berjenggot itu tiba disana.

"Embeeeekkk...." Si Kambing mengembik kembali.

"Wahai, Kambing. Berjenggot bukannya kakek, pintar mengembik tapi tetap saja bau tengik. Sudah berapa lama badanmu tak kena air?" Si Kerbau yang memang suka mandi itu langsung berceloteh ketika melihat kehadiran Si Kambing disana.

"Emmmbbeeeeeekkkkkk....." Si Kambing mengembik kembali dan digerakkannya kepalanya memutar seakan menyampaikan protes kepada Si Kerbau yang telah mengejeknya itu.

"Ada apa kau datang kemari, Kambing?" Tanya Sang Buddha.

"Embbeeeekkkk... Seperti yang Sang Buddha dengar barusan dari Si Kerbau." Jawab Si Kambing. "Saya dijuluki Si Kambing Bandot Bau Tengik hanya karena saya tidak pernah mau mandi."

Ketujuh binatang yang berkumpul disana tertawa. Suaranya riuh namun hanya sesaat saja. Kemudian mereka terdiam karena rasa hormat kepada Buddha.

"Saya juga kesal dituduh sebagai Kambing Hitam atas perbuatan yang tidak pernah saya lakukan. Walaupun saya tidak pernah mandi, namun saya tidak akan menjadi hitam karenanya."

Ketujuh binatang itu kembali tertawa mendengar komentar Si Kambing. Sementara Sang Buddha mengangkat tangan dan berkata,

"Baiklah. Kau penghuni ke-delapan. Tempatmu di seberang Kerbau."

"Embeeekkkk...." Si Kambing mengembik kembali sebagai ucapan terima kasih dan mengambil tempat di sebelah Si Kuda. Suara embiknya diikuti oleh suara lenguhan Si Kerbau.

"Kau berdiri tepat di depanku. Kita sama-sama bertanduk. Lihat saja, ketika saya berkuasa, kau akan kubuat tak berkutik sampai kau tak bisa mengembik." Kata Si Kerbau sambil mendengus.

Keadaan hening tak berapa lama kemudian. Sudah delapan binatang yang menyampaikan keluhannya pada Sang Buddha sejauh ini. Dan setelah menunggu sekitar sepuluh menit, terdengar suara hingar bingar dan gaduh ranting-ranting pohon yang ditarik dan daun-daun yang berjatuhan. Suara khas menguik mengiringi kedatangan makhluk kecil lincah ini.

"Huik..." Sambil berlompat dan bersalto di udara, makhluk ini berhenti tepat di depan Sang Buddha.

"Salam hormat kepadamu, Sang Buddha." Ujar binatang primata yang terkenal cerdas ini. Dialah Si Monyet.

Sang Buddha menerima hormat Si Monyet. Tubuh makhluk primata itu tak bisa diam, bila tidak bergoyang, maka tangannya bergerak menggaruk di sekujur badannya.

"Aku mewakili rakyatku menyampaikan keluhan. Huhuiiikkk..." Kata Sang Monyet sambil menggaruk bokongnya.

"Heh, Monyet. Kalau di depan Sang Buddha, sopan sedikit!" Terdengar protes dari Sang Macan.

"Nguikkk... Kalau emang gatal, masa ditahan-tahan?? Dasar macan ompong!" Sahut Monyet tak mau kalah.

Si Macan mengaum kesal. Andai saja tak ada Buddha disana, mungkin dia sudah menerkam Si Monyet yang tindak tanduknya membuatnya kesal itu.

Si Monyet mengalihkan pandangannya ke Sang Buddha. "Sang Buddha. Ucapan 'monyet' itu tak pernah hilang sebagai kata makian dan umpatan. Itu keluhan pertama yang ingin saya sampaikan. Contohnya sudah diperagakan oleh Si Macan tadi."

"Lalu apa masih ada yang lain?" Tanya Sang Buddha.

"Ya, khususnya yang masih kecil, bila saling jatuh cinta, kita dibilang cinta monyet. Kalau sudah dewasa, tak ada lagi istilah itu. Berarti kita dianggap tak pernah dewasa."

Sang Buddha mengangguk. "Baiklah. Kau penghuni ke-sembilan. Tempatmu di depan Si Macan ya."

"Terima kasih, Sang Buddha." Kata Si Monyet sambil berbalik dan menghadapkan bokongnya ke depan Si Macan sambil menggoyang-goyangkan ekornya.

"Weekkk..." Ditambah dengan dijulurkannya lidahnya yang ditujukan kepada Si Macan. Si Macan yang merasa diledek, menggerutu tak jelas.

Tak lama kemudian, sesosok makhluk anggun melangkah masuk dengan menawannya. Sepertinya dia sangat bangga dengan keindahan yang dimilikinya.

Hal itu membuat Kelinci yang juga bangga akan keindahannya, mulai meradang. Sorot mata melotot diarahkan ke pendatang baru ini: Si Ayam. Namun begitu, sosoknya membuat beberapa mata terpaku akan keindahannya, seperti Kerbau dan Ular. Juga tak terkecuali Naga.

"Salamku Yang Mulia Buddha." Kata Si Ayam memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.

"Selamat datang, Kawanku, Ayam. Ada keluhan apa gerangan yang membuatmu datang kemari?" Tanya Sang Buddha. "Kau makhluk anggun. Keluargamu, Burung Hong dan Merak adalah yang terindah dari semua unggas. Apakah ada sesuatu yang membuatmu bersedih?"

"Begini, Yang Mulia Buddha." Kata Si Ayam memulai penjelasannya. "Aku memang bukan Ayam yang gaul seperti saudaraku, Burung Hong ataupun Merak. Kecantikanku pun tak seindah mereka. Namun, aku cukup mengetahui perkembangan dunia luar, khususnya daerah barat."

"Lanjutkan!" Kata Sang Buddha.

"Ya, aku diluar negeri dipanggil dengan Chicken." Lanjut Si Ayam. "Memang artinya adalah ayam. Namun ada arti lain yang bermaksud negatif mengatai. Chicken itu bukan hanya berarti ayam, tapi juga pengecut, tak punya nyali."

"Aku kan punya nyali juga, Yang Mulia Buddha." Kata Si Ayam.

"Ya, di pasar kan nyali ayam dijual murah." Celetuk Si gingsul Kelinci.

Si Ayam memelototi Si Kelinci. Namun tak bertahan lama karena Sang Buddha kembali berkata.

" Baiklah. Untuk segala keanggunanmu, kata yang berarti pengecut dan tak punya nyali itu jelas suatu yang sangat bertolak belakang. Saya mengangkatmu menjadi wakil ke-sepuluh."

"Terima kasih, Yang Mulia Buddha." Si Ayam berkotek sebelum mengambil tempat di samping Si Monyet yang masih menggaruk-garuk itu.

"Heh, Ayam. Kita akan selamanya bersaing dalam hal keanggunan ya. Ingat itu!" Kata Si Kelinci saat melihat siapa yang berada di seberangnya.

"Silakan. Aku tak takut. Walaupun chicken, aku tak pernah takut. Ada yang mendukungku disini dan pendukungku masih lebih banyak daripadamu."

Memang benar kata Si Ayam. Selain Si Kerbau dan Si Ular, Naga juga tertarik akan keanggunan Si Ayam. Sebaliknya, Si Ayam juga terpukau dengan keperkasaan Sang Naga. Keduanya sepertinya akan menjadi pasangan yang serasi. Ditatap seperti itu, Si Ayam justru semakin menampilkan keanggunan yang dimilikinya di depan Sang Naga.

Sementara Si Ayam masih sibuk bersolek diri di depan Sang Naga, tampak sesosok binatang berkaki empat berlari masuk dan berhenti di depan Buddha. Tepat pada saat Sang Naga sedang mengagumi keindahan Si Ayam, binatang ini masuk dan menghilangkan semua lamunannya. Tak heran, Sang Naga mendengus kesal dan melotot ke makhluk yang baru masuk itu.

"Guk. Aku memberi hormat kepada Sang Buddha." Sosok yang ternyata adalah Si Anjing itu berkata.

"Hey, selonong dog. Kalau mau masuk itu yang sopan, jangan main selonong saja. Hormati yang sudah ada disini." Sang Naga yang kesal itu memprotes. "Benar-benar tak tahu diri!"

"Guk! Diam, berisik! Aku lagi berbicara dengan Sang Buddha nih!" Sahut Si Anjing melotot ke Sang Naga.

"Kurang ajar sekali dia!" Sang Naga bergelora. Bola apinya tampak membara oleh panas jiwanya itu. "Berani menurunkan derajat dan wibawa Nagaku di depan yang hadir disini!"

"Sudah, tenang ya, Naga." Kata Si Ayam menghibur Sang Naga yang sudah terbakar amarahnya itu. "Nanti akan kujelaskan padanya."

"Baik. Tolong lakukan itu untukku, Ayam." Kata Sang Naga dan membuang muka selama Si Anjing berbicara dengan Sang Buddha.

"Sang Buddha. Aku memang seekor anjing. Tapi apa aku ini identik dengan kata-kata makian, cacian dan umpatan sehingga setiap kali yang keluar adalah namaku: anjing." Tanya Si Anjing kepada Sang Buddha. "Aku sudah setia menjaga manusia, namun apa balas jasa mereka? Hanya memakai namaku sebagai kata umpatan dan caci maki."

"Kau benar," Kata Buddha. "Untuk kesetiaanmu yang tiada tandingan, Saya menghadiahkan satu tempat untukmu. Di samping Ayam dan di depan Naga. Silakan."

"Terima kasih, Sang Buddha." Kata Si Anjing yang menempati tempat di seberang Sang Naga. Kelak mereka berdua meneruskan pertentangan mereka satu sama lain.

Setelah Si Anjing, tak ada lagi yang datang kesana. Sementara sang waktu terus berlalu.

Sang Buddha berkata, "Tinggal sepuluh menit lagi."

Pada saat itu sesosok tubuh tambun dan bulat dengan santainya berjalan masuk kesana. Ekornya yang pendek dan berputar spiral itu, bibirnya yang selalu mengeluarkan suara ngorok, berjalan lamban seperti keberatan oleh badannya sendiri. Dialah Si Babi.

"Ahh, ngantuk menunggunya." Desis Si Ular melihat kedatangan Si Babi.

Dibutuhkan waktu lima menit untuk Si Babi mendekati Sang Buddha. Mulutnya menguap lebar saat itu.

"Hooooaaaammm....ckkk...ckk... ckkk..." Si Babi menutup mulutnya. "Ngantuk nih. Ngapain ya? Ada apa disini? Kok rame banget?"

Kontan kesepuluh binatang disana tertawa oleh keluguan Si Babi, kecuali Si Ular.

"Dasar, cari muka! Udah telat juga, banyak lagak!" Desis Si Ular.

"Wahai, Sobatku, Babi, apa yang membuatmu datang kemari untuk menyampaikan keluhanmu?" Kata Sang Buddha berwibawa.

"Oh, Sang Buddha. Aku sudah cukup malas dengan tidur-tiduran begini. Manusia kenapa ikut-ikutan seperti aku?" Kata Si Babi. "Dan lagi seperti halnya Si Anjing, namaku dipakai sebagai umpatan dan makian. Padahal aku tak pernah jahat kepada manusia. Bahkan selalu membagikan tubuhku sebagai makanan untuk mereka semua. Tapi apa balasan mereka? Hanya meminjam namaku untuk memaki orang saja."

"Baik. Keluhanmu diterima." Kata Sang Buddha. "Dan karena sudah waktunya, kau menjadi penghuni terakhir."

"Dengan ini Saya tetapkan kalian 12 binatang yang telah mengeluh, akan diberikan karakter masing-masing kepada setiap manusia yang lahir di bawah naungan Shio kalian. Sebagai pengingat dan mengabadikan kalian agar manusia selalu menyadari kekeliruannya dan hidup rukun bersama kalian." Kata Sang Buddha.

Maka kedua belas binatang itupun ditetapkan menjadi 12 shio manusia hingga sekarang.

TAMAT.

Salam HSG.
Posted By: Kaz HSG
This story is the property of Heavenly Story Group.
Copyrights: ©HSG-August 2010

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates