Selama kita hidup, pasti akan menghadapi pilihan. Biasanya dihadapkan dengan banyak pilihan...namun, setelah dipikir, pasti akan dihadapkan dengan 2 pilihan tersisa..kadang hal ini akan membingungkan kita. Akan pilih yang mana. Berikut ada cerita yang dapat menginspirasikan kita. Apa yang akan kita lakukan? Dan apakah kita akan melakukan hal yang sama?
----------------------------------------------------------------------------------------
Pada suatu makan malam bersama di suatu sekolah khusus anak cacat, seorang ayah menyampaikan suatu pidato yang tidak akan pernah dilupakan oleh seluruh penonton yang hadir.
Setelah ia berkata panjang lebar tentang sekolah dan selurh staff pengajar, ia pun bertanya :
"Segala sesuatu yang ada di dunia ini, bila tidak menerima gangguan dari alama, pasti akan terbentuk sempurna. Tapi, anakku William, tidak dapat belajar dengan baik sebagaimananya anak-anak yang lain. Lalu, apa yang menjadi bakat alami anakku?"
Penonton pun terdiam.
Sang ayah melanjutkannya lagi " Saya percaya, bahwa anak yang memiliki kelainan mental atau fisik seperti halnya William, memiliki kesempatan untuk menyadari sifat manusia yang sebenarnya. Ia datang dengan cara lain untuk merasakannya."
Sang ayah pun lanjut menceritakan kisah lalu mereka
Aku dan William suatu hari berjalan melewati taman bermain, dimana pada waktu itu banyak anak-anak yang dia kenal sedang bermain baseball. William bertanya "Apakah mereka akan mengajakku bermain?" Sang ayah tahu, bahwa sebagian besar anak pasti tidak ingin anak yang memiliki kelainan fisik dan mental berada di timnya. Tapi sebagai ayah, ia sendiri ingin anaknya bermain, karena dengan begitu ia akan dapat merasakan rasa kepercayaan dari orang lain.
Aku pun mendekati salah seorang pemainnya dan kemudian bertanya apakah anakku diperbolehkan untuk mengikuti permainan ini (meskipun dalam hati tidak berharap banyak). Anak itupun melihat sekelilingnya kemudian berkata, "kami sudah kalah enam set berturut-turut dan sekarang sudah memasuki set ke 8. Saya kira dia bisa berada di tim kami dan kami akan menjadikannya pemukul pada set ke 9"
William pun berjuang untuk ke bangku tim, dan dengan senyum yang lebar, ia pun mengenakan seragam dari timnya tersebut. Aku melihatnya dengan meneteskan air mata dan kehangatan dalam hati. Beberapa anggota tim yang lain dapat melihat kebahagiaanku karena anakku dapat ikut bermain.
Pada akhir set ke 8, tim William dapat mencetak angka, namun masih tetap tertinggal 3 angka dari lawannya.
Pada awal set ke 9, William ditempatkan di sisi kanan lapangan. Meskipun tidak ada bola yang mengarah kepadanya, namun ia tetap senang karena dapat ikut berlari mengejar bola dan dapat merasakan sorak sorai dari penonton. Dan pada akhir set ke 9, tim itu mencetak beberapa angka lagi.
Kemenangan yang sudah ada di depan mata namun tim berada dalam keadaan kritis. 2 pemukul sudah out dan pemukul terakhir adalah William. Dengan keadaan seperti ini, apakah anggota timnya akan membiarkan William untuk memukul?
Anggota tim pun memberikan tongkat pemukul kepada dia. Mereka semua tahu bahwa 1 pukulan terakhir ini mustahil dilakukan, karena William sendiri tidak tahu bagaimana cara memegang tongkat pemukul dengan benar, apalagi untuk memukul bola.
Pada saat William masuk lapangan, pelempar bola (pitcher) dapat merasakan bahwa beban kemenangan tim sekarang ada di pundak William. Sehingga dia pun melempar bola dengan pelan agar paling tidak William dapat mengenai bola itu. Lemparan pertama pun tidak dapat dipukul. Namun, lemparan kedua dapat dipukulnya dengan pelan dan bola pun kembali ke pitcher. Pitcher pun mengambil bola dan melemparnya ke teman yang berada pada pos pertama. Dengan begitu, William akan kalah dan permainan pun berakhir.
Namun...yang terjadi ialah pitcher itu melempar jauh di atas kepala temannya itu. Dalam sekejap, seluruh penonton pertandingan itu berteriak "Lari....Lari...Lari ke pos pertama!" Dalam seumur hidupnya, ia tidak pernah lari sejauh itu. Namun ia berhasil sampai. Sesampainya di pos pertama, terdengar lagi "Lari ke pos kedua!!" Setelah menarik nafas panjang, ia pun melanjutkan larinya ke pos kedua. Pada waktu akan sampai di pos kedua, lawan sudah mendapatkan bolanya. Waktu akan melempar bola, orang itu melempar jauh ke atas pos ketiga. Sehingga membuat anggota timya mengejar bola itu lagi.
Teriakan demi teriakan berlanjut. Pada akhirnya, William dapat mencetak Home Run. Dan menjadi pahlawan timnya tersebut dengan memenangkan pertandingan itu.
"Hari itu..." ujar sang ayah. "Semua pemain di lapangan sudah membawakan cinta kasihnya kepada William."
Namun, William sendiri tidak dapat bertahan untuk musim panas selanjutnya. Dia meninggal di musim dingin tahun tersebut. Namun, dia bisa merasakan kehangatan orang lain yang belum pernah didapatnya dan juga pelukan dari ibu pada hari dimana ia menjadi pahlawan bagi timnya.
===========================================
Posted By: Kaz HSG
This story is the property of Heavenly Story Group.
Copyrights: ©HSG-July 2010














Posted in: 













0 komentar:
Posting Komentar